Chapter 8

1081 Kata
Aku masih diam, karena bener-bener gak ngerti maksud Koleb itu apaan, tapi ... si Elisa dan teman-teman lain masih terus mendedas pertanyaan itu berulang-ulang. "Woi Vi, kok malah diem aja loe! kuping loe congek ya, hah!" Celetuk dia. E, buset! ini cewek tajem bener lidahnya? "Em-emang Koleb itu apaan sih, El?" tanya balikku, sembari ku lirik ke arah Achava, dia menatapku penuh misteri yang membuatku merasa bersalah padanya. "Udahlah Girls, gak usah tanya ke cewek gak waras kayak dia. Lebih baik menjauh dari dia supaya kita gak ketularan Virus dia!" Sarkas Achava meraih lengan teman-temannya kemudian dia pergi meninggalkanku. Dalam hatiku "MAK DEG" Virus apaan coba? setahuku, aku gak punya penyakit apapun tuh. Aku masih berdiri di tempat yang sama, benar-benar frustasi dengan nasibku ini. Ku kepalkan tanganku kemudian ku hantam pintu didepanku sekeras-kerasnya. Brakk! Braak! "Arrgghhhh!" Aku teriak, tapi bukan karena tanganku sakit habis menghantam pintu, melainkan teriak kesal karena aku merasa hidupku kayak tokoh utama anime yang eksis di era tempo dulu itu loh ... Judulnya Inuyasha, Yaitu hanyo (Manusia setengah siluman) yang gak di terima di dunia manusia, gak di terima pula di dunia siluman dalam artian aku berjenis kelamin laki-laki, tapi gak bisa jadi laki-laki sedangkan jika jadi perempuan aku gak bakalan bisa menyukai perempuan. Nah, ribet gak? sangat ribet binti ruwet alias mumet, kawan! Rasa sakit gak aku rasakan saatku hantam pintu itu, sampai-sampai tanganku berdarah pun aku gak nyadar. Aku sandarkan punggungku ke dinding, perlahan turun sampai posisiku jongkok. Tak terasa air mataku mengalir begitu aja, meski sedikitnya aku sadari aku jadi laki-laki kok bisa secengeng ini sih? tapi ... ah Masa bodo' lah, lagipula siapa juga yang melihatku disini? dan siapa pula yang tau kalo aku laki-laki? __ Disaat aku masih menenggelamkan wajahku di tangan yang aku lipat dikedua lututku, tiba-tiba ada yang meraih tanganku. "Hei, sedang apa kamu disini?" Kata dia, kedengarannya suara cowok. Aih Siyal! Ketahuan cowok pula posisiku lagi begini, aku langsung menyapu kedua air mata tanpa menjawab maupun menoleh ke arah dia. "Hei apa kamu sedang menangis?" Tanya dia lagi, saat aku menoleh perlahan ... Alamak! Kenapa dia ngeliatin aku sampai sedekat ini? Aku buru-buru lepasin tangan dia dari tanganku, kemudian berdiri. "Aku gak papa" Senyum palsu kuluncurkan, untuk menutupi rasa cemas dan gerogiku. Ya, Aku gerogi ternyata cowok ini si ganteng dan keren yang aku lihat di koridor tadi! Sumpah, masalah dengan Achava yang tadi sempat mengobok-obok otakku, sekarang tiba-tiba Ambyar! Entah mengapa aku gak bisa ngadepin cowok ini, akhirnya aku melangkah mau pergi. Tapi, baru aja mau melangkah, tanganku di raih dia "Tunggu" ucap dia sambil ngeliatin tanganku. "Ini ... Tangan kamu kenapa?" tanya dia. "Am ... Em ..." Aku Terbata saat mau menjawabnya perhatianku ke dia saat dia lagi ngeliatin darah di tanganku, sebelum aku lanjutin ngomong, dia ngeluarin suatu benda pusaka pribadi berupa sapu tangan. Langsung dia sapukan di tanganku. "Awwh," Rintihku, rasanya emang sakit dan perih, So ... Nyawaku kemana saat aku hantam pintu tadi coba? hahaha. "Maaf, kalau terlalu keras. Aku pelankan sedikit ya ..." Lanjut dia suaranya kedengaran lembut, sambil meniup-niup tanganku. Eh, eh, eh, apa ini? Kenapa mataku gak berpaling dari dia? Oiih Wahai Viandra yang menjelma jadi Viviana sadar oiih ... Sadar ... !! "Sebaiknya aku antar kamu ke UKS ya, takutnya nanti bisa infeksi kalau dibiarkan begini" Ucap dia, membuyarkan lamunanku saat menatap wajah ganteng dia. "Em-Anu-Gak usah, aku bisa sendiri kok." Jawabku gerogi sambil mengenggam sapu tangan dia. "Aku akan kembalikan ini besok kalau udah bersih ya, Terima kasih" Pamitku, mau pergi. "Hei, kamu" Panggil dia lagi. Aihh Siyal! Kenapa Kakiku kayak ada magnetnya sikk ...! tiba-tiba ngerem aja saat dia manggil. Akhirnya mau gak mau aku menoleh sebentar ke dia. "Ya ..." Jawabku pelan. "Aku Devano, boleh aku tahu siapa nama kamu?" Dia ngajakin kenalan rupanya! Aku diem sebentar, mungkin ada 15 detikan. Akhirnya aku jawab, "Namaku Viviana" sedikitku berikan senyum, setelahnya aku langsung pergi dari sana. Hufff ... ! Saat menuju ke ruang UKS mata dan kepalaku sambil menolah-noleh mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Mikha teman terdekatku itu? biasanya tuh anak udah kayak prangko selalu nempel dan bareng sama aku, tapi tiba-tiba hari ini dia malah ngilang gak keliatan batang hidungnya, kan sue! Udah selesai mem-perban luka tanganku di UKS, bahkan sampai bell masuk sekolah bunyi, aku samasekali gak ketemu si Mikha. Sebelum aku masuk ke ruang kelasku, sempat ku intip di kelas dia dulu. "Eh, Kenapa meja dia kosong? Bolos atau gimana dia ya? Tumben sekali tuh anak?" Gumamku saat udah ku cek gak ada dia didalem sana. ___ Setelah udah kembali di kegiatan literasi, jujur aku jadi takut mau menolah-noleh, apalagi ke meja Achava? Sumpah, Aku udah kayak orang pengidap paranoid akut! Sedangkan dari sisi Kanan ada mahluk yang super-duper resek sejagat raya siapa lagi kalau bukan si kunyuk Lazarus? dia bolak-balik melempar buntelan kertas ke mejaku dan memberikan kode supaya aku mau baca tulisan di setiap kertas itu. Tadinya aku masa bodo, dia mau lempar sekarung buntelan kertas pun, tak akan mau aku buka. Tapi aku juga mikir kalau nanti guru melangkah ke sisi mejaku lalu melihat sampah berupa buntelan kertas berserakan dimejaku gimana coba? Akhirnya aku menuliskan kata di kertas juga 'Nih udah aku buka dan balas, tapi jangan lemparkan kertas lagi, Oke?' Lalu ku sobek dan lempar ke dia, sama persis yang dia lakukan padaku. Suut! Lemparanku tepat sasaran kena' ke wajah dia ahaha, mampus kau! Setelah aku buka buntelan kertas dari dia, isinya bikin aku gondok sampai mentok! Apa lagi kalau bukan rayuan-rayuan gombal Khas cowok? dasar cowok emang paling pinter ngegombal, Huh! Eh, aku juga cowok ya? Hahaha. Aku gak nyadar saat aku lempar kertas ke dia, dia lempar lagi, aku lempar lagi, dia lempar lagi, Sampai akhirnya .... "Laza! Viviana! apa yang kalian berdua lakukan di jam pelajaran? sini kalian maju kedepan." Guru meneriaki kami. Tuh kan jadi Mampus! Begitu aku dan Lazarus maju kedepan, langsung dapat teh hangat yang di oplos bertawali sama guru. Hukuman yang super-duper melegenda sejak jaman purbakala juga siap akan kami terima. Apa lagi kalau bukan hukum gantung? Iya, Hukum GANTUNG-IN satu kaki! sama gantungin tangan pegang telinga, sampai jam pulang sekolah. SIYAAAALL!!!! Si kunyuk malah kegirangan senyum-seyum gak jelas saat kami berdua berdiri disana, seakan puas berdiri bersebelahan denganku. Demi Para dedemit yang amit-amit mulutku gak berhenti-henti komat-kamit. "Semua gara-gara kamu, tau!" Lirihku, melirik sinis ke dia. "Bukankah semua ini momen yang sangat indah Vi ..." ucap dia sambil Menaik-turunkan alisnya, Sok Cool! Malah mengambil kesempatan dalam kesempitan tuh anak, kan' sue!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN