3. Taruhan

1774 Kata
Gue perjuangin dia bukan karena gue cinta! Tapi karena gue gak mau dia jatuh kepelukan orang jahat. ~Aby * * * “Lo dari mana aja?” tanya Fahri. Pasalnya sudah sekitar tiga jam Aby menghilang dan membuat kedua sahabatnya ini kewalahan mencari keberadaannya. “Cari angin.” jawab Aby singkat. “Lo udah denger belum ada kabar duka barusan--” “Iya By, abangnya si Eca calon ipar gue masuk rumah sakit.” sahut Hendra. “Oh.” jawab Aby santai. “Tumben lo biasa aja.” seru Fahri, heran melihat tingkah aneh sahabatnya ini. Aby heran mendengar ucapan Fahri barusan “Emang gue biasanya gimana?” “Biasanya lo kan kepo, nanya-nanya gitu..” “Namanya kepo itu pasti nanya-nanya dodol!” sahut Aby ketus. “Ekh By lo serius abis cari angin? Bukan jalan sama Eca?” tanya Hendra tiba-tiba. Membuat Aby mengalihkan pandangannya dari ponsel menjadi menatap Hendra datar. “Kata siapa gue jalan sama dia?” “Bener gak? Gue kan nanya kok lo malah balik nanya!” sahut Hendra. “Gak!” Fahri tersenyum geli “Santai aja kali By. Kayak kepergok selingkuh aja. Lagian lo jujur aja sama kita keleus. Siapa tahu kita bisa bantu lo deket sama si Eca.” “Gue gak bohong! Gue habis cari angin! Bukan jalan sama Eca!!” sungut Aby. Hendra memberikan ponselnya dan menunjukkan sesuatu pada Aby “Lo masih ngelak?” Aby melongo melihat foto paparazi antara dia dan Eca yang sedang berjalan kearah mobil yang sama “Hayyo loh! Lo mau kemana itu kok pergi berdua?” goda Fahri. Aby terdiam, kemudian berusaha menetralkan wajahnya agar tak terlihat terkejut “Oh, gue abis nganterin Eca kerumah sakit. Gue tadi gak sengaja denger dia angkat telepon sambil panik. Daripada kenapa-napa dijalan, mending dia gue anterin.” jawab Aby santai tanpa rasa bersalah. “KAAAANNN!!!” Fahri dan Hendra berseru bersamaan. “Jadi lo abis anterin Eca kerumah sakit? Wahh bener-bener ya gercep amat lo!!” sambung Fahri. “Gercep apanya? Dia butuh pertolongan ya gue tolongin! Dah itu aja!!” jawab Aby. “Lo tau gak sih gosip yang beredar soal Eca?” tanya Hendra. “Penting?” Aby bertanya balik pada Hendra. “Hah?” “Iya gue tanya, penting untuk gue tahu?” “Ya udah kalau lo gak mau tahu. Gue diam kalau gitu.” ucap Hendra. “Gue kepo. Bisikin gue aja dong Hen!!” sahut Fahri. Kemudian Hendra membisikkan sesuatu ditelinga Fahri. “Ehemm..” Aby membenarkan posisi duduknya. Saat ini mereka sedang istirahat setelah latihan full satu jam. Tanpa Aby tentunya. Fahri dan Hendra masih asyik saling berbisik tanpa peduli deheman Aby “Ehem..” “Gak baik kalian tuh bisik-bisik. Kan ada gue disini. Kenapa harus bisik-bisik coba?” “Jadi lo pengen denger By?” tanya Hendra. Aby tersenyum kikuk “Ya kalau kalian mau bahas dia ya silahkan gak perlu bisik-bisik. Gue bisa pakai headphone aja.” Aby memasang headphonenya di telinganya “Jadi si David bener-bener mepet si Eca terus Hen?” tanya Fahri. “Iya. Menurut David. Eca itu beda. Yah lo tau lah ya gimana populernya David di sekolah ini. semua cewek memuja dia, sedangkan Eca? Jangankan memuja David, ngelirik David sedikit aja kagak.” “Jadi waktu tau si Eca pergi sama kapten basket sekolah sebelah, jelas dong seluruh warga sekolah heboh. David bisa kalah sama si cowok dingin ini.” jelas Hendra sambil melirik ke Aby. “By! Kalau naksir kejar jangan gengsi! Kalau David dah gerak lagi, lo bisa kalah telak!?” seru Fahri. “Kalian ngomong apaan? Gue gak denger!” jawab Aby (bohong). “Woy!” seru seseorang. Aby, Hendra dan juga Fahri menoleh kearah si suara. “Gue mau ngomong sama lo!” ucap David, yah orang itu adalah David. “Gue?” tanya Aby santai “Ada apaan? Ngomong sini aja napa?” “Gue mau ngomong empat mata sama lo!” seru David lagi. “Ngomong apaan emangnya? Penting? Gue malas kalau gak penting!” jawab Aby cuek. “Mending lo ladeni aja By!” bisik Hendra. “Soal cewek yang barusan lo deketin!?” bisik David. Aby tertegun. Benar-benar meluas berita tentang kejadian tadi. “Gue Cuma anterin dia kerumah sakit. Jadi lo gak perlu takut gue ambil dia dari lo!” “Gue gak percaya!” ucap David. “Terserah lo mau percaya atau gak! Faktanya seperti itu!” sahut Aby kemudian pergi meninggalkan David. * * “Eca!!” “Ayaah..” Eca berlari memeluk Handoko, ayahnya. “Ayah, abang yah. Eca takut..” tangis Eca semakin pecah dipelukan Handoko. “Kita sama-sama berdoa ya, semoga Ken baik-baik aja.” ucap Handoko menenangkan putrinya. “Kakak..” panggil seseorang. Handoko dan Eca menoleh menatap orang itu “Wildan?” panggil Handoko. Orang itu, Wildan adik kandung Handoko yang menjadi dokter dirumah sakit ini. “Gimana keadaan Ken?” tanya Handoko. Wildan menggeleng “Kita harus banyak-banyak berdoa kak untuk Ken. Hanya keajaiban doa yang bisa bantu dia untuk bangun.” “Ah iya kak, dokter yang bertanggung jawab dengan Ken ingin bertemu denganmu..” ucap Ken pelan. Handoko mengangguk. “Ayah, Eca mau ikut. Eca mau tau keadaan abang gimana..” Handoko menggeleng “Eca disini aja ya sayang. Jagain Ken. Ayah Cuma sebentar kok.” Kemudian Handoko dan Wildan berjalan menjauh dari Eca. Kini Eca hanya sendiri lagi menunggu didepan ruangan Ken. Berharap Ken akan segera sadar. Sudah hampir 5 jam “Bokap lo mana??” tanya seseorang tiba-tiba. Eca mendongak kan kepalanya kemudian tersenyum tipis mendapati sosok yang tadi sudah bersedia membantunya. “Lo kok udah disini lagi kak? Gak latihan? Gak sekolah lagi?” tanya Eca. Aby menggeleng “Enggak. Gue dapat izin sampai hari H turnamen. Makanya gue bisa kesini.” jawab Aby. “Makasih ya kak lo tadi udah nolongin gue.” Aby mengangguk mendengar ucapan Eca. “Bokap lo belum datang?” “Udah, lagi dipanggil dokter.” jawab Eca pelan. “Lo mau gue temenin makan?” tawar Aby pelan. Eca mendongakkan kepalanya “Yah, itung-itung sebagai permintaan maaf gue soal kemaren. Lagian lo udah dari tadi pagi disini. Sekarang udah waktunya makan siang. Mending lo makan.” “Ntaran aja kak gapapa.” jawab Eca pelan. “Gue yang traktir..” Eca menggeleng “Gue gak pengen kak. Gue masih pengen nunggu abang gue.” “Ya udah temenin gue makan aja mau gak?” Eca mengangguk. Kemudian mengikuti langkah Aby yang menjauhi ruangan Ken dirawat. * * “Lo kenapa berubah drastis kak?” tanya Eca kemudian menyuapkan sesendok mie kedalam mulutnya. Dengan usaha 45 akhirnya Aby dapat meluluhkan hati Eca untuk makan. “Berubah gimana?” tanya Aby santai. “Kayaknya lo kemaren jutek banget sama gue. Sekarang lo malah baik banget sama gue.” “Gue gak ngerasa jutek. Biasa aja. Sikap gue memang gitu kesemua orang.” “Terus sikap lo yang sekarang?” Aby hanya mengedikkan bahu menjawab pertanyaan Eca. “Habis ini lo mau kemana kak?” tanya Eca. “Main.” jawab Aby pendek. “Main?” Aby mengangguk menjawab pertanyaan Eca. “Nyokap gue juga pasti belum pulang. Ini kan masih jam kantor.” “Lo mau gue anterin pulang?” “Heh?” Eca terkejut mendengar pertanyaan Aby. “Yah sekalian bareng gue. Rumah kita kan sejalur. Lo main dilapangan komplek. Pasti kita satu komplek lah.” Eca menggeleng “Gue mau sama ayah aja nungguin bang Ken.” “Eca..” panggil seseorang. Eca menoleh kemudian bangkit dari duduknya. “Ayah, kenalin ini teman Eca.” ucap Eca. “Om Handoko ya?” tanya Aby tiba-tiba. “Iya saya Handoko. Kamu siapa?” “Saya Aby om, anaknya pak Havil.” “Ohh. Wahhh kamu sudah besar ya sekarang. Bukannya kamu beda sekolah ya sama Eca kok bisa kenal?” seru Handoko. “Ayah kenal sama kak Aby?” tanya Eca heran. “Papanya dia temennya ayah sayang, Aby ini sering main kerumah waktu kecil. Masa kamu lupa?” Eca menggeleng, ia tidak pernah ingat bahwa ia pernah bertemu Aby. “Jadi yang kecelakaan itu Ken anak om?” Handoko mengangguk. Minta doanya ya Aby, semoga Ken cepat sadar.” “Pasti om. Pasti saya akan berdoa untuk kesembuhan Ken.” “Eca, ayah pulang sebentar gak papa ya sayang? Ayah akan ambilkan keperluan Ken selama dirawat.” “Gak usah yah, biar Eca aja yang ambil kebutuhan Ken.” Handoko menggeleng “Nanti setelah ayah balik dari rumah, gantian kamu pulang istirahat, besok kamu harus sekolah.” Eca menggeleng “Eca mau sama abang aja yah, Eca gak mau sekolah ya besok..” “Ayah dengar sebentar lagi kamu mau turnamen hem? Gak boleh bolos latihan sayang. Ken gak akan suka kalau kamu ninggalin waktu latihan kamu.” “Ayah ambilin baju ganti ya buat kamu..” Eca mengangguk, mengalah dari perdebatan ini. “Aby, om tinggal dulu ya. Titip Ecaa.” Aby mengangguk “Iya om hati-hati.” “Hati-hati yah..” * * Keesokan harinya, mereka berdua nampak akur. Yah benar, Eca dan juga Aby. Eca yang selama ini tidak pernah akrab dengan seorang laki-laki justru sekarang sedang berjalan beriringan dengan most wanted SMA Bangsa. Begitupun Aby, disekolahnya ia dikenal jutek dengan perempuan mana pun. Bahkan para fansnya dianggap tidak ada selama ini. Kini dia justru terlihat sedang mengantar ratunya SMA Harapan 02 membuat siapapun iri dengan kedua sejoli tersebut. “Couple goals banget anjir ahh..” “Eca pas banget sih kalau jalan sebelahan sama Aby..” “Perfect Girl vs Perfect boy..” “Aaaahh mau juga dong diantar kekelas sama Aby..” “Wah gue kalah saing sama anak SMA sebelah.” “David kalah, Devan juga kalah. Wah memang debest si Aby.” “Jelas Devan kalah. Siapa yang mau dekat-dekat sama cowok kulkas kayak si Devan.” Masih banyak lagi tentunya pembahasan unfaedah saat mereka lewat. Hingga tiba-tiba.. “Pagi Eca sayang..” sapa seseorang yang membuat mood Eca jadi turun. David. “Kok lo bisa sama Eca?” tanya David to the point ketika melihat Aby sedang berdiri disamping Eca. “Iya, tadi gue barengan kak Aby kebetulan ketemu di depan.” jawab Eca cepat. “Ya udah ya kak sampai sini aja. Gue mau kekelas dulu. Makasih kak..” ucap Eca kemudian berlari meninggalkan David dan juga Aby. “Heh!” David mencekal lengan Aby “Lo bilang, lo Cuma nganter dia ke rumah sakit. Kenapa sekarang pakai acara nganter kekelas?” “Gak kenapa-napa!” jawab Aby cuek. “Gue mau kita berdua taruhan buat dapatin Eca!” bisik David yang sontak membuat Aby terkejut. * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN