11. Kalung Pemberian Naga

1519 Kata
Xaviera segera menutup pintu kamar dan menguncinya tepat setelah dirinya masuk ke dalam. Gadis itu duduk bersila di atas lantai kamar. Melepas kalung pemberian sang naga dari lehernya. Setelah kalung tersebut terjatuh tadi, ia baru menyadari ada sesuatu di dalam kalung itu. Gadis itu memeriksa liontin kalung dengan teliti. Terdapat sebuah ukiran yang sangat kecil di salah satu sisi kalung. Ukiran tersebut membentuk sebuah kata dari alfabet kuno yang kebetulan dimengerti oleh Xaviera. Tulisan itu membentuk kata tekan, Xaviera yang penasaran akhirnya mengikuti instingnya dan menekan salah satu sisi dari liontin tersebut. Liontin itu tiba-tiba saja bercahaya dan terbang ke atas. Semua sisi dari liontin terlepas dan bercahaya yang membentuk sebuah bintang. Xaviera yang terkejut berjalan mundur dan tanpa sadar dirinya menabrak pintu yang ada di belakangnya. "Argh," rintihnya karena kepalanya terbentur pintu kamar. Xaviera mendekati kalung miliknya yang masih terbang di atas sana. Mencoba meraihnya namun gagal karena terlalu tinggi. Ia mundur beberapa langkah lalu melompat untuk menggapainya dan berhasil. Kalung tadi berada di genggamannya sekarang, kembali seperti semula seolah tidak terjadi apa-apa. Merasa ada sesuatu yang aneh, Xaviera bergegas pergi dari kamarnya. Seperti biasa, ia akan melompat melalui balkon kamar untuk kabur dari rumah. Gadis itu kembali berlari ke arah tebing, tempat di mana ia selalu menghabiskan waktunya bersama sang naga untuk berlatih. Sejauh ini Xaviera telah berhasil mengakifkan benda pusaka yang tersimpan di tubuhnya, ia beberapa kali mengeluarkan benda itu untuk berlatih mengendalikan kekuatannya di bawah bimbingan sang penjaga Sierra yang asli. Naga emas. Sudah hampir tiga bulan lamanya ia berlatih, bahkan gadis itu tidak peduli meski badai salju dapat membuat jantungnya membeku ia tetap bertahan di sana untuk melatih pengendalian diri. Namun sampai saat ini ia masih tidak bisa mengendalikannya. Ketika Xaviera mencoba menggabungkan kekuatannya dengan sang benda pusaka, maka kontrol terhadap dirinya hilang. Ia selalu hilang kendali dan berubah menjadi sosok mengerikan dan hanya sang naga yang tahu. Semua saudaranya masih belum mengetahuinya, Xaviera masih merahasiakan hal tersebut sampai ia benar-benar bisa mengendalikan kekuatannya sebagai Sierra. Ia tidak ingin tiba-tiba menyerang dan melukai keempat saudaranya atau pun Luke karena hilang kendali. Bahkan beberapa kali Xaviera berhasil melukai sang naga karena kekuatannya dan membuat sosok besar itu cedera meski tidak terlalu parah. Bayangan Xaviera dikendalikan oleh nafsu balas dendamnya pada seluruh klan iblis dan menyerang siapa pun yang menghalanginya membuat gadis itu takut, bahkan beberapa kali ia selalu bermimpi membunuh keempat saudaranya. Xaviera menggelengkan kepala, mengenyahkan ingatan mimpi buruk itu dari dalam otaknya. Ia harus segera sampai ke air terjun dan segera memanggil sang naga untuk memastikan sesuatu. Ia merasa kalung pemberian sang naga memiliki hubungan yang erat dengan benda pusaka yang disegel ke dalam tubuhnya. Gadis itu telah sampai di bawah air terjun. Ia memanjat dan sesekali melompat naik ke atas agar lekas sampai ke tebing. Setelah perjuangannya yang melelahkan, ia kemudian memanggil sang naga seperti biasanya. Entah kenapa Xaviera merasa dirinya penuh dengan energi padahal ia baru saja bertarung dengan iblis dan mengeluarkan seluruh energinya. Tak lama kemudian sang naga tiba. Ia bertanya pada Xaviera mengapa gadis itu memanggilnya lagi. "Ada perlu apa mencariku?" tanyanya. Xaviera tidak menjawab melainkan ia melepaskan kalung yang dikenakanannya lalu menyodorkannya pada sang naga. "Pasti ada alasan dibalik kau memberiku ini, bukan?" tanyanya. Sang naga tertawa ringan. "Apa kau sudah membuka isinya?" Kening Xaviera berkerut. "Apa ada isi di dalamnya? Aku hanya menekan salah satu sisi kalung tersebut dan kemudian liontin itu terbang ke atas." Tidak memberikan jawaban, sang naga malah menyuruh Xaviera menekan lagi salah satu sisi liontin. Gadis itu menurutinya tanpa protes. Setelah menekan, kalungnya kembali terbang dan membentuk bintang yang memiliki cahaya warna-warni. Sang naga mendorong Xaviera dengan ekornya, gadis itu jatuh tersungkur tepat di bawah kalung tadi. Sebuah cahaya yang menyilaukan tiba-tiba muncul hingga membuat Xaviera harus memejamkan kedua matanya karena takut penglihatannya akan rusak. Setelah beberapa saat, ia mulai membuka dan mengerjapkan kedua netranya perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Saat ini gadis itu tengah berada di sebuah tempat yang asing. Ia belum pernah melihat tempat itu sebelumnya. Sebuah taman yang seolah berada di atas awan. Banyak bunga yang sedang bermekaran di setiap sisinya, tak lupa juga beberapa pohon yang ditanam berdekatan. Di sana juga terdapat air terjun. Xaviera berjalan mendekat ke arah air terjun tersebut. Di bawah air terjun terdapat sebuah sungai yang mengalir jauh entah ke mana. "Di mana ini? Bagaimana aku bisa sampai ke sini?" tanyanya pada diri sendiri. Xaviera masih sibuk mengagumi tempat itu, rasanya seperti di surga. Nyaman dan damai. Gadis itu tengah berjongkok dan menikmati indahnya bunga yang tengah bermekaran sampai telinganya mendengar suara langkah kaki yang makin lama makin mendekat. Xaviera berdiri dan berbalik, melihat seseorang yang berjalan tak jauh dengan jaraknya saat ini. Memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa orang itu dan betapa terkejutnya dia setelah melihatnya. "Siapa kau?" tanya Xaviera pada orang itu setelah ia sampai. Kini keduanya tengah berhadapan. Dia begitu mirip dengan Xaviera, hanya saja pakaiannya yang membedakannya. Gadis itu mengenakan pakaian yang berwarna hitam, bola matanya bahkan merah menyala. "Siapa aku? Aku adalah kau!" jawabnya. "Apa maksudmu?" Kening Xaviera berkerut. "Aku adalah salah satu dari bagian dirimu. Sisi tergelapmu. Sisi yang sangat kamu takuti sejak kecil sampai sekarang." Setelah mengatakannya, ia menyeringai. Jantung Xaviera berdetak dua kali lipat lebih cepat dibanding sebelumnya setelah mendengar pernyataan darinya. Gadis itu menggeleng. "Tidak, aku tidak pernah takut padamu!" Xaviera yang mengenakan pakaian serba hitm tersebut menyeringai lalu berlari ke arah Xaviera dan menyerangnya. Keduanya terlibat adu pukul tanpa bisa saling menghindar. Xaviera mencoba menyerang dirinya yang palsu tersebut dengan elemen apinya, namun dengan gesit ia menghindar. Xaviera kelimpungan, ia tak bisa mengalahkan dirinya yang palsu. Kekuatan mereka seimbang, gaya bertempur dan kekuatan mereka sama. "Bagaimana cara mengalahkannya? Kekuatannya seimbang denganku. Caranya bertarung juga mirip, dasar peniru!" geramnya dalam hati. "Sekeras apa pun kau berusaha mengalahkanku, kau tidak akan pernah bisa. Kau bahkan tidak akan pernah bisa mengejarku," katanya dengan nada meledek. Xaviera yang geram akhirnya membaca mantra dan mengeluarkan elemen angin yang beradu dengan petir. Gadis itu melemparkan bola angin itu ke arah si Xaviera yang palsu, namun ia juga melakukan hal yang sama. Sebuah ledakan yang besar terjadi di sana, bahkan hingga menimbulkan gempa kecil. Kedua Xaviera itu terpental jauh dari arena pertempuran. Xaviera menetralkan deru napasnya setelah tersadar dan kembali ke dunia nyata. Di sampingnya masih berdiri sang naga dengan kokokhnya. "Bagaimana?" tanya sang naga yang membuat Xaviera kebingungan. "Apa maksudmu dengan 'bagaiamana?' itu?" keluhnya. Ia bahkan bisa merasakan kedua kakinya gemetar karena lelah. Xaviera mendudukkan dirinya di atas rumput dan menyeka keringat yang muncul. "Bukankah kau ingin mengetahui apa isi dari kalung itu? Sekarang kau sudah mengetahuinya." Penjelasan sang naga yang berbelit membuat Xaviera pusing dan tidak bisa menangkap intinya. Sang naga yang paham hanya bisa mengdengus kesal. "Dasar gadis bodoh, bagaimana aku bisa sabar melatih gadis dengan tingkat kecerdasaan di bawah rata-rata sepertimu?" Xaviera kesal karena dianggap bodoh. Kenapa tiba-tiba sang naga marah padanya? Apa kesalahannya? Ia baru saja keluar dari tempat yang ia kira indah namun ternyata mengerikan. "Kalung itu adalah salah satu kunci untukmu bisa mengendalikan benda pusaka tersebut. Kau sudah berhasil mengaktifkan benda pusaka, itu kunci pertama. Kunci kedua adalah kau harus bisa mengendalikan emosi yang ada dalam dirimu. Setelah itu kau akan mendapatkan kekuatan Sierra." Xaviera hanya mangguk-mangguk saja mendengar penjelasan yang sedikit bisa diterima oleh otaknya itu. "Jadi bagaimana?" Sang naga mengulang kembali pertanyaannya. Xaviera menggeleng dengan raut wajah sedih. "Aku melihat diriku sendiri di sana. Dia bilang dia adalah sisi tergelapku yaitu ketakutan. Dia tiba-tiba menyerangku seolah ingin menghancurkanku di sana. Kami bertarung sangat lama bahkan hingga kelelahan satu sama lain." "Kau harus bisa mengalahkannya, itu adalah kunci terakhir untuk bisa mengendalikan kekuatan Sierra yang ada dalam dirimu. Di antara semua saudaramu kaulah yang terpilih, jadi jangan sia-siakan kesempatanmu." Sang naga menasehati. Xaviera menghela napas panjang. Menurut dirinya sendiri ia adalah orang yang paling lemah di antara keempat saudaranya, bahkan ia adalah anggota termuda yang masih memerlukan banyak bimbingan, namun mengapa ia justru yang terpilih dan mengemban tanggung jawab yang berat? "Hari sudah semakin gelap, sebaiknya kau pulang dulu sebelum saudaramu sadar jika kau menghilang lagi dari rumah." Sang naga terbang ke atas, kembali ke tempat tinggalnya meninggalkan Xaviera yang sendirian di sana. Dengan langkah malas, ia menuruni air terjun dan kembali pulang. Sesampainya di rumah langit benar-benar telah berubah menjadi hitam. Xaviera melangkah pelan menuju ke belakang rumah, ia tidak mungkin masuk dari pintu depan, kakaknya pasti akan langsung menceramahi dirinya. Karena sibuk memperhatikan situasi bahkan Xaviera tidak melihat jalan dengan benar. Ia menubruk seseorang ketika akan masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Gadis itu mengelus kepalanya yang terasa sakit akibat benturan yang keras. Ia mendongak, melihat siapa yang ia tabrak barusan. "Luke? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya. "Kau sendiri, kenapa berjalan mengendap-endap seperti seorang pencuri? Dari mana kau?" tanya lelaki itu balik. Xaviera menggaruk dahinya karena bingung harus menjawab apa. Gadis itu kemudian mendorong Luke dan masuk ke dalam. "Bukan urusanmu!" katanya lalu berlari menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua, sementara Luke menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. to be continue ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN