Chapter 10

1271 Kata
#Viandra POV Ibuku gak langsung jawab pertanyaanku melainkan mengalihkannya seolah gak ada apa-apa. Aku pun gak mau maksain kalo ibu gak mau jawab ... yaudahlah pikirku. "Em, Bu" Panggilku sambil ku raih tangan ibu mau berjabat. "Mau kemana kamu Vi?" Tanya ibuku sambil melihat seluruh badanku yang seakan tau apa maksudku. "Mau main sebentar kerumah Mikha bu" Jawabku mantab. "Oh ... Pulangnya jangan kesore'an ya" Hanya itu jawaban ibuku pertanda memperbolehkanku pergi. Tumben amat, biasanya mah ... ah, sudahlah yang penting dibolehin. Segera berlalu dari rumah menuju rumah Mikha yang jaraknya bikin kaki ngilu kalo jalan kaki. __ Kini, aku sudah berdiri di pinggir jalan, rencananya sih nungguin angkot, barang kali ada. Eh ... udah geser miring jarum jam panjang, masih aja kagak nongol-nongol tuh angkot. Minat udah kepalang tanggung, mau balik juga males, akhirnya tetap ku langkahkan kakiku menuju rumah Mikha. Meski siang bolong begini kebetulan Cuaca hari ini agak' mendung tapi gak ujan, semilir anginnya terasa sepoi-sepoi, sangat mendukung. Setelah beberapa ratus meter berjalan, aku berbelok arah untuk motong waktu, alias nerobos! Sekarang aku berjalan bukan lagi dipinggir jalan raya, melainkan komplek biasa tapi jalannya lumayan lebar. Sambil jalan mataku menoleh kesana kemari gak begitu ku perhatikan langkah didepanku, beruntungnya jalanan agak sepi, jadinya gak ada tuh kayak di drama-drama yang tiba-tiba nubruk orang. Tapi ... Saat mataku lagi menolah-noleh, tiba-tiba ada sebuah mobil pribadi warna hitam yang melintas di sampingku. Saat mobil itu melintas, aku juga gak perhatiin ada jalan berlubang yang masih dipenuhi air bekas ujan kemarin. Dan ... Pyaaak! "Aissh! Siyaaal!" Air dari lubang itu muncrat ke bajuku. Aku reflek teriak emosi pada mobil itu hingga kalimat kotor dan mahluk penghuni kebun binatang meluncur tanpa perantara dari mulutku "Woi, SUPANGCOK KAMBILENG, NIKEU!" (a*u, kampang, danc'k, kambing, babi celeng kau!) Lalu aku ambil batu yang ukurannya kecil tapi gak kecil-kecil amat dari tanah, langsung ku lempar ke arah mobil itu. Suut! Klotak! Aih Matilah! kebablasan pula aku mengeluarin suara asliku! Dan ... ALAMAK, MAMPUS! Mobil itu tiba-tiba berhenti dan mundur lagi! "Matilah, matilah, matilah" Aku sadar lemparanku mengenai' kaca belakang mobil itu. Aihh Viandra! Apa yang kamu lakukan! Aku langsung menutup mulutku dengan telapak tangan, sambil ku menoleh-noleh. "Ah ... Puji Tuhan, Gak ada orang yang melihatku saat aku teriak tadi" Ku hembuskan napas lega. Sumpah aku gugup setengah mampus, tadi sempat es-mosi sekarang jadi es-mumet lagi. Mobil itu Berhenti tepat di sampingku, kemudian si pengemudi mobil tiba-tiba menurunkan kacanya. ___ #Author POV Diam seribu bahasa kala melihat sang pengemudi sudah menurunkan kaca mobilnya dengan sempurna. Dia seorang lelaki tampak dewasa, mengenakan kemeja berwarna biru tua, serta mengenakkan kaca mata hitam pelengkap karisma yang dimilikinya. Perlahan namun pasti, lelaki itu melepaskan kaca mata perlahan-menatap Viandra dengan seksama, dari ujung kaki hingga kepala tak ayal membuat mata Viandra kian terpana. __ #Viandra POV Wahai Viandra yang menjelma jadi Viviana dan Viviana yang menjelma jadi Viandra Sadar woi sadar! Harusnya es-mosi ngapa malah tersepona begini seh! Eh salah, terpesona!! Tuh kan ... sampek kebolak-bolak kalimatnya! Orang itu tiba-tiba keluar dari mobilnya kemudian mendekat padaku. Eits sumpah aku melihatnya harus mendongakkan kepala. 'Nih orang makan apa yak, kok bisa tinggi bener?' Dia gak ngomong apa-apa, bahkan tampangnya aja kayak es kutub utara gitu, dingin abis! Pertama-tama dia menolah-noleh, mungkin dia lagi nyari suara cowok yang teriak tadi, 'Rupanya dia gak tau yang teriak suara cowok tadi tuh aku, Hahaha.' Batinku. Tapi rasa lega dihatiku berlalu saat sorot mata dia yang penuh pesona tadi kini berubah kayak drakula! "Apa kamu tadi yang melempar mobil saya?" Tanya dia singkat, suaranya kedengeran cakep tapi serem khas penguasa! Mampus, aku musti jawab gimana nih ...! "Bu-bukan kok pak?" Jawabku. "Pak?" Dia mengangkat satu alisnya, kayak gak terima gitu di panggil 'Pak' Akupun hanya balas cengiran kuda. Ku lihat dia diam selama beberapa detik, roman-romannya sih kayak lagi mikir, tentang siapa yang melempar batu tadi. So ... kebetulan di lingkungan ini kagak ada orang samasekali kecuali aku, hahaha. 'Sampek perbatasan dunia akhirat pun, kagak bakalan ketemu orang laki-laki yang lempar batu mobilmu tuan, hahaha sukurin!' Gumamku dalam batin. Tak lama kemudian, ku tengok dia melihat keseluruhan fisikku, membuat bulu kudukku begidik merinding! 'Matilah, matilah, matilah, jangan bilang kalau dia tahu aku bukan cewek original?' Tak henti aku berkutat hingga akhirnya lamunanku tercabik saat tiba-tiba dia mengeluarkan benda pusaka dari saku celananya. Yaitu Sebuah dompet kemudian mengeluarkan uang dan meraih tanganku. "Eh," Kejutku tapi aku kayak kebo yang di cokok hidungnya, main nurut aja. "Ambil ini, untuk mengganti bajumu yang kotor itu" Ucap dia sambil meletakkan uang itu ditanganku. "Em ..." Aku beneran kayak orang ling-lung, malah diem mematung sambil ngeliatin mata tuh cowok gede. Eh, maksudku Cowok dewasa! "Maaf," Singkat dia, tapi aku udah ngerti maksudnya. Akupun hanya diam mematung gak menjawab satu katapun. Saat tuh cowok udah pergi lagi aku belum nyadar, masih ngeliatin dia masuk kedalam mobil dan berjalan pergi. Setelah aku sadar ... "Huaaaa!" Ku liatin tuh duit di tanganku. "Apa-apaan tuh orang! dasar orang kaya songong, huh!" Tak lama kesal diri, aku mikir daripada pusing liat nih duit bikin es-mosi jiwa, mendingan ku pakek buat beliin Es untuk si Mikha. Aku beli sekalian ngabisin tuh duit, jadinya dapat 4 es Krim merek yang agak 'Uhuk' dikit, masa bodo mahal juga, lagian males juga ku pegang tuh duit. Sesudah Es Krim kesukaan Mikha Ku dapatkan, aku lanjutkan lagi langkahku sambil gak henti-henti ngomel-ngomel dalem hati sampai tak terasa sekarang udah nyampe dihalaman depan rumah si Mikha. "Huff ... Nyampek juga aku" Di halaman rumah Mikha cukup luas, bahkan banyak anak-anak mainan bola disana. "Nah, Viviana" Sapa Mikha saat kebetulan dia buka pintu rumahnya Entah tuh anak mau ngapain tiba-tiba pala-nya nongol di pintu, lalu liat aku masih berdiri di halaman depan rumah, berakhir memanggilku. "Ngapain kamu disitu Vi, sini" Lanjut dia sambil ngelambaikan tangannya ke arahku. Aku pun senyum kemudian nyamperin dia. "Nih buatmu Mi" Kataku nyodorin kantong berisikan es Krim. "Apaan nih Vi, Cieh ... udah belajar jadi emak-emak loe?" Ledek dia, teringat emaknya kali, kalo mertamu ketempat orang pasti ada aja yang di bawa. "Buka aja." Jawabku males balas candaan dia tadi. Ku lihat dia seneng banget saat buka isi Bag yang kubawakan itu. "Woow Vi ... Ini ..." Ucap dia, kan' Kan' seperti yang kudunga hahaha. "Makan aja, semuanya" Kataku. "Dih, loe kira perut gue terbuat dari apaan?" Sarkas dia. "Karet" Candaku. "Dih, emangnye One peace?" "Hahaha, Oh ya Mi tadi ... kenapa kamu bolos sekolah?" Tanyaku. ____ Abis ku tanyain begitu, si Mikha langsung meraih tanganku masuk kedalem rumah, lalu mengunci rapat pintunya dan tampangnya tuh kayak ada sesuatu. "E, Mi ... ada apa'an?" Tanyaku polos. Dia menarik lenganku menuju sofa, menekan pundakku sampai aku duduk, lalu dia menatap dan mendekat "Em, Mi ... kamu mau ngapain?" tanyaku, serasa degup jantungku rada' dag dug deg ser. "Loe pikir mau ngapain anjher!" Dia tepuk pundakku. Plak! "Hehe" akupun cengegesan sambil garuk-garuk kepalaku yang gak gatel, untunglah si Mikha gak bisa baca pikiran, kalau enggak bisa mampus aku. "Anu--Loe udah ngerasain juga belum Vi?" Bisik dia sambil mengulum batang es krim yang kuberikan itu. Alamak, membuat otakku traveling! "Ngerasain apa maksudnya?" Tanyaku polos sambil membuka-tutup mataku secara cepat. "Anu ..." Dia sambil menjilat eskrim batangan itu, aihhh mataku tak berpaling dari sana. Ternyata kalo di perhatiin Sexy juga bibir Mikha Coy! Dia ragu mengatakannya membuat otakku semakin traveling yang enggak-enggak alias pikiran jorok Hehehe. Akhirnya ku tanya, "Kamu sendiri udah Mi?" Dia mengangguk. "Seriusan?" Ku dekatkan wajahku dan membelalak. "Iya, tadi." Jawab dia sambil nyingkirin mukaku dan mengulum lagi es krim itu di mulutnya. Membuatku telan ludah di tenggorokanku sesuai kemana pikiranku traveling "Hah, beneran? lalu ... Gimana rasanya Mi?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN