9. Petunjuk Kecil

1512 Kata
Airia membuka perkamen yang sempat ia bawa dari posko iblis tadi. Kini keduanya memang sudah terbebas dan bersembunyi di suatu tempat. Airia meletakkan perkamen di atas rumput dengan sejajar. Perkamen tersebut merupakan lukisan dari Xaviera dan keempat kakaknya, keturunan dari pemimpin negara besar yang telah menghilang sejak sepuluh tahun lalu. Di bawah lukisan mereka terdapat nama dan identitas masing-masing yang membuat Airia dan Xaviera terkejut ketika membacanya. Lukisan wajah Xaviera dilingkari dengan warna merah dan di sampingnya tertulis bahwa ia adalah seorang Sierra. Gadis itu menatap ke arah Airia lalu kembali melihat perkamen yang berhasil di ambil oleh kakak perempuannya secara bergantian. "Bagaimana mereka bisa tahu informasi mengenai kita sedetail ini? Ada yang tidak beres," gumam Xaviera yang masih bisa terdengar. Setelahnya Airia kembali mengeluarkan sebuah perkamen berwarna hitam dan membuka gulungan kertas tersebut. "Apa ini?" tanya Xaviera karena tak melihat apa pun selain selembar kertas yang kosong. "Coba lihat ini." Airia mengarahkan sihirnya lalu muncul sepercik cahaya dari dalam perkamen hitam tersebut. Cahaya berwarna kekuningan tersebut merambat sampai memenuhi seluruh lembaran kertas lalu perlahan menghilang. "Sebuah peta pulau ini? Bagaimana bisa mereka mengetahuinya?" Xaviera semakin heran. Airia menunjuk ke salah satu sisi kertas yang ada di bagian bawah. "Ada sebuah tulisan di sini, tetapi aku tidak mengerti bagaimana cara membacanya, sepertinya ini alfabet kuno." "Apa ini sebuah mantra penangkal untuk menembus dinding sihir yang dibuat oleh para leluhur?" tebak Xaviera. Airia hanya mengendikkan bahunya, tetapi ia berpikiran hal yang sama dengan sang adik. "Kupikir juga begitu." "Artinya tidak ada pengkhianat di antara kita? Klan iblis telah menemukan cara untuk menemukan kita di sini." Airia mengangguk setuju dengan pernyataan sang adik. Itu artinya mereka berdua sudah bisa memberitahukan pada yang lain mengenai kedatangan para iblis yang diutus untuk memburu mereka. Airia bergegas menggulung kembali perkamen yang berhasil ia ambil dan menyembunyikanya di balik gaun yang ia kenakan. "Sebaiknya kita segera pulang ke rumah sebelum yang lain merasa khawatir karena kita sudah pergi sangat lama." Xaviera mengangguk. Kedua gadis itu melesat dengan cepat dari sana dan pergi kembali ke rumah. Sementara di sisi lain, Lavina tengah memasak bersama dengan Blade karena ini jadwal mereka berdua. Delucia sibuk berlatih di belakang rumah sementara Luke masih betah berdiam diri di kamarnya. Sesaat kemudian, Airia dan Xaviera sampai. Keduanya langsung bersikap sewajarnya dan masuk ke dalam rumah. Sebelum pulang kedua gadis itu sepakat akan mengatakan semuanya setelah makan malam. ***** Makan malam telah usai, tetapi semua orang masih berkumpul di meja makan. Atmosfer di ruangan itu terasa tegang dan mencekam. Semua orang diam, menantikan kabar buruk yang akan disampaikan oleh Airia mengenai hal tadi ia selidiki dengan adiknya, Xaviera. "Jadi ada apa sebenarnya? Kalian berdua akan memberitahukan pada kami atau hanya diam saja seperti patung?" kesal Luke karena mereka berduaーAiria dan Xavieraーtak kunjung bicara. Airia langsung meletakkan perkamen yang tadi ia sembunyikan dari balik gaun yang dikenakannya. Semua orang bertanya-tanya apakah isi perkamen tersebut. Airia membuka dan meletakkannya satu per satu di atas meja makan. "Lihat dan bacalah sendiri!" suruhnya pada semua orang yang tampaknya penasaran. "Apa maksudnya ini? Ini adalah lukisan dan informasi pribadi kita berenam bukan? Kalian mendapatkan ini dari mana?" tanya Delucia setelah membaca semuanya. "Kami mengambilnya dari tenda pasukan iblis yang baru datang. Mereka berkemah di dekat pantai timur," jelas Airia. Xaviera sama sekali tidak membantu dalam hal ini, ia hanya diam tanpa mengeluarkan satu suara pun. Semua orang melotot, menatap ke arah Airia dengan tatapan tidak percaya, seolah gadis itu tengah bercanda dan ketiga saudaranya sangat membenci hal itu. "Jangan bercanda, tidak mungkin klan iblis bisa masuk ke pulau ini. Pulau ini sudah dibetengi dengan sihir suci yang berguna untuk menghalau para iblis," kata Blade tidak percaya, baginya Airia sekarang hanya bicara omong kosong. "Aku tidak bercanda. Xaviera lah yang pertama kali menemukan tempat persembunyian mereka dan memberitahuku untuk membantunya memastikan sebelum memberitahukannya pada kalian semua yang ada di sini," kesalnya. Semua orang kini menatap Xaviera dengan tatapan penuh tanya, khawatir dan marah. Mereka penasaran bagaimana Xaviera dapat menemukan persembunyian para iblis yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Xaviera semakin menundukkan kepalanya. Ia sudah menduga jika kakaknya pasti akan menginterogasinya setelah mengetahui kabar ini. "Aku tidak sengaja, aku hanya ingin mencari udara segar dan berlatih sendiri. Aku melihat sesuatu yang aneh dari arah timur dan pergi untuk melihatnya dari dekat," jelasnya. Ia meminta maaf karena tidak sempat memberitahukannya pada semua orang di rumah dan memilih menyimpannya. Xaviera menceritakan segalanya namun menutupi jika dirinya sebenarnya akan berlatih dengan sang naga untuk mengaktifkan benda pusaka tersebut. Semua orang tampak kecewa dengan penuturan Xaviera. Semuanya cemas mengapa adiknya menyembunyikan hal sebesar itu dari kakaknya sendiri, bahkan ia hampir saja bunuh diri karena masuk ke wilayah musuh tanpa rencana yang matang. Blade hbahkan menyalahkan Airia mengapa memilih mengikuti rencana Xaviera dan pergi ke wilayah musuh, bahkan tidak memberitahukan hal tersebut pada yang lain. "Jangan salahkan Xaviera. Kami awalnya mengira akan ada pengkhianat di antara kita berenam karena itu Xaviera memilih untuk memastikan keraguannya terlebih dahulu baru memberitahukan pada kita. Selama ini sihir di pulau ini selalu bekerja, dan sekarang tiba-tiba para iblis bisa muncul dan masuk. Xaviera bahkan tidak bisa menemukan mantra penangkal untuk menetralisir sihir penghalang. Jadi ia pikir ada seseorang yang memanggil para iblis kemari karena itu mereka bisa datang." Sorot kecewa kembali terlihat di netra semua kakaknya, mereka tidak menyangka jika adiknya akan meragukan kesetian mereka dan mencurigai saudaranya sendiri. "Maafkan aku, harusnya aku tidak gegabah dalam mengambil keputusan," lirihnya dengan nada yang menyesal. Airia kembali mengeluarkan perkamen dan membuka gulungannya. Memperlihatkan isi dari perkamen tersebut yang ternyata adalah gambar sebuah peta. Ia memberitahukan pada yang lain mengenai keberadaan para pasukan iblis dari peta tersebut. Airia juga menceritakan segala hal yang ia lihat dan temui selama mengintai di wilayah para iblis. Ia membeberkan kisaran jumlah, jenis dan pangkat iblis yang sudah masuk ke dalam pulau. Memberitahukan s*****a apa saja yang mereka gunakan untuk nemulai pencarian dan hal penting lain. "Bukankah aneh, lokasi kita bahkan dapat ditemukan dengan akurat oleh mereka. Mereka melingkarinya sebagai petunjuk, itu artinya mereka sudah mengawasi kita sedari lama," kata Lavina sambil menunjuk ke arah peta yang dilingkari dengan tinta merah. Semua orang mengangguk setuju dengan pernyataan Lavina. "Sepertinya untuk saat ini kita harus pindah ke tempat yang lebih aman sambil menyusun rencana untuk mengalahkan mereka," usul Blade. Semua orang setuju kecuali Xaviera. Gadis itu merasa ada yang aneh, ia juga sedikit merasa cemas setelah kedatangan para iblis. "Kita tidak bisa pindah begitu saja. Bukankah hal ini aneh? Mengapa mereka tidak menyerang kita sedari dulu meski telah memiliki lokasi yang akurat? Mereka seolah memancing kita untuk pindah ke tempat lain dan akan menangkap kita ketika perjalanan pindah. Itu hanya firasatku," cicitnya. Semua orang yang ada di sana merasa perkataan Xaviera masuk akal, akhirnya keenam manusia itu memutuskan untuk membuat rencana dan melakukan pengintaian kembali besok pagi. Setelah hampir tiga jam membuat taktik akhirnya semuanya telah selesai. Xaviera yang sedari tadi hanya melamun tidak mendengarkan intruksi dari keempat kakaknya. Ia bahkan kebingungan karena tiba-tiba rapat telah usai. Ingin meminta penjelasan sekali lagi tetapi ia terlalu sungkan, akhirnya gadis itu kembali ke kamarnya dengan perasaan cemas, takut menggagalkan rencana yang telah disusun oleh saudaranya. Ia membaringkan diri di atas kasur. Mengeluarkan liontin yang sedari tadi ia sembunyikan di balik pakaian yang ia kenakan. Melepas kalung pemberian sang naga dan menatapnya cukup lama. Liontin kalung tersebut bentuknya sangat mirip dengan benda pusaka yang disimpan di dalam tubuhnya, liontin itu bagaikan miniaturnya. Xaviera tiba-tiba teringat akan kata-kata terakhir ibunya ketika mengunci benda pusaka itu ke dalam tubuhnya. "Suatu saat kamu akan kembali dan membawa perdamaian, jadi bertahanlah sampai saat itu tiba. Kamu akan dikelilingi oleh banyak orang baik selama perjalananmu, Sayang. Jaga baik-baik benda pusaka ini, Ibu menyayangimu." Setelah mengatakannya, ibu Xaviera menggumamkan mantra penyegel untuk menyegel benda pusaka tersebut ke dalam tubuh putrinya. Rasanya sedikit menyakitkan, seolah sesuatu yang asing dipaksa masuk dan bergabung menjadi satu dengan tubuh. Sang ibu juga berpesan agar dirinya selalu dekat dengan Luke karena lelaki itu suatu saat yang akan membantunya di saat terakhir. Xaviera merubah posisinya menjadi duduk. Mengalungkan kembali liontin tersebut dan menyembunyikannya di balik baju. Ia masih penasaran apa arti dari ucapan sang ibu. Jika memang Luke yang akan membantunya di saat terakhir, mengapa lelaki itu tampak sangat tidak menyukai keberadaannya? Di mana saudaranya yang lain ketika Xaviera akan berperang melawan iblis untuk merebut kembali tahta kerajaan? Kenapa hanya Luke yang akan menolongnya? Apa semua saudara Xaviera mati atau tertangkap dan dijadikan sandera oleh para iblis untuk memancingnya muncul dan menyerahkan benda pusaka tersebut? Semua pemikiran buruk mulai merasuki otak Xaviera dan membuatnya takut. Ia takut kemungkinan yang ia pikirkan menjadi kenyataan. Ia mengatupkan kedua tangan dan mendongakkan kepalanya, menatap ke arah langit-langit rumah. "Dewi, ibuku pernah bilang jika kau akan selalu melindungi umatmu dari kejahatan, meski aku bukan pengikut yang cukup baik, kuharap kau mau mengambulkan permohonanku, jangan buat aku kehilangan saudaraku, Dewi. Mereka adalah penyemangat dan kekuatan untukku." Xaviera kembali membaringkan tubuhnya setelah selesai membuat permohonan. Mencoba menidurkan diri agar bisa menjalankan rencana yang telah disusun besok pagi. to be continue ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN