Calvin memasuki mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sesekali ia memijit pelipisnya pelan dan hanya mengemudi dengan satu tangannya saja. Sungguh, pikirannya benar-benar kacau sekali saat ini. Ditambah lagi dirinya juga tidak sarapan pagi tadi.
Calvin mulai merasakan sedikit lemas karena perutnya yang kosong sejak pagi tadi. Bibirnya saat ini juga terlihat sedikit pucat.
"Ya Allah tolong jangan sekarang. Tolong ya Allah,"
lirih Calvin.
Beberapa kali ia sempat memejamkan matanya menahan perih di perutnya dan sakit di kepalanya.
.......
Vira kini sedang menunggu Calvin di ruang tamu di rumahnya.
"Ya Allah semoga mas Firman baik-baik saja. Semoga dia tidak mengalami luka serius ya Allah. Tolong lindungi suami hamba ya Allah," gumam Vira penuh harap.
Vira lalu melirik ke arah jam tangannya yang melingkar pada pergelangan tangannya.
"Calvin kenapa belum sampai juga ya? Duh," cemas Vira.
.......
Jelyn ke luar dari kamarnya setelah selesai beristirahat.
Jelyn kini sedang berada di teras rumahnya menunggu ojek online yang ia pesan datang sebab dirinya akan pergi untuk membeli keperluan acara nanti malam.
"Mau masak apa ya nanti? Lihat aja deh nanti di sana apa yang benar-benar menarik untuk dimasak nanti," gumam Jelyn.
Tak lama ojek online pesanannya pun tiba.
"Atas nama mbak Jelyn?" tanya kang ojol.
Jelyn bangkit dari posisi duduknya lalu mengangguk.
"Iya pak," ucap Jelyn.
"Panggil kang aja mbak. Saya masih muda kok," ucap kang ojol.
"Oh gak apa-apa pak biar lebih sopan aja. Boleh saya minta helmnya?" ucap Jelyn.
"O-oh iya mbak boleh kok. Ini," ucap kang ojol lalu memberikan helm tersebut kepada Jelyn.
Jelyn lalu naik ke atas motor ojol tersebut dan memberi jarak dengan tasnya sebagai pembatas.
"Sudah mbak?" tanya kang ojol.
"Sudah," ucap Jelyn.
Kang ojol lalu segera melajukan motornya menuju titik lokasi tujuan.
.......
Calvin benar-benar sudah tidak sanggup. Ia merasa mual, sakit kepala dan perih di perutnya saat ini.
Akhirnya ia memutuskan untuk menepikan mobilnya dan beristirahat sejenak.
"Ya Allah aku benar-benar gak kuat," lirih Calvin.
........
Sementara itu pada jarak yang tidak terlalu jauh dari posisi Calvin berhenti saat ini, Arzam yang sejak tadi mengikuti Calvin pun memberhentikan mobilnya juga saat melihat mobil Calvin berhenti.
"Kenapa lagi tuh orang? Kok dia berhenti? Apa jangan-jangan dia tahu ya kalau gue dari tadi mengikuti dia?" gumam Arzam bertanya-tanya.
Arzam lalu mengedarkan pandangannya.
"Ini kok kayak jalan mau pulang ke rumah ya? Iya benar ini jalan pulang. Oh jadi si Calvin mau pulang. Tapi kenapa mobil dia berhenti di situ?" gumam Arzam.
.......
Calvin mengusap wajahnya. Kini tubuhnya sudah keringat dingin. Bibirnya semakin memutih dan begitu juga dengan wajahnya yang terlihat sangat pucat.
Calvin mual-mual terus sehingga hal itu membuat dirinya menjadi tidak nyaman.
........
Arzam masih setia menunggu di sana sembari otaknya terus berpikir mengapa Calvin berhenti di sana.
"Gue baru ingat! Si Calvin kan tadi pagi gak sarapan tuh. Dia juga belum ada makan apa pun kayaknya selama di kantor tadi. Dan dia kan ada sakit asam lambung. Kayaknya penyakitnya kambuh tuh," gumam Arzam menebak.
"Tadi juga kayaknya dia panik banget ketika menerima panggilan dari nyokapnya. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu lagi sama bokapnya? Makanya tadi dia kayak panik gitu? Dan sekarang dia mau pulang untuk jemput mamanya?"
"Cerdas! Lo benar-benar cerdas, Arzam. Kalau gitu artinya gue harus kembali berakting sebagai penyelamat di sini," gumam Arzam dengan senyum miring.
Arzam lalu melanjutkan kembali laju mobilnya dan melewati mobil Calvin.
"Dengan ini gue akan membuat posisi lo benar-benar tersingkir, Calvin. Orang tua lo akan semakin membenci lo dan jauh lebih sayang dan percaya sama gue dari pada lo," gumam Arzam dengan senyum miring.
.......
Jelyn kini masih di perjalanan menuju ke supermarket. Ia memutuskan untuk berbelanja di supermarket karena jika sudah siang seperti ini pasar tradisional biasanya sudah tutup.
Jelyn mempertajam penglihatannya saat matanya tak sengaja melihat sebuah mobil yang sangat ia kenali berhenti di tepi jalan.
'Itu kok kayak mobilnya pak Calvin ya?' ucap Jelyn di dalam hatinya.
Jelyn kembali mempertajam penglihatannya dan melihat plat nomor mobilnya.
'Iya benar. Itu mobilnya pak Calvin. Aku hafal banget sama plat mobilnya. Tapi kenapa mobilnya berhenti di pinggir jalan?' ucap Jelyn di dalam hatinya.
Jelyn membulatkan matanya dengan sempurna saat otaknya tiba-tiba saja terpikirkan sesuatu.
'Ya Allah. Jangan-jangan terjadi sesuatu sama beliau? Aku harus tolong dia.' ucap Jelyn di dalam hatinya.
Motor ojol Jelyn baru saja melawati mobil Calvin dan itu artinya posisinya belum jauh dari posisi mobil Calvin berhenti saat ini.
"Pak stop pak stop," ucap Jelyn pada kang ojol tersebut.
Ojol tersebut lalu memberhentikan motornya di tepi jalan. Jelyn lalu turun dari motor tersebut dan melepas helmnya. Ia lalu memberikan helm tersebut pada si pemiliknya.
Jelyn lalu mengeluarkan uang ongkos ojol ya dan memberikannya pada ojol tersebut.
"Saya berhenti di sini aja. Makasih pak," ucap Jelyn.
Jelyn lalu berjalan dengan sedikit cepat menghampiri mobil Calvin. Sikap Jelyn tentu saja membuat ojol tersebut terpelongo.
Ia lalu geleng-geleng kepala dan melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu, Jelyn masih berjalan menuju ke mobil Calvin. Sesampainya ia di samping mobil Calvin, Jelyn sedikit mengintip bagian dalam mobil Calvin melalui kaca.
"Duh gak kelihatan lagi. Gelap banget," gumam Jelyn.
.......
Calvin memijit pelipisnya dan matanya sudah sayup-sayup saat ini. Saat ia menoleh ke samping kanannya tepatnya pada arah jendela, Calvin sedikit tersentak karena menemukan seseorang yang sedang mengintip mobilnya.
Secara refleks, Calvin langsung menurunkan kaca mobilnya dan membuat si pelaku terkejut.
"Apa yang anda lakukan?!" tanya Calvin dengan emosi.
Padahal sedang sakit tapi masih saja bisa emosi pada orang. Dasar Calvin!
Jelyn tersentak mendapat pertanyaan seperti bentakan tersebut dari Calvin.
Calvin juga dibuat terkejut setelah dirinya mengetahui siapa orang yang mengintip mobilnya.
"Jelyn? What are you doing here?" tanya Calvin tak habis pikir.
"Bapak yang ngapain di tepi jalan seperti ini? Tadi saya mau pergi ke supermarket terus saya gak sengaja melihat mobil bapak berhenti di sini. Saya pikir terjadi sesuatu pada anda makanya saya coba hampiri mobil anda," ucap Jelyn.
Calvin menelan salivanya sendiri dengan susah payah. Ia kembali memijit pelipisnya dan sesekali meringis.
"Penyakit saya tiba-tiba kambuh sehingga saya sudah tidak kuat lagi mengemudi," ucap Calvin.
Jelyn lalu menatap lekat wajah Calvin yang memang benar-benar pucat sekali.
"Ya Allah wajah bapak pucat sekali. Bapak sakit apa? Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Jelyn.
"Hanya asam lambung. Saya nya saja yang terlalu lemah sampai menjadi seperti ini," ucap Calvin.
"Ya Allah gak boleh bicara seperti itu pak. Banyak juga yang meninggal karena asam lambungnya udah parah. Bapak juga gak boleh menganggap diri bapak lemah. Ini pasti tadi bapak tidak sarapan lagi ya?" tanya Jelyn.
Calvin pun mengangguk.
"Ya Allah pak udah tahu ada penyakit bukannya makan kalau pagi. Ya sudah kalau gitu bapak tunggu di sini sebentar. Saya cari makanan sama obat untuk bapak," ucap Jelyn.
"Kamu yakin?" tanya Calvin.
Jelyn pun mengangguk.
"Iya pak. Sebentar ya," ucap Jelyn.
Calvin pun mengangguk. Jelyn lalu beranjak dari sana untuk membelikan makanan dan obat untuk Calvin.
Calvin lalu kembali menaikkan kaca mobilnya saat Jelyn telah beranjak dari sana.
......