"And it means that lo yang harus ke luar dari perusahaan ini! Simple!" ucap Calvin.
Calvin lalu memainkan kedua alisnya naik dan turun lalu mengukir senyum yang tak terdefinisi.
Deg!
Arzam terdiam selama beberapa saat. Emosinya yang sudah sedikit meredam kini kembali berapi-api.
"Maksud lo?!" tanya Arzam dengan emosi.
"How stupid you are! Gitu aja masa gak ngerti sih," ucap Calvin.
"Gue gak akan pernah ke luar dari perusahaan ini dan Jelyn akan tetap bekerja di perusahaan!" ucap Arzam dengan penuh penekanan.
Calvin berdecih. Ia tersenyum mengejek. Calvin lalu mengendikkan bahunya tak peduli. Ia kemudian kembali ke kursi kebesarannya dan duduk di sana.
"Itu sih terserah lo aja ya. Kalau lo memang mengenal Jelyn dengan sangat baik, lo pasti tahu seperti apa Jelyn. Jadi jangan bermimpi terlalu tinggi. Karena saat lo bangun dari mimpi lo, gue khawatir kalau lo bakalan nangis kejar. Ups," ucap Calvin dengan senyum mengejek.
Kedua tangan Arzam terkepal dengan sangat kuat. Sungguh dirinya benar-benar emosi sekali pada Calvin saat ini. Namun ia harus menahannya karena dia tidak ingin berurusan dengan polisi.
Calvin lalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya dan mengabaikan keberadaan Arzam di sana yang masih menatap dirinya dengan sorot mata penuh dengan kebencian.
Drrrtttt
Kala itu, ponsel Calvin tiba-tiba saja berdering menandakan jika ada panggilan yang masuk di sana.
....
Lia tersenyum mendengar ide Sania yang benar-benar luar biasa.
"Good idea," ucap Lia.
"Tumben lo pintar, San. Makan apa sih tadi pagi? Biasanya kan pintaran gue," ucap Fara.
Pletak!
Sania menyentil kening Fara.
"Aduh sakit woi!" keluh Fara lalu memegangi keningnya yang disentil oleh Sania.
"Makanya jangan sembarangan ngatai gue. Gini-gini gue sama lo masih pintaran gue ke mana-mana. Lo tuh lemot," ucap Sania.
"Enak aja. Biar lemot begini tapi gue udah laku ya. Lo apa? Dih masih jomblo. Wleee," ucap Fara mengejek lalu menjulurkan lidahnya.
"Halah belum halal aja udah bangga. Hubungan haram kok dibanggain," ucap Sania.
"Hey! Kalau ngomong suka benar deh lo," ucap Fara.
"Putusin makanya. Kalau dia memang beneran cinta sama lo, pasti dia bakalan nikahi lo bukannya diajak pacaran mulu. Kasarnya langsung aja bilang halalkan atau tinggalkan. Simpel!" ucap Sania.
"Kalau ngomong gampang benar dah lu. Lo pikir semudah itu? Gak semudah itu woi Sania!" ucap Fara.
"Tahu ah bodoh amat terserah lo. Nanti kalau diputusin nangis-nangis deh lo curhat sama kita-kita. Tapi kalau dikasih tahu ngeyel," ucap Sania.
"Udah guys kok jadi berbuntut gini sih? Sekarang ini kita harus fokus ke rencana kita. Jangan pikirkan yang lain-lain dulu," ucap Lia.
"Iya deh iya sorry," ucap Sania.
"Ya udah gak lagi," ucap Fara.
"Jadi kapan kita akan melakukan rencana itu?" tanya Lia.
"Secepatnya!" serempak Fara dan Sania.
....
Calvin menghentikan pekerjaannya sejenak dan mengecek ponselnya untuk mengetahui siapa yang menghubungi dirinya.
'Mama is calling you...'
Calvin mengernyitkan keningnya melihat nama penelpon yang tertera pada layar ponselnya.
"Mama? Ada apa mama hubungi aku jam segini? Tumben banget. Padahal sebentar lagi udah jam makan siang," gumam Calvin.
Arzam masih berada di sana. Ia benar-benar betah sekali berdiri di sana layaknya seorang bodyguard yang setia.
Calvin lalu menerima panggilan tersebut.
"Iya halo ma?" ucap Calvin pada Vira di seberang telepon.
Arzam terlihat menatap Calvin dengan intens mencoba untuk bertahan di sana agar bisa mencari tahu mengapa Vira menghubungi Calvin.
"Hiks hiks papa kamu, Vin. Papa kamu kecelakaan."
Deg!
Seluruh dunia Calvin seakan runtuh begitu saja mendengar kabar buruk tersebut yang langsung disampaikan oleh ibunya.
Mata Calvin tiba-tiba memanas dan perlahan mengeluarkan buliran air dari sana dan membasahi pipinya.
Untuk kali pertama seorang Calvin menangis di dalam ruang kerjanya. Calvin mematung selama beberapa saat setelah mendapat kabar tersebut dari ibunya.
Hal itu tentu membuat Arzam bertanya-tanya. Perubahan benar-benar terlihat dalam diri Calvin setelah mendengar kabar tersebut dari ibunya.
'Apa yang terjadi? Kenapa dia mematung seperti itu? Bahkan dia meneteskan air mata? Ada apa ini?' ucap Arzam di dalam hatinya.
Tersadar bahwa dia tidak boleh terlihat lemah, Calvin segera mengusap kasar air matanya dan mengatur pernafasannya agar tetap terdengar baik-baik saja oleh ibunya.
"Sekarang mama ada di mana?" tanya Calvin sebisa mungkin bersikap biasa saja.
"Mama masih di rumah, nak. Setelah ini mama akan ke rumah sakit. Mama akan share loc ke kamu ya di mana rumah sakitnya," ucap Vira dengan suara pilunya.
"Mama tunggu Calvin di rumah aja ya. Calvin akan jemput mama. Mama gak boleh pergi sendirian," ucap Calvin.
"Kamu gak apa-apa harus menghampiri mama terlebih dahulu nak? Gak merepotkan kamu?" tanya Vira.
"Mama tunggu Calvin di rumah ya. Calvin segera ke sana. Assalamualaikum," ucap Calvin.
"Waalaikumsalam," ucap Vira.
Tut.
Sambungan telepon pun terputus.
Calvin lalu bangkit dari posisi duduknya dan ke luar begitu saja dari ruangannya. Ia bahkan juga mengabaikan keberadaan Arzam di sana.
"Apa yang terjadi sih? Kenapa dia terlihat sedih dan panik seperti itu?" gumam Arzam bertanya-tanya.
"Gue harus cari tahu."
Arzam lalu bergegas ke luar dari ruangan tersebut dan menyusul Calvin. Ia akan mengikuti Calvin untuk mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
......
Lia, Fara dan Sania kini sedang mengerjakan pekerjaan mereka. Kegiatan mereka terhenti saat melihat Calvin yang berjalan terburu-buru di sana menuju pintu ke luar.
Ketiganya saling menatap dan bertanya-tanya tanpa suara dengan hanya menggunakan gerakan tubuh saja.
Mereka semakin dibuat heran karena tak lama setelah Calvin melewati mereka dan berjalan dengan terburu-buru, Arzam juga berjalan terburu-buru mengikuti Calvin.
"Benar-benar aneh. Ini ada apa sih? Kenapa mereka jalannya kayak lagi dikejar ghost gitu sih?" tanya Fara.
"Iya ya kok kayak panik gitu? Apa lagi bos Calvin. Matanya kayak sembab gitu lho. Gak pernah-pernahnya dia begittu padahal," ucap Sania.
"Kayaknya terjadi sesuatu deh. Tapi gue gak tahu apa," ucap Lia.
"Gue semakin curiga nih. Jangan-jangan pak bos dan si manajer baru itu punya hubungan," ucap Fara.
Sania dan Lia langsung menatap Fara dengan horor.
"Fara!" teriak Lia dan Sania secara bersamaan membuat karyawan lainnya yang berada di sana langsung melirik ke arah mereka.
Lia dan Sania lalu tersenyum malu dan menunduk karena tatapan orang-orang di sana.
"Kalian berisik banget sih. Tuh kan lihat, mereka semua jadinya ngelihatin ke meja kita. Ihhh," ucap Fara kesal.
"Ya habisnya lo bicara sembarangan sih tadi," ucap Sania.
Fara mengernyitkan keningnya.
"Gue? Bicara sembarangan? Bicara apa sih? Perasaan gue sudah berbicara sesuai dengan tempatnya deh. Di mananya sih yang sembarangan?" tanya Fara heran.
......