12. Perlahan Tapi Pasti

1523 Kata
Perlahan tapi pasti.. Kehadiran gue akan selalu lo harapkan!! ~Devan * * * “DEVAAAAAANNNNNNNNN!!!” Devan membalikkan tubuhnya terkejut mendengar suara 8 oktaf itu. Gadis itu, yah gadis itu Eca berlari kearah Devan “Gu.. gue.. pulang.. bareng.. lo.. yaaa..” seru Eca ngos-ngosan. Ia berlari lumayan jauh dari tempat awalnya. “Gue gak salah denger Ca?” tanya Wendy. Eca menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan Wendy “Kenapa?” “Yah maksud gue, ada gitu perempuan yang mau pulang sama Devan?” tanya Wendy lagi. “Kenapa enggak??” Eca menatap Devan dengan puppy eyes andalannya saat ia menghasut Ken “Vaann pliiissss gue pulang bareng sama lo yaaa..” Eca menautkan kedua tangannya membentuk ? “Gak!” sahut Devan datar. Eca mendengus kesal, ia lalu membuka pintu belakang mobil Devan “Gue ikut pokoknya!!” Devan mencekal tangan Eca hingga membuat Eca terkejut “Apaan? Gue mau pulang. Gue minta tolong anterin pulang.!” ucap Eca penuh penekanan dikalimat akhirnya. Devan menutup pintu belakang mobil yang barusan dibuka Eca “Van!!” seru Wendy, terkejut mendengar penolakan Devan. Bisa-bisanya Devan menolak pujaan hatinya ingin numpang pulang. Devan menarik lengan Eca kemudian membuka pintu depan disamping kemudi “Masuk.” Perintah Devan. Eca mendelik mendengar perintah Devan “HAAHH??” “Masuk buruan! Sebelum gue berubah pikiran!!” sahut Devan tetap dengan wajah dinginnya. Eca gelagapan, ia bingung jika harus duduk disamping Devan “Ekh? Gu.. gue duduk dibelakang aja. Jangan didepan!?” “Masuk atau gue tinggal?” seru Devan lagi. Akhirnya Eca menuruti perintah Devan. Ia masuk dan duduk disamping kemudi. “Gue suka gaya lo Van!!” seru Firman. Devan tersenyum tipis mendapati gadis pujaannya itu mulai melihat kehadirannya. Ia segera memutari mobilnya kemudian masuk kemobilnya. * * “Ca..” panggil Firman. “Kita belum kenalan ya padahal kemaren dirumah Devan udah ketemu?! Gue Firman sahabatnya Devan..” seru Firman sambil mengulurkan tangannya disamping Eca. Eca menoleh kemudian membalas uluran tangan Firman “Eca.” “By the way, gue gak nyangka gue bakalan semobil sama lo Ca! Lo kan terkenal cuek sama orang yang gak kenal.” Seru Wendy. “Bukannya kita udah kenalan ya kemaren Wen?” tanya Eca sambil menoleh ke kursi belakang. “Ekh? Iya sih, kita udah kenalan. Maksud gue--” “Gue paham kok maksud lo!” jawab Eca sambil kembali menatap ke depan. “Gue bakalan baik dan ramah kalau orang itu juga ramah sama gue. Gue juga bakalan baik ke orang yang akrab sama gue atau orang yang ramah sama orang baru kayak kalian. Kalian baru kenal sama gue, tapi kalian ramah sama gue, itu yang buat gue akrab sama kalian.” lanjut Eca. “Si Devan gak ramah sama lo, gak baik sama lo, kok lo bersikap baik sama dia?” sahut Firman. Eca tertawa, ia menoleh kearah Devan, menatap laki-laki itu. Laki-laki disampingnya itu memang aneh. Disaat semua orang menyukai Eca, antusias saat Eca bersikap ramah dan dekat sama mereka, Devan justru bersikap acuh, cuek dingin sedingin kulkas. Bukan, bukan karena Eca gila perhatian, bukan karena Eca ingin dipuja, ingin disukai banyak orang, ia hanya heran mengapa ada manusia sedingin Devan. “Julukan Devan itu si kulkas kan? Jadi wajar kalau dia dingin ke gue, gak ramah ke gue. Kalau dia ramah ke gue namanya bukan si kulkas lagi dong. Ya kan Van?” Eca mencoba mencari dukungan dari Devan. Devan, laki-laki yang dibicarakan hanya melirik Eca kemudian kembali fokus pada jalanan. “Lo tuh gak boleh terlalu cuek sama orang Van. Ntar jodoh lo ngejauh, rejeki lo--” “Semuanya udah ada yang ngatur! Mau gue cuek, sok ramah kayak lo, jodoh, rejeki gue bakalan tetep datang!” potong Devan. “Kayak sekarang kan Van?” celetuk Firman. Devan mendelik kearah spion dalam hingga Firman membentuk tangannya menjadi huruf V “Peace Van!!” “Tapi gue serius Van!” Eca memposisikan tubuhnya menghadap Devan “Lo jangan cuek-cuek banget. Nih ya gue kemaren sempet denger ocehan anak-anak. Banyak yang naksir lo tapi takut karena lo cuek banget, jutek banget.” oceh Eca. “Terus?” tanya Devan lagi. “Terus.. terus.. terus ya lo harus rubah sikap lo lah!!” sahut Eca. Devan menginjak rem tiba-tiba. Membuat Wendy, Firman bahkan Eca mengumpatinya “Lo banyak omong! Bisa diam gak? Mending lo tunjukin gue jalan rumah lo daripada lo ngebahas soal gue mulu!!” sungut Devan. Eca mendengus kesal, ia kemudian menoleh ke kirinya merhatikan jalanan “Naahh rumah gue tuh pagar hitam kiri jalan..” seru Eca sambil menunjuk sebuah rumah besar bepagar hitam. Devan menginjak gasnya lagi melajukan mobilnya agar gadisnya itu sampai dirumahnya. “Oke Devan makasiiihhhhh...” seru Eca sumringah. “Gue gak pernah seakrab ini sama orang yang baru gue kenal. Tapi gue ngerasa lo sama semua sahabat lo itu orang baik, jadi wajar kalau gue bisa akrab.” ucap Eca. Kemudian ia turun dari mobil Devan. Dengan cepat Devan melajukan mobilnya kembali menuju rumahnya. * * Devan menghempaskan tubuhnya dikasur. Wendy dan Firman? Jelas mereka juga ikutan. Bedanya mereka berdua berada di sofa bukan dikasur seperti Devan. “Gue bingung sama sikap lo..” seru Wendy. “Apa?” tanya Devan tanpa merubah posisinya “Kalian bilang gue harus perjuangin dia kan? Tapi, tanpa gue berjuang pun dia perlahan jalan ke gue sendiri.” lanjut Devan, sombong. “Lo cuekin dia keles, manada berjuangnya sama sekali..” sahut Firman. “Gue mau jadi diri gue sendiri. Gue malas pura-pura sok baik buat dapat perhatian dia. Lo lihat kan? Lo juga dengerkan ucapan gue barusan? Tanpa gue berjuang dia udah jalan ke gue. Tanpa gue minta dia yang datang sendiri ke gue.” sungut Devan. “Tapi Van, lama-lama juga perempuan jengah kali Van lo cuekin terus.” Sahut Wendy. Devan bangkit dari baringnya, ia duduk menghadap kedua sahabatnya “Lo lupa sama Karin?” Wendy nyengir polos “Karin kan memang aneh.” sambung Wendy. “Tapi Eca juga aneh.” tambah Firman. “Dia dicuekin Devan masih aja tuh bersikap ramah ke Devan. Sama kayak Karin. Bedanya Karin baik karena suka sama Devan, kalau Eca, dia memang ramah ke orang yang akrab sama dia. “Itu berarti, naluri perasaan gue udah sampe ke Eca, dan hati Eca tau kalau gue suka sama dia. Terus dia juga sadar kalau gue jodohnya!!” * * “Devann..” panggil perempuan paruh baya itu dari belakang Devan. Devan menutup pintu kulkasnya dengan kasar “Mau apa lo?” tanya Devan dingin. “Kamu sudah makan nak? Kamu ajakin teman-teman kamu makan gih, mamah sudah masak sama mbak Sinta.” “Lo makan aja sama suami tercinta lo.” sahut Devan datar. “Devan, mamah kan sudah masak. Kalau kamu gak mau makan seenggaknya kamu suruh teman-teman kamu turun untuk--” “Stop nyebut diri lo mamah. Gue jijik dengernya!” sungut Devan kemudian pergi meninggalkan Rani, istri baru papahnya. Devan berjalan menaiki tangga kamarnya “Kenapa Van?” tanya Wendy pada sahabatnya itu yang masuk dengan wajah jutek “Gak papa.” jawab Devan dingin. “Pasti tante Rani? Lo ribut lagi sama dia? Van--” “Man! Bisa gak jangan bahas dia! Telinga gue panas denger nama perempuan gatel itu!” potong Devan. “Tapi gue laper Van!!” sahut Wendy. Devan memutar bola matanya malas “Ya udah turun gih. Mbak Sinta masak. Sana lo makan masakannya tuh cewek gatel juga. Gue mau tidur.” seru Devan. “Lo gak mau ikut makan? Bukannya tadi lo gak makan ya?” tanya Firman. Devan menggeleng “Bisa mati gue kalau makan masakan dia!” sahut Devan sambil memejamkan matanya. Wendy mengedikkan bahu, kemudian ia mengikuti langkah Firman yang turun karena lapar. * * “Pagi Vaann..” sapa Eca. Eca dan kedua sahabatnya tanpa sengaja bertemu dengan Devan cs. Devan menghentikan langkahnya, ingin ia membalas sapaan gadis pujaannya itu, namun lagi-lagi gengsi menguasai dirinya “Gak usah sok akrab.” sahut Devan. “Pagi Caa..” sapa Wendy. Eca tersenyum atas sapaan Wendy. “Wendy..” panggil Eca. Eca berjalan mendekati Wendy “Lo sama Firman sama temen lo yang satunya lagi si.. Joni kok bisa sabar jadi sahabatnya Devan? Gue juga mau tipsnya dong. Kayaknya seru jadi bagian dari kalian.” ucap Eca. Firman dan Wendy sumringah mendengar ucapan Eca, Eca perempuan yang dipuja banyak laki-laki mau menjadi bagian mereka “Maksud lo, lo sama kedua sahabat lo yang cantik-cantik ini mau jadi temen kita gitu? Mau sering ngumpul sama kita?” tanya Firman. Eca mengangguk “Jadi apa jawaban dari pertanyaan gue?” “Gak ada tipsnya! Udah deh lo gak usah sok asyik sama gue!” sungut Devan kemudian pergi meninggalkan Eca dan kedua sahabatnya itu. “Kita duluan ya Ca. Kapan-kapan gue bakalan jawab!!” teriak Firman kemudian berlari menyusul Wendy dan juga Devan. “Ini kesempatan lo Vaan!!” seru Firman. “Jangan gengsi terus yang ditinggiin!!” sahut Wendy. “Gue tahu!” jawab Devan pendek. “Terus kenapa lo cuek?” tanya Firman. Devan terdiam, ia melanjutkan langkahnya untuk masuk ke kelas “VAAN WOY!!” “Gue deg-degan anjir!!” * *  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN