Kini pengintaian yang dipimpin oleh Blade berjalan dengan lancar. Airia bertugas untuk mengumpulkan kembali informasi dengan menyamar sebagai salah satu dari mereka.
Delucia berbaur dengan angin dan mengawasi setiap pergerakan musuh dan mencari keberadaan dari pimpinan iblis yang belum terlihat.
Luke dan Lavina tengah mencari cara untuk bisa mencuri dan membawa pulang s*****a para iblis. s*****a curian mereka bisa digunakan dalam peperangan nanti.
Blade masih mengawasi dari jauh. Ia akan membantu apabila salah satu dari mereka tertangkap atau ketahuan.
Sementara Xaviera? Gadis itu tidak ikut tempur di garis depan. Ia tengah fokus untuk mengambil energi alam dan menyalurkan energi tersebut kepada kakaknya agar mereka tidak kehabisan energi.
"Tunggulah di sini, aku akan membantu Luke dan Lavina mengambil s*****a dari tempat penyimpanan para iblis," katanya pada Xaviera karena lelaki itu telah mendapat sinyal dari Lavina.
Xaviera hanya bisa mengangguk. Syukurlah tugasnya tergolong ringan, jadi ia tidak akan melakukan kesalahan.
Gadis itu menunggu di atas pohon, duduk sambil mengawasi pergerakan kakaknya dari kejauhan.
Angin berembus cukup kencang pagi ini, Xaviera merapatkan pakaian yang ia kenakan dan tanpa sengaja menjatuhkan kalungnya.
Gadis itu melompat turun dan mencari kalung yang terjatuh dan akhirnya dapat. Ia akan mengenakan kembali kalung tersebut, tetapi tiba-tiba ia diserang.
Puluhan tombak yang terbuat entah dari apa terarah padanya. Ia melompat dan memutarkan tubuh untuk menghindarinya.
Seorang wanita muncul setelah tombak tadi gagal melukai Xaviera. Wanita tersebut terlihat mengerikan dengan mata yang putih tanpa kornea. Di seluruh tubuh wanita misterius itu keluar cahaya berwarna ungu kehitaman.
Wanita itu mengarahkan jari telunjuknya seolah memanggil sesuatu dan menyuruh apa pun yang ia panggil untuk menyerang ke arah Xaviera.
Benar saja, tak lama kemudian monster-monster kecil dengan bentuk binatang muncul dan mengejar gadis itu.
Xaviera melompat dan melesat dengan cepat untuk mnghindar dari serangan dan cakaran para monster.
Ia sesekali juga menggunakan akar dan sulur dari pepohonan untuk menjerat dan melenyapkan para monster tadi.
Xaviera bingung, ia ingin meminta pertolongan pada saudaranya, tetapi mereka semua sibuk menjalankan misi.
"Kenapa harus terjadi padaku? Aku yang paling lemah dan seharusnya dilindungi di sini, bukannya malah diserang oleh iblis wanita cantik," gerutunya.
Ia tanpa sadar berlari mengarah ke jurang. Xaviera berdecak, ia merasa sangat s**l padahal hari masih pagi.
Wanita misterius itu mengarahkan sihirnya ke Xaviera, selendang yang dikenakannya memanjang dan hendak membelit gadis itu, tetapi ia kalah cepat dengan Xaviera.
Gadis itu membuat belati dari kelopak bunga dan mengarahkannya ke selendang, belati tadi memotong selendang dan hampir melukai si iblis wanita jika ia tak menghindar.
Ia kembali menyerang. Mengarahkan cakar yang terbuat dari bayangan hitam untuk menangkap Xaviera, tak hanya satu melainkan lima sekaligus.
Xaviera melompat, berputar dan berlari, apa pun yang bisa ia lakukan untuk menghindar dari cakar tersebut.
Ia berusaha memotong cakar tadi dengan pedang yang ia buat, tetapi sia-sia karena cakar itu terbuat dari bayangan. Mereka tidak bisa tersentuh dan dihancurkan.
Xaviera terdesak. Untuk menghancurkan cakarnya, maka ia harus mengalahkan orang yang mengendalikanya.
Xaviera memejamkan mata dan menggumamkan matra untuk membuat badai pasir. Ini sangat ampuh digunakan untuk melarikan diri menurut Lavina, yang telah mengajarkan Xaviera teknik tersebut.
Iblis wanita tadi terlihat tidak fokus. Xaviera bergerak secepat kilat dan menghunuskan pedangnya untuk melukai si wanita.
Mengarahkan pedangnya dan menusuk tepat di perut si iblis wanita. Awalnya Xaviera pikir ia akan menang, tetapi ia salah besar.
Iblis wanita tadi melebur dan berubah menjadi bayangan ketika pedang milik Xaviera menghunusnya, itu membuat serangan gadis cilik menjadi tidak berarti.
"s**l," batin Xaviera. Gadis itu melompat ke belakang beberapa kali, menghindari tombak tajam yang dibuat oleh si iblis wanita yang hampir mengenai d**a kirinya, tepat di jantung.
"Bagaimana cara mengalahkan sebuah bayangan? Apa yang harus dilakukan?" pikirnya sambil terus mengindar dari serangan si iblis wanita.
Sebuah cakar dari monster serigala membuat fokus Xaviera terpecah, gadis itu hampir saja terjatuh dari atas tebing.
Ia sudah lari cukup jauh dari tempat persembunyian para iblis dan kini tubuhnya sedikit lelah karena banyak dari tenaganya telah terkuras.
Tiba-tiba muncul sebuah ide yang menarik dari gadis itu. Ia melompat turun ke bawah tebing. Sebelum melompat turun, ia sempat bersiul sebentar.
Si wanita iblis langsung berlari dan mencari Xaviera, hendak menyusul gadis itu melompat turun.
Namun Xaviera kembali naik ke atas dengan menungganggi seekor naga. Si wanita iblis tampak tidak gentar melihat naga yang begitu besar.
Ia bahkan membuat naga tiruan dan menaikinya, menyuruh naga itu untuk megejar Xaviera sambil terus menyerang.
Naga yang ditumpangi Xaviera jelas lebih kuat, dengan sekali sabetan ekornya, ia bisa mengshempaskan si wanita iblis jauh.
Namun mereka tidak menyerah dan kembali melakukan pengejaran. Bahkan si wanita kembali menyerang Xaviera dengan sihirnya.
Gadis itu mencoba menghindar dan menyerang balik. Mengarahkan berbagai sihir dan juga sihir pelumpuh ke arah si wanita iblis, tetapi keduanya berhasil menghidar. Mereka sama-sama gesit.
"Apa kau tahu kelemahan dari iblis yang kita lawan? Aku tidak yakin bisa menahannya lebih lama lagi," teriaknya bertanya pada sang naga.
"Aku baru saja mengidentifikasi iblis jenis apa itu, harusnya kau sudah tahu apa kelemahannya. Dia adalah iblis yang bisa membuat bayangan," balasnya dengan ketus.
Xaviera hanya bisa mendengkus, "Jika aku tahu maka aku tidak akan bertanya padamu."
"Halangi sinar mataharinya, buat langit menjadi gelap. Tanpa cahaya maka bayangan akan menghilang." Xaviera tersenyum setelah mendapat jawaban dari sang naga.
"Benar juga, kenapa tidak terpikir olehku? Baiklah akan kucoba." Xaviera mengarahkan kedua tangannya ke atas dan petir kemudian menyambar dari telapak tangannya.
Ia menggumamkan mantra yang pernah diajarkan oleh sang naga padanya. Memanggil awan hitam untuk menutupi sinar matahari.
Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap. Matahari tidak terlihat dan langit berubah menjadi hitam karena tertutup awan.
Iblis wanita tadi perlahan menghilang, menyatu dengan kegelapan dan lenyap menjadi asap hitam.
Pertunjukan kecil telah usai, iblis wanita dapat dikalahkan oleh Xaviera hanya dalam waktu beberapa menit dengan bantuan sang naga.
"Terima kasih atas bantuanmu, bisakah kau mengantarkanku kembali ke tempat awalku mengintai para iblis? Mungkin para saudaraku sudah kembali karena melihat kekacauan di langit." Sang naga mengangguk, ia terbang ke tempat yang diarahkan oleh Xaviera dan menurunkannya di sana.
Tak lama sang naga menghilang setelah berpamitan dengan si gadis.
Semua orang dan para iblis terkejut melihat perubahan siang menjadi malam begitu cepat. Padahal baru beberapa jam lalu ayam berkokok dan kini langit sudah menghitam.
Blade mengirimkan sinyal ke semua orang untuk kembali ke titik kumpul sebelumnya. Ia khawatir karena telah meninggalkan Xaviera sendirian di sana.
Tak lama kemudian kelima orang itu benar-benar kembali. Xaviera bersyukur karena ia kembali beberapa menit lebih cepat dibanding kelima saudaranya.
Setelahnya langit perlahan kembali cerah dan awan hitam menghilang sepenuhnya. Semua orang merasa lega karena masih melihat Xaviera berada di tempatnya, tanpa mereka tahu gadis termuda itu hampir saja meregang nyawa karena ditinggal sendirian.
"Apa yang terjadi, kenapa cuaca mendadak berunah drastis?" tanya semua orang.
Blade dan yang lainnya menghampiri Xaviera yang berdiri beberapa meter darinya. "Apa kau baik-baik saja?" Lelaki itu tampak cemas.
Xaviera hanya menganggukkan kepala. "Aku baik-baik saja, ada apa? Apa kalian berhasil menemukan petunjuk lain?"
Delucia menatap Xaviera lekat, entah kenapa ia merasa jika penampilan adiknya sedikit berantakan.
"Apa yang terjadi, Xaviera? Aku tahu perubahan cuaca mendadak tadi karena ulahmu, apakah kau ada dalam bahaya?" selidik Delucia.
Xaviera yang diam tidak menjawab semakin membuat Delucia khawatir, ia percaya jika sesuatu terjadi pada adiknya beberapa waktu lalu.
"Baiklah akan kuceritakan nanti saja, bisakah kita kembali pulang jika pengintaian hari ini sudah berakhir?" usulnya, jujur ia sedikit lelah setelah bermain petak umpet dengan si iblis wanita.
Semuanya menyetujui saran dari Xaviera. Keenam manusia itu melesat dengan cepat kembali ke rumah, Luke, Lavina dan Blade membawa s*****a yang berhasil mereka rampas dari ruang penyimpanan para iblis dibantu dengan yang lainnya.
Setelah sampai di rumah semua s*****a itu diletakkan di salah satu ruangan lalu mereka menyimpannya.
Semua orang kini duduk menanti penjelasan dari Xaviera. Gadis itu yang risih karena terus dipandangi oleh semua saudaranya akhirnya buka suara.
"Tadi seorang iblis wanita datang dan menyerangku. Dia datang setelah Blade pergi menyusul Luke dan Lavina."
Xaviera berhenti sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya, semua orang diam menantikan.
"Aku tidak tahu bagaimana dia bisa mengetahui keberadaanku, tetapi aku merasa jika ini sudah direncanakan sebelumnya. Mereka sengaja memancing kalian semua ke sana agar iblis itu bisa menangkapku," lanjutnya.
"Bagaimana mungkin itu terjadi?" tanya Airia geram.
"Kurasa mereka sudah memperkirakan jika kita akan kembali mengintai untuk mengetahui rencana mereka. Kita sudah ketahuan ketika pertama kali mengintai." Xaviera mengingatkan.
"s**l, kita kecolongan. Mereka lebih unggul satu langkah dari kita. Jika seperti ini kita tidak akan bisa melakukan pengintaian lagi untuk rencana selanjutnya," kesal Blade.
"Sebaiknya kita berlatih saja menggunakan s*****a yang berhasil kita curi dari mereka. Hanya satu yang bisa mengalahkan para iblis itu yaitu kta harus lebih kuat dari mereka." Delucia memberi saran. Semuanya menggangguk setuju dengan saran tersebut.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau terluka? Jenis iblis apa yang menyerangmu?" tanya Lavina tiba-tiba.
Xaviera terkesiap, terkejut karena tadi ia melamun. Gadis itu buru-buru menggeleng. "Aku tidak terluka, hanya sedikit lelah karena mengeluarkan banyak energi untuk mengalahkannya. Aku tidak tahu jenis iblis apa itu, tetapi kekuatannya adalah memanipulasi bayangan dan karena itu aku membuat langit menjadi gelap agar kekuatannya tidak berfungsi menyerangku dan ya itu berhasil."
Semua orang mengangguk paham mendengar penjelasan Xaviera, tetapi Airia masih merasa ada yang aneh.
"Di mana kalian berdua bertarung? Kenapa kami tidak bisa mendengar suara pertarungan kalian?"
Xaviera diam, tidak mungkin ia mengatakan jika dirinya bertarung di tebing yang jaraknya terlampau jauh dari tempat pengintaian dan bisa kembali bahkan lebih cepat dari petir?
Xaviera berdiri, dengan kikuk ia pergi dari sana dan mengatakan jika dirinya lelah, ingin beristirahat.
to be continue ....