Tatapan langsung tertuju ke arah Calvin. Ayah dan ibunya menatap dirinya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. "Maafkan Calvin," ucap Calvin. Firman pun mengangguk. "Kamu tidak salah, Calvin. Tidak ada yang tahu kapan penyakit itu akan datang. Ini semua adalah takdir. Papa tidak menyalahkan kamu untuk hal ini," ucap Firman. Calvin pun mengangguk. "Terima kasih sudah bisa memahami aku, pa. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk mengecewakan mama. Aku juga gak tahu kenapa penyakit ini bisa tiba-tiba datang di saat darurat seperti tadi. Aku harap mama bisa mengerti," ucap Calvin. "Sebelumnya saya minta maaf jika saya terlihat dan terdengar lancang karena telah ikut campur dalam urusan keluarga kalian. Tapi di sini, bukan maksud saya untuk membela pak Calvin atau bahkan berada di pi

