Kemaren pacaran. Sekarang udah naik tingkat aja tuh status jadi
TUNANGAN..
~Eca
*
*Part panjang gaiis. Bacanya perlahan ya sambil bayangin lo jadi Eca..*
*
*
*
Eca menghempaskan tubuhnya dikasur. Ada perasaan kesal terbesit dihatinya mengingat ocehan tidak bermutu dari perempuan itu, yah benar! Perempuan yang mengaku memiliki hubungan khusus dengan Aby.
“Kak Aby gila ya? Udah punya cewek masih aja caper sama gue. Kalau gue baper kan ribet.” gerutu Eca pada dirinya sendiri.
Eca mengotak atik benda pipih disampingnya. Ia menyukai ponsel baru yang dibelikan Ken. Entah atas dasar apa Ken membelikannya, ia hanya bilang ‘Gue beliin ponsel baru, gue seneng karena lo khawatir sama gue. Itu tandanya lo sayang gue!’
Ada ratusan chat dari Aby yang belum dibukanya juga puluhan telepon yang ia terima selama masih dikelas tadi.
“Duuuhhhhh!!!” Eca mengacak-acak rambutnya frustasi “Kalau udah punya cewek jangan buat gue baper dong kak pliiiss!!! Gue pusing nih!” teriak Eca.
“Caaaaaa lo dicariin Aby nih!! Sini turuuuuunnnnnn!!!!!!!” teriak Ken dari luar kamar Eca.
Eca bangkit dari tidurnya “ADUH NGAPAIN SIH DIA KESINI??” omel Eca.
“Aduh gimana ya gimana.. kalau gue samperin gue masih bete. Kalau gue cuek gini tiba-tiba ntar dikira gue cemburu sama dia. Ntar dikira gue ada rasa sama dia.”
“Tapi emang bener sih..” Eca mondar-mandir didalam kamarnya dengan masih menggunakan seragam SMA-nya.
“Turun gak ya..” Eca menopangkan dagunya ditangannya “Aduh gimana ya. Kalau gue turun terus ditanya kenapa ngambek gue jawab apa??”
“Aduhhhhhh Eca b**o banget!!” sungut Eca sambil memukuli kepalanya sendiri “Lo sih aneh banget kemaren pakai acara ngambek terus mikirin omongan tuh cewek!!”
Eca menghempaskan pantatnya di pinggiran kasur miliknya “Kalau mereka mau pacaran kan itu bukan urusan lo Ca! Lo sama Aby kan cuma temenan!”
“Oke gue sama Aby Cuma temenan!!” ucap Eca lagi sambil menghembuskan napasnya pelan-pelan..
Eca bangkit dari duduknya kemudian berdiri dihadapan cermin besar miliknya “Lo masih ngambek sama gue?” Eca mengikuti gaya bicara Aby ketika berbicara dengannya.
“Enggak. Gue gak ngambek kok!” jawab Eca membeo sendiri.
“Lo kenapa ngambek??”
“Ada cewek yang ngaku kalau dia pacar lo!” Eca mendelik menatap dirinya menyadari jawaban bodoh yang terlontar dari mulutnya.
“Lo gila Ca!!” sungut Eca sambil menunjuk-nujuk pantulan dirinya di cermin.
“AAAHHHHH Aby buat gue gilaaaa!!!!” teriak Eca.
Ia berlari kekamar mandi, membasuh mukanya kemudian berganti baju. Lebih baik ia temui daripada terus menghindar seperti ini.
*
*
“Lo suka sama adek gue?”
“Eheemm..... hem...” Eca berdiri di anak tangga terakhir menatap kedua laki-laki yang sedang membicarakannya.
“Ecaa.” seru Aby, kehadiran Eca membuat Aby berdiri sangking senangnya.
“Lo udah gak marah sama gue?” tanya Aby.
“Kapan gue pernah marah sama lo? Perasaan lo aja kali..” jawab Eca.
“Abang udah minum obatnya?” tanya Eca pada Ken. Namun langkahnya justru pergi kedapur.
“Udah adek sayang.”
“Lo mau minum apa kak? Bang lo mau gue buatin apa?” tawar Eca. Eca membuka kulkasnya mencari sesuatu yang bisa disuguhkan untuk tamunya dan juga abangnya itu.
“Coklat panas aja Caa.” jawab Ken. Eca menatap laki-laki yang kini sedang mengekorinya itu “Lo mau apa?” tanyanya.
“Gue.. gue mau.. samain aja sama abang lo.” jawab Aby gugup. Berbicara sedekat ini didepan Eca membuatnya gelagapan, ditambah ketika ia mengingat pertanyaan yang dilontarkan oleh Ken.
“Lo serius gak marah sama gue Ca? Gue ngerasa lo marah sama gue. Makanya gue bingung banget.” cerita Aby. Eca menghentikan aktivitasnya kemudian menatap Aby “Kenapa harus bingung? Bukannya lo sering buat orang-orang bete sama lo ya? Sama sikap jutek lo, cuek lo, judes lo..”
“Beda lah Maemunah. Lo bukan orang-orang itu. Lo itu--”
“Lo pikir gue setan??” sungut Eca sambil melanjutkan aktivitasnya.
“Kenapa pada berantem? Kayak suami istri lagi ribut alay aja..” sahut Ken sambil duduk di dekat Aby. Mereka berdua kini sedang mengamati Eca dari meja makan.
“Temen lo tuh. Masa ngomongin gue setan!” sungut Eca.
“Salah lagi gue..” gerutu Aby. Ia benar-benar bingung menghadapi perempuan ini.
“Lo ngerasa punya salah sama gue kok takut gue marah?” tanya Eca sambil meletakkan 2 cangkir coklat panas di meja makan.
Aby terdiam sebentar. Ia bingung harus menjawab apa untuk pertanyaan Eca.
“Lo ngambek beneran dek sama Aby? Gue pikir cuma gue yang uring-uringan kalau lo lagi ngambek.” cerocos Ken.
“Gue gak ngambek bang, gue cuma--”
“Lo gak lagi kedatangan tamu kan? Soalnya seingat gue tanggal-tanggal lo bukan--” potong Ken “Bang!!” Eca menatap Ken sebal karena ucapannya dipotong-potong oleh Ken.
“Coba dengerin gue dulu jangan asal jeplak aja!” sungut Eca.
“Gue gak kedatangan tamu! Gue juga gak ngambek. Kemaren gue sebel aja ketemu orang aneh di toilet kafe. Terus tadi kenapa gue gak milih pulang bareng lo..” Eca menatap Aby “Karena gue gak mau David bakalan ngerusuhin gue kalau tau gue pulang sama lo!!”
“Lo yakin cuma karena itu lo diemin gue dari kemaren?” tanya Aby lagi. Eca menghela napasnya kasar “Lo mau gue ngambek sama lo kak?” spontan Aby menggeleng menjawab pertanyaan Eca.
Ken tertawa mendengar penjelasan Eca “Jadi si David masih tergila-gila sama lo?”
“Dia suka sama Eca udah lama?” tanya Aby. Ken mengangguk mengiyakan pertanyaan Aby “Udah lama banget astaga. Dari gue masih jadi siswa disitu, dari mereka masih jadi anak baru.” jelas Ken.
Eca menatap Ken datar. Membahas David membuat moodnya turun seketika “Udah ah gue mau kekamar aja. Gue malas kali bang bahas dia.”
“Ekh jangan dong. Sini aja ngobrol sama Aby. Dia tuh kesini nyariin lo bukan nyariin gue.” seru Ken sambil menahan lengan Eca.
“Ca, ikut gue yuk.” ucap Aby tiba-tiba. “Kemana?” tanya Eca. “Udah ikut aja. Ganti baju gih.” titah Aby.
Eca melirik ke abangnya itu. Abangnya baru sembuh, semalam ia baru saja menemani abangnya dirumah. Masak iya ia harus pergi lagi..
“Dah buru jalan. Diajak doi tuh...” bisik Ken. Eca mencubit keras pinggang Ken. “Anjir sakiit Caaa...”
“Makanya punya mulut itu di rem!!” sungut Eca.
“Bang, lo kudu istirahat. Ntar malam om Wildan bakalan kesini sama dokter Roy buat cek kondisi lo. Jadi kalau lo gak mau kembali ke rumah sakit lo harus sewat wal afiat!!” seru Eca sambil berjalan kearah kamarnya.
Setelah sampai di anak tangga paling atas Eca berlari memasuki kamarnya dan menutup pintunya dengan keras “Gue panik banget anjiiiirrr!!! Untung gak ketahuan alasan gue yang sebenarnya.” ucap Eca sambil bersandar di pintu kamarnya.
Eca segera membuka lemari pakaiannya dan mencari baju yang pas untuk ajakan Aby kali ini. Ia melemparkan semua pakaiannya yang tergantung di lemarinya.
“Aduh apaan sih Caaaaa kenapa lo sealay ini!! Cuma mau jalan doang! Hellooowww jalan doang sama Aby kali! Kenapa lo bingung nyari baju?” cerocos Eca pada dirinya sendiri.
Akhirnya Eca memilih kaos stripe hitam putih dengan celana setengah lutut berwarna putih untuk ia kenakan. Setelah selesei berganti baju, Eca mencepol rambutnya lalu memakai sneakers putih miliknya.
“Oke gini aja deh. Gak usah terlalu heboh.” gumam Eca sambil menatap bayangan dirinya dicermin.
Stripe hitam putih, putih dan putih. Gak aneh warnanya. Ia kemudian mengambil sling bag putih bergambarkan kepala winnie the pooh miliknya. Lalu berjalan keluar dari kamarnya.
“Yuk kak..” seru Eca sambil berjalan mendekati dua laki-laki itu yang sedang asyik tertawa diruang tamu.
“Gue pergi dulu ya Ken!” pamit Aby dan diangguki oleh Ken.
“Jangan lupa yang gue omongin tadi bang!” seru Eca sambil menatap Ken.
“Siap kapten!” jawab Ken sambil memposekan dirinya sedang hormat pada atasan.
“Oleh-oleh buat gue ya jangan lupa..” ucap Ken lagi. Ken berjalan mendekati adeknya “Ciye yang mau ngedate cantik amat sih adek gue..” bisik Ken.
“Abaaaanggg..” sungut Eca sambil berusaha menahan suaranya.
Ken mengacak-acak rambut rapi Eca “Gue seneng adek gue udah normal sekarang. Dah ngerti cowo-an..”
“Ih autis lo ah!!” sungut Eca kemudian berlari menyusul Aby yang sudah keluar duluan dri rumah Eca.
*
*
Kini mereka berdua sedang asyik berjalan-jalan mengeliling mall. Aby ingin membiarkan perempuan itu belanja. Namun Eca menolak “Gue gak terlalu suka belanja kak.” jawabnya.
“Jadi salah ya gue ajak lo ke mall..” gumam Aby pelan.
“Ekh gak salah sih..” Eca menatap Aby lembut “Gue seneng ngemall, tapi gak seneng belanja. Gue lebih seneng keliling gini aja. Atau mungkin beli novel.” ucap Eca.
“Ya udah yuk gue beliin novel yang banyak. Lo pilih aja yang mana yang mau lo beli..” seru Aby sambil menarik lengan Eca membuat Eca tertegun sesaat. Ia kemudian tersenyum dan mencoba meratakan langkahnya dengan langkah Aby.
Saat mereka sampai didepan toko buku, seorang wanita paruh baya dan perempuan seusia Eca menghampiri mereka berdua “Aby??” sapa wanita paruh baya itu.
“Tante Tasya..” Aby menyalami wanita yang dipanggilnya Tasya itu.
“Aby..” seru perempuan disebelahnya. Ia berjalan mendekati Aby lalu merangkul tangan Aby dan membuat genggaman Aby ditangan Eca terlepas “Kamu kok gak bilang-bilang kalau ke mall??” tanya perempuan itu.
Eca berdecak kesal melihat perempuan itu lagi. Yah perempuan ini adalah perempuan yang beberapa hari lalu berbicara ditoilet dengannya dan membuat moodnya hancur.
“Gue kan gak mau ajak lo..” ucap Aby penuh penekanan sambil melepaskan rangkulan tangan Stella, nama perempuan itu.
“Kamu tumben ke mall By? Sama siapa? Temen kamu ya? Atau saudara kamu?” tanya Tasya.
“Ahh.. kenalin tante, saya Eca temannya Aby..” ucap Eca sambil mengulurkan tangannya.
“Kamu cuma teman kan sama Aby?” tanya Tasya tanpa berniat membalas uluran tangan Eca.
“Hehe iya tante, cuma teman.” jawab Eca disertai penekanan di kata terakhirnya.
“Iya bagus deh. Soalnya kenalin gue Stella, calon tunangannya Aby..”
*
*
“Lo kenapa gak jadi beli buku tadi? Gue kan dah bilang gue yang bayarin..” tanya Aby. Baru sebentar Eca berhaha-hihi dengannya, kini sikap Eca berubah dingin lagi.
“Udah gak mood.” jawab Eca pendek.
“Kenapa?”
“Gak papa. Udah deh kak! Kalau makan itu makan aja, jangan ngomong terus!!” sewot Eca.
“Lo cemburu sama Stella?” tanya Aby to the point.
Eca merutuki dirinya sendiri. Benarkan karena sikap grasak-grusuknya membuat Aby jadi berpikir seperti itu “Enggak. Kalau gue cemburu, berarti gue punya rasa dong sama lo. Nyatanya gue gak ada rasa apa-apa sama lo!” jawab Eca.
“Beneran lo gak cemburu? Beneran lo gak ada rasa sama gue?” tanya Aby dengan tampang datarnya.
“Beneran.” jawab Eca sambil mengaduk-ngaduk nasi gorengnya, nafsu makannya hilang ketika mengingat ucapan Stella. Kemaren bilang pacarnya, kok sekarang udah naik tingkat jadi calon tunangan sih..
“Kalau beneran gak cemburu dimakan kali Ca nasi gorengnya, jangan dimainin gitu. Ntar nasinya nangis lo mainin gitu.” pinta Aby.
“Pulang yuk kak.” ajak Eca tiba-tiba.
“Ekh gue kan masih makan Sutiyem!” sungut Aby.
“Tarjo, gue mau pulang! Lo mau anterin atau gue pulang sendiri?”
“Pulang sendiri aja Ca! Gue masih laper!!” jawab Aby asal. Tak disangka Eca benar-benar meninggalkannya. Aby segera menyeruput minumannya lalu berteriak memanggil Eca “CAAA TUNGGUIN GUE!!!”
*
*
“Gue sama Stella cuma temenan..” jelas Aby. Kini mereka sedang berada di mobil milik Aby.
“Terus?”
“Nyokapnya suka banget sama gue. Dia pengen banget gue jadi mantunya. Tapi kan lo tau sendiri, sikap gue gimana ke cewek-cewek termasuk Stella, makanya tante Tasya ngempet banget pengen gue buru-buru tunangan sama anaknya.”
“Apa hubungannya?”
Aby menghela napasnya pelan. Sesekali ia melirik gadis disampingnya itu “Gue kan cuek sama cewek Ca, gue gak pernah peduli sekalipun sama cewek termasuk Stella. Gue dingin sama Stella. Tante Tasya takut kalau gue nanti malah ditaksir orang, yah lo tau sendiri kan, pesona cowok cuek itu lebih kuat daripada cowok humor.”
“Ohh..” jawab Eca pendek.
“Caaa.. gue kan udah jelasin ke lo. Udah kali gak usah cemburu gitu! Nyokap gue belum iyain soal tunangan gue sama Stella. Karena beliau tau gue gak pernah suka sama Stella.”
“Gue gak cemburu kak!!” sungut Eca sambil mengerucutkan bibirnya.
“Caa..” Aby tersenym tipis melirik gadis itu yang sedang mengerucutkan bibirnya “Ini di mobil loh! Jangan bepose begitu. Mau tuh bibir gue cium??”
Eca spontan menutup mulutnya dengan kedua tangannya “LO m***m KAK!!!”
*
*