Bertukar Posisi

1040 Kata
Jelyn tampak mempertimbangkan permintaan Calvin. Ia mencoba untuk berpikir selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskannya. Jelyn menarik nafasnya lalu menghelanya. "Bagaimana, Jelyn?" tanya Calvin lagi. Jelyn memejamkan matanya sejenak. Ia lalu mengangguk sebagai tanda setuju. "Alhamdulillah," ucap Calvin merasa bersyukur. "Tapi pak saya tidak bisa berlama-lama di sana sebab saya harus pergi untuk membeli beberapa keperluan," ucap Jelyn. Calvin pun mengangguk. "Tidak masalah, Jelyn. Karena yang terpenting adalah saat ini kamu mau ikut dengan saya menemui mama saya. Saya yakin sekali mama saya mungkin kecewa dengan saya makanya dia tidak mau menerima panggilan dari saya," ucap Calvin. Jelyn pun mengangguk. "Iya pak. Semoga dengan ikutnya saya pergi ke sana, mamanya pak Calvin bisa mengerti. Aamiin," ucap Jelyn. "Aamiin. Ya udah kalau gitu kita jalan sekarang ya," ucap Calvin. "Bapak beneran udah bisa bawa mobilnya?" tanya Jelyn memastikan kembali. "Sudah lumayan membaik sih dan semoga saja akan segera membaik. Kamu bertanya seperti itu, memangnya kamu bisa bawa mobil?" tanya Calvin. Jelyn tersenyum kecil. "Saya pernah belajar sih pak dan pernah bawa juga saat itu. Hmm ketika saya masih bekerja di kantor bapak kalau gak salah," ucap Jelyn. "Kamu beneran bisa?" tanya Calvin. Jelyn pun mengangguk. "In Syaa Allah bisa pak," ucap Jelyn. "Kalau gitu kamu aja deh yang bawa mobil saya. Soalnya saya memang masih sedikit pusing sih," ucap Calvin. "Kalau memang bapak percaya sama saya, saya bersedia." Jelyn menggigit bibir bawahnya lalu tersenyum kecil. "Saya percaya. Jangan lupa berdoa," ucap Calvin. Calvin lalu turun dari mobilnya. Sementara Jelyn? Dirinya masih membeku pada posisinya bahkan saat Calvin telah membuka pintu mobil pada sisinya. "Ayo Jelyn kita tukar posisi," ucap Calvin. "Hmm i-iya pak," ucap Jelyn. Jelyn lalu turun dari mobil tersebut. Ia kemudian bertukar posisi dengan Calvin. Keduanya kini sudah sama-sama duduk pada jok masing-masing. Sebelum benar-benar mengemudikan mobil tersebut, Jelyn merapalkan doa di dalam hatinya agar senantiasa diberi kelancaran dan keselamatan. "Bismillah ya Allah," gumam Jelyn. Calvin tersenyum kecil mendengar Jelyn yang melafadzkan basmallah sebelum mulai mengemudikan mobilnya. Jelyn menarik nafasnya lalu membuangnya. Ia kemudian mulai melajukan mobil Calvin secara perlahan meninggalkan tempat tersebut. Jelyn mengemudikan mobil tersebut dengan tenang dan baik. Calvin juga merasa nyaman disopirin oleh Jelyn. "Kamu cukup mahir," ucap Calvin. Jelyn pun tersenyum. "Alhamdulillah pak," ucap Jelyn. "Saya coba cek lokasi mama saya dulu ya. Kamu pelan-pelan saja," ucap Calvin. Jelyn pun mengangguk. Calvin lalu melacak keberadaan ibunya. Tak butuh waktu lama, Calvin langsung menemukan titik lokasi di mana ibunya berada. "Pelita hospital ya," ucap Calvin. Jelyn pun mengangguk. "Baik pak," ucapnya. ...... Jam istirahat pun telah selesai. Fara benar-benar merasa terengah-engah saat ini. Ia benar-benar lelah sekali sebab tadi ia bermain kejar-kejaran dengan Sania dan Lia. Ia baru saja duduk di kursinya dan meminum air mineralnya. Setelah itu ia menghela nafasnya begitu panjang. "Duh stop ya gue gak mau lagi deh. Capek banget sumpah," ucap Fara dengan nafasnya yang masih terengah-engah. "Lo pikir kita gak capek? Gila ya lo kurang jauh lari lo. Bisa-bisanya sampai ke rooftop. Naik tangga lagi. Untung gue gak pingsan," ucap Sania. "Tahu lo. Parah banget lo Fara!" ucap Lia. "Ya sorry. Habisnya lo berdua ngejar gue terus ya gue panik lah makanya gue lari terus tadi. Eh gak sadar ternyata udah sampai rooftop. Sewaktu lari-larian tadi gak kerasa capeknya. Eh sewaktu turun, buset jauh benar. Capek," ucap Fara. "Besok-besok gak mau lagi deh gue temenan sama lo. Capek gue!" ucap Sania. "Gak ada benarnya emang. Udah gitu lift pegawai mati. Apa gak? Huh ya Allah apa salah dan dosa hamba sampai seperti ini?" ucap Lia tak habis pikir. "Ah bodoh ah protes mulu lo berdua. Kerja deh kerja. Capek mulu. Gue juga capek," ucap Fara kesal. "Iya nyai!" serempak Lia dan Sania. Fara menahan rasa kesalnya sebab ia tak ingin lagi mengulang kejadian yang sama seperti beberapa menit yang lalu. Ia benar-benar lelah sekali. Setelah itu, mereka pun mulai melanjutkan pekerjaan mereka. ....... Sementara itu di rumah sakit, Arzam mencoba untuk mencari perhatian pada Vira lagi. "Mama belum makan siang kan?" tanya Arzam pada Vira. Vira pun menggeleng. "Mama gak selera makan, zam. Kalau kamu laper, kamu aja yang makan. Mana di sini aja jagain papa," ucap Vira. "Mama gak boleh seperti itu dong, ma. Mama harus tetap makan. Nanti kalau mama juga ikutan sakit, lalu siapa yang akan menjaga papa? Siapa nantinya yang akan menguatkan papa? Jika saat ini kondisi papa sedang lemah, maka mama sebagai istrinya harus kuat. Supaya papa punya semangat untuk sembuh," ucap Arzam. Vira terdiam selama beberapa saat. "Kamu benar, zam. Tapi mama benar-benar gak selera, zam. Selera makan mama benar-benar hilang saat mama mengetahui bahwa papa kamu mengalami kecelakaan," ucap Vira. "Ya udah mama tunggu di sini aja dulu. Arzam mau cari makanan di kantin. Nanti Arzam akan kembali lagi untuk membawakan makanan untuk mama. Gak apa-apa deh Arzam suapi mama asal mama mau makan," ucap Arzam. "Gak apa-apa kok, zam. Mama nanti aja," ucap Vira. "Gak apa-apa kok, ma. Arzam justru senang banget bisa berbuat baik pada mama. Dulu sewaktu Arzam kecil kan mama yang merawat Arzam. Jadi sekarang gantian Arzam yang merawat mama dan papa," ucap Arzam. Vira tersenyum haru mendengar perkataan Arzam. "Kamu benar-benar anak yang baik, zam. Mama sangat bersyukur sekali bisa memiliki anak angkat sebaik kamu," ucap Vira. Arzam pun tersenyum, tersenyum penuh arti dan kemenangan. "Arzam jauh lebih bersukur, ma." 'Bersyukur karena dirawat oleh orang kaya seperti kalian.' ucap Arzam di dalam hafinya. Vira lalu merentangkan tangannya agar Arzam menghampiri dirinya dan memeluknya. Arzam yang paham maksud Vira pun lalu menghampiri Vira dan memeluk Vira. "Mama sangat menyayangi kamu, zam. Mama sudah menganggap kamu seperti anak kandung mama sendiri," ucap Vira. "Arzam juga sangat menyayangi mama dan papa. Arzam janji bahwa Arzam akan menjadi anak yang membanggakan untuk kalian," ucap Arzam. Arzam lalu diam-diam tersenyum miring setelah mengatakan hal tersebut. 'Dan akan lebih membanggakan lagi jika semua harta kalian diberikan kepada aku.' ucap Arzam di dalam hatinya. Mata Vira sedikit berkaca-kaca di sana. Dirinya benar-benar menganggap Arzam adalah anak yang baik. 'Bahkan anak angkat kami jauh lebih baik dari anak kandung kami sendiri saat ini. Kenapa kamu seperti itu sih, Calvin? Padahal kamu adalah harapan mama dan papa. Tapi justru Arzam, anak angkat kami jauh lebih baik kepada kami dari pada kamu.' ucap Vira di dalam hatinya. ......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN