Chapter 14

435 Kata
Aku bener-bener kaget dan gak tau harus bagaimana, mereka mencengkram tanganku kuat banget membuatku susah bergerak. Akhirnya naluriku tumbuh dengan sendirinya aku langsung tendang alat terintinya alias pennis yang umumnya disebut kont0l. Yap! kont0l tuh cowok langsung ku tendang kuat dengan lututku. Bugh! "Uugghh, Aarrggghhhh!!!" salahsatu dari Mereka langsung melepaskan tanganku lalu memegangi celana tepat di kontolnya sendiri tanda sakit dan puyeng tuh kepala yang dia rasain, mampus! Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan diri, ku susul menendang kont0l tuh cowok yang satunya lagi. Buugh! "Aaarghh!!!! Anjeeeng!!! dasar Cewek babi lo b*****t!" Umpat mereka padaku-meringis kesakitan. Setelah tanganku terlepas aku mau langsung kabur, tapi sial! mereka lagi-lagi berhasil mencengkram tanganku, bahkan mendekap tubuhku erat dari belakang. "Mau pergi kemana sih eneng manis ..." Ucap orang yang mendekapku, bukan orang yang kontolnya tadi aku tendang melainkan beda orang. "Lepasin!" Rontaku, tapi dia malah mengendus-ngendus bagian leherku dari belakang. Jujur rasanya geli banget, apalagi tuh mulut cowok bau alkohol. Aku berusaha sekuat tenaga melepaskan mereka, tapi sangat sulit. Akhirnya, "Lepasin gua anjeng!" teriakku menggunakan suara asliku sebagai Viandra. Bukannya mereka pada kaget denger suara asliku, malahan aku dengar salahsatu dari mereka ada yang berkata "Woooowow, waria ternyata dia Bray" "Secantik ini ternayata Waria? Aahh ... kebetulan sekali, aku sangat menyukai waria" Sahut yang lainnya terdengar suaranya berat, tubuh tuh orang yang lagi ngomong keliatan gede plus rada buncit perutnya. "Bacot lo anjeng!" Aku terus mengumpat saat mereka-mereka akhirnya berhasil menyeretku ke suatu tempat. Tubuhku di lemparkan sampek menabrak dinding membuatku jongkok didinding itu bahkan rambutku pun mulai acak-acakkan, lalu mereka-mereka mendekat dan mengelus pipiku secara lembut. "Kenapa kamu menangis Neng ..." Sambil ketawa bersama teman-temannya "Hahaha" Kesal, Aku langsung tangkis tangan tuh cowok. Plak! Satu, dua dan tiga kali orang itu masih melakukan hal serupa, akhirnya rasa kesalku udah gak ketahan, aku meludah ke muka tuh cowok. "Cuih, Bangsatt kalean orang!" Umpatku. Tuh cowok melotot murka, Lalu pipiku pun langsung di tempeleng kuat oleh dia. Plak! "b******k!" Umpat dia sambil menyapu wajahnya bekas ludahku itu, sementara yang lainnya saling ketawa. Kemudian, orang yang sedang berdiri di hadapanku pun berkata pada teman-temannya. "Bray, the Game Begins!" "Yoyoi ... Aseekk ..." Entah, perasaanku benar-benar mulai tidak enak, degup jantungku berdetak hebat semakin kuat. 'Mau apa mereka, Tidak!' Rontaku didalam hati. Lalu, tuh cowok yang badannya paling gede dan perutnya sedikit buncit berdiri tepat didepanku yang kini posisiku masih jongkok bersandar di dinding. Dia menyeringai sambil membuka perlahan gespernya berujung membuka celananya. Setelah tuh gesper sempurna terbuka, lalu dia menampilkan sesuatu yang terlihat besar nan panjang serta ditumbuhi sesuatu yang lebat di pangkalnya, membuatku membelalak dan menganga. Lalu ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN