“Lebih baik keluar dan masuk ke dalam lobi. Minta para suster mengobati lukamu itu. Jika kamu sudah selesai kembalilah ke sini,” titah Darren.
“Sudah Sa... Kamu mengalah saja sama Tuan kanebo. Jangan berdebat lagi,” batinku.
Aku keluar dari mobil. Aku berjalan dengan sempoyongan ketika aku masuk ke lobi. Beberapa suster yang sedang berjaga melihatku berdarah. Mereka langsung menolongku. Kemudian aku segera dilarikan ke IGD.
Sementara itu Darren tersenyum mengingat pertikaian antara Salsa dan Rian. Entah kenapa Darren menyunggingkan senyumnya.
“Kamu tidak pernah berubah dari dulu. Terima kasih kami telah menyelamatkan nyawaku,” ucapnya dalam hati.
Darren memutuskan untuk keluar mobil. Darren masuk ke dalam rumah sakit lalu melihat resepsionis. Darren menanyakan keberadaan Salsa.
“Pasien bernama Salsa Hermawan sudah selesai?” tanya Darren.
“Sebentar Tuan saya akan mengeceknya,” jawab Ali yang mengecek keberadaan Salsa.
“Sepertinya pasien itu masuk ke sini beberapa menit lalu,” ujar Darren yang santai.
Ali sang resepsionis tersebut mengingat beberapa waktu lalu, “Iya tadi ada seorang wanita yang terluka. Wanita itu masuk ruangan IGD.”
“Setelah selesai berikan kamar VVIP! Berikan semua tagihannya kepadaku! Aku mau wanita itu mendapat perawatan terbaik,” titah Darren.
“Baik Tuan,” ucap Ali.
“Di mana IGD nya?” tanya Darren.
“Lurus terus lalu belok kanan,” jawab Ali.
Darren menuju ke arah IGD. Sepanjang perjalanannya Darren mengingat peristiwa tadi. Hatinya bertanya-tanya tentang obat yang tadi akan diberikan oleh Rian. Darren mengetahui obat yang dibuang oleh Salsa.
“Obat apa yang akan diberikan Rian kepadaku? Kenapa saat dibuang Salsa obat itu bisa merusak lantai? Jika Rian memberikan aku obat itu secara terus-menerus, apa yang akan terjadi dengan tubuhku?” Darren menjadi sangat frustrasi dan menyugarkan rambutnya.
Di ruangan IGD, Salsa tertidur pulas karena obat. Dokter yang mengecek luka Salsa terkejut karena di dalam perut Salsa ada sebuah gumpalan daging. Setelah membersihkan lukanya, Dokter itu bersyukur karena luka tusuk tidak terlalu dalam.
“Apakah ada keluarga pasien di luar?” tanya Dr. Mira.
“Tidak ada dok,” jawab Ria sang suster.
“Coba kamu cari di depan. Siapa tahu ada,” suruh Dr. Mira.
“Baik Dok,” sahut Ria.
Ria akhirnya keluar dari ruangan IGD. Kemudian Ria menemukan Darren yang sedang duduk lalu mendekatinya.
“Tuan,” panggil Ria.
Darren melihat Ria kemudian berdiri, “Bagaimana keadaan Salsa?”
“Maaf Tuan. Sebentar lagi anda bisa menemui Dr. Mira,” jawab Ria.
Darren diam tanpa menyahuti. Ria masuk kembali. Selang beberapa menit Andre dan Albert datang. Mereka mendekati Darren dan menanyakan keadaan Salsa.
“Bagaimana keadaan Salsa?” tanya Andre yang panik.
“Masih berada di ruangan IGD,” jawab Darren dengan pucat.
Albert melihat wajah Darren pucat. Albert khawatir dengan keadaan Darren, “Apakah kamu baik-baik saja?”
“Aku baik. Kenapa?” tanya Darren yang melipat tangannya.
“Bukannya hari ini adalah jadwal pemeriksaanmu?” tanya Andre.
“Ya memang hari ini aku ada jadwal. Namun aku putuskan untuk tidak memeriksakan tubuhku ke Rian,” jawab Darren. “Aku mulai curiga. Akhir-akhir ini kondisi tubuhku mulai melemah.”
“Sebaiknya kamu periksakan luar dalam ke London. Aku yakin ada sesuatu yang salah. Bila perlu kamu cuti beberapa bulan untuk menyembuhkan kondisi kamu,” saran Albert.
Beberapa saat kemudian lampu IGD mati. Kemudian pintu terbuka dan keluarlah seorang wanita paruh baya memakai baju putih.
“Apakah di sini ada keluarga pasien yang bernama Salsa Hermawan?” tanya Dr. Mira.
“Saya dok,” jawab Andre dengan cepat. “Bagaimana keadaan putri saya?”
“Keadaannya baik. Tetapi pasien sedang mengandung,” jawab Dr. Mira.
“Apa??? Putri saya hamil dok?” tanya Andre.
“Ya putri anda sedang hamil. Namun untunglah lukanya tidak terlalu dalam dan calon bayinya selamat,” jawab Dr. Mira. “Sebentar lagi pasien sudah bisa di pindah.”
“Tempatkan Salsa di ruangan VVIP,” perintah Darren.
“Baik Tuan,” Dr. Mira masuk lagi ke dalam.
Andre bingung dengan kenyataan Salsa hamil. Yang Andre tahu Salsa bukan wanita nakal. Kemudian Andre melihat Darren, “Dari mana kamu mengenal Salsa?”
Darren terkejut karena Andre menanyakan tentang Salsa. Lalu ia menetralkan wajahnya kembali agar tidak ketahuan. Albert yang melihat Darren terkejut mengetahui kalau ada udang di balik batu.
“Ada yang disembunyikan dari Darren. Aku tahu ini hubungannya dengan Salsa,” batin Albert.
“Jangan mengada-ngada! Aku tidak ada hubungan dengan Salsa,” sahut Darren dalam hati.
Albert dan Darren saling bertatapan dengan wajah yang tidak bisa diartikan. Sering sekali mereka melakukan pembicaraan rahasia tanpa harus bersuara.
Beberapa jam berlalu. Salsa membuka mata lalu memanggil-manggil nama Darren.
“Darren... Jangan tinggalkan ibu. Kemarilah sayang,” ucapku yang belum bisa membuka mata.
Ketika mendengar Salsa mengigau. Darren mendekati Salsa sambil memegang tangannya. Darren membungkukkan badannya kemudian mencium keningnya. Ia memang spontan melakukannya. Entah Darren jatuh cinta atau tidak.
Setelah itu aku akhirnya membuka mata lalu melihat Darren, “Minum.”
Darren mengambil air mineral di atas nakas. Kemudian Darren membantu Salsa minum. Setelah meminum, Salsa melihat wajah Darren.
“Terima kasih,” ucapku. “Apakah Tuan baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja,” jawabnya.
“Jam berapa ini? Aku ingin pulang,” pintaku.
Darren menahanku untuk tidak bangun dari ranjang, “Jangan banyak bergerak. Lukamu masih basah.”
“Saya ingin pulang Tuan,” ucapku.
Darren menggelengkan kepalanya, “Tidak!”
“Kenapa Tuan?” tanyaku.
“Sembuhin dulu lukamu. Setelah itu kamu boleh tinggal di apartemen hingga melahirkan,” jawabnya.
Jederrrrrrr!!!!!
Bagai suara petir di siang hari. Jantungku terasa mau copot ketika Darren mengatakan melahirkan. Aku mulai melirik ke arah Darren untuk meminta penjelasan, “Melahirkan!”
Darren mengangguk sambil tersenyum manis. Darren memegang tanganku sambil berkata, “Kamu sedang hamil.”
“Ini tidak mungkin Tuan,” ujarku.
“Kalau kamu tidak percaya denganku. Tunggu hingga lukamu sembuh. Aku akan mengajakmu ke dokter Obgyn,” bisik Darren.
Tubuhku melemas dan tidak bertenaga. Ketika tahu kalau aku hamil. Ingin menangis sekuat tenaga. Namun itu tidak mungkin aku lakukan. Ini semua salahku karena kejadian malam itu. Malam di mana aku menyerahkan mahkota yang paling berharga di dalam hidup.
“Berarti aku hamil anaknya,” ucapku dengan lirih.
“Kamu beruntung bisa mengandung anakku. Kamu adalah wanita yang aku pilih,” ucapnya.
“Tu... Tu.... Tu... Tuan... Apakah anda tidak salah dengan pernyataan tuan sendiri?” tanyaku.
“Tidak. Aku memang sengaja memilihmu,” jawabnya dengan cepat.
“Kenapa Tuan memilihku?” tanyaku. “Bukannya anda sering dikelilingi oleh banyak perempuan yang seksi?”
“Kamu tidak boleh menolak permintaanku! Dengan siapa aku memiliki anak itu keinginanku!” tegas Darren.
“Terserah Tuan saja. Namanya juga Tuan Muda Pratama semuanya bisa dibeli,” kesalku.
“Apakah kamu ingat dengan surat perjanjian?” tanyanya.
“Kenapa sih setiap membantah selalu saja memakai ancaman surat perjanjian segala?” gerutuku.
“Jika kamu melanggar salah satu poin. Maka hidupmu akan berkeliaran di jalan. Jadi menurutlah kepadaku,” ucapnya dengan tegas.
“Sakarepmulah,” lirihku dengan lemah. “Apakah kita akan menikah?”