Mengejutkan

1526 Kata
Arzam memasuki ruangan Calvin lalu membanting pintu ruangan Calvin begitu saja membuat sang pemilik menatap tajam ke arahnya. Pasalnya, Calvin baru saja duduk di kursi kebesarannya dan benar-benar tersentak mendengar suara pintu ruangannya yang dibanting oleh Arzam. Kedua tangan Calvin terkepal dengan sangat kuat di atas meja. Tatapannya begitu tajam dan menusuk. Amarah dan rasa bencinya terhadap Arzam belum hilang dan sembuh, kini ia harus kembali berhadapan dengan Arzam, orang yang sangat ia benci dalam hidupnya. "b******k lo!" umpat Calvin dengan rahang yang mengeras. Calvin lalu bangkit dari posisi duduknya. Arzam lalu berjalan mendekat ke Calvin. Keduanya kini saling berhadapan dengan pandangan yang begitu sengit. Dada keduanya sama-sama bergemuruh karena gejolak emosi yang muncul dalam diri kedua pria tersebut. "Lo yang b******k!" ucap Arzam dengan jari telunjuknya yang sedikit mendorong Calvin. Hal tersebut tentu membuat Calvin yang kini sedang emosi semakin emosi. "s**t! Mau lo apa sih sialan?!" geram Calvin dengan nada tinggi. Arzam berdecih. Ia lalu tersenyum miring. "Kenapa lo pecat Jelyn?!" tanya Arzam dengan tatapan tajamnya. "Itu semua karena perbuatan lo! Kalau lo gak bisa dipecat, maka itu artinya salah satu dari kalian harus ada yang ke luar dari perusahaan ini!" ucap Calvin dengan tegas. "Gak! Lo gak akan pernah bisa melakukan hal itu ke gue dan Jelyn! Gue akan tetap mempertahankan Jelyn untuk bekerja di perusahaan ini! Ingat itu!" ucap Arzam. Calvin tersenyum remeh. "Are you sure? Seberkuasa apa sih lo sampai bisa berkata seperti itu? Remember that, this Company is mine! Dan yang berhak menentukan apa pun itu yang berkaitan dengan perusahaan ini adalah gue! Pemiliknya! Bukan pecundang seperti lo!" ucap Calvin. Calvin lalu sedikit mendorong Arzam dengan satu tangannya. Ia memasang senyum sinis. Brak! ........ Jelyn pergi ke gerbang utama kantor untuk menunggu ojek online yang ia pesan. Ia memegang sebuah box berisi barang-barang pekerjaannya. Saat sedang menungg di dekat pos Security, seorang Security bertanya pada Jelyn. Jelyn dan Security tersebut memang sudah cukup kenal sebab keduanya sama-sama sudah lama bekerja di perusahaan Calvin. "Lho mbak Jelyn kok udah pulang jam segini?" tanya Security tersebut. Jelyn pun tersenyum. "Saya sudah diberhentikan oleh pak Calvin pak," ucap Jelyn. "Lho? Serius ini toh mbak?" tanya Security tersebut dengan sangat terkejut. Jelyn pun mengangguk dengan wajah teduhnya. "Iya pak," ucap Jelyn. "Ya Allah kok bisa toh mbak? Bukannya selama ini kinerja mbak Jelyn bagus? Kok dipecat sih mbak?" tanya Security tersebut tak percaya. "Mungkin rezeki saya di sini cukup sampai di sini pak," ucap Jelyn tersenyum dengan tegar. "Ya Allah mbak Jelyn ini tabah banget lho. Padahal baru saja mendapat kabar buruk tapi tetap aja tersenyum dan ramah," ucap Security. "Bagaimana pun kita harus menerima takdir pak. Saya tidak bisa menolak takdir yang telah Allah tetapkan untuk saya. Kalau pun saya marah, memangnya bisa merubah takdir yang telah Allah tetapkan? Enggak kan pak? Jadi gak ada gunanya juga. Intinya kita berserah saja sama Allah," ucap Jelyn dengan lembut. "Masya Allah benar-benar idaman sekali. Kalau aja anak saya udah seumuran sama mbak, wah pasti saya jodohin sama mbak Jelyn. Udah cantik, baik, sopan, pintar lagi. Perfect mbak," ucap Security sambil mengangkat dua ibu jari tangannya untuk Jelyn. Jelyn tersenyum. "Terima kasih, pak. Bapak juga orang baik kok. Semua yang ada di sini juga orang baik dan semoga juga selalu baik-baik saja ya," ucap Jelyn. "Aamiin ya Allah. Semoga mbak Jelyn bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik ya mbak. Semoga selalu dilindungi sama Allah," ucap Security. "Aamiin ya Allah. Terima kasih pak," ucap Jelyn. "Iya mbak sama-sama. Pasti orang-orang di kantor bakalan kangen sama mbak. Mbak Jelyn kan baik banget. Udah terkenal sama satu kantor," ucap Security. Jelyn kembali tersenyum. "Alhamdulillah kalau memang kesan saya selama di sini baik dan orang-orang juga suka," ucap Jelyn. "Woah ya pasti mbak. Orang sebaik mbak Jelyn ini pasti disukai oleh semua orang," ucap Security. Tiba-tiba sebuah motor berhenti di sana. "Permisi, atas nama mbak Jelyn?" tanya ojol tersebut. Jelyn tersenyum lalu mengangguk. "Iya benar, itu saya. Pak Security, kirim salam sama yang lainnya ya. Saya minta maaf jika selama ini saya ada salah kata atau perbuatan ke semuanya. Dan terima kasih karena selama ini orang-orang di sini sudah sangat baik kepada saya. Assalamualaikum," ucap Jelyn dengan sopan. "Baik mbak. Nanti saya sampaikan ke yang lainnya ya. Mbak Jelyn hati-hati. Nanti main-main ke sini ya mbak. Kalau nikah kabari mbak. Siapa tahu kan saya dan yang lainnya bisa datang. Heheh. Waalaikumsalam," ucap Security. Jelyn hanya tersenyum lalu mengangguk. "Mari pak," ucapnya. Jelyn lalu naik ke atas motor ojol tersebut dan segera ojol melajukan motornya meninggalkan kantor Calvin. ........ Arzam menggebrak meja kerja Calvin saat itu juga. Dengan emosi yang memuncak, tangannya lalu menarik kera baju Calvin dan mencengkeramnya kuat. "Jangan pernah menyepelekan gue, sialan!" geram Arzam. Calvin melakukan hal yang sama seperti yang Arzam lakukan padanya. "Karena lo memang serendah itu di mata gue!" ucap Calvin. "b******k!" umpat Arzam lalu secara spontan mendorong kuat tubuh Calvin hingga terdorong jauh ke belakang. Calvin mengibaskan pakaiannya dengan tangannya lalu sedikit merapikan penampilannya. Dengan santai dan elegan ia kemudian berjalan menghampiri Arzam. "Apa? Lo mau balas? Balas kalau bisa!" ucap Arzam menantang. Calvin tersenyum miring. "I have known that you will do it to me after knowing that. Jadi gue gak mau mengotori tangan gue yang sangat bersih dan suci ini hanya karena orang semenjijikkan lo!" ucap Calvin mengejek. "Kurang ajar lo! Beraninya lo mengatakan hal itu ke gue!" emosi Arzam. Kedua tangan Arzam terkepal dengan sangat kuat dan bersiap untuk melayangkan pukulannya pada Calvin namun tangannya terhenti di udara setelah Calvin mengatakan sesuatu. "Silakan! Lakukan apa pun yang lo mau dan hukum akan segera bertindak untuk lo!" ucap Calvin dengan smirk. Arzam lalu menurunkan kembali tangannya dan menghempaskannya begitu saja. 'Sial! Gue gak mau dipenjara hanya karena hal bodoh ini! Gue harus lebih pintar lagi dalam menghadapi Calvin saat ini. Tenang Arzam. Lo gak boleh emosi.' ucap Arzam di dalam hatinya. "Kenapa? Kok gak jadi? Takut lo? Hahah dasar lemah!" ucap Calvin menertawakan Arzam. "Gue gak mau aja melakukan hal itu pada orang yang lemah seperti lo. Useless!" ucap Arzam. "Are you sure? Gue gak yakin tuh," ucap Calvin. "Ingat ya, gue akan memperjuangkan Jelyn untuk tetap bekerja di sini!" ucap Arzam. "And it means that lo yang harus ke luar dari perusahaan ini! Simple!" ucap Calvin. ........ Jelyn baru saja tiba di rumah kontrakannya dengan Lia. Ia juga sudah berbelanja kebutuhan untuk acara perpisahannya dengan teman-temannya nanti sepulang jam ngantor. Jelyn kemudian membayar ongkos ojol tersebut. "Terima kasih ya pak," ucap Jelyn. "Sama-sama mbak. Mari," ucapnya lalu pergi dari sana. Jelyn lalu membuka pintu rumah dan memasukinya. Ia berganti pakaian dan melakukan bersih-bersih sebelum melakukan kegiatan yang lain. "Istirahat dulu deh sebentar. Setelah itu baru deh mulai masak-masak," gumam Jelyn. ...... Lia mengusap wajahnya tiba-tiba. Tidak tahu mengapa ia merasakan pusing di kepalanya. "Kenapa Li?" tanya Sania. "Gak tahu. Tiba-tiba pusing aja," ucap Lia. "Kepikiran Jelyn mungkin lo," ucap Fara. "Lebih ke gak terima aja sih kalau Jelyn dipecat sedangkan dia enak-enak aja di sini," ucap Lia. "Gue juga gak suka banget sama dia. Munafik deh kayaknya orangnya," ucap Fara. "Gue juga berpikirnya seperti itu sih. Tapi by the way, beberapa karyawan di sini tuh pada berpikir kalau dia itu baik lho dan pak Calvin yang gak baik. Coz kan mereka tahunya selama ini pak Calvin itu angkuh jadi mereka berpikir bahwa si manajer baru itu lebih baik dari pak Calvin," ucap Sania. "Beneran begitu? Padahal dia kan baru dua hari kerja di sini. Kok bisa sih orang-orang sudah menarik kesimpulan seperti itu tentang dia? Kayaknya ada yang gak beres deh guys," ucap Lia. "Kayaknya iya deh. Aneh banget ya. Baru juga dua hari kerja udah berhasil membuat karyawan di sini suka sama dia. Padahal action dia pada pekerjaannya itu belum ada. Unbelieveable deh," ucap Fara. "Kayaknya kita perlu cari tahu deh tentang hal ini," ucap Sania. "Tapi bagaimana caranya, Sania?" tanya Lia. Sania tampak diam dan mencoba untuk memikirkan bagaimana caranya. ....... Sementara itu di lain sisi, Vira atau mama Calvin saat ini sedang merapikan tempat tidur dan beberapa barang yang terapat di kamarnya yang terlihat sedikit berantakan. Meskipun memiliki seorang asisten rumah tangga, untuk hal mengurus kamarnya, ia lebih memilih untuk mengerjakannya sendiri karena baginya kamarnya dengan suaminya adalah privasi yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang. Ketika itu, ponselnya tiba-tiba saja berdering menandakan jika ada panggilan yang masuk di sana. Drrrtttt Vira pun menghentikan pekerjaannya sejenak dikarenakan ponselnya berdering. “Siapa ya yang menghubungi aku jam segini?” gumam Vira. Vira lalu mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Ia lalu mengambil posisi duduk di tepi tempat tidur dan membaca nama penelpon. Namjn sayangnya yang menghubungi dirinya saat ini adalah nomor tidak dikenal. “Nomor siapa ini?” gumam Vira. Dengan ragu, Vira kemudian menerima panggilan tersebut. “Halo? Ini siapa ya?” tanya Vira pada seseorang di seberang telepon. “.......” “Iya benar. Ada apa ya?” tanya Vira. “........” “Apa? Ya Tuhan. Ya sudah saya akan segera ke sana sekarang juga,” ucap Vira terkejut. Tut. Vira lalu memutuskan sambungan secara sepihak. Raut wajahnya berubah menjadi cemas dan sedikit panik. Ia lalu mengusap wajahnya dan menutupi wajahnya selama beberapa saat. ..........
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN