Chapter 13

1125 Kata
Ya, itulah cerita kisah panjang perjalanan hidupku dari aku kecil sampai tumbuh remaja. Saat aku dikeluarkan dari sekolah itu, usiaku masih sekitar 16 tahun menjelang 17 tinggal menghitung hari doang dan dugaanku benar, aku memang sudah tidak disekolahkan lagi. Sampai kini, nyaris tiga tahun berselang, usiaku sekarang 20 tahun sudah bukan anak remaja lagi, bila diibaratkan dengan buah, usiaku ini tidak mentah dan juga matang dengan sempurna. Sudah beberapa kali Ibuku membawaku pindah kontrakan dan ayahku pun sampai sekarang gak tau dimana rimbanya. Dengan dugaan yang sama seperti dulu, ibuku membawaku pindah tempat tinggal mungkin untuk menghindari orang yang menagih hutang lagi. Yap! Ibuku memang tak pernah cerita sedikitpun padaku tentang hutang-piutang itu. Tapi aku mengetahuinya sendiri saat dia nangis mingsek-mingsek alias histeris tepat dihadapan orang yang kuduga si penagih hutang. Selama dua tahun berjalan, aku gak dibolehin kerja sama Ibu, tapi beruntung ada tetangga yang nawarin aku kerja meski hanya sekedar kerja di rumah berupa pasang anak kancing dan pasang payet pada gaun pengantin, kebaya dan lain sebagainya. Mungkin sifat ketelatenan dan kesabaran yang dimiliki seorang cewek udah melekat pada diriku, hingga aku bisa menjalani pekerjaan itu dengan nyaman, bahkan mayoritas yang aku payet adalah gaun pengantin yang harganya cukup fantastis. Ya, sebuah pekerjaan sampingan yang bikin ngantuk saat mengerjakan plus pendapatannya tak sesuai dengan harga satu bungkus rokok! Eh, kok rokok sih. Maksudku bedak haha. Eitss, bedak IYA, lipstik IYA, tapi rokok juga IYA, hahaha. Parasku masih cewek karena memang tuntutan dari ibuku dan juga karena aku udah suka jadi cewek, sering lihat tetanggaku yang dihuni cowok semua sering duduk ngumpul di teras depan sambil merokok, aku penasaran, lalu ikut-ikutan berujung doyan dan sekarang jadi kecanduan hahaha. Saat lagi smoking, aku kudu ngumpet-ngumpet di belakang kontrakan dulu biar asepnya kagak kecium dan ketahuan sama ibu, hihihi. Mungkin sekarang bisa dikategorikan aku menjadi manusia yang anti sosial serta bagai hidup didalam penjara meski tubuh tidak masuk didalam jeruji besi. Dalam artian, jika dibilang bebas aku memang bebas karena jika kabur dari lingkaran runyam ini saat waktu kapanpun aku bisa lakukan. Tapi sayang, aku bener-bener gak bisa melakukan itu. Karena apa? Jawabannya adalah karena perasaan-lah yang sedang bermain. Tau sendiri kan kalau perasaan yang udah main di garda paling depan kayak gimana? bahkan para pejabat setinggi apapun bisa tiba-tiba berubah kayak orang tol0l kalau perasaan yang udah mulai bermain, kalau tak menangguhkan hati, pasti bakalan masuk RSJ. ___ Ibuku memintaku selalu di rumah aku nurut-nurut aja, tapi pada suatu ketika ibuku jatuh sakit, awalnya sih aku kira sakit adem panas biasa, bahkan saat udah cek klinik hasilnya hanya sebatas diduga sakit tipes yang paling kenceng satu mingguan sembuh. Tapi, keadaannya tak sesuai perkiraan. Udah tiga minggu ibu-ku tak kunjung sembuh, cek ke klinik lain hasilnya beda, dokter menyatakan hipertensi, tapi anehnya itu adem panas kenapa kagak sembuh-sembuh? Sampai dua bulan lebih 22 hari, anggaplah nyaris tiga bulan, masih tidak ada perubahan, udah bolak-balik Cek, dan tebus obat sampai uang tabungan mulai tipis masih belum ada perubahan. Tubuh dia makin hari makin keliatan kurus, tapi kaki dan wajah dia ada pembengkakan, setelah cek terakhir pakai hasil aku mengorek-ngorek uang tabungan didalam celengan kodok ala-ala tempo dulu terakhir milikku itu, jumlahnya cukup untuk membawa dia ke rumah sakit yang fasilitasnya lengkap. 'Bapa di Sorga yang maha baik, tolong selamatkanlah ibu-ku Tuhan ... Please!' Tak henti ku berdo'a meski ku sadari aku tak pernah lagi beribadah ke Gereja. Aku beneran tak mau kehilangan satu-satunya orang yang aku sayangi didunia. Setelah ibuku selesai di tangani di IGD, dokter menyatakan bahwa dia menderita acute kidney Injury atau bisa disebut gagal ginjal akut. Entahlah aku kurang paham penjelasan dokter saat dia nyebutin penyakit itu. Intinya butuh prosedur Hemodialisis dan sebisa mungkin jangan putus obat. ___ Aku benar-benar fustasi dengan keadaan ini, saat hari pertama ibuku masuk rumahsakit itu, dokter menyarankan untuk rawat inap. Aku bubuhkan senyumku sebagai lambang tangguh seorang Viviana didepan ibuku yang kini terbaring lemas di atas kasur itu, setelahnya ku berlalu keluar dari rumah sakit tepatnya malam hari sekitar jam 21:15. Sepanjang jalan yang ku pijak, aku sambil melamun memikirkan solusi yang tak kunjung aku temukan. 'Ya Tuhan, Gimana caraku bisa mendapatkan uang untuk berobat ibu, aku harus gimana dan apa yang bisa aku lakukan?' Keluhku yang bener-bener gak tau solusi. Aku berjalan tanpa arah tujuan udah kayak orang pengidap depresi akut, ku tengok jalan raya sudah mulai sepi pengendara, aku pun gak punya arloji di tangan, jadi aku gak tau saat ini sekitar jam berapa, yang aku tau hanya menduga mungkin saat ini udah tengah malam. "Aihh, rupanya jalannya udah kebablasan jauh astagaaaa!" Omelku saat Aku baru menyadarinya, buru-buru ku putar arah. Jika ada yang menilai kenapa hidupku sebelibet itu sedangkan jaman ini sudah jaman serba canggih? ku akui memang sangat belibet binti ruwet alias mumet. Sekali lagi aku katakan, hidupku ini gak sama kayak hidup orang-orang yang menjalani apapun sangat enak dan enjoy plus serba mudah. Salah satunya aku gak memiliki smartphone, jadi tak mungkin bisa aku pesan ojek online, bahkan mau minta tolong ke siapa? jalan yang aku pijak saat ini sangat sepi sekali, sebelah kiri rel kereta api yang tertutup tembok setinggi 2 meter, sedangkan sebelah kanan banyak ruko-ruko yang udah tutup. Aku langsung percepat langkahku masuk ke gang-gang sempit untuk memangkas waktu. Semasih berpijak disana aku hentikan langkahku sejenak. 'Duh, ada orang-orang lagi nge-flay pula!' Gumamku saat netra ini tertuju ke suatu arah, mereka lelaki berjumlah lebih dari 5 orang, sebagian ada anak muda tapi lebih banyak orang dewasanya. Sedang Kumpul bergerombol. Dugaanku mereka sedang pesta Miras dan Narkoba karena cekakaan dan ngomong ngelantur gak jelas. Semula aku tak takut maupun berpikir hal yang tidak-tidak karena aku juga sesama cowok seperti mereka apa yang perlu aku takutkan? Tapi, aku menyadari tampilanku sekarang adalah cewek aku gak mau aja ada hal negatif terjadi padaku. Aku mundurin langkahku lagi, lalu berputar badan secara cepat. Tapi tiba-tiba ... Plek! Ada yang meraih pundakku dari belakang. "Hai cewek ..." Ternyata beberapa dari mereka! Ya Tuhan, jantungku berdetak cepat karena ku tengok sekeliling sangat sepi sekali selain gerombolan orang ini. Ku lepaskan tangan dia dari bahuku, tanpa ku jawab sepatah katapun. Setelah ku mau lanjutin pergi, mereka menarik tanganku. "Hei Neng cantik, mau kemana malam-malam begini Neng ... kenalan bentar sini sama abang, apa mau abang anterin?" "Anterin ke sorga dunia bray ... hahhaha" lainnya menyahut. "Ahh, dingin pula malam ni, apa kau gak kedinginan Eneng cantik?" Mereka saling ngomong ngawur gak jelas khas sedang nge-flay. "Lepasin, hei!" Rontaku, tapi mereka masih saja melakukan hal yang sama bahkan cengkarman mereka jauh lebih kuat dari sebelumnya. "Kenapa kau keliatan takut Cantik, abang ini bukan orang jahat loh. Betul Gak bro?" "Aeeh betul sangat itu bro ... Lihatlah muka abang ini neng cantik, apakah abang keliatan kayak orang jahat? Hiaaahaha"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN