bc

Menantu Pilihan Ayah

book_age18+
148
IKUTI
1.1K
BACA
HE
opposites attract
boss
sweet
brilliant
office/work place
lies
musclebear
like
intro-logo
Uraian

Tidak mudah bagi Arhan menaklukan hati Alya, istri keras kepala yang sering menghinanya. Alya pun tak bisa menerima kehadiran Arhan begitu saja setelah kepergian sang ayah. Arhan tak mudah menyerah demi menjaga wasiat ayah Alya, yaitu menjadi pendamping hidup Alya.

Arhan melakukan berbagai cara agar Alya mencintainya. Namun, semua usaha itu sia-sia saat Arhan tahu ada laki-laki lain di hati Alya. Alya diam-diam mencari tahu keberadaan mantan pacarnya. Dia berharap suatu saat nanti sang mantan datang menggantikan posisi Arhan.

Arhan yang terlanjur menaruh hati pada Alya, tak akan membiarkan mantan kekasih Alya hadir ke dalam kehidupan mereka. Dia berinisiatif mengajak Alya berlibur menikmati keindahan alam di kampung halamannya. Maksud hati menumbuhkan rasa cinta, malah justru menimbulkan masalah baru. Kini giliran Alya yang dibuat cemburu.

Kehadiran sahabat perempuan Arhan mengacaukan segalanya. Sahabat perempuan Arhan yang telah lama memendam rasa merasa terkhianati. Dia terang-terangan meminta pada Arhan untuk menjadikannya istri kedua. Permintaan dari sahabatnya itu sontak membuat pikiran Arhan terbuka, karena selama ini kehadirannya tak pernah diakui Alya. Terlebih, Arhan sudah lelah direndahkan Alya.

Apakah Arhan akan menerima tawaran sahabat perempuannya dan meninggalkan Alya? Sebenarnya adakah sedikit perasaan Alya untuk Arhan? Temukan jawaban akhir dari kesabaran Arhan dalam jalan cerita ini.

chap-preview
Pratinjau gratis
Pernikahan Mendadak Anak Semata Wayang
Sekujur tubuh tua terbaring tak berdaya di atas ranjang. Sunyi, hampa tanpa suara menyelimuti. Hanya mesin ventilator terdengar bergema memecah keheningan. Sepasang mata memandang penuh harap pada badan yang tak lagi muda itu. Keriput, tulang dan kulitnya pun seakan tak menyatu lagi. Matanya tertutup diiringi suara dengkuran sesekali terdengar. “Ayah, bangun! Ini Alya,” ucap Alya lirih. Alya duduk, menggenggam tangan kanan ayahnya sambil melepas tangis tak bersuara. Seorang dokter bersama perawatnya memandangi Alya penuh iba. Mereka tahu bahwa detik-detik ini, adalah waktu yang paling dibenci oleh semua orang. “Maaf, Alya apa kita bisa mulai?” tanya Pak Chandra. Dia adalah adik dari ayah Alya. Dia yang selama ini menemani Alya sejak sang ayah terbaring lemah. Alya diam tak menjawab. Dia terus memandangi ayahnya penuh harap. Di sisi ranjang berlawanan, seorang penghulu bersiap mengeluarkan dokumen dari mapnya. Di sisi Pak Chandra, seorang laki-laki muda seusia Alya mengambil kursi lalu duduk di samping Alya. Alya hanya melirik sesaat laki-laki di sampingnya. Dia nampak tinggi, kulitnya sawo matang, berbahu tegap, alis matanya tebal dan hidungnya mancung. Dia tersenyum santun pada Alya. Namun, Alya tak membalas senyuman itu. Bagi Alya, dia memikirkan bagaimana caranya agar ayahnya kembali sembuh seperti sedia kala. “Bagaimana, Pak? Kita mulai saja?” tanya pak penghulu sembari menarik kursi. Pak Chandra menarik napas panjang lalu ia mengangguk pelan berkata, “Ya, silahkan dimulai!” Pak penghulu pun duduk berhadapan lalu mengulurkan tangan ke laki-laki itu. Dia mengangkat wajahnya dengan tegak seraya meraih uluran tangan pak penghulu. Sementara Alya terus menangis sambil mencium telapak tangan ayahnya. “Saudara Arhan Pramudya bin Darmanto, saya nikahkan dan kawinkan Anda dengan saudari Alya Soedjatmiko binti Hendra Soedjatmiko dengan mas kawin lima juta rupiah dibayar tunai.” Ya, laki-laki yang duduk bersebelahan dengan Alya bernama Arhan Pramudya. Wajah penuh percaya diri bercampur tegang itu membalas tatapan pak penghulu. Dia menarik napas berat diiringi suara yang bergetar menjawab, “Saya terima nikah dan kawinya Alya Soedjatmiko binti Hendra Soedjatmiko dengan mas kawin tersebut tunai.” “Bagaimana saksi, sah?” Pak penghulu berbagi pandangan pada seluruh orang di dalam ruangan. “Sah,” ucap Pak Chandra. “Sah,” kata dokter dan perawatnya. Seakan waktu berhenti sesaat. Usai kata sah diucapkan, suara panjang dari mesin ventilator terdengar memekakan telinga. Satu hentakan dari tubuh tua ayah Alya mengejutkan semua orang. “Ayah, ayah!” Air mata Alya deras mengalir membasahi pipi. Tangannya bergetar menggoyangkan tubuh ayahnya. Segara dokter dan perawat memeriksa keadaan ayah Alya. Mereka menekan nadi, dan memeriksa mesin ventilator. Dengan wajah penuh sesal, dokter dan perawatnya itu saling berpandangan. “Mohon maaf, Bapak, Ibu. Pak Hendra sudah dipanggil yang Maha Kuasa,” pungkas dokter seraya menunduk. Si perawat turut menunduk lalu menutup wajah ayah Alya dengan selimut. Pecah tangis Alya menjamah kencang lengan tak berdaya. Tumpah seluruh air mata terkuras hingga basah selimut itu. Lemah seketika kaki Alya menopang tubuhnya. Dia mendekap erat dari samping sambil terus memanggil-manggil ayahnya. Pak Chandra memegang bahu Alya dari belakang berbisik pelan, “Alya, ikhlaskan ayahmu. Dia sudah bahagia, sudah tidak merasakan sakit lagi.” Alya menangkis tangan Pak Chandra dari bahunya. Dia terus lanjut menangisi tubuh kaku sang ayah sambil memeluknya erat. Dokter, perawat dan pak penghulu pamit setelah mengucapkan bela sungkawa. Tinggallah mereka bertiga dalam ruangan. Sikap Alya yang acuh, membuat Pak Chandra serba salah. Dia menarik napas berat lalu melempar pandangan pada Arhan. Arhan tersenyum hambar menangkap isyarat dari Pak Chandra. Dia mengangguk santun lalu beranjak meninggalkan ruangan. “Alya, ayah kamu sudah pergi. Kamu harus berjuang terus melanjutkan hidup. Om harap kamu bisa dewasa menghadapi situasi ini. Om tidak bisa berbuat apa-apa, semua itu wasiat ayah kamu,” ucap Pak Chandra seraya melangkah menuju pintu. Tunduk lesu serta air mata menggenang di pelupuk. Pak Chandra menutup pintu tanpa menoleh ke belakang. Dia menatap lurus ke depan sambil menghela napas berat. Dilihatnya ada Arhan sedang duduk diam terpaku. Dia nampak tersentak ketika pintu itu terbuka tiba-tiba. “Pak,” kata Arhan tersenyum getir menyapa. Pak Chandra lalu duduk di samping Arhan lalu merangkul Arhan dari samping. “Tolong bantu saya, ya!” pinta Pak Chandra. “Insya Allah, Pak." Ahan mengangguk meyakinkan Semakin erat rekatan tangan Pak Chandra di bahu Arhan. Pandangannya ke depan menatap pintu ruang ICU. Dari dalam sana masih terdengar isak tangis Alya yang tak kunjung henti. "Tidak mudah bagi Alya kehilangan sosok ayah yang menemaninya dari kecil. Dia piatu sejak usia tujuh tahun. Kakak saya, termasuk laki-laki setia. Setelah istrinya meninggal, dia fokus membesarkan Alya tanpa ada niat sedikitpun untuk menikah lagi. Terbayang, 'kan bagaimana hancurnya hati Alya? Dia pasti sangat terpukul," tutur Pak Chandra seraya melepas rangkulan erat dari bahu Arhan. Pak Chandra lanjut bercerita tentang kakak kandungnya pada Arhan. Dia bilang, ayah Alya termasuk orang yang selektif melihat pertemanan Alya. Jangankan laki-laki yang mendekati putrinya, berteman dengan perempuan pun harus persetujuan ayah Alya. "Saya yakin, kalau kakak saya nggak salah pilih orang. Feeling dia selalu tepat, seperti cenayang." Pak Chandra tersenyum penuh harap sambil menepuk-nepuk bahu Arhan. Tepukan dari Pak Chandra terasa memberatkan di bahu Arhan. Bibirnya tersenyum ragu diikuti raut wajah khawatir. Terlintas dalam benaknya segala halang rintang menunggu di depan sana. "Sudah, tenang saja! Tidak seburuk yang kamu kira. Nggak seberat itu, saya akan bantu kamu pelan-pelan," ucap Pak Chandra meyakinkan. Arhan mengangguk mengiyakan perkataan Pak Chandra. “Pak, saya dan Alya belum saling mengenal. Kami baru bertemu beberapa kali. Itu pun, sebelum Pak Hendra sakit. Tidak ada obrolan berarti diantara kami, sekedar perkenalan biasa,” jelas Arhan “Loh, nggak apa-apa! Justru bagus kalau sudah pernah ketemu sebelumnya.” Pak Chandra terus berusaha membuat laki-laki itu percaya diri. “Sebenarnya saya takut, Pak.” Arhan menunduk sesaat. “Takut? Takut apa?” Pak Chandra mengernyitkan dahi. “Takut Alya tidak bisa menerima saya. Saya juga tidak tahu apa di luar sana, Alya sudah memiliki laki-laki lain. Lagipula, saya merasa tidak pantas diterima di keluarga besar Pak Hendra,” ucap Arhan dengan suaranya melemah. Pak Chandra terkekeh seraya beranjak berdiri dari bangku. Dia menghela napas sejenak lalu berkacak pinggang berkata, “Jangan menyerah sebelum berperang ya! Sayang, kamu masih muda.” Arhan terhenyak mendengar perkataan Pak Chandra yang mencambuk batinya. Dilihatnya punggung Pak Chandra menjauh meninggalkan lorong. Tak mau hilang kesempatan, Arhan berinisiatif kembali memasuki ruang ICU bermaksud membujuk Alya. Namun sayang, Alya tergeletak di lantai. “Alya, Alya ….!” Arhan memangku tubuh Alya lalu menepuk-nepuk pipinya. Selang beberapa waktu kemudian, petugas medis datang membantu mengangkat Alya. Sebagian dari mereka membawa tubuh ayah Alya untuk siap disemayamkan. Alya mengalami syok berat sampai tidak bisa mengendalikan diri. Dia sadar dari pingsan lalu kembali terkulai lemah, berkali-kali dari proses pemakaman hingga malam usai doa tahlil. “Han, gimana Alya?” tanya Pak Chandra khawatir. “Ada di kamar, Pak. Dia lagi istirahat,” jawab Arhan. Pak Chandra mengangguk-angguk. Mereka pun lanjut menyalami para tamu yang pulang. Dalam hitungan menit, ruang tamu seketika menjadi kosong. Tersisa dua orang asisten rumah tangga, satu supir dan satu satpam gegas membersihkan sisa-sisa sampah. Arhan melihat mereka dari ujung pintu. Ia lalu mengitari pandangan ke luar halaman. Dilihatnya tembok pagar menjulang tinggi dihiasi pencahayaan redup. “Han, Saya pulang dulu ya. Saya ada urusan, kabari saya kalau kamu butuh apa-apa,” kata Pak Chandra. “Loh, Bapak nggak nginep aja?” tanya Arhan heran. Baginya terkesan aneh bila ada anggota keluarga pulang di malam pertama kematian. Apalagi, yang meninggal ini adalah kakaknya sendiri. “Nggak, Han. Saya ada urusan besok pagi, kebetulan lebih dekat kalau dari rumah saya,” jelas Pak Chandra. Arhan mengangguk-angguk. “Saya pamit ya! Tolong jaga Alya baik-baik.” Pak Chandra menepuk bahu Arhan seraya beranjak pergi. Deru suara mesin mobil Pak Chandra meninggalkan garasi perlahan menghilang. Arhan menarik napas panjang lalu tersenyum berkata pada dirinya sendiri, “Ayo, Arhan kamu pasti bisa!” sambil mengepalkan tangan. Dia masuk menggendong tas ransel melalui anak tangga. Dia melangkah menuju pintu kamar Alya. Dia berhenti sejenak, tangannya ragu-ragu membuka gagang pintu. Arhan menelan ludah sesaat lalu memberanikan diri membuka pintu pelan-pelan. Dilihatnya, Alya duduk bersandar sambil memegang remote televisi. “Permisi!” Arhan tersenyum santun lalu menutup pintu. “Siapa kamu???” Alya melirik sinis Arhan yang berdiri di depan pintu. Arhan terdiam kebingungan. Mana mungkin dia lupa, kalau malam ini mereka sudah menjadi pasangan suami-istri yang sah. Sedangkan sejak tadi siang, Alya tak menolak saat berada di sisinya. “A-a-aku Arhan, suamimu,” jawab Arhan terbata-bata. Alya bersedekap d**a berkata, “Kita bukan pasangan suami istri. Aku bukan istrimu, Arhan.” Sinis suara Alya diikuti tatapan amarah menusuk hati Arhan. Arhan pun menghela napas sesaat menenangkan diri. Baginya mungkin Alya masih dalam keadaan syok karena sedih ditinggal ayahnya. “Maaf,” ucap Arhan sambil menundukkan pandangan. Alya membuang muka menatap jendela di samping ranjangnya. “Banyak kamar di rumah ini, pilih salah satu asal bukan kamar aku dan ayah,” tegas Alya. “Ba-ba-baik.” Arhan membalikkan badan lalu meraih gagang pintu. “Satu lagi!” Suara Alya lantang dari tempat tidurnya. Arhan menahan diri tanpa berniat menoleh kembali. “Jangan berharap malam pertama dariku! Jangan berharap tentang kehidupan indah bersamaku! Itu tidak akan pernah terjadi,” ucap Alya sinis. Semakin tertunduk wajah Arhan mendengar ucapan Alya. Dia menarik napas panjang menjawab, “Ya. Selamat malam, Alya.” Lalu ia menutup pintu kamar. Bagai menghempas boneka tak bernyawa dari atas langit ke dasar bumi. Begitu tajam perkataan Alya pada orang yang seharusnya ia hormati. “Kamu pasti seorang penjilat di kantor. Kamu suka nyari muka di depan ayah. Kamu pasti mau menguasai perusahaan ayah!” umpat Alya sambil menatap penuh dendam ke arah pintu. “Lihat saja, aku tidak akan memberikan ruang sedikitpun di hatiku buat kamu, Arhan.” Bagi Alya, laki-laki yang baru ia temui itu adalah musuh yang nyata. Alya bersumpah, sampai kapanpun tidak akan mencintai Arhan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.1K
bc

Revenge

read
36.3K
bc

I Love You Dad

read
282.4K
bc

Putri Korban dan Janji Gelap Sang CEO

read
5.6K
bc

SECRET LOVE AFFAIR (Dikejar Duda Posesif)

read
27.3K
bc

The CEO's Little Wife

read
682.9K
bc

Pak Bos Duda Jadi Jodohku

read
33.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook