12. Di Dua Hati

1432 Kata
Pukul lima pagi, Gilang sudah seperti orang yang kerasukan. Samsak yang menggantung di ruang olahraga itu terpelanting ke kanan, ke kiri, sesuai dengan arah pukulan. Benda yang mirip guling itu menjadi amukan Gilang pagi ini. Kenangan yang berusaha Gilang lupakan tiba-tiba menjelma menjadi mimpi yang menghanyutkan. Dari semua mantan pacarnya sebelum Rani, mungkin hanya gadis itu yang mendapat pernyataan paling luar biasa dari sisi romantis yang Gilang punya. Tiga bulan kedekatan mereka sudah cukup membuat Gilang yakin untuk menyatakan perasaannya. Dan sore itu, bertempat di SeaWorld Ancol, Gilang menemukan cara untuk mencuri hati Rani. Rupanya cara itu berhasil, Rani resmi menjadi kekasihnya sejak saat itu. Pikirnya berkecamuk. Semalam, setelah pulang dari apartemen sang mantan kekasih, Gilang menerobos salah satu klub malam, dia minum-minum koktail sampai mabuk berat dan muntah. Hingga akhirnya menjadi santapan bogem mentah Galih. Entah siapa yang menelepon kakaknya itu, tiba-tiba saja Galih datang menjemputnya yang pengar, Gilang tidak yakin ia sepenuhnya ingat kejadian semalam. Tapi pukulan Galih saat mereka tiba di rumah betul-betul membuat pipinya berdenyut. Dan saat pagi hari ia bercermin, pukulan Galih meninggalkan memar keunguan di pipinya. Dirasa cukup untuk menyalurkan emosi, Gilang beranjak sembari mengelap wajahnya dengan handuk kecil. Dadanya naik turun, bernapas tak beraturan. Ia melangkah menuju dapur untuk mengambil air minum. Lalu duduk di ruang makan. "Ya ampun, Gilang! Kok belum siap-siap. Papa kamu udah berangkat dari tadi." Mamanya datang langsung heboh. Ibu empat orang anak yang usianya kian senja itu baru saja memasuki dapur. Gilang menghabiskan air dalam mulutnya terlebih dulu sebelum menjawab, "Ini mau siap-siap, Ma. Rapat direksinya juga jam delapan. Masih ada waktu satu jam lagi." "Jangan males gitu, Lang. Papa nanti marah kalau kamu telat." Venna memukul punggung putra bungsunya. "Iya, ini siap-siap." Gilang menjawab dengan raut malas. Ia berjalan terseok melewati Venna. Namun mamanya itu mencekal lengan Gilang. Saat Gilang menoleh, Venna langsung meneliti wajah Gilang. "Kenapa muka kamu memar gini, Lang?" "Digigit setan, Ma," celetuknya asal. Tidak mungkin juga dia bilang habis mabuk-mabukkan dan berhadiah satu tinjuan keras dari Galih. Mamanya bisa sedih. "Masa iya di rumah ini ada setan," sanggah Venna. Ia masih menatap Gilang curiga. "Kamu berantem?" "Nggak. Ini nggak kenapa-kenapa kok, Ma." Gilang berusaha meyakinkan Venna untuk tidak khawatir. "Aku mau mandi dulu, Ma." Gilang beranjak naik ke kamar, namun langkahnya terhenti di depan kamar utama-kamar Galih dan Nana yang letaknya tidak jauh dari tangga. Pintu kamar itu setengah terbuka, Gilang jadi penasaran apakah Galih masih ada di rumah atau sudah berangkat ke rumah sakit. Ia belum bertemu dengan pelaku yang dengan sengaja mengecap pipinya itu. Gilang mengedikkan bahu, biarlah nanti dia minta maaf pada Galih di luar rumah. Gilang melanjutkan langkahnya ke lantai dua. Tiba di undakan terakhir, Nana muncul dari kamar Elea. "Eh, Lang. Boleh bicara sebentar?" "Boleh. Di mana?" Gilang yakin betul Nana akan berbicara tentang sahabatnya. "Di kamar Elea aja ya, takut Mama dengar." Tentang novel itu, memang tidak ada yang tahu selain dirinya, Nana, dan Galih. Gitu-gitu juga Galih bisa dipercaya dan tidak banyak menyinggung soalnya sikap plin-plan Gilang di depan orang tua. "Rani w******p aku kemarin, kayaknya dia marah," cerita Nana. "Emang marah." Gilang sudah bisa menebak jika hal tersebut terjadi. Kemarin pun setelah acara launching buku, Rani sama sekali tidak bisa diajak bicara. Itu yang akhirnya bikin Gilang nekat untuk menemui Rani di apartemennya. Nana berjalan pelan mendekati ranjang, Elea masih tertidur pulas di sana. Lantas ia duduk di tepinya sambil mengusap dahi Elea dengan lembut. Sedangkan Gilang masih berdiri di tempatnya tanpa sepatah kata pun. "Kamu tahu kalau aku salah satu yang mendukung kamu sama Rani, Lang. Tapi kalau situasinya seperti ini, aku mana bisa dukung kamu. Mas Galih juga cerita semalam kalau kamu mabuk dan terus menceracau tentang Rani." "Aku tahu, Na. Aku emang maruk jadi cowok." Gilang menelan ludahnya yang terasa pahit. "Rani sahabatku, Lang," ujar Nana lebih lanjut. "Dia sudah menderita terlalu banyak, kalau sekali lagi dia menderita, aku gak tahu seberapa kacau hidup dia." Dulu, Gilang pernah berjanji akan menjadi orang yang selalu menghapus kekacauan itu. "Kamu punya Andin sekarang, Lang. Nggak pantas buat kamu mendekati Rani lagi. Biarpun kamu masih sayang sama dia." Nggak pantas? Hati Gilang berdenyut nyeri mendengar kata-kata itu. Seperti ada yang patah di dalam sana. "Jadi pelampiasan itu nggak enak, Lang. Aku pernah ada di posisi itu dulu," lirih Nana, seakan mengungkit luka di masa lalu. "Kamu boleh menyayangi keduanya, Lang. Tapi kamu nggak bisa memiliki keduanya sekaligus. Tetap harus ada hati yang dikorbankan. Jadi, Lang. Kalau pilihanmu tetap sama Andin, jauhi Rani." Gilang betul-betul terpaku tanpa bisa membalas. Ia pun masih gamang dengan perasaannya sendiri. ** Gilang terbebani dengan predikat wakil direktur yang baru disandangnya. Hari ini ia resmi jadi orang kantoran. Walaupun sebenarnya ia lebih ingin menjadi seorang wirausaha seperti sahabatnya, Iyan. Ketika di Tokyo pun Gilang tidak malu untuk menjadi penyanyi kafe di salah satu kafe kenalannya di sana. Biarpun suaranya tidak sesadis Afgan, tapi sudah dapat dikategorikan orang yang bisa bernyanyi. Gilang masih setia duduk bersandar di kursi kerja yang baru ia dapatkan. Kakinya terasa kebas setelah diajak berjalan keliling perusahaan untuk mengunjungi semua ruangan dan memperkenalkan diri kepada semua karyawan papanya. Kini biarkan Gilang istirahat sejenak, sembari bertatap kangen dengan kekasihnya yang jauh di sana. Wajah Andin muncul di layar ponselnya. "Halo?" sapa Gilang. "Tumben video call?" tanya Andin. Ia meneliti ke sekeliling Gilang. "Kangen aja," jawab Gilang. "Gimana acara kantor hari ini?" "Lancar dong. Kenalin, wakil direktur Wijaya Group." Gilang memundurkan ponselnya agar Andin melihat pakaian formal yang di pakainya hari ini. "Sombong!" seloroh Andin. "Congrats ya, Ge. Inget jangan kebanyakan bercanda kalau kerja tuh. Jangan mikirin mantan terus juga." Senyuman di bibir Gilang langsung luntur ketika Andin menyinggung soal mantan. "Idih cemberut, marah... Just kidding, Ge." "Kamu tuh ya, hobi banget bahas mantan." Andin mengulas senyum. "I have a bad feeling and I don't know why? Kamu baik-baik aja kan?" "I'm Okay, Sweetheart." Gilang mengangguk dengan pasti. Namun di seberang sana Andin masih mencari kebenaran dari raut wajah Gilang, dari tatapan lelaki yang sudah menjadi kekasihnya selama satu tahun terakhir. "Ndin..." "Hm?" "Kamu wisuda tanggal 25 kan?" "Yeps. Kapan kamu ke sini?" tanya Andin, penuh harap. "Rahasia dong." "Ih, gak seru." Andin cemberut. "Kan biar surprise." "Takutnya kamu datang, aku belum mandi." "Gak papa udah sering lihat," celetuk Gilang. "Ih, kamu." Gilang tertawa karena berhasil menggoda kekasihnya. "Um, Ge?" "Apa, Beb?" Andin tidak langsung menjawab. Gadis itu justru terlihat ragu. Ia menggigit bibir bawahnya, bola matanya bergerak resah ke kanan dan ke kiri. "Kenapa, Beb?" ulang Gilang. "Aku dapat beasiswa buat lanjut strata dua di sini." Gilang mengerjap sekali. Entah apa yang sekarang ia pikirkan, tapi kemudian senyumnya terbit untuk menyambut kabar baik dari kekasihnya. "Proud of you, Beb." "Kamu nggak papa? Maksudnya... Rencana kita?" Oh iya, dua bulan lagi rencana melamar Andin. Tapi mendadak Andin membawa berita yang kembali membuatnya dilema. Melihat Gilang yang masih berdiam diri, Andin kembali berinisiatif untuk menjelaskan. "Maaf ya, aku baru bilang sekarang. Soalnya aku takut kalau kamu kecewa. Waktu itu pun aku tanya ke kamu, kapan bisa datang ke rumah. Tujuannya buat diskusi soal ini." "Kan kamunya masih di Tokyo," jawab Gilang. "Aku bisa pulang sebentar kalau jawaban kamu waktu itu pasti." Hatinya yang belum pasti. Itu sebabnya Gilang tidak yakin untuk menjawab secara pasti. Apalagi sekarang, terbersit keinginan untuk kembali dekat dengan Rani. Kembali meniti temali dengan gadis yang kampretnya masih bertambat di hati. Tapi, Gilang juga menyayangi Andin. Meski rasa sayangnya belum sebesar rasa sayang Gilang pada Rani. Hati Gilang terbagi, sulit baginya untuk melepas salah satu. "Ge?" Andin menegur Gilang yang melamun. "Hm?" "Menurut kamu gimana?" Andin gelisah menunggu jawaban Gilang "Even, kalau misalnya kamu nggak kasih aku izin pun, aku bisa lepas beasiswa itu dan lanjut S2 di Jakarta aja." "Sayang lho, Beb. Nggak semua dapat kesempatan kayak kamu," balas Gilang. "Habisnya kamu nggak ngasih jawaban pasti." Gilang mengusap wajahnya sembari menghela napas. Ia menatap lekat wajah Andin. "Kita bicarain ini habis kamu wisuda," putus Gilang. "Bener ya?" "Iya, Beb." Jawaban Gilang tidak lagi mendapat respons dari Andin. "Ada acara apa hari ini?" Gilang mencari topik obrolan yang baru. "Mau ke kampus nanti sore. Temen-temen mau ngadain farewell party gitu. Mereka pada bawa pasangan tahu. Cuma aku aja yang punya pacar tapi kayak orang jones," celoteh Andin yang langsung dibalas dengan tawa oleh Gilang. "Suruh undur farewell party itu sampai aku nyusul kamu." "Ya kali. Ngaco kamu." Andin tertawa pelan. "Aku tutup dulu ya, Ge. Mau mandi terus siap-siap." "Siap. Have fun, Beb. Love you." "I love you too." Benar apa yang Nana bilang, dia boleh menyayangi keduanya tapi tidak bisa memiliki keduanya. Lalu siapa yang harus Gilang korbankan? ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN