Meski beberapa kali aku jatuh, aku masih terus bangkit melanjutkan perjalannku, cara berjalanku pun sempoyongan sampek akhirnya tiba di pinggir jalan raya yang saat ini udah sepi banget.
Saat rencana aku mau nyebrang tiba-tiba ...
Buggghh!
Tubuhku terhantam oleh mobil yang gak aku lihat melintas. Beruntungnya mobil itu gak sedang melaju cepet, jadinya hanya membuatku jatuh aja gak nyampe terpental.
Saat Aku sedang jatuh di posisi tengkurap, aku denger suara cowok mendekatiku.
"Maafkan saya,"
Aku berusaha sedikit bangkit tapi sangat susah, lalu tuh cowok tangannya mengulur ke arahku dan membantuku sampek aku duduk.
"Jangan sentuh aku!" Reflekku, langsung nyingkirin tangan dia sambil cepet-cepet aku menutupi bagian dadaku dengan kedua tangan.
Aku gak berani menatap mata cowok itu, malahan tiba-tiba dia mengulur tangannya lagi ke ke arah tubuhku.
"Tid-tidak!" awalnya aku reflek mau nyingkirin tangan dia lagi, tapi setelah aku sadar ternyata dia menaruh jaketnya ke tubuhku untuk menutupi bagian dadaku yang terbuka ini, bahkan saat dia melakukannya dia palingkan wajah ke lain sisi alias gak sambil melihatku.
Akhirnya aku nunduk dan menerimanya.
"Sekali lagi maafkan saya ya, saya telah teledor saat berkendara membuatmu hampir celaka." Cowok itu membantuku berdiri lalu menuntunku ke arah mobilnya.
"Mari akan saya antar kamu ke rumah sakit" dia sambil membuka pintu mobilnya.
"Tidak, terima kasih. Aku tidak apa-apa" tolakku gak berani melihat ke wajah orang itu.
"Sekali lagi maafkan saya, baiklah jika kamu tidak ingin saya antar ke rumah sakit, akan saya antar kamu pulang ya?" Tawar dia lagi, aku masih gak menjawab apa katanya, lalu dia langsung memasukkan aku kedalam mobilnya yang membuatku akhirnya nurut.
___
Semasih di perjalanan aku hanya menunduk, sementara dia tidak banyak bertanya-tanya hanya sekedar tanya alamat rumahku saja.
Saat sudah beberapa menit, aku yang masih merasakan campur aduk akibat kejadian tadi awalnya gak mau lihat orang yang sedang bawa aku ini, tapi semakin lama aku pun mulai merasakan penasaran kayak gimana sih muka dia?
Akhirnya aku memberanikan diri untuk melihat wajah cowok disebelahku ini.
Dan ...
'OMG! '
Wow! Batinku benar-benar tertegun setelah udah melihatnya!
Perawakan gagah, Cool, ganteng, putih, alisnya tebel dan tajem banget tatapan matanya.
Ku pandangi baik-baik muka cowok ini, roman-romannya kayak gak asing.
Setelah cukup inget, ternyata cowok ini adalah cowok yang sama yang aku temui satu kali pada 3 tahun silam. Yaitu saat gak sengaja bertemu tepatnya saat aku sedang berjalan ke rumah Mikha.
Saat aku sedang melihatnya Dia menolehku juga, akhirnya aku pun langsung mendundukan kepala lagi.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya dia terdengar seperti khawatir dan peduli.
Aku sebatas menggangguk pelan.
Sampai saatnya tiba di rumah kontarakanku, dia membantuku turun dari mobil sampai masuk kedalam rumah.
"Terima kasih ya pak" Ucapku.
Dia tidak menjawabnya, malahan menolah-noleh ke seluruh ruang.
"Apakah kamu hanya tinggal seorang diri?" Tanya dia.
"Aku tinggal bersama ibuku."
"Lalu ... apakah ibumu saat ini sedang tidur?" Tanya dia lantaran saat ini kondisi rumah emang sepi sekaligus waktu memang udah tengah malam.
"Enggak, ibuku sedang tidak ada dirumah. Dia dirawat di rumah sakit" Jawabku.
Menjawab dari pertanyaan dia justru malah membuatku teringat ibu dan kejadian mengerikan tadi. Tak terasa aku menangis lagi yang membuat cowok itu mendekatku lalu menuntunku duduk di kursi.
Setelah duduk dengan baik, dia tengok-tengok bagian lenganku, "Apakah disini ada persediaan kotak obat?" Mata dia melihat luka gores di siku-ku akibat jatuh tadi.
Aku mengangguk sambil menelunjuk ke suatu arah kotak obat.
"Tunggu sebentar ya" Ucap dia berjalan ke sana lalu mengambilnya dan membawakan obat merah dan kapas ke arahku.
Dia duduk di sebelahku, "Maaf, bisa berikan lenganmu?" pinta dia penuh sopan dan kelembutan yang membuatku pun langsung memberikan sesuai permintaannya.
Semasih dia mengoles obat merah pada lenganku sambil berkata "Namaku Tobias Marten, usia 31 Tahun. Boleh mengetahui siapa namamu dan usiamu?" sambil menatapku.
Awalnya aku diam hingga beberapa detik, tapi akhirnya aku jawab sesuai seperti yang dia katakan itu
"Ak-aku ... Aku Viviana Abisatya, usiaku 20 Tahun."