Namanya orang butuh pertolongan ya pasti gue tolongin lah!!
Karena gue punya hati!!
~Aby
*
*
*
“Abang! Eca berangkat duluan ya. Keburu telat nih. Soalnya hari ini ada rapat..” teriak Eca dari meja makan.
“Lo turnamen kapan sih dek?” tanya Ken sambil berjalan santai menuruni tangga.
“Seminggu dari sekarang..” jawab Eca sambil merapikan anak rambutnya lagi.
“Minggu depan? Gue harus ke Bandung loh. Sorry kalau gue gak bisa nonton lo turnamen..” ucap Ken pelan.
Eca menghembuskan napasnya pelan “Udah biasa kali bang! Lo kan memang gak pernah nonton turnamen gue.” jawab Eca sambil berusaha menutupi kekecewaannya.
“Udah ah Eca duluan ya. Itu sarapannya dihabisin. Bekalnya udah Eca siapin tapi masih didalam kulkas. Assalamualaikum!!” seru Eca sambil mencium tangan Ken kemudian berjalan keluar rumah.
“Gak mau abang anter?” tanya Ken.
“Kagak bang! Gue bawa mobil aja! Lagi pengen pake mobil!” teriak Eca.
Eca melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan rumahnya menuju ke sekolahnya..
*
*
Eca memarkirkan mobilnya berderetan dengan mobil sahabat-sahabatnya, Nadine dan Caca. Selalu didekat mereka berdua. Karena memang mereka bertiga punya tempat sendiri untuk memarkirkan mobil mereka masing-masing.
“Woyy!!!” teriak Caca saat melihat Eca turun dari civic silvernya.
“Tumben tuh cewek mau bawa mobil. Biasanya minta anter Ken dia..” gumam Nadine.
“Kayak lo baru kenal Eca aja Nad. Mood dia lagi angin-anginan nih kayaknya kalau dia bawa mobil sendiri..” sahut Caca.
Tanpa Nadine dan Caca sadari, orang yang dibicarakan kini berdiri disamping mereka “Mood gue bagus ya. Kagak ada angin-anginan. Ken belum siap jam segini. Makanya gue berangkat bawa mobil. Kang Maman masih belum balik dari kampung. Jadi mau gak mau gue bawa sendiri.” sambung Eca.
“Pagi kak Eca..” sapa seorang perempuan yang Eca liat di name tagnya adalah anak kelas sepuluh.
“Pagi juga dek..” Eca, Nadine dan Caca kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju lapangan.
“Kak Eca kalau dijodohin sama kak Aby kayaknya cocok ya Lis..”
“Ekh iya. Tapi sama kak David aja gak mau apalagi sama kak Aby. Gue sih yakin kak Eca udah punya pacar deh..”
Eca menghentikan langkahnya didekat adek kelas yang sedang membicarakanya itu. “Ssstt. Ada kak Eca. Kita ke perpus aja yuk..”
“Gue jadi bahan gosip lagi ye?” tanya Eca pada kedua sahabatnya itu.
“Biasalah anak kelas sepuluh. Aby datang. Dan yah resiko orang famous. Pasti dijodoh-jodohin sama yang famous juga.” jawab Caca santai.
“Kak Aby? Siapa dia? Bukan anak sekolah sini ya? Gue baru denger tuh nama!” sahut Eca.
“Itu loh, kapten basket cowok SMA Bangsa.” jawab Nadine “Duh Caaa. Lo kenapa kudet banget sih!!” omel Nadine.
“Lagian itu gak ada hubungannya sama gue, ngapain gue harus update coba?” sahut Eca.
“Kita tuh disuruh kumpul disini ngapain sih? Bukannya latihan dimulai dari besok ya? Terus ngapain si Aby-Aby itu datang ke sekolah kita?” tanya Eca penasaran.
Nadine dan Caca hanya melongo mendengar pertanyaan Eca “Caaa!! Lo liburan kemaren ngapain aja sih?”
“Jangan bilang lo gak scrool chat grup kita?” sambung Nadine.
“Hehe.” Eca nyengir kuda tak bersalah “Gue Cuma baca yang ada tulisannya info aja. Kalau kita disuruh kelapangan hari ini.” jawab Eca.
“Mending lo dengerin sendiri deh dari pak Sam kenapa mereka ada disini!” sahut Caca gemas.
“Duh mereka sapa sih?” tanya Eca kepo.
“Pagi Caa..” sapa seseorang yang membuat Eca ingin segera pergi dari lapangan basket.
“Lo habis liburan makin cantik ya.. Gue makin suka deh..” goda orang itu lagi.
“Hehh..” Eca mendengus kesal mendengar godaan dari laki-laki aneh disebelahnya itu.
“Anak SMA Bangsa ada disini? Ngapain?” tanya Eca pada kedua sahabatnya.
“Mereka mau gabung sama tim basket kita untuk turnamen antar kota. Sekolah kita sama sekolah mereka jadi dua sekolah yang terpilih untuk mewakili kota kita.” jawab David.
“Gue ngomong sama Nadine sama Caca bukan sama lo!?” sungut Eca.
“Santai aja kali Ca. Ntar Naksir sama gue loh sewot gitu..”
“Buat para kapten bisa kumpul di tengah sini yaa!!” teriak Regan, si ketua OSIS.
“Yuk Caa kita kesana bareng..” ajak David. Bukannya menjawab pertanyaan David. Eca justru melengos pergi begitu saja meninggalkan David yang tampak mengumpati perlakuan Eca padanya. Gue gak akan biarin lo lepas dari genggaman gue Caa!
“Oke gaiis selamat pagi. Gue Regan ketua OSIS di SMA Harapan 02 ini. seperti yang kalian tahu ya, SMA Harapan 02 dan SMA Bangsa akan bergabung mewakili kota kita untuk turnamen basket Putra dan Putri antar kota. Jadi karena nantinya kalian akan jadi satu tim, gue harap kalian kompak tanpa berpikir si A dari sekolah A si B dari sekolah B. Jadi untuk nentuin siapa yang akan jadi kapten, gue akan tandingkan kalian one by one. Sebelum itu kita kenalan dulu supaya enak.”
“Dari siapa kak?” tanya Eca pelan. “Dari lo aja deh Ca.” jawab Regan.
“Kenalin gue Eca kapten tim basket putri SMA Harapan 02.”
“Gue David kapten tim basket putra SMA Harapan 02.”
“Gue Bella kapten tim basket putri SMA Bangsa.”
“Gue--”
“Lo si cowok judes yang dilapangan komplek kemaren kan?” ucap Eca tanpa sadar. Yang ditunjuknya pun hanya datar menanggapi ucapan Eca.
“Gue Aby dari SMA Bangsa.”
*
*
“Lo mau kemana By?” tanya Fahri.
“Gue mau ke ruang ganti. Ponsel gue ketinggalan di loker.” jawab Aby sambil berjalan menjauhi lapangan basket.
Aby berjalan santai sambil sesekali bersiul. Ia tak peduli dengan tatapan memuja siswi-siswi disini. Yang ia pedulikan adalah ponselnya. Ia takut kalau mamahnya sedang membutuhkannya.
“Suster serius abang saya kecelakaan? Ini bukan prank dari abang saya kan sus?” suara itu terdengar dari ruang ganti perempuan. Aby pun berhenti untuk mengetahui apa yang terjadi.
“Baik sus. Saya segera kesana!” ucap perempuan itu.
“Abang... abang!!!” suara itu terdengar panik. Tiba-tiba terdengar barang-barang yang berjatuhan diruang ganti perempuan.
“Suara apa itu?” gumam Aby. “Ah persetan. Dia butuh pertolongan jadi gue harus bantu!” ucap Aby kemudian berlari masuk keruang ganti perempuan. Ia menemukan Eca yang tengah terduduk dengan darah yang mengalir di sikunya.
“Lo gak papa??” tanya Aby pelan.
“Gak papa kak! Permisi!!” ucap Eca sambil mengambil tasnya yang terjatuh kemudian berjalan meninggalkan Aby sendiri.
“Tangan lo berdarah. Mending di obatin dulu!” seru Aby.
“Gue harus kerumah sakit kak!” sahut Eca.
“Sebentar!” Aby menarik lengan Eca untuk menahan langkahnya “Tangan lo luka, kalau lo kerumah sakit sambil bawa kendaraan! Yang ada lo bakalan masuk rumah sakit!”
“Kak! Maaf saya buru-buru!!” sergah Eca.
“Justru karena lo buru-buru, obatin dulu luka lo! Atau gue anterin kerumah sakit!”
“Gak ada waktu kak buat obatin luka gue! Abang gue butuh gue dirumah sakit!!” bentak Eca.
“Oke! Gue anterin! Tangan lo terluka. Dan lo lagi kacau! Lebih baik gue anterin!!” tawar Aby.
“Gak perlu! Gue bisa minta tolong teman-teman gue!” tolak Eca.
“Lo pala batu ya! Kalau lo nyari teman-teman lo dulu justru makin buang-buang waktu! Udah deh mending gue anterin!!” paksa Aby.
Akhirnya Eca mengalah dengan melemparkan kunci mobilnya pada Aby “Makasih lo udah mau anterin gue kak!!” ucap Eca.
Kemudian dengan tergesa-gesa Eca berlari kearah mobilnya diparkir tanpa peduli dengan pandangan heran orang-orang yang melihat siku Eca berdarah.
“Rumah sakit apa?” tanya Aby.
“Rumah sakit Kasih Ibu kak!” jawab Eca.
Aby segera melajukan mobilnya kearah rumah sakit yang disebutkan Eca. Entah apa yang dipikirannya sekarang. Tidak peduli dengan tanggapan kedua sahabatnya. Ia hanya berniat membantu karena Eca sedang membutuhkan pertolongan.
*
*
Eca segera berlari kearah meja resepsionis rumah sakit dengan wajah pucat dan tentunya dengan siku yang masih berdarah “Suster pasien kecelakaan mobil atas nama Leonel Ken Handoko di ruangan mana ya?”
“Pasien kecelakaan mobil masih ada diruang operasi mbak.” ucap seorang suster sambil menunjukkan arah dimana ruang operasi berada. Eca segera berlari kearah ruang operasi. Aby masih mematung di tempatnya. Leonel Ken Handoko?
Aby berjalan berlawanan arah dengan ruang operasi, ia harus membelikan obat dan perban untuk Eca. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, ia segera menyusul Eca.
“Gimana keadaan abang lo?” tanya Aby pelan. Eca hanya bisa menggeleng lemah. “Lo udah hubungi keluarga lo?” tanya Aby lagi sambil duduk dikursi tunggu. Sedangkan Eca masih berdiri mondar-mandir kayak setrika jalan >.“Bokap otw kesini.” jawab Eca pelan. “Mending lo obatin dulu luka lo!” seru Aby. Tidak digubris. Eca masih seperti awal tadi mondar-mandir gak jelas menunggu dokter keluar dari ruang operasi. Akhirnya Aby inisiatif menarik lengan Eca kemudian memaksanya untuk duduk disampingnya.
“Gue obatin luka lo!?” ucap Aby pelan sambil mengeluarkan apa saja yang ia beli barusan “Gak usah kak! Ntar juga kering sendiri kok. Gue udah sering kayak gini..” jawab Eca.
“Udah gak usah bawel! Lo cukup diem dan nahan sakitnya waktu gue obatin luka lo! Gak usah ngejawab kayak gitu!” sahut Aby. Aby segera membersihkan luka Eca kemudian memberikan handiplast di tangannya. Sedangkan Eca asyik menatap wajah Aby dari dekat.
“Udah lihatin muka gue?” sindir Aby. “Lo kenapa baik sama gue kak? Kemaren waktu ketemu dilapangan komplek lo cuek banget, sekarang lo bela-belain anter gue terus ngobatin luka gue juga.”
“Orang butuh pertolongan itu ya ditolongin bukan didiamin! Tadi waktu lo nelpon terus jatuh, gue gak sengaja denger, karena gue mau ambil ponsel gue diruang ganti.”
“Oh kirain lo ngerasa bersalah karena kemaren. Gimana tadi?” tanya Eca. Ia bahkan melupakan sejenak kekhawatiran terhadap abangnya.
“Apa?” tanya Aby balik..
“Lo masih gak percaya gue kapten basket? Gue juga tadi ngalahin kapten basket cewek dari sekolah lo..”
Aby menatap Eca datar “Abang lo!” Eca terkejut kemudian berbalik.
“Dokter gimana keadaan abang saya?”
“Orang tua kalian dimana? Saya harus bicara dengan orang tua kalian.”
“Tapi dok! Saya adiknya. Ayah saya masih dalam perjalanan kesini.”
Dokter itu nampak terdiam kemudian “Baik kalau begitu, hanya ini yang bisa saya sampaikan kepada anda, hanya keajaiban yang bisa membantu abang anda bangun..”
*
*