#Author POV
Selepas keluar dari halaman sekolah maupun di perjalanan sampai kini tiba di mana mereka tinggal, sang ibu masih diam seribu bahasa. Viandra jua tak berani sedikitpun menanyakannya lantaran tumbuh kembangnya memang tak setara manusia pada umumnya. Yakni, dia memiliki trauma mendalam akibat di asingkan sedari kecil lantaran kelahirannya tak pernah diinginkan serta mengalami kekerasan fisik dari kedua orangtuanya. Tak heran, kini dia menjadi tak mampu melawan apapun keinginan orangtunya.
Lantas, pada keesokan harinya tepatnya semasih pagi-pagi buta, Viandra sudah terjaga dari tidurnya. Dengan semangat yang menggebu-gebu seperti biasanya meski ia harus menyiapkan mental sekuat baja menghadapi puluhan pasang mata yang kini asing melihat dirinya, ia kenakan seragam sekolahnya seraya menata beberapa peralatan sekolah kedalam tas penampung buku-bukunya.
____
#Viandra POV
"Yosh!" sesudah semuanya ku rasa beres, ku langkahkan kakiku keluar kamar.
Baru saja ku menutup pintu, ada suara dari arah dapur, "Mau kemana kamu Vi?" yaitu ibuku.
"Mau sekolah bu." Jawabku pelan seolah seperti hari-hari biasanya.
"Cepat ganti bajumu,"
Aku terdiam, beneran gak ngerti maksud ibuku.
"Kenapa malah diam, apa kamu tidak mendengar perintah ibu?" ulang ibuku.
"Tap-tapi bu ..." Jawabku sedih, bahkan mataku berkaca-kaca. Degup jantungku berdetak hebat, Suatu hal yang paling aku takutkan telah menggerogoti pikiranku. Semakin menjadi-jadi saat ibuku mengulang kata-katanya lagi "Mulai hari ini kamu tidak bisa lagi sekolah disana Vi,"
Tepat seperti dugaanku, sumpah aku rasanya sedih sekali, ku menunduk lalu tak terasa air mataku mengalir di pipi setelah ibu sudah mengatakan kalo aku telah di keluarkan dari sekolah.
"Bu,"
"Cukup Vi, diam dan tak usah ngomongin ini lagi. Kamu tau apa yang membuatmu dikeluarkan hah?"
Aku menggelengkan kepalaku sambil menyapu air mata di pipiku.
"Semua karena ulah kebodohanmu sendiri, Viviana. Paham kamu!"
"Apa maksudnya bu?" Baruku jawab begitu, tangan ibu melayang di udara mendarat kuat di pipiku.
Plak!
"Apa yang kamu lakukan dengan siswi di sekolahmu hah! Kenapa kamu lakukan itu Viviana!" Teriak Ibuku sangat emosi.
Tepat seperti dugaanku, pastilah itu penyebabnya. Tapi ... aku masih belum tau kenapa semua itu bisa tersebar?
Entah, emosiku pun malah tiba-tiba menyala saat ibuku berkata itu, hingga jiwa pria seorang Viandra yang ada padaku seperti hidup bahkan menguasai pikiranku yang sebelumnya sudah menerima menjadi seorang perempuan, sekarang seperti antonim-nya.
Lalu, aku mengucapkan sebuah kata menggunakan suara asliku sebagai seorang Viandra!
"Bu, apakah aku salah menjadi seorang pria yang normal menyukai perempuan? apakah ibu benar-benar melupakan putramu yang bernama Viandra Abisatya bu? aku adalah Viandra Bu, bukan Viviana!" Selesai ku mengucapkan kata itu, aku melotot melihat ibuku malah langsung teriak-teriak sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Tidak, Tidaaaakk mungkin, Tidaaak Bukan. Tidak Viviana Tidaaak!"
Aku sangat panik, ku panggil berkali-kali ibuku tak menyahutku, dia seperti yang kulihat sewaktu aku masih kecil alias seperti orang depresi/Gila.
Setelah teriak-teriak histeris, Ibuku langsung jatuh pingsan yang membuatku semakin panik gak ketulungan. Ku mendekat ke ibu sambil ku tepuk-tepuk pipinya dan menggoyang-goyangkan badannya.
"Bu, maafkan aku. Maafkan aku Ibu, please bangun Bu, maafkan aku. Aku janji tak akan mengatakannya lagi, Ya bu aku Viviana bukan Viandra, please lihatlah aku Viviana anakmu bu, plisss bangun Ibuuuuuu!" Aku menangis histeris sambil ku peluk tubuh ibuku.
Sumpah aku sangat menyesal, kenapa aku berkata seperti tadi. Ya Tuhan ...!
Setelahnya ku bopong tubuh ibu ke kamar, lalu aku korek-korek tabunganku di seluruh penjuru tempat biasa aku sembunyikan uang. Rencana ingin membawa ibu klinik ataupun rumah sakit.
"Ya Tuhan ..." Aku sangat bingung, saat udah semuanya ku korek-korek, jumlah uang yang aku temukan tidak mungkin cukup untuk membawa ibu ke sana.
Saat aku bingung gak ketulungan sambil berjalan kesana-kemari kayak setrikaan di sebelah kasur ibuku, Tiba-tiba ibu terbangun dari pingsannya.
"Bu ..." Aku senyum langsung memeluknya, yang pastinya sudah pakai suara Viviana lagi. Ibuku juga langsung memelukku seolah tadi gak terjadi apa-apa.
Puji Syukurlah meski aku sadari ada keanehan pada jiwa ibuku, aku gak mau tau lebih tentang itu, yang jelas aku hanya ingin melihatnya sehat seperti sedia kala, karena bagiku apapun adanya ibuku, tanpa beliau aku gak mungkin hidup sampai sekarang.
Aku hanya ingin melihat beliau selalu senyum bahagia didekatku meskipun aku harus mengorbankan kehidupanku menjadi bukan diriku sendiri.
___
Setelah beberapa hari selanjutnya tepatnya sedari petang remang-remang, ibuku beraktifitas seperti biasa yaitu pergi bekerja. Sementara aku kini bagaikan seorang tuan putri yang menjalani hidupnya sangatlah monoton didalam rumah sendirian.
Aku tak berani sedikitpun membahas tentang sekolah pada ibuku, aku sangat takut jika ibu tiba-tiba histeris seperti beberapa hari yang lalu lagi. Menjadikanku kini hanya mengikuti arus kehidupan yang tak tau selanjutnya akan gimana.
Oh ya, Kontrakan yang kini kami tinggali terletak cukup terpencil hanya ada dua pintu dengan tetangga sebelah tetapi berdiameter cukup luas, bukan tipe kontrakan yang berjejer banyak pintu. Kami memang sering berpindah-pindah, sekarang bukan lagi di pusat Ibu kota melainkan pinggir, sebut saja layaknya perbatasan antara Jakarta dan Bekasi.
Bahkan lokasinya pun masuk ke gang-gang sempit. Tetangga sebelahku dihuni oleh cowok semua kurang lebih lima orang-para montir yang bekerja di bengkel tak jauh dari jalan raya. Anehnya mereka semua tipikal orang yang cukup misterius alias rata-rata pendiam jarang sekali kami saling berbaur sapa.
____
Sekitar jam 10 pagi, aku berjalan ke warung mau mencari sesuatu yang lokasinya terletak cukup jauh dari kontarakanku. Saat dijalan aku berpapasan dengan cewek yang aku kenali.
Ya, dia adalah teman satu kelasku yang bukan dari kelompok Achava dan tidak begitu dekat pula denganku. Awalnya saat aku menyapa dia, dia kayak menghindariku. Tapi, sekian lama ku berusaha ingin ngobrol bareng dia akhirnya dia mau menjawab inti pokok utama pertanyaanku.
Yap!
Sebuah misteri tentang kenapa aku dikeluarkan dari sekolah kini terkuak!
Usut punya usut misteri yang masih mengganjal dalam pikiranku pun akhirnya terungkap melalui dia dan kebetulan dia tahu persis tentang asal muasalnya. Apa mungkin dia pemilik jiwa penguntit akut? Entahlah itu urusan dia.
"Ya Tuhan ..." Aku benar-benar gak abis pikir!
Ternyata saat semua siswa-siswi kayak aneh saat memandangku itu karena ada rumor jelek tentangku. Yaitu sebuah Video rekaman ciuman antara Aku dan Achava tersebar luas sampai pada Pihak sekolah tempatku menimba ilmu. Mereka mengira aku dan Achava homo sesama cewek kerap di kenal dengan sebutan lesbian. Pihak sekolah gak mentoleransi dalam bentuk apapun yang menyangkut komunitas LGBT+ masuk ke ranah SMP makanya aku langsung di keluarkan karna ada pula slenting alias kabar burung lainnya yang saling berkaitan.
Aku jadi terpikir, apakah Achava yang menyebarkannya sendiri lalu dia langsung keluar sekolah? tapi ... Mana mungkin? itukan namanya sama saja bunuh diri!
Ternyata Eh ternyata yang sengaja nyebarin adalah teman-teman sekelompok Achava yang sifatnya talam dua muka, alias didepan Achava dia baik, di belakangnya dia busuk.
Achava saat melakukan aksi tak senonoh padaku itu awalnya untuk menjatuhkan harga diriku, dia berniat untuk menyebarkannya pada cowok-cowok yang dia bidik kususnya yang membuat Achava iri saat mereka godain aku. Contoh; si Dinosaurus alias si kunyuk Lazarus!
Tapi, ternyata kejadiannya malah aku yang mencium dia yang terekam jelas di kamera. Achava sudah keluar sekolah terlebih dahulu walau entah apa penyebab pastinya aku gak tau, lalu si S'ETAN betina temannya Achava satu itu rupa-rupanya malah sengaja nyebarin Video itu untuk nyingkirin aku juga.
Ya, semua itu dia lakukan mungkin karena dia iri karena di sekolahan itu memang hanya Aku dan Achava yang bersinar dalam hal kecantikan di mata para cowok.