“Kita harus menyelamatkan Darren,” jawabnya.
Tak selang beberapa lama. Andre dan Albert sudah muncul di hadapan kami. Bryan akhirnya memberi kode untuk mencari keberadaan Darren. Aku yang belum apa-apa menjadi bingung.
“Sebaiknya kamu di sini dulu,” titah Andre.
“Baik Tuan,” jawabku.
Setelah mendapat perintah dari Tuan Andre. Aku duduk di kap mobil. Aku bingung mau ngapan. Melihat kepergian tiga pria itu. Aku hanya terdiam. Aku memandang bangunan tua itu. Saat memandangi bangunan tua itu. Entah rasanya jiwa kepoku mulai menggangguku. Dalam hati aku bertanya kenapa di hutan yang lebat ini ada bangunan tua.
Lalu aku teringat film action yang sering aku tonton. Aku mengikuti aksi film action favoritku. Aku mulai menyelinap masuk seperti penjahat. Aku menemukan sela-sela kecil yang berada antara guci dan juga lemari.
“Uh... Rasanya begini ya jadi penyusup,” batinku.
Mataku mulai menyusuri sudut ruangan. Satu detik dua detik tiga detik sangat aman. Aku mulai berdiri dan mengamati situasi. Setelah dirasa aman aku masuk dengan santai. Aku membuka pintu seluruh ruangan. Namun aku tidak menemukan Darren.
“Duh... Ke mana sih Tuan dingin itu?” gerutuku.
Setelah berkeliling mencari keberadaan Darren. Aku tidak menemukan sama sekali. Mataku tertuju pintu di bawah lantai. Aku memakai instingku untuk membuka pintu itu. Aku menemukan sebuah tangga dan menuruninya secara pelan-pelan.
Sebenarnya aku takut memasuki ruangan itu. Namun apa daya kulangkahkan kakiku menuju ke ruangan bawah tanah. Waktu masuk ke dalam aku mencium bau anyir darah. Aku langsung menutup hidungku untuk menahan mual. Aku melihat banyak tengkorak yang berhamburan. Di lubuk hati yang paling dalam. Aku bertanya-tanya, Tempat apa ini ya???
Mataku tertuju ke pintu yang terbuka. Di sana aku melihat cahaya lampu yang terang. Aku mulai mendekatinya dan melihat seorang pria yang memakai baju putih seperti dokter. Aku mulai menyelinap di balik pintu. Aku mengintip seorang pria yang berada di atas brangkar. Mataku membulat sempurna saat mengenali wajah itu.
“Tuan Darren?” lirihku.
Aku sangat geram terhadap orang itu. Aku melihat orang itu memegang suntikan. Saat ingin menyuntik aku memberanikan diri untuk masuk. Sebelum masuk aku melihat sebuah tongkat baseball yang berada di samping meja. Kemudian aku mendekati orang itu dan memukul kepalanya dengan kencang.
“Argh....!!!” teriak Rian yang tersungkur jatuh.
Darren yang mendengar keributan membuka matanya. Darren melihat keberadaanku yang membawa tongkat baseball.
“Salsa,” panggilnya.
Aku tidak menggubris panggilan Darren. Aku segera mendekat ke arah Rian sambil berkata, “Kamu apain Tuan Darren?”
Darren segera turun dari ranjang kemudian mendekatiku. Matanya mulai menatap ke arah Rian dan menatap ke arahku.
“Kamu apain itu orang?” tanya Darren.
“Aku memukulnya tadi. Aku tidak sengaja melihat dokter gila yang menyuntikkan obat ke tubuh Tuan,” jawabku.
Rian yang tidak terima karena aku pukul. Akhirnya berdiri dan mendekatiku. Lalu menatap tajam ke arahku. Aku yang tidak terima dengan tatapan tajam itu memasang wajah galak.
“Ngapain lihat-lihat! Naksir ya!!!” ketusku.
“Kamu telah menggagalkan rencanaku! Dan kau sekarang yang akan menanggungnya!!!” geram Rian.
“Ngapain juga menanggung beban darimu? Kenal aja kagak. Masak aku harus menanggung beban hidupmu,” ejekku.
“Oh... Kelinci kecil... Jadi kamu membantahku ya!!!” geram Rian.
“Jangan terlalu menggeram. Tidak baik untuk kesehatan. Jaga tuh tenggorokan agar mempunyai suara yang bagus. Suara kaya barang rongsokan saja dibanggakan,” ledekku.
Darren yang melihat pertengkaran kami berdua. Darren hanya bisa menghembuskan nafasnya. Bagaimana tidak Darren melihatku yang kalem berubah menjadi bar-bar.
“Rasanya aku capek berdebat dengan dokter gila sepertimu. Sebaiknya aku pulang,” keluhku.
Rian yang tidak terima di ledek meluapkan amarahnya.
“Awas kau!!!” ancamnya.
Lalu Rian mengambil jarum suntik yang jatuh tadi. Rian segera mendekati Darren dan...
Plakkkk.
Aku memukul kembali tangan Rian hingga berbunyi kencang. Rian berteriak kesakitan hingga jatuh tersungkur. Lalu aku melihat jarum suntik itu dan mengambilnya.
“Apa ini?” tanyaku.
Darren hanya mengedikkan bahunya. Aku membuang cairan itu ke lantai. Rian yang melihat aksiku membuang cairan itu berteriak.
“Jangan!!!” teriaknya.
“Kenapa jangan?” tanyaku.
Setelah membuang cairan itu. Aku melihat lantai yang melepuh. Aku terbengong melihatnya.
“Kau tahu ini cairan yang sangat berbahaya! Kenapa kamu ingin menyuntikkan obat itu ke tubuh manusia? Kau anggap manusia itu adalah kelinci percobaan apa?” kesalku.
“Uangku!!!!” Rian semakin frustrasi melihat cairan yang sudah bercampur dengan tanah.
“Cih uang yang kamu pikirkan,” kesalku.
“Uangku hilang dua puluh milyar!” geram Rian.
“Ayo pergi!!” pintaku sambil memegang tangan Darren.
Rian yang tidak terima dengan hasil penelitiannya gagal hanya meratapinya. Rian seharusnya menyuntikan ke tubuh Darren. Namun apa daya, Salsa menyelamatkan Darren. Rian segera berdiri dan mengambil pisau. Rian mengejarku dan juga Darren.
Saat Rian sedang mengejar kami keluar. Rian dengan cepat menusuk Darren. Namun aku menghalaunya dan....
Jleb!!!!
Argh......!!!
Saat mau memasuki ruangan bawah tanah. Bryan dan Harry terkejut mendengar teriakkanku. Mereka bergegas menuju ke dalam. Lalu Bryan melihatku. Matanya membulat sempurna melihat darah yang keluar dari perutku.
“Harry kamu urus Rian! Jangan lepaskan dia!!” titah Darren yang segera mendekatiku.
Rian yang melihat Harry ketakutan hanya bisa menghembuskan nafasnya. Lalu Rian memutuskan untuk kabur. Harry yang melihat Rian kabur segera memburunya.
Darren segera menggendongku ala bridal style. Aku hanya diam sambil menahan kesakitan. Setelah keluar dari sana. Albert dan Andre melihat Darren yang menggendongku.
“Ada apa dengan Salsa?” tanya Andre yang panik.
Darren diam dan tidak mengeluarkan kata-kata. Bryan segera memberikan kunci mobilnya itu, “Cepatlah pergi ke rumah sakit. Selamatkan Salsa!”
Darren menerima kunci itu lalu meninggalkan gedung tua. Darren akhirnya membawa Salsa ke rumah sakit.
Rian adalah seorang ilmuwan yang bekerja untuk dunia bawah. Rian sering membuat penemuan-penemuan yang sangat merugikan manusia. Hingga Rian diburu oleh pihak interpol. Rian juga bekerja sama dengan Nayla untuk membuat Darren menderita dan menyebabkan Darren berubah.
Ketika Salsa dan Rian bertikai. Darren hanya diam saja. Darren memang sengaja melihat kualitas Salsa yang menghadapi Rian seperti itu. Namun Darren sangat bangga sekali terhadap Salsa.
Di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Aku kesal terhadap Darren. Bisa-bisanya Darren memasang wajah datar dan tidak menanyakan keadaanku. Ah... Rasanya sebal melihat orang itu. Rasanya aku ingin memukulmu Tuan Darren.
“Hey... Kenapa kamu tidak menanyakan keadaanku Tuan Darren?” tanyaku yang menahan kesakitan.
“Sepertinya itu tidak perlu. Kamu baik-baik saja,” jawabnya dengan tegas.
Oh... Tuhan... Mimpi apa semalam. Bisa-bisanya si kanebo menjawab seperti itu. Rasanya aku ingin memukul orang itu.
“Sabar Sa... Sabar... Yang kamu hadapi patung yang tidak bisa diajak kompromi. Percuma kamu ngajak dia ngomong. Apalagi ngajak ngobrol,” ucapku dalam hati.
Sesampainya di rumah sakit. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan kesakitan. Aku berharap tusukan ini tidak terlalu dalam.
“Cepat turun sana!!!” titah Darren.
“Apa??” pekikku.