“Tidak,” jawabnya.
“Bagaimana dengan perutku yang lama-kelamaan menjadi besar?” tanyaku dengan kesal.
“Salah sendiri. Kamu yang menyerahkannya ke aku secara cuma-cuma,” jawabnya dengan nada nyelekit.
“Apa-apaan ini Tuan? Kamu memberiku minuman yang kamu campur dengan obat. Lalu Tuan jugalah yang membuat aku jadi hamil,” ucapku dengan kesal. “Maka Tuan bertanggung jawab atas kehamilanku!”
“Aku katakan sekali lagi. TIDAK!!!” bentaknya.
“Kenapa sih kalau ngomong tidak usah bentak? Bisa enggak sih kalau bicara itu halus terhadap wanita?” tanyaku dengan sewot.
“Itu bukan urusanmu,” ketusnya.
“Ya sudah dech. Kita enggak usah ngomong lagi,” Aku semakin kesal lalu menarik selimut hingga ke kepala. “Aku mau tidur jangan ganggu!”
Darren hanya terkekeh melihatku marah. Tak lama Darren menarik selimutku. Aku langsung membuang wajahku ke segala arah. Entah kenapa hari ini aku sangat membenci Darren. Terutama pada wajah tampannya itu.
“Kamu tidak makan?” tanyanya.
“Jangan sok perhatian dech sama aku. Lebih baik kamu menjauh dariku,” ujarku yang semakin emosi. “Sudah sana... Pergilah!”
“Kamu berani mengusirku?” tanyanya.
“Memangnya kenapa kalau aku mengusirmu?” tanyaku balik.
“Kamu enggak rugi kalau aku pergi,” jawabnya dengan asal.
“Enggak,” jawabku dengan cepat.
“Beneran lho,” ucapnya dengan asal.
“Terserah apa katamu. Pokoknya aku benci dengan wajahmu itu,” kesalku yang semakin menjadi-jadi.
“Ya sudah kalau begitu. Kalau aku enggak ada. Jangan mencariku,” katanya.
“Bisa enggak kamu memberikan aku kepastian?” tanyaku.
“Kepastian apa?” tanyanya.
“Kamu nikahi aku hingga selesai melahirkan. Setelah selesai melahirkan kamu boleh meninggalkan aku,” jawabku.
“Tetap aku tidak mau,” sahutnya.
“Kamu itu ya... Bukannya kamu yang membuatnya?” tanyaku dengan menahan emosi.
“Aku merasa enggak membuatnya. Bukannya kamu yang mengajakku b******a? Bukannya kamu yang membuka baju di depanku? Bukannya kamu yang memegang benda pusakaku kala itu? Lalu kamu merayuku untuk melakukan adegan hot itu? Sekarang hamil kok aku yang bertanggung jawab?” tanyanya.
Sementara di luar Andre dan Albert kaget. Mereka kaget karena mendengar Darren dan Salsa berdebat. Yang lebih kagetnya lagi, Andre mengetahui bahwa anak yang dikandung Salsa adalah anak dari putranya itu.
“Apakah itu benar?” tanya Andre.
“Bukannya Paman tadi sudah dengar sendiri pengakuan Darren dan juga Salsa?” tanya Albert yang bisik-bisik.
“Ya itu benar. Berarti Darren sehat bisa memiliki anak,” jawab Andre yang bahagia.
Sementara di ruangan itu perdebatan sengit masih terjadi. Salsa yang memaksa Darren untuk menikahinya. Namun Darren menolak permintaan Salsa.
“Ya enggak bisalah. Kamu memang yang menyuruhku untuk meredakan rasa panasmu itu. Terus apakah kamu akan menyalakanku soal ini?” tanya Darren.
“Ya tetap salah. Kamu yang membuatku begini,” jawabku.
“Sini aku jelaskan satu persatu. Di kasus ini aku sama kamu berada dalam satu kamar. Kamu merayuku. Kamu membuka bajumu tanpa sehelai benang. Kemudian kamu memegang benda pusakaku. Jadi dalam kasus kepolisian di negara ini. Kamulah yang menjadi tersangka utama. Dan aku yang menjadi korbanmu,” jelasnya.
“Korban apa???” tanyaku dengan suara meninggi.
“Korban kasus p*********n,” jawabnya. “Jadi aku tidak perlu bertanggung jawab atas kasus ini,” bisiknya.
“Begitu ya Tuan. Ok... Memang Tuan Darren selalu benar atas tindakan yang telah diperbuat. Tuan Darren hebat juga berakting. Kenapa Tuan Darren tidak menjadi aktor di drakor?” tanyaku.
“Hey... Salsa.. harusnya kamu bangga mempunyai anak dariku. Kenapa kamu malah sewot begitu?” tanyanya.
“Oh Tuhan... Mimpi apa semalam? Bisa-bisanya Tuan Muda Pratama membanggakan dirinya atas prestasi menanamkan benihnya di dalam rahimku,” Aku mulai merutuki kesalahan yang telah kuperbuat.
“Kamu gadis aneh yang pernah aku temui. Seharusnya kamu bangga menjadi ibu dari anakku. Kenapa kamu merutuki kesalahanmu?” tanyanya.
“Aku tidak bangga menjadi ibu dari anakmu. Aku bangga jika memiliki suami yang pengertian. Namun aku belum mendapatkan sampai sekarang. Aku terjebak dalam kebodohan yang telah kamu cipta,” jawabku yang dingin.
“Terserah apa katamu. Pokoknya aku tidak akan bertanggung jawab atas kehamilanmu,” sahutnya dengan dingin.
Tak lama pintu terbuka. Lalu masuklah dua sosok pria yang mendekatiku. Aku segera melihat kedua pria yang berdiri di samping Darren.
“Tuan Andre,” sapaku.
“Bagaimana dengan perutmu?” tanya Andre yang hangat.
“Agak sedikit perih,” jawabku.
“Sedikit perih bagaimana? Lha wong perihnya minta ampun. Buat gerak saja sangat susah sekali,” batinku dalam hati.
“Syukurlah,” ujar Andre.
Kemudian mataku tertuju kepada sosok pria yang berkacamata. Aku terkejut sekali ketika pria berkacamata itu menyunggingkan senyumnya.
“Pak Albert,” pekikku.
“Kamu mengenalnya?” tanya Andre.
“Iya Tuan.. Pak Albert adalah bekas guru kimiaku. Gara-gara Pak Albert aku jatuh cinta pada kimia,” jawabku sambil menyindir Tuan kanebo.
“Itu benar Paman. Salsa ini adalah bekas muridku dahulu. Aku sering mengajarkan ilmu-ilmu kimia dan melakukan percobaan konyol di lab sekolah,” tambahnya.
“Syukurlah kalau begitu,” jawab Tuan Andre. “Apakah kamu hamil anaknya Darren?”
Seketika tenggorokanku tercekat. Entah kenapa aku tidak bisa menjawab pertanyaan dari Tuan Andre. Perlahan aku mulai menetralisir keadaan. Aku terdiam karena si Tuan Kanebo menatapku dengan tajam.
“Itu tidak mungkin Salsa hamil dariku. Aku baru mengenalnya tadi pagi,” kilah Darren.
“Apa!!” pekikku.
“Apa-apaan ini. Dia mulai memainkan alibi agar tidak bertanggung jawab atas kehamilanku,” batinku yang mulai curiga.
“Apa yang kamu katakan Darren?” tanya Andre.
“Memang aku tidak mengenalnya. Aku baru saja mengenalnya tadi. Bisa-bisanya dia hamil dariku,” Darren mulai menyudutkanku.
“Apakah aku harus jujur saja? Kalaupun jujur itu percuma. Namanya juga Darren Pratama s****n yang telah menjebakku,” ucapku dalam hati.
“Tuan aku memang hamil. Tetapi pria gila itu tidak mau tanggung jawab. Bagaimana dengan anakku nanti yang ingin dekat sang Papa?” tanyaku. “Apakah aku harus bilang papanya enggak ada?”
Darren mulai mengobarkan amarahnya. Matanya menatap tajam ke arahku. Darren tidak terima kalau dirinya dibilang mati olehku.
“Siapa yang menghamilimu?” tanyanya.
“Pria gila itu,” jawabku.
“Aku bukan pria gila!” tegasnya yang tidak mau dikatakan gila.
“Aku kan enggak bilang kalau Tuan Darren gila. Aku bilang orang gilalah yang mengajakku!!” sindirku.
“Baru kali ini Salsa membuat Darren kelabakan. Entah cara apa yang digunakan Salsa untuk membuat Darren takluk,” batin Albert.
Kedua pria itu hanya memandang dan melihat kami bertengkar. Mereka memberiku ruang untuk menghabisi Darren.
“Rasanya aku lelah melawan tembok,” umpatku.
“Sungguh berani nyalinya melawan Darren. Aku menyukaimu Salsa. Sebentar lagi kamu menjadi istri Darren,” batin Andre.
“Darren apa benar calon bayi yang dikandung Salsa adalah bayimu?” tanya Andre.
“Enggak,” kilahnya dengan cepat.
“Apa!!” aku terkejut mendengar pengakuan Darren. “Hey.... Tuan Kanebo... Kamu tadi menyuruhku tinggal di apartemenmu hingga aku melahirkan. Tapi sekarang kamu berkilah tidak mengakui anak dalam perutku ini???? Apakah kamu sudah gila??”