Setelah meminum bir yang diberikan Darren. Tubuhku tiba-tiba saja memanas. Aku mulai mendesah dan memanggil nama Darren tanpa memakai Tuan. Darren yang mendengar namanya kupanggil hanya tersenyum smirk. Ia duduk membelakangiku sambil membuka bajunya.
“Cepatlah Salsa,” panggil Darren dengan suara seksi.
Aku bangun dan memeluk Darren dari belakang. Aku mulai melakukan aksi yang seharusnya tidak kulakukan. Namun aku tidak bisa menghentikan. Aku membisiki kata-kata cinta dengan suara seksi.
Darren memegang tanganku lalu tersenyum manis. Ia memegang tanganku sambil berkata, “Lakukanlah apa yang kamu mau.”
Aku mulai melakukan aksi nakal. Tanganku mulai bergerilya di tubuhnya. Malam ini aku benar-benar gila. Darren segera membalikkan badannya lalu melihatku.
“Bukalah bajumu honey,” suruh Darren yang memperlihatkan tubuh seksinya.
Tanpa aba-aba aku membuka bajuku dengan cepat. Aku tidak kuat menahan hasrat yang sedang melanda. Setelah aku tidak memakai benang sehelaipun. Darren melihat tubuh mungilku. Kulitku yang putih mulus disentuhnya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Darren memegang area sensitifku. Aku mulai mendesah nikmat dan mengerang.
“Cepatlah Darren. Aku mau kamu malam ini memuaskanku,” bisikku di telinga Darren.
“Bersabarlah sayangku. Aku akan segera membangunkannya,” ucap Darren.
“Kamu lama sekali,” aku langsung meraba benda yang berada di dalam boxer itu.
Darren sudah tidak kuat menahannya. Ia segera memegangi tubuhku lalu naik ke atas. Darren menciumku dan juga menjilatiku. Tubuhku mulai menggeliat seperti cacing kepanasan. Akhirnya Darren mulai memasukkan benda kesayangan ke dalam area sensitifku.
“Argh... Sial... Dia masih perawan,” umpat Darren.
“Lakukanlah,” pintaku.
Mau tidak mau Darren memaksanya masuk ke dalam area sensitifku. Aku berteriak memanggil nama Darren. Karena ia berhasil menjebol sistem pertahananku.
Malam itu menjadi malam yang panjang. Aku menghabiskan waktu bersama Darren di ranjangnya. Saat itu aku masih belum sadar karena masih berpengaruh oleh obat. Hingga waktu pagi menjelang, Darren ambruk di sampingku.
Tak lama aku tertidur pulas. Aku sudah tidak perduli lagi apa yang sudah kami lakukan. Badanku rasanya remuk redam.
Di kediaman keluarga Pratama. Selly yang tidak bersemangat sarapan hanya meminum susunya. Ia terdiam melihat Andre sang suami yang lahap sekali makan. Sambil menunggu sang suami menyelesaikan sarapannya, ia duduk termenung memikirkan nasib Darren.
Selesai sarapan, Andre menyingkirkan piring itu. Lalu Andre melihat Selly yang termenung dan memegang tangannya.
“Ada apa Mama kok pagi ini tidak bersemangat?” tanya Andre.
“Mama lagi mikirin nasib Darren Pa. Bagaimana nasib Darren jika dia tidak segera menikah?” tanya Selly dengan wajah sendu.
“Sebenarnya Papa bingung. Setelah terjadi tragedi pertunangan itu. Sikap Darren berubah menjadi dingin. Bahkan seluruh wanita yang mendekat selalu dihempaskan. Bahkan akhir-akhir ini Darren menolak meeting jika yang datang itu wanita,” jawab Andre.
“Apakah kita tidak menjodohkan dengan salah satu anak dari klien Papa?” tanya Selly.
“Bukannya Papa tidak mau menjodohkan Darren dengan siapa saja. Papa takut jika Darren menghancurkan perempuan itu bahkan melenyapkan perusahaan kolega Papa,” jawab Andre dengan jujur.
“Lantas bagaimana dengan nasib Darren?” tanya Selly.
“Kita tidak punya solusinya jika Darren seperti ini terus,” jawab Andre.
“Apakah Darren tidak dibawa saja ke dokter gangguan jiwa atau psikolog?” tanya Selly.
“Tidak semudah itu yang Mama bayangkan. Setelah perempuan itu pergi. Hidup Darren hancur. Papa pernah menemukan beberapa suntikan di apartemen Darren. Papa tidak tahu itu apa? Setelah dicek oleh Irwan ternyata obat itu,” Andre menggantung ucapannya itu.
“Seingat Mama, wanita itu sengaja menyuntikkan obat itu setiap hari saat tinggal di sini,” ujar Selly.
Andre pun terkaget. Lalu Andre menatap wajah Selly, “Kenapa kamu baru bilang sekarang?”
“Memang obat apa itu Pa?” tanya Selly.
“Obat itu bisa menyerang sistem saraf. Jika setiap hari diberikan. Kemungkinan Darren bisa lumpuh selamanya. Irwan mengatakan obat dibeli dari mafia yang memasok obat-obatan terlarang,” jawab Andre yang lesu.
Selly menutup mulutnya dan langsung menangis. Ia tidak bisa membayangkan jika Darren lumpuh, “Pa.. apakah bisa Darren disembuhkan?”
“Papa tidak tahu itu. Selama ini ilmuwan sedang membuat penawar obat itu. Namun belum berhasil,” jawab Andre.
“Apakah perempuan itu adalah pemasok?” tanya Selly yang sesenggukan.
“Papa kurang tahu itu. Papa akan menyuruh Dani untuk mencari informasi tentang perempuan itu. Mama tenanglah. Jangan biarkan jantung Mama bekerja terlalu keras,” hibur Andre.
Andre melihat Selly sang istri hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Andre masih mencari informasi tentang perempuan yang menghancurkan hidup putranya itu. Meskipun sikapnya tenang. Namun hatinya sangat marah bagaikan magma di dalam perut gunung. Sewaktu-waktu bisa dikeluarkan begitu saja.
Andre berharap putranya sembuh. Andre ingin sekali melihat Darren menikah dan memberikannya banyak cucu. Sekarang Andre hanya bisa pasrah melihat keadaan putranya yang sudah hancur.
Di kediaman rumah Salsa. Gina yang selesai memasak segera menuju ke kamar Salsa. Entah kenapa pagi ini Gina tidak menemukan Salsa sama sekali.
“Ke mana lagi ini Salsa? Biasanya pagi begini sudah bangun dan cuap-cuap seperti burungnya Pak Bima di depan itu,” gerutu Gina sambil menaiki tangga.
Sesampainya di kamar Salsa. Gina mengetuk pintu dan memanggilnya, “Salsa... Ayo bangun!”
Selama sepuluh menit Gina menggedor pintu kamar Salsa. Namun Gina tidak ada jawaban apapun. Hingga akhirnya Gina membuka pintu dan memeriksa kamar Salsa yang masih rapi itu.
“Ke mana lagi nih anak? Apakah Salsa sudah pergi pagi-pagi begini,” ucap Gina dalam hati.
Gina memutuskan untuk pergi ke garasi. Di sana Gina mengecek mobil Salsa. Gina juga tidak menemukannya. Ia meneteskan air matanya. Sambil berjalan masuk ke dalam, ia merapalkan doa agar dilindungi oleh Tuhan.
Entah kenapa Gina teringat dengan ucapannya kemarin siang. Ia meminta Salsa untuk berhati-hati agar tidak bertemu dengan Darren. Namun apalah daya Salsa diculik Darren tanpa sepengetahuannya.
Siang pun tiba. Aku terbangun dari tidurku. Aku merasa terusik dengan hadirnya cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar. Perlahan aku mencoba membuka mata tetapi berat. Aku mulai mengendus aroma tubuh pria. Aku terkejut kemudian membuka mataku. Tak kusangka aku tidur bersama pria yang selama ini aku hindari.
“Tu...Tu... Tuan Darren,” ucapku terbata-bata.
Saat memanggil namanya tenggorokanku tercekat. Tubuhku bergetar bercampur panik. Pria yang selama ini aku hindari ternyata berada dalam satu ranjang denganku. Aku langsung berdiri dan merasakan area sensitifku sangat perih sekali.
“Augh,” ucapku lirih.
Di saat menyibakkan selimut. Mataku membulat sempurna. Aku tidak memakai sehelai benang apapun. Lalu aku melihat tubuh Darren juga tidak memakai apapun. Aku menutup wajahku lalu terisak. Rasa sesak bersemayam di dalam dadaku. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hari ini aku hancur di tangan Darren sang pria arogan itu.
Darren yang melihatku terbangun hanya memasang wajah datar. Ia seolah-olah tidak mengerti apa yang terjadi. Tanpa berdosa ia bangun lalu membersihkan tubuhnya.
Melihat kepergian Darren ke toilet. Aku pun berteriak sekuat tenagaku agar Darren mendengar.
“Darren b******k!!!!” teriakku.
Sementara itu Darren yang mendengar teriakanku langsung keluar dari toilet. Ia segera mendekatiku lalu memegang daguku dan mencengkeramnya. Dengan penuh amarah Darren mendorongku hingga aku terjatuh di ranjang.
“Apa yang kamu bilang??? tanya Darren dengan suara meninggi.