Mobil Arzam berhenti tepat di halaman depan rumah keluarga Calvin.
Mendengar suara mobil tersebut, Vira mengira bahwa itu adalah suara mobil Calvin.
Vira bangkit dari posisi duduknya.
“Calvin udah sampai. Lebih baik aku langsung ke sana saja supaya tidak terlalu lama,” gumam Vira.
Vira lalu melangkahkan kakinya ke luar rumah dan pergi ke halaman rumah.
Namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat dirinya melihat mobil Arzam yang berada di sana dan tak lama Arzam ke luar dari mobil.
Vira mengernyitkan keningnya.
“Kenapa Arzam yang datang? Lalu di mana Calvin?” gumam Vira bertanya-tanya.
Arzam lalu melangkahkan kakinya menghampiri Vira. Diam-diam ia tersenyum miring melihat eskpresi Vira yang terkejut melihat dirinya.
‘Dia pasti kaget saat tahu ternyata yang datang adalah gue bukan anaknya. Saatnya untuk bersandiwara.’ ucap Arzam di dalam hatinya.
“Ma,” sapa Arzam lalu menyalim tangan Vira.
“Kok kamu sudah pulang, zam?” tanya Vira.
“Aku buru-buru pulang saat aku tahu bahwa terjadi sesuatu sama papa,” ucap Arzam.
“Kamu tahu hal ini?” tanya Vira sedikit terkejut.
Arzam pun mengangguk.
“Aku gak sengaja dengar sih ma ketika mama menghubungi Calvin tadi. Tapi aku gak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Tapi dari yang aku lihat sepertinya ini ada kaitannya dengan papa. Makanya aku buru-buru pulang tadi,” ucap Arzam.
Vira pun mengangguk.
“Lalu Calvin mana? Kenapa dia belum sampai? Tadi mama janjian sama Calvin lho untuk pergi ke rumah sakit sama-sama,” ucap Vira.
“Aku juga gak tahu ma. Tadi dia memang pulang sih dari kantor tapi aku juga gak tahu kenapa dia belum sampai. Padahal tadi dia ke luar kantor lebih dulu,” ucap Arzam.
Arzam lalu tersenyum miring tanpa sepengetahuan Vira melihat ekspresi Vira yang terlihat mulai salah paham pada Calvin.
‘Rasain lo. Sebentar lagi orang tua lo akan benar-benar lebih percaya sama gue dari pada lo.’ ucap Arzam di dalam hatinya.
“Ya udahlah kalau dia juga gak jelas. Kamu mau kan mengantar mama ke rumah sakit untuk melihat kondisi papa?” tanya Vira.
Arzam pun mengangguk.
“Pasti, ma. Masa iya Arzam menolak sih ma. Kita berangkat sekarang ya ma,” ucap Arzam.
Vira pun mengangguk.
“Iya zam,” ucapnya.
Mereka lalu bergegas memasuki mobil. Arzam lalu melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
“Ke rumah sakit mana, ma?” tanya Arzam.
“Pelita,” ucap Vira.
Arzam pun mengangguk.
“Oke. Mama yang tenang ya. In Syaa Allah papa akan baik-baik saja di sana,” ucap Arzam.
Vira pun mengangguk.
“Iya,” ucap Vira.
..........
Jelyn akhirnya kembali ke mobil Calvin setelah berhasil membeli obat dan makanan untuk Calvin. Jelyn lalu mengetuk kaca mobil Calvin.
Tok Tok Tok
“Pak, pak Calvin! Ini saya sudah belikan obat dan makanan untuk anda,” ucap Jelyn.
Wajah Calvin terlihat semakin pucat. Dengan lemas, ia lalu menurunkan kaca mobilnya.
“Kamu langsung masuk ke pintu sebelah. Saya udah gak kuat, Jelyn.”
Calvin mengatakan hal tersebut dengan sulit dan menahan sakit.
“Ya Allah,” lirih Jelyn panik.
Segera Jelyn beralih ke pintu mobil sebelah kiri bagian depan atau tepatnya di samping pengemudi yaitu Calvin.
Jelyn lalu masuk ke dalam mobil tersebut dan mempersiapkan makanan untuk Calvin.
“Bapak bisa makan sendiri?” tanya Jelyn.
Namun Calvin menggeleng dengan lemah. Dia seolah tak lagi memiliki tenaga.
“Ya Allah ya sudah kalau gitu saya izin untuk menyuapi bapak ya. Maaf sekali pak jika saya lancang,” ucap Jelyn.
Calvin pun mengangguk. Jelyn lalu menyuapi bubur ayam tersebut ke mulut Calvin.
“Ini minumnya, pak.”
Jelyn lalu memberikan air mineral yang tadi ia beli kepada Calvin. Calvin pun menerimanya.
“Kalau haus diminum aja, pak. Nanti kalau agak susah makannya juga sambil minum aja ya pak,” ucap Jelyn.
Calvin pun mengangguk. Jelyn kembali menyuapi Calvin bubur tersebut. Hingga tak terasa bubur ayam tersebut pun sudah habis dimakan oleh Calvin.
“Alhamdulillah akhirnya habis juga,” ucap Jelyn tersenyum.
Jelyn lalu mengambil bungkusan yang lain yang berisi obat untuk Calvin.
“Tadi saya minta obat resep pak. Jadi mudah-murahan obat ini cocok ya pak. Dan semoga aja rasa sakitnya bisa segera hilang. Semoga bisa segera membaik,” ucap Jelyn.
Jelyn lalu memberi takaran obat yang akan Calvin minum saat ini juga.
“Ini pak,” ucap Jelyn.
Calvin pun menerima obat tersebut lalu meminumnya. Setelah itu, ia memberikan kembali botol air mineral tersebut yang tinggal tersisa sedikit kepada Jelyn.
Pelan-pelan ia sudah merasa lebih baik saat ini. Mungkin efek dari perutnya yang sudah terisi dengan makanan yang cocok juga.
“Bagaimana pak? Apakah sudah membaik?” tanya Jelyn.
“Saya sudah tidak lemas tapi masih sedikit sakit pada bagian perut dan kepala saya,” ucap Calvin.
“Itu karena bapak sangat telat sekali makannya tadi. Makanya sampai seperih itu,” ucap Jelyn.
Calvin lalu menatap Jelyn dengan intens.
“Jelyn,” panggil Calvin.
Jelyn pun menatap Calvin seolah bertanya.
“Terima kasih karena kamu telah menolong saya,” ucap Calvin.
Jelyn tersenyum lalu mengangguk.
“Iya sama-sama pak. Sudah kewajiban saya sebagai manusia untuk saling membantu,” ucap Jelyn.
“Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan kamu,” ucap Calvin.
Jelyn pun tersenyum.
“Terima kasih, pak. Oh iya pak, kok bapak sudah ke luar kantor jam segini?” tanya Jelyn.
“Papa saya kecelakaan. Tadinya saya cepat-cepat pulang dari kantor untuk bisa menjemput mama saya di rumah agar bisa pergi dengan saya ke rumah sakit untuk melihat kondisi papa saya. Tapi tiba-tiba saja saya drop dan akhirnya saya tidak bisa tiba dengan cepat di rumah. Mungkin saat ini mama saya sedang kesal menunggu saya,” ucap Calvin.
“Bapak sudah coba untuk menghubungi mama bapak? Supaya dia tidak cemas pak,” ucap Jelyn.
Calvin pun menggeleng.
“Belum. Saya belum sempat menghubungi mama saya. Seperti yang tadi kamu lihat kondisi saya benar-benar drop. Saya gak bisa melakukan apa apa selain diam saja di dalam mobil ini. Jika kamu tidak datang tadi, mungkin saya sudah pingsan di dalam mobil ini. Ah entahlah,” ucap Calvin.
Jelyn pun mengangguk paham. Kondisi Calvin tadi memang benar-benar sangat memprihatinkan.
“Saya mengerti, pak. Kalau begitu bukankah lebih baik sekarang bapak hubungi saja? Kondisi bapak sudah mulai membaik kan?” tanya Jelyn.
Calvin pun mengangguk.
“Iya sudah. Sebentar ya saya coba untuk menghubungi mama saya terlebih dahulu, “ ucap Calvin.
Jelyn pun mengangguk. Calvin lalu mengeluarkan ponselnya, mencari kontak ibunya lalu mencoba untuk menghubunginya.
...........
Vira dan Arzam kini sudah berada di dalam ruang rawat Firman. Kondisi Firman masih belum sadarkan diri.
Saat ini Vira sedang menangis memeluk Firman. Ia benar-benar sangat mengkhawatirkan kondisi suaminya.
“Mas, bangun mas. Aku udah di sini untuk kamu. Bangun, mas. Hiks,” ucap Vira terisak.
Tubuh bagian luar Firman mengalami banyak sekali luka. Bahkan ada yang sampai harus dijahit karena lukanya terlalu parah.
“Kenapa bisa sampai seperti ini sih, mas? Ya Allah,” lirih Vira.
Sementara itu, Arzam benar-benar tak acuh melihat pemandangan di depannya tersebut. Ia hanya bersikap cuek dan berpura-pura sedih hanya saat Vira menatap ke arahnya.
‘Mati juga gak masalah sih. Yang penting kan harta warisannya ini jelas jatuhnya ke siapa.’ ucap Arzam di dalam hatinya.
Drrrttt
Ponsel Vira tiba-tiba saja berdering menandakan jika ada panggilan yang masuk di sana. Vira lalu sedikit menegakkan tubuhnya untuk mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya dan melihat panggilan yang masuk di sana.
Melihat nama Calvin pada layar ponselnya, Vira langsung menyimpan kembali ponselnya. Entah mengapa, saat ini ia benar-benar merasa kesal pada putra semata wayangnya.
Diam-diam Arzam tersenyum miring melihat hal tersebut.
‘Gue yakin sih pasti itu telepon dari si Calvin. Rasain deh lo. Sepertinya nyokap lo benar-benar kecewa sama lo. Hahah kasihan.’ ucap Arzam di dalam hatinya.
............
Sementara itu, Calvin menghela nafasnya kasar saat panggilannya tidak diterima oleh ibunya hingga mati sendiri.
“Kenapa pak?” tanya Jelyn.
“Gak diangkat. Kayaknya mama sudah pergi ke rumah sakit itu karena kelamaan menunggu saya,” ucap Calvin.
“Ya sudah kalau begitu bapak langsung ke rumah sakit saja, “ ucap Jelyn.
Calvin kemudian menatap Jelyn dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
“Kamu ikut saya ya ke rumah sakit,” ucap Calvin.
Jelyn langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Calvin tersebut.
“Sa-saya ikut anda ke rumah sakit?” tanya Jelyn sedikit gugup.
Calvin pun mengangguk.
“Tapi untuk apa pak?” tanya Jelyn.
“Untuk menjelaskan kepada mama saya apa yang sebenarnya telah terjadi pada saya sehingga saya telat menjemput mama saya. Kamu tahu Jelyn, mama saya sulit sekali mempercayai saya karena selalu sering dihasut oleh dia. Kamu bisa membantu saya kan?” tanya Calvin.
...........
Sania, Lia dan Fara kini baru saja selesai makan siang. Mereka kini telah kembali ke kubikel mereka namun belum memulai pekerjaan mereka karena memang waktu istirahat belum selesai.
“Masih pada penasaran gak sih kenapa tadi pak bos sama si anak baru itu buru-buru banget pergi?” tanya Fara.
“Kepo banget ya, ra. Udahlah ngapain sih dipikirin? Udah lah gak penting banget,” ucap Lia.
“Tahu lo. Kebiasaan banget jadi orang kepo mulu sama urusan orang. Gak ada untungnya padahal,” ucap Sania.
“Ya gimana ya. Kepo itu kelebihan gue,” ucap Fara.
“Njrit. Kelebihan wkwkwk. Kekurangan iya wkwk,” ucap Sania yang tertawa geli.
“Teman lo memang benar-benar gak beres deh, San. Kayaknya perlu diperiksa,” ucap Lia.
“Hey! Apanya yang diperiksa?” tanya Fara.
“Keperawanan lo,” ucap Sania.
“Enak aja lo kalau ngomong. Gini-gini gue masih perawan ya! Sembarangan banget!” ucap Fara.
“Yang bilang lo udah gak virgin siapa sih, Fara?” tanya Sania yang masih tertawa.
“Diam deh lo. Ngeselin banget,” kesal Fara.
“Padahal gue gak suruh periksa your virginity,” ucap Lia.
“Terus maksud lo apanya yang diperiksa? Kejiwaan gue gitu?” ucap Fara.
“Bukan gue lho yang bilang. Lo sendiri ya yang bilang. Gue gak bilang. Gak salah gue ya. Wkwk,” ucap Lia tertawa geli.
Sania pun ikut tertawa semakin geli.
“Lo berdua kalau gak ada gue, kesepian dah lo. Lihat aja ntar kalau gue udah nikah, suami gue kan gak bakalan izinin gue untuk kerja. Bakal kesepian dah lo berdua. Syukurin,” ucap Fara.
“Ututuutu iya deh iya,” ucap Lia dan Sania secara bersamaan lalu diakhiri dengan tawa lepas.
“Ah gak asyik lo berdua. Gak ada Jelyn. Jadi gak ada deh gue teman yang baik hati,” ucap Fara kesal.
“Jadi maksud lo gue sama Lia gak baik hati gitu?” tanya Sania dengan memainkan kedua alisnya naik dan turun.
“Kenyataan,” ucap Fara.
“FARA!” teriak Sania dan Lia secara bersamaan.
Bersamaan itu juga, Fara langsung kabur dari sana.
..........