Cowok ini ngajakin aku ngobrol panjang lebar dan entah mengapa rasanya nyambung aja ngobrol sama dia. Bahkan dia ngobrolnya gak cuma topik basa-basi doang, tapi ke arah seputar pengalaman hidupnya/Nostalgia.
Entah takdir entah apa semua yang terjadi ini, setelah malam ini berlalu keesokan harinya dan hari esoknya lagi sampai aku serasa makin akrab sama si bang Top ini.
Eh, kok bang Top?
Iya, ceritanya tuh ... saat Awal-awal ngobrol bareng dia, dia yang minta dipanggil namanya saja jangan pakek (Pak) lalu ... lidahku keplintir saat mau nyebut kata Bang Tobi ... eh ... malah jadi bang Top.
Karna lucu dan unik dia pun malah ingin aku terus manggil dia dengan sebutan bang Top.
___
Hari ini dia datang ke rumahku lagi. Dan ... lagi-lagi yang aku bilang apakah ini takdir adalah ... dia datang bertepatan saat aku sedang dalam kesulitan.
"Memangnya berapa total jumlahnya Bu?" Kata Bang Top sama Ibu Kontarakan yang lagi pembayaran kontarakan udah nunggak hampir lima bulan ke aku.
Ibu kontarakan pun nyebutin nominal jumlahnya.
"Oke, sekarang lunas ya!" Kata Bang Top
"Bang???" Kejutku saat gak ku sangka bang Top tiba-tiba melunasi semua itu. Aku benar-benar kaget antara senang penuh syukur dan juga tidak enak hati dan bingung campur aduk kayak es campur dah pokoknya
Setelah Ibu kontarakan pergi aku masih berdiri di tempat yang sama diam nunduk, pikiranku traveling tentang gimana caraku membayar hutang pada bang Top nantinya? Dan kenapa bang Top melakukan hal baik ini padaku?
"Hei Vi, kenapa masih diam melamun di sana? Aku beli makanan nih, mari kita makan" bang Top udah berdiri di ambang pintu.
Aku pun segera berbalik badan lalu nyamperin dia. Duduk di kursi ruang tamu, bang Top udah sibuk bongkar makanan yang dia bawa sedangkan aku masih diam melamun.
"Loh, kok belum di makan?" Kata bang Top membuat lamunanku tercabik.
"Em ... It-itu bang, tadi ..." rencana aku tuh pengen ngebahas tentang tadi.
"Makan saja dulu, nanti keburu dingin udah gak enak lagi di makan" Kata bang Top sambil ngeluarin senyuman ter UUUHH-nya itu. Akhirnya aku pun menurutinya.
Setelah selesai makan, barulah kembali ke topik obrolan "Kamu bisa membayarnya secara nyicil" kata bang Top yang benar-benar bikin penyakit telmi-ku kumat.
Aku pun milih diam dan menunduk daripada salah mengartikan, kan malu sendirik?
"Kamu Gak perlu khawatir, aku ada pekerjaan untukmu dan ..."
"Pekerjaan?" Aku beneran kaget denger kata-kata itu.
"Iya, nanti kamu bisa nyicil dari hasil kerjaan itu sekaligus untuk perawatan pengobatan Ibu kamu, Vi"
"Beneran bang?" Aku seneng bukan main sampek-sampek aku gak nyadar jari-jariku ini meremas lengan berotot milik dia.
"Iya," Bang Top pun senyum melihatku semringah banget.
"Ya Tuhan ... Terima kasih banyak ya bang Top ... Makasi Bang " saking senangnya, sampek aku lepas kontrol memeluk dia erat.
Setelah aku nyadar ...
"Em ... maaf bang hehe"
Malu oii!!!! Sialan! Apa-apaan aku ini malu-maluiiinnn!!!!
"Yaudah kalau begitu nanti sore kamu siap-siap ya"
"Sore ini? Langsung?"
"Iya, Aku akan membawamu melihat apa pekerjaanmu" kata Bang Top, yang lagi-lagi ngeluarin Senyuman s€tan yang bikin aku kayak orang kesurupan.
____
Sore hari pun tiba, aku pun sudah siap-siap sesuai yang bang Top siang tadi bilang.
"Kamu mau kemana Vi?" Tanya ibuku mendekat padaku menggunakan kursi rodanya. Ibuku memang sudah kritis dari penyakit Ginjal yang di deritanya itu. Sebetulnya dia masih bisa jalan, tapi kalau jalan sejauh sepuluh langkah bagi kita yang normal, dia merasakannya seperti berlari sejauh 1 Km (kurang lebih)
"Mau lihat pekerjaan bu" Jawabku.
"Pekerjaan?"
"Iya Bu"
"Pekerjaan apa, di mana dan siapa yang menawarkan pekerjaan itu Vi?" Tanya ibuku, keliatan khawatir banget padaku.
"Bang Tobi bu"
Ibuku pun diam selama aku masih sibuk merias wajahku secara Natural di depan kaca cermin.
Ibuku pasti tau meski aku gak menceritakan semuanya secara gamblang tentang biaya cuci darah dan segala resep obat dalam beberapa waktu terakhir ini lancar jaya adalah karena bantuan dari bang Tobias
"Vi ..." Ibuku memanggilku pelan.
"Ya bu," aku menjawab dan melihat ibuku dari cermin. Dia terlihat sedih sekali. Saat aku mau beralih ke dia dari kaca cermin, suara klakson mobil dari depan membuat perhatianku teralihkan.
Tiinnn!
"Ah, itu Bang Top sudah datang" Kata ku pelan. "Tunggu sebentar ya bu" pamitku, berlalu membuka pintu rumah.
"Bang ..." Sapaku.
"Sudah siap Viviana?"
"Um" Aku mengangguk penuh semangat.
"Yaudah kita jalan sekarang ya, keburu macet"
"Ya Bang"
Setelah aku pamit sama ibu, begitupun bang Top yang sama-sama minta Izin pergi membawaku, kami pun langsung berangkat.
Bang Top langsung membawaku ke sebuah pusat perbelanjaan besar, lalu menuju ke sebuah salon kecantikan.
Aku mengikuti alur yang ada saat penampilanku langsung di ubah sedemikian rupa, mulai dari riasan wajah, rambut hingga busana serta aksesoris pelengkap.
Style yang begitu kekinian! Untungnya aku pernah iseng-iseng belajar makek High heels! Jadi gak kaget-kaget amat lah ... Hihihi
"Woww!" Aku benar-benar tertegun melihat penampilanku sendiri saat sudah 90% selesai.
"Itu kah aku?" Tak henti-hentinya aku terkagum-kagum sama paras Viviana mendiang adik kembarku yang ada didalam diriku ini!
Tapi ... selain rasa kagum dalam benakku melihat parasku yang amat sempurna cantik ini, tercampur pula rasa heran dan penasaran. Pekerjaan apakah gerangan yang mengharuskan aku ber-make up dan berpenampilan seperti ini?
____
Setelah selesai, bang Top menjemputku dan membuatku melongo juga saat melihat perubahan penampilan, Sangat berbeda dengan tampilan saat dia menjemputku tadi. Serasa kayak pasangan suami-istri yang mau kondangan.
Aku bertanya-tanya pada diri sendiri tetapi lidahku cukup kaku untuk langsung menanyakannya sama dia.
"Mari ..." Dia mengajakku keluar dari salon itu, dan berlalu dari pusat perbelanjaan.
Semasih di perjalanan, berkali-kali aku memandangi seraut wajahnya yang benar-benar gak bisa aku tebak. Lalu, tiba-tiba dia menepi.
Nyampe beberapa menit sudah berlalu Dia masih diam begitu pula aku. Aku lihat dia mengambil satu lembar tisu, kemudian menyeka bagian matanya sendiri.
Oh my God! Dia sedang menangis ternyata!
"Bang?"
"Hum"
"Em ... ada apa ya bang?"