8. Pengintaian

1547 Kata
Xaviera dan Airia telah mengamati pergerakan iblis selama lebih dari dua jam. Keduanya bisa leluasa masuk ke dalam dengan penyamaran hebat dari ide Airia. Kedua gadis itu menyatu dan melebur bersama air sungai yang berada di dekat tenda yang dibuat oleh para iblis. "Sepertinya kita harus mencoba untuk lebih mendekat dan mencari tahu bagaimana mereka bisa masuk ke sini. Terlebih aku sangat penasaran dengan kerangkeng yang di bawa masuk oleh mereka tadi, apa isinya?" bisik Airia. Xaviera mengangguk setuju. Kedua gadis itu merubah wujudnya kembali ke bentuk manusia dan berjalan lebih dekat. "Bagaimana caranya kita masuk? Mereka bisa langsung mengetahui keberadaan kita dengan penciuman tajam mereka," tanya Xaviera sambil terus mengawasi keadaan sekitar. Airia menggeleng, ia tidak memikirkan hal itu. Baiklah katakan saja rencana pengintaian mereka kurang matang, itu memang benar adanya karena keduanya sejak awal tidak membuat rencana. Xaviera tiba-tiba menjentikkan jari, teringat akan sesuatu dan hal itu membuat Airia terkejut dan memukul ringan bahu adiknya. "Aku bisa mengalihkan penciuman mereka dengan aroma lain, tapi aku perlu banyak bunga," katanya sambil memijit pelan bahunya yag tadi dipukul oleh Airia. "Tunggulah di sini, aku akan mencari bunganya lebih dulu. Jangan sampai kita ketahuan." Airia mengangguk, membiarkan adiknya pergi meninggalkannya. "Apakah raja akan mengirim pasukan lain untuk datang ke sini dan membantu pencarian kita?" tanya salah satu iblis yang memiliki tubuh berwarna merah dengan satu tanduk tepat di tengah dahinya. "Sepertinya kita akan kedatngan dua kapal lagi sesuai yang dikatakan oleh atasan kita," balas temannya. Jantung Airia berdetak dua kali lebih kencang mendengarnya. Tiga kapal saja sudah merepotkan dan terlalu banyak, dan sekarang akan ada dua kapal lagi yang akan datang hanya untuk mencari keberadaan Sierra. "Ini berita buruk, bagaimana mungkin kami bisa mengalahkan pasukan iblis yang memiliki persenjataan lengkap dengan tangan kosong? Bagaimana jika salah satu dari kami lengah dan Xaviera akhirnya tertangkap?" batinnya merasa khawatir. "Bagaimana persiapannya? Kapan kita akan melakukan pencarian Sierra?" tanyanya lagi pada temannya. Belum sempat menjawab, tiba-tiba iblis lain muncul dan menyuruh agar semua iblis berkumpul ke titik kumpul untuk membahas pencarian Sierra. Airia penasaran dan ingin mengikuti tetapi, Xaviera tak kunjung datang juga. "Ke mana anak itu? Kenapa sangat lama? Airia tidak bisa menunggu lebih lama lagi, ia hendak pergi mengikuti para iblis tetapi, seseorang menepuk pundaknya. Membuatnya menoleh dan ternyata Xaviera. Gadis kecil itu langsung meniup sesuatu yang menyerupai bubuk ke seluruh tubuh Airia hingga membuatnya terbatuk. Xaviera juga melakukan hal yang sama. Setelahnya ia menepuk kedua tangannya guna membersihkannya sari sisa kotoran. "Baiklah kita sudah aman, mereka tidak akan bisa mencium aroma tubuh kita dan hanya bisa mencium wangi bunga," kata Xaviera dengan bangga. Airia langsung menarik tangan adiknya setelah mereka menyamar menjadi salah satu bentuk iblis dan ikut ke titik perkumpulan. "Kita akan ke mana?" bisik gadis itu karena tangannya ditarik dan ia diseret paksa mengikuti langkah kakaknya. "Ah, s**l. Kau terlalu lama, sepertinya kita terlambat. Mereka semua sudah menghilang," gerutunya yang membuat Xaviera semakin bingung. "Memangnya ada hal penting apa?" tanyanya masih dengan nada berbisik padahal tidak ada siapa pun di sana selain mereka berdua. "Tadi ada iblis yang bilang akan membahas tentang pencarian Sierra, jika saja kau tidak lambat mungkin kita bisa menguping rencana mereka. Pasti mereka berdisuksi di dunia bawah," kesalnya. "Karena mereka semua menghilang, sebaiknya kita geledah saja tempat ini untuk menemukan petunjuk lain," usul Xaviera. Airia menepuk puncak kepala adiknya dan berkata, "Wah, ternyata otakmu ada gunanya juga." Airia dan Xaviera berjalan masuk dari satu tenda ke tenda yang lain. Selama pencarian mereka hanya menemukan beberapa hal yang tidak penting. Bahkan di dalam sana tidak ada buku atau perkamen mengenai sihir apa pun yang bisa digunakan untuk memangkal sihir pulau itu. Xaviera tanpa sengaja masuk ke ruang persenjataan. Di sana terdapat banyak sekali s*****a mulai dari pedang, busur dan anak panah, senbon, tombak dan alat lain yang bisa digunakan untuk perang. Xaviera terkesima melihat lengkapnya persenjataan yang dimiliki oleh klan iblis. Ia berjalan mendekat, melihat semua s*****a itu dan menyadari jika s*****a itu dibuat oleh pengrajin kerajaannya dahulu. Yang para iblis gunakan adalah s*****a milik negara mereka, negara yang awalnya aman dan damai. Xaviera yang geram langsung menendang salah satu rak yang berisi s*****a pedang. Tanpa ia sadari rak itu jatuh dan menimpa rak lain hingga suara gaduh timbul. Rak terakhir mengenai sebuah benda yang tertutup oleh kain hitam dan bunyi besi yang nyaring bergema di ruangan. Xaviera ingin pergi, ia takut ketahuan karena telah membuat bising, namun sebuah benda yang tertutup kain tersebut membuat rasa penasarannya muncul. "Bukankah itu kerangkeng yang tadi dipindahkan dari kapal?" tanyanya pada diri sendiri sambil berjalan mendekat ke arahnya. Xaviera kini berdiri di depan benda itu. Menarik kain berwarna hitam yang menutupinya. Matanya membulat melihat benda apa yang terkurung di dalamnya. Tubuhnya kaku, ia ingin segera lari dari sana tetapi, tubuhnya enggan untuk melakukan perintah dari otaknya. Airia yang tadi mendengar suara gaduh pun langsung berlari menyusul adiknya. Gadis itu begitu terkejut melihat isi dari kerangkeng yang kain penutupnya terbuka, terlebih adiknya ada di depan benda mengerikan itu. Airia melesat dan menyeret paksa adiknya agar keluar dari ruangan tadi. Keduanya kini bersembunyi di balik batu. "Apa yang kau lakukan di dalam sana dengan harimau raksasa itu? Jika dia bangun maka tamatlah riwayatmu," geram Airia pada adiknya tersebut. "Aku terlalu terkejut sampai tubuhku berubah jadi kaku, bahkan aku tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri." Xaviera meraba d**a kirinya sendiri, ia dapat merasakan debaran jantungnya menggila di dalam sana. "Astaga, aku tidak mengerti kenapa mereka harus membawa monster mengerikan semacam itu hanya untuk mencarimu." Xaviera menatap kakaknya dengan raut wajah memelas. "Apakah tidak ada petunjuk lain yang ditemukan?" tanya Xaviera. "Aku menemukan sesuatu, tetapi kita harus pergi dari sini terlebih dahulu, di sini terlalu berbahaya." Xaviera mengangguk. "Sepertinya kita harus kembali sebelum ada yang menyadari keberadaan kita," usul gadis kecil itu. Baru saja mereka melangkahkan kaki keluar dari sana, salah seorang iblis menyadari keberadaan keduanya dan memanggil kawanannya untuk menangkap Xaviera dan Airia. "s**l, kenapa harus sekarang?" batin Airia geram. Ia menggenggam tangan adiknya dan melesat cepat dari tempat itu. Sayangnya para iblis dapat menemukan mereka dengan cepat. Keduanya terpaksa terlibat dalam pertarungan yang tak seimbang. Xaviera melepas genggaman tangan kakaknya, berlari ke arah lain untuk melawan iblis yang mengejarnya. Ia melompat ke atas dan menendang para iblis satu per satu dan mendarat dengan mulus. Para iblis mengayunkan tombak mereka untuk menyerang Xaviera, gadis itu menahannya dengan kedua tangan. Berusaha mendorongnya sekuat yang ia bisa dan akhirnya seluruh iblis terpental jauh. Xaviera memanggil kekuatan alam. Tak lama kelopak bunga muncul dan mengitari tubuhnya. Xaviera menggerakkan tangannya dan kelopak bunga yang beterbangan mulai berkumpul di telapak tangannya. Ia arahkan kelopak bunga tadi ke iblis yang akan menyerang dan boom! Suara ledakan terdengar begitu dahsyat hingga menggetarkan tanah yang mereka pijaki. Xaviera melakukan hal yang sama berulang kali ke arah para iblis yang mulai mendekat. Sementara Airia melawan para iblis dengan elemen air miliknya, membuat belati dari air dan melemparkannya ke arah para iblis. Gadis itu sesekali memukul dan menendang iblis yang menyerangnya dari jarak dekat. Mencari titik vital untuk diserang. Sudah hampir satu jam pertarungan berlangsung, tetapi para iblis tampaknya tidak menunjukkan tanda akan mundur. Semakin banyak iblis yang berdatangan akibat suara pertempuran yang ditimbulkan oleh kekuatan Xaviera dan Airia. Keduanya lengah, salah satu iblis dapat melukai lengan kanan Airia dan Xaviera terluka di bagian bahu. Kedua gadis itu berdiri dengan posisi saling memunggungi, bersiap untuk kembali menyerang jika iblis mulai mendekat. "Kalian sudah terdesak, lebih baik menyerahlah dan ikut bersama kami," kata salah satu iblis. Tidak, mereka tidak bisa menyerah begitu saja. Airia sudah berjanji akan melindungi Sierra sampai mati dan ia akan menunaikan janjinya. Ia tak akan membiarkan Xaviera tertangkap, karena bila itu terjadi maka dunia akan benar-benar hancur. "Bagaimana ini? Kita tidak bisa kabur jika dikepung oleh tentara sebanyak ini," lirih Xaviera pada Airia. "Jangan panik, aku akan mencari celah, jangan gegabah, ikuti intruksi dariku, mengerti?" Airia berkata dengan yakin. Xaviera mengangguk paham, hanya Airia yang bisa ia percayai dan andalkan untuk saat ini, jadi ia harus percaya pada kakak perempuannya tersebut. "Hei rambut biru, jika kau mau menyerahkan gadis itu pada kami maka kami akan membiarkanmu pergi. Kami hanya memerlukan Sierra jadi kau boleh pergi setelah menyerahkan gadis itu." Lagi, jantung Airia berdetak dengan kencang. Bagaimana bisa para iblis mengetahui siapa Sierra yang asli di antara kelima saudara itu? Itu artinya tujuan mereka mengecohkan para iblis selama ini telah gagal. Xaviera menggengam erat jemari Airia, gadis itu sedikit ketakutan sekarang. Ia takut jika Airia akan memilih menyerahkannya pada para iblis dan kabur. Airia dapat merasakan ketakutan adiknya. Gadis itu menarik napas panjang beberapa kali. Memejamkan kedua mata sambil bergumam sesuatu. Tak lama gumpalan air muncul di depan mereka, semakin lama ukurannya semakin besar. Gumpalan air tadi berubah menjadi seekor beruang berwarna putih yang besar. "Pegang tanganku dan jangan sampai terlepas, mengerti?" perintahnya pada sang adik. Airia menghentakkan kakinya ke tanah dan beruang tadi mengaum dengan keras. Beruang itu mulai menyerang iblis dengan brutal. Airia memanfaatkan situasi tersebut dan membuat sebuah pusaran air. Ia masuk ke dalamnya bersama dengan Xaviera dan keduanya perlahan menghilang bersama arus air. Tak lama beruang buatan Airia tadi kalah oleh para pasukan iblis. "s**l, kita kehilangan mereka," geramnya. Atas perintahnya, semua iblis kembali ke posko masing-masing. Serta memberikan iformasi mengenai dua gadis yang baru saja lolos. to be continue ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN