"la-lu ... Sa-sama siapa kamu ngelakuin Mi dan gimana rasanya?" Ceplosku semakin penasaran jadinya terbata, dia pun langsung menatapku dan mengeluarkan batang eskrim di mulutnya itu.
"Eh, Tunggu bentar. Ngelakuin apaan maksud loe Vi?" Tanya dia.
Aeeh mampus! Aku masih gak ngerti maksud dia!
"Am ..." Ku bingung dan lagi-lagi ku garuk-garuk kepalaku yang gak gatel itu.
"Rasanya tuh sakit dan kram di perut bawah Vi, loe pasti belum pernah ya?" jawab dia secara tiba-tiba, membuatku kebingungan gak ketulungan semakin berkutat yang enggak-enggak.
Siyal! Ini aku yang telmi atau begimana?
Ku gelengkan kepalaku "Apa Kamu ... Gak takut hamil Mi?" Ceplosku lagi sesuai yang ada dipikiranku. Tiba-tiba ...
Plak!
Si Mikha tepuk lagi pundakku.
"Astaga ...! Otak loe traveling kemana sih Vi! Kebiasaan nonton bokep loe yak, Sue loe dasar!" Ceplos dia melirik sinis.
"Hehehe"
Aku hanya cengegesan, sedangkan dalam batinku bicara 'Tau aja kau mi, aku demen mikirin yang begituan haha' ku buka bungkus eskrim lalu ku isep-isep, mengalihkan perhatian.
Bagai ada jarum jam yang berputar di kepalaku saat si Mikha udah menatapku lagi.
Tak, tik, tuk, tak, tik, tuk
"Vi,"
"Hum," Ku menoleh sambil membuka-tutup kelopak mataku secara cepat.
"Loe masih belum ya?"
Mampus, maksud dia apaan si!!!! terpaksa ku gelengkan palaku.
"Pantes."
"..."
"Ya pantesan kalo loe belum ngerasain jadinya gak tau rasanya." Lanjut dia.
Sekian lama ku berkutat, akhirnya ku hela napas perlahan, lalu aku nanya dia secara terus terang!
"Em ... Mi, sebenarnya yang kamu maksud daritadi itu apaan sih, jujur aku gak ngerti-ngerti tau." dengan berjuta kepolosanku.
Dia memutar bola matanya, mendekat ke telingaku dan berbisik "Aku udah dapet Vi"
"Hah? Dapet apaan, pacar?" tanyaku secara langsung, suaraku agak' kenceng bikin dia kaget.
"Haish ...! Kamu polos apa telmi sih Viviana!" Sarkas dia.
"Hehehe, Lalu apaan? makanya kalo ngomong yang jelas dikit napa, kagak usah muter-muter mulu, udah kayak trenggiling aja lu!" Oceh-ku yang UNTUNGNYA suara asliku gak bablas keluar!
"Huff ... " terdengar deru napasnya pertanda kayak kesal gitu sama aku yang daritadi gak nyambung-nyambung diajakin ngomong. Abis mau gimana lagi? Aku beneran gak ngerti ya begini hehe.
Akhirnya dia jelasin secara detile, saat bolos sekolah tadi dia tuh pulang duluan karna ada noda darah di rok-nya. Dan ... itu dinamakan menstruasi.
So ... Gitu aja ngomongnya kudu muter-muter dulu tuh anak, kan sue!
"Ahaha Oh ... Ya, ya, ya" jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepalaku di sertai garuk-garuk, pura-pura ngerti, padahal mah enggak ngerti samasekali yang model begituan. Hahaha
Sumpah demi para Miss Fujoshi dan Mr. Fudanshi, otakku udah traveling yang enggak-enggak tadi. Untunglah si Mikha orangnya rada' telmi jadinya gak begitu mikirin apa ucapanku tadi.
Apa sebenarnya aku yang telmi? Haha
"Huuff ..." sekarang aku yang tarik napas lega sambil ku kunyah es krim di tanganku itu, lalu kami berlanjut ngobrol panjang lebar.
Saat ngobrol bareng dia yang mengarah ke bagian obrolan pribadi cewek begini, jujur aku merasa agak-agak gimana gitu, apalagi si Mikha nyeritainnya detile abis tapi ... sejujurnya sih aku-nya aja yang nanya-nanya maksa alias mendedas dia, hahaha.
Abis mau gimana lagi, sekarang aku udah jadi cewek meski enggak tulen, aku harus belajar menyaring tentang hal ini juga dong? Lumayan lah buat nambah wawasan seputar dunia cewek. Ahay!
___
Yap,
Sejak obrolan terakhir bareng Mikha tentang dunia Cewek, entah mengapa dan sejak kapan semua itu tumbuh dalam hatiku, aku udah gak pernah lagi mikirin Genderku bahkan 95% aku menerima dan menyukai diriku menjadi seorang cewek.
Sebuah takdir kehidupan yang tidak dibuat-buat oleh diriku sendiri seperti kebanyakan orang yang merasa salah tubuh, aku menjalaninya semurni embun pagi.
Ya, itu adalah sebuah takdir yang di dasari oleh orangtuaku sendiri.
Urusan asmara bla, bla, bla, atau bagaimanapun nanti masa depanku, itu urusan nanti. Meski usiaku terbilang masih amat labil, aku gak ngurusin dunia percintaan yang sewajarnya dirasakan oleh anak-anak remaja seusiaku.
Kenapa demikian? Pastilah ada sebabnya.
Karena ...
.
.
.
.
.
Setelah beberapa hari berselang habis ku pergi main ke rumah Mikha itu, Ibuku langsung membawaku pindah kontrakan yang letaknya sangat jauh dari sekolahanku.
Semula aku ingin tanya 'kenapa kita pindah mendadak secepat ini bu? apalagi ayah aja belum pulang sampai sekarang, dan sebenarnya ayah kemana sih bu?'
Tapi, melihat ekspresi wajah ibuku tiap kali berpapasan denganku kayak enggan ngomong, Akhirnya aku gak berani sedikitpun menanyakannya.
Sedikit dugaanku adalah, Ibu-ku sedang menghindar/kabur dari para penagih hutang.
Ngomongin soal pendidikan, yang dulunya aku bisa berangkat jalan kaki, ataupun naik pit (Sepeda/motor) bareng Mikha. Kini berubah 90 derajat. Tiap hari aku kudu pakai transportasi umum transit sampai 3 kali bus trans, lalu di sambung lagi pakai ojek baru nyampe di sekolah. Bisa bayangkan sendiri kan di ranah ibu kota begini jam-jam pagi kayak gimana di bus?
Sementara sejak kejadian di Toilet itu bareng Achava, dia udah keluar langsung dari sekolahan. Kalau menurut info yang tersebar sih dia ada urusan keluarga yang mengharuskannya pindah sekolah.
Tapi ... apa iya?
Pernah ku coba tanya ke beberapa mantan teman sekelompoknya. Tapi bukan jawaban yang aku dapatkan, melainkan mereka semua menghindariku.
Bahkan, Pernah ada secercah kata yang mereka ucapkan saat dihadapanku "Hei Viviana jangan kau mendekat ke kita. Menjauhlah sana, nanti kita ketularan Virusmu"
Dan aku jawab "Virus apa maksud kalian dan apa maksud kalian?"
Mereka tidak menjawabku, melainkan tatapan mereka kayak jijik terhadapku. Tidak lama setelahnya, entah sebuah paranoidku yang kambuh atau memang ada yang berbeda dengan diriku, pada lain hari aku datang ke sekolah, seluruh pasang mata siswa-siswi kayak roman-romannya ada sesuatu.
"Mi, Mikha!" Panggilku saat aku lihat sahabatku itu, setelah menggapainya akupun langsung mengemukakan apa keluh kesahku.
Tapi ...
Bukan jawaban yang sesuai aku pikirkan dan inginkan, malahan Mikha langsung bergeser jarak dariku dan menatapku setara tatapan seluruh siswa-siswi di sekolahanku.
Ya Tuhan ....
So ... aku kaget banget lah kenapa Mikha juga berubah seperti itu sih? Semula aku ingin penjelasan dia tentang kenapa dia menghindariku sekaligus ingin ku tanya juga kenapa siswa-siswi semuanya memandangku kayak ada sesuatu, sebenarnya ada apa?
Tapi, yang ada malah aku di diamkan oleh Mikha dan dia menghindariku gitu aja sampai menjelang ujian akhir sekolah.
So ... Bisa bayangkan sendiri kan? perubahan sikap sahabat terdekat kita menyakitkannya tuh pakek banget! bahkan lebih sakit dari teriris pisau tau! apalagi kita gak tau apa yang membuat sikap dia berubah ke dirikita!
Itulah salahsatu sebab kenapa aku gak begitu memikirkan asmara remajaku, boro-boro bisa memikirkan asmara. Mikir kehidupanku aja udah runyam?
___
Singkat cerita, semua siswa-siswi menatapku seakan ada sesuatu padaku tak terkecuali termasuk cowok yang usil suka godain aku alias Lazarus And the gank Vs Cowok yang ku bilang tampan itu yang bernama Devano.
Segalanya berubah membuatku terasingkan, bahkan menjadikanku tak mau berpikir lagi tentang pertemanan dan bersosialisasi, aku fokuskan diri untuk menambah ilmu menjelang ujian akhir sekolah.
Namun ...
Ada hal yang membuatku masuk dalam keterpurukan. Saat itu, entah ada masalah apa tiba-tiba aku melihat ada Ibu-ku keluar dari kantor kepala sekolah tepatnya saat jam istirahat.
"Bu," Panggilku lalu mendekat.
Ibuku menoleh, matanya tampak sembab. Lalu ... tampa lama-lama tangan kanan dia langsung meraih tanganku, sementara tangan kirinya menyapu air mata di pipinya.
"Bu ada apa?" Ulangku membuat hatiku sakit melihat ibuku menangis begitu.
"Jangan banyak tanya, ayo ikut Ibu pulang sekarang."
"Tap-tapi bu, bentar lagi Bel masuk kan bunyi bu." jawabku.
"Gak usah banyak bicara lagi Vi, ayo pulang!" Kata ibuku dengan suara cukup lantang keliatan marah begitu, membuatku langsung menunduk takut, berakhir ku nurut.
Dalam hatiku tak henti bertanya sebenarnya ada apa ini? dan apa yang terjadi?