Chapter 4

781 Kata
Susah sangat susah, maju salah ... mundur juga salah. Ah entahlah. Segalanya gak sesuai dengan yang semestinya. Saat aku masih duduk disekolah menengah pertama, tepatnya udah masuk IX, udah bukan lagi anak kecil lagi kan ya? Yap! Pada jaman itu bisa dikatakan anak-anak se-usiaku bagaikan telur baru menetas maupun anak sapi yang gemar geminjalan. (Suka lari-larian gak jelas) intinya sih saat usia segitu hormon dalam diri anak remaja lagi muncak-muncaknya. Di sekolah-ku dulu, ada cewek populer dan menurutku kecantikannya widih ... level Jontor deh, body yang baru mekar punya dia tuh gilaaa seksi abis! bibirnya alamak bikin aku meleleh liatnya, Kecil, mungil dan tipis ah ... seksi abis coy! nama dia Achava Marshavenia. Bagiku dia cewek yang kecantikannya nomor satu yang menarik perhatianku, tapi ... itu hanya menurut pandanganku aja sih. Siapa sangka rumor-rumor alias kabar burung yang ku denger malah kata-katanya alias kata orang, aku-lah cewek yang paling 'Uhuk' nomor satu, khususnya sih di mata cowok, entahlah aku juga gak ngerti. Setahuku, aku udah membatasi pergaulanku loh, gak pernah tuh aku mau respon mereka-mereka. Karena aku sadar diri, meskipun suaraku sekarang udah kayak cewek, aku ini masih punya suara cowok loh ... yang bisa sewaktu-waktu kebablasan keluar. Kan ngeri? Selama disekolah, aku cuma bergaul dengan teman cewek yang menurutku dia sangat setia dan baik banget sama aku namanya Mikha Ruslan. Dia anak orang asli penduduk sini, rumah dia hanya berjarak kurang dari satu kilometeran sama kontrakan tempat tinggalku, jadinya kita sering berangkat sekolah bersama-sama. Sedangkan si Achava itu anak orang pejabat, tapi pejabat apa sih aku tidak tau, gak ngerti pula aku urusan begituan, intinya sih dia anak orang kaya. Oh iya, si Mikha sahabatku itu disekolah berbeda kelas sama aku, sedangkan Achava satu kelas denganku. __ Saat bel sekolah bunyi pertanda mau istirahat, semula aku ingin di kelas aja mau mengerjakan materi soal tugas pemberian guru tadi. Karena kebiasaanku emang begini, dapat tugas langsung aku kerjakan semampuku. Kalau nunggu lama-lama apalagi sampai pulang sekolah terkadang aku males ngerjain, Otak-ku ambyar! Saat baru aja berapa bait materi yang aku baca tiba-tiba ada yang mengejutkanku dari samping. "Hei, Viviana ..." Aku menoleh, ternyata si kunyuk penggangu yang nyebelinnya kayak Bon cabe level 1000. Eh, ada gak ya tuh Bon cabe level 1000? hahaha. Cowok gatel bernama Lazarus. Kalo aku bilang sih dia si Dinosaurus, sama para dedengkotnya diantaranya Tar, Tao dan si alay Iboy. Aku langsung menunduk lagi fokus ke pena dan buku-ku, tak mau aku hiraukan mereka. Lalu si Lazarus malah langsung naik di mejaku, duduk di sana dan mengambil pena di tanganku. "Ih, kembaliin sini!" Kataku, aku rebut lagi pena itu lalu menunduk lagi. Dalam hatiku ngomel 'Ini anak resek banget sik!' Tapi bibirku diam, males ngomong lagi mataku hanya sebatas melirik sinis ke dia. "Fokus amat belajarnya Vi, kan lagi jam istirahat. Ke kantin bareng kita-kita yuk aku beliin loli mau?" Ajak si Lazarus. Aku kembali menoleh ke dia, tak lupa aku perlihatkan tatapan mata elangku yang tajam bagaikan pedang, tapi sumpah demi dedemit mulutku gak henti komat-kamit, tuh anak kagak ngerti-ngerti, Amit-amiiittttt! Tak lama kemudian perhatianku ke arah lain saat ada suara hempasan tangan ke meja cukup keras. Braak! Di diringi suara cewek cukup lantang, "Keluar yuk Girls!" Dialah si Achava melirikku sinis banget, keliatannya kayak marah dan gak suka gitu. Setelah mereka keluar, aku sendiri langsung mengemasi alat tulisku kedalam tas dan gak mau merespon si lazarus dan para dedengkotnya itu yang masih aja godain aku. "Hei Viviana, mau kemana kok malah pergi sih? Vivi ... Minta nomor WA-mu dong, Viviana" Panggil Lazarus saat aku udah melangkah sampai dekat pintu keluar. Aku gak sudi dengerin celotehan dia dan melanjutkan saja langkahku keluar. Awal mula aku mau menuju kelas Mikha tapi tenggorokanku rasanya kering alias haus, akhirnya aku melangkah ke kantin dulu pikirku. Saat langkah kaki ini berada di koridor dalam hatiku masih aja mengomel-ngomel tentang si Dinosaurus. Saat lagi jalan sambil bengong, aku kurang memperhatikan langkahku, tiba-tiba bahuku tak sengaja menyenggol salahsatu siswa yang sedang berjalan berlawan arah dariku "Eihh" Aku hampir jatuh, tapi untungnya dia sangat tangkas meraih pundakku dengan kedua tangannya. Hingga tubuhku berada di kedua tangan dia seumpama kayak adegan drama india dan korea, bahkan tanpa ku sadari mataku tak berpaling melihat tatapan tajam kedua mata dia. 'Wah, apaan tu ya ... kok Kayak ada sinar yang berkelip-kelip di mata dia ...' entah mengapa aku terpana. "Kamu gak papa?" Ucap dia, terdengar sangat lembut dan ... aku langsung tersadar dari lamunanku. What! eh, eh, apa iniiiii Kok tiba-tiba detak jantungku berdegup kencang begini? Aku cepat-cepat berdiri lagi dan melepaskan tangan dia dari bahuku. "Em ... Aku gak papa, maaf" Aku langsung buru-buru memalingkan wajahku, Sumpah aku gugup banget! Alamak, Perasaan macam apa niiiiiiii!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN