Malam itu, Rani jadi manusia sok rajin. Ia duduk manis di depan laptopnya yang menyala. Buku-buku teori tentang kesastraan bertengger manis di sebelahnya. Rani kadang cape bergelut dengan fiksi-fiksi yang menghadirkan kesenangan tapi tidak kenyataan. Ia bolak-balik membaca buku teori, berusaha mencari ilham untuk mulai menyusun BAB III. Semangat Rani terpacu gara-gara tadi siang, di kampus, ia bertemu dengan Nana yang masih semangat bimbingan dalam keadaan hamil besar. Kadang Rani ngilu melihat sahabatnya yang berbadan mungil itu harus membawa bayi dalam perutnya. Di balik semua itu, Nana masih menjadi sosok yang menginspirasi bagi dia dalam segala aspek.
Rani tahu tidak mudah menjalankan pernikahan di usia yang masih muda, apalagi pernikahan Nana dan Galih seperti dipaksakan. Nana yang tidak ingin orang tuanya kecewa, sedangkan Galih yang masih bergulung dengan masa lalunya. Tapi lihat sekarang, buah dari pernikahan mereka akan segera hadir. Ah, Rani iri. Dan berharap mendapat jodoh seperti suami dari sahabatnya itu.
Rani mengibaskan lamunannya. Ia mengambil ponsel untuk menanyakan tentang populasi dan sampel pada Nana. Semoga sahabatnya itu belum tidur.
Menunggu jawaban Nana yang masih centang dua abu-abu, satu pesan lain masuk atas nama Gilang.
Gilang : Ranii...
Rani : Paan?
Gilang : Pacaran yuk?
Dua bola mata Rani benar-benar membulat. Suhu badannya menjadi panas dingin. Ia membaca ulang balasan Gilang, siapa tahu matanya siwer karena terlalu lama menatap layar laptop yang cerah.
Rani : Lo kesambet ya?
Gilang : Typo doang Ran. Maksudnya jalan yuk! Nonton atau apa gitu.
Rani : Sibuk
Gilang : Sibuk ngapain?
Rani : Nyusun
Gilang : Gue bantu ngetik ya. Tapi habis itu jalan.
Rani : Gak usah!
Gilang : Yah, terima gue sebagai tamu dong. Soalnya gue udah ada di depan kosan lo.
Rani : Heh?
Gilang : Nggak usah kaget. Buruan buka pintunya, Panglima mau ketemu calon pacarnya.
Rani mencebik, tetap ia buka pintu kamar kosnya. Dan benar, Gilang sudah berdiri di depan pintu. Hal utama yang selalu Gilang tampilkan ketika mereka bertemu adalah, senyum berlesung pipi yang tiba-tiba membekas di benak Rani, entah kapan dimulainya. Rani sendiri memilih denial dan seolah tidak peduli.
Rani tidak tahu kapan tepatnya mereka mulai dekat, tahu-tahu mereka sudah saling memberi perhatian satu sama lain, kadang mereka bergantian menjadi alarm hidup setiap pagi. Gilang yang baru menyelesaikan kuliahnya masih santai dengan status sarjana nganggur. Ia masih memikirkan jenis pekerjaan apa yang harus diambil, sementara ia belum siap jika harus meneruskan tongkat estafet perusahaan seperti yang diinginkan ketiga kakaknya.
Rani tidak tahu kapan tepatnya hati dia mulai berpindah haluan, berpaling dari Beni ke Gilang. Perputaran roda perasaan kadang cepat kadang lambat, kadang peka kadang tidak. Cowok yang awalnya Rani anggap menyebalkan itu justru bisa bikin Rani keluar dari kurungan perasaannya terhadap Beni.
"Bawa apa tuh?" todong Rani, menunjuk kantong plastik yang Gilang bawa.
"Martabak. Yuk, masuk!" Mata Rani kembali terbelalak saat lelaki itu masuk ke dalam kamar kosnya.
"Heh? Main nyelonong aja. Lo pikir ini kosan siapa?"
Gilang tak acuh. Ia duduk di pinggiran kasur yang tidak memakai ranjang itu. Lalu kepalanya mendongak, memandang sembari melontar sesimpul senyum untuk Rani yang masih berdiri di dekat pintu.
"Kosan calon pacar gue," cetus Gilang. Menekan kata pacar.
"Sinting!" maki Rani. Ia menggeser meja laptopnya, sedikit menjaga jarak duduknya dari Gilang.
"Iya, gue ganteng kok." Gilang masih tetap dengan sikap percaya dirinya. Melihat Rani yang menjaga jarak, Gilang justru merapatkan jarak sampai-sampai membuat Rani terkesiap.
"Udah sampai mana skripsi lo?" Gilang bertanya.
"Bab 3. Gue lagi ngetik instrumennya."
Gilang menggeser meja laptop Rani lebih dekat padanya. Rani hendak melayangkan protes, namun tangan Gilang dengan sikap membekap mulut manis gadis itu.
"Biar gue yang ngetik. Lo dikte aja. Sambil makan martabaknya."
Kedengaran seperti sebuah perintah. Gilang mengambil alih laptopnya, dan Rani mulai mendiktekan materi sembari sesekali melahap martabak manis.
"Fiksi itu candu ya bagi orang-orang yang mencintainya," celetuk Gilang disela kegiatan mengetiknya.
"Udah deh gak usah sok puitis gitu, ngetik aja pake jari!" sahut Rani.
Gilang merasa gemas melihat raut datar yang Rani tunjukan. Tangan kanan lelaki itu terulur untuk mengacak-ngacak poni Rani dengan gemas.
Ah, rupanya mereka mulai menikmati jalinan yang belum pasti itu.
*
Di waktu weekend, mereka punya kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama. Gilang mengajak Rani ke Dufan, Gilang pikir gadis itu masih butuh penyegaran pikiran agar lebih cepat meninggalkan masa lalunya, dan lagi Rani sekarang sulit diajak keluar karena alasan deadline skripsi.
Mereka berkeliling, menaiki satu persatu wahana yang ada di Dunia Fantasi. Mulai dari wahana yang biasa saja, sampai yang bikin jantungan. Dari wahana yang menenangkan hati sampai yang seram.
Satu wahana yang Rani hindari adalah Hysteria. Mendengar suaranya saja sudah membuat bulu mata Rani berkedut, apalagi harus menjadi salah satu korban keganasan dua tower ekstrem itu. Rani memilih putar balik dan tidak jadi mengantre. Namun, sial! Pundaknya dijaga ketat oleh Gilang, lelaki yang berdiri di belakangnya itu tidak sedetik pun melepaskan cengkramannya. Padahal Rani sudah bersiap kabur dari antrean yang cukup panjang ini.
Cara Hysteria memacu adrenalin adalah dengan cara melontar pengunjung ke atas dengan kecepatan sekitar 100 km per jam. Setelah diterbangkan, pengunjung dijatuhkan dengan kecepatan sekitar 60 km per jam.
"Lang, daripada naik Hysteria mending naik Poci-Poci yuk. Duduknya bisa santai, nggak tegang. Nggak harus teriak-teriak," bujuk Rani. Ia memohon dengan sangat, namun Gilang tidak menggubrisnya.
"Gilang kampret!" umpat Rani pelan, sayangnya masih bisa Gilang dengar. Lelaki itu mengulum senyumnya, kedua tangannya yang semula mencengkram bahu Rani, kini turun. Sebagai gantinya, Gilang melangkah satu langkah ke depan, ia mengalungkan lengannya di leher Rani.
"Jangan ngumpat kayak gitu, Babe." Meski di depan umum, dan di depan serta di belakang mereka banyak orang yang mengantre, Gilang tidak ragu untuk menarik pipi Rani yang cemberut.
"Nama gue bukan Babe Cabita." Rani menepis tangan Gilang dari pipinya.
"Sayang aja kalau gitu." Gilang belum puas menggoda Rani.
"Gue bukan pacar lo," sanggah Rani ketus.
"Nah, makanya daripada kita friendzone gini, gak seru. Mending lo terima gue deh sebagai pacar lo."
Sudah pernah Gilang katakan, gadis yang dia cap super judes olehnya itu berhasil mencuri perhatian sejak awal. Cantik sudah pasti, auranya ceria terus. Apalagi Gilang beberapa kali melihat interaksi Rani dan Nana yang begitu hidup. Rani seolah memiliki sejuta ekspresi ketika menjadi lawan bicara. Kadang-kadang melempar senyuman atau cengiran, kadang mencebik atau mencibir dengan suka-suka, kadang cemberut, kadang judes. Itu poin tambahan yang membuat Gilang memutuskan untuk mencari tahu lebih dalam tentang Rani.
"In your ass."
"Take me in your heart."
Rani mendelik, pupilnya melebar sempurna. Ditatap seperti itu Gilang justru melempar cengiran dengan sikap santai.
"Serius gue, Ran. Daripada lo nanti nyesek begitu tahu ada cewek lain yang ngejar-ngejar gue. Terus gue kecantol dan nembak dia, lo bisa patah hati seumur hidup."
"Narsis banget sih."
"Eh, jangan salah. Cewek yang naksir gue tuh banyak, cuma gue milih bertahan aja buat nunggu hati lo."
Rani menelan ludahnya tanpa mampu membalas ucapan Gilang, lalu berdeham pelan. Bisikan Gilang membuat rambut-rambut di tangannya meremang.
Tiba giliran mereka menaiki Hysteria. Rani duduk tegang di kursi, tangannya sudah mengeluarkan keringat dingin. Rasanya ia ingin kabur saja, sialnya petugas sudah memasang pengaman pada kursi. Ia melirik Gilang, dia bersiul-siul dengan santainya. Merasa diperhatikan, Gilang menoleh. Tersenyum sembari menaik-turunkan alisnya.
Saat Hysteria pelan-pelan mulai naik, Rani memejamkan matanya. Ia mencengkram pegangan kursi dengan sekuat tenaga, hatinya mulai merapalkan doa. Dalam hitungan ketiga, Hysteria membawa semua penumpangnya terbang ke puncak. Jantung Rani serasa turun ke perut.
"Rani!!!!"
Rani terkejut ketika mendengar suara terikan dari Gilang saat Hysteria turun dengan penuh kecepatan. Belum juga Rani mengambil napas, ia sudah kembali diterbangkan. Saat itu pula, Rani kembali mendengar teriakan dari Gilang.
"Jadian, yuk!"
Dasar gila!
Rani tidak habis pikir, bisa-bisanya dalam situasi genting dan krusial seperti ini, Gilang berteriak seperti itu dan mencuri perhatian pengunjung lain.
Saat Hysteria mulai berjalan melambat, tubuh Rani terkulai lesu. Lututnya lemas, tangannya bergetar.
"Ayo, turun!"
"Gue gak kuat, Lang. Kayaknya gue mau pingsan."
"Heh, jangan bercanda dong, Ran."
Sebelum Rani benar-benar pingsan, Gilang sudah membantu gadis itu berdiri. Ia memapah Rani keluar dari area Hysteria dan mencari tempat duduk yang kosong.
"Gue beli minum dulu. Lo tunggu di sini. Jangan ke mana-mana."
Rani memilih diam. Kepalanya terasa berputar, ditambah rasa mual yang mulai datang. Ia membuka tas slempang mininya, untung dia selalu menyediakan stok permen di dalam tasnya. Mengemut permen setidaknya bisa menghilangkan rasa mual.
Gilang kembali bukan cuma dengan sebotol air mineral, namun juga membawa dua cone es krim. Ia duduk di sebelah Rani sembari menyodorkan botol air meneralnya. Langsung Rani teguk sebanyak-banyaknya. Tenggorokan kering akibat teriak-teriak.
"Nih, es krim buat lo."
Rani mengambil es krim di tangan Gilang tanpa mengucapkan terima kasih. Salah siapa dia bikin Rani jadi jantungan.
Oh, iya, soal teriakan Gilang di atas Hysteria tadi. Rani memilih untuk tidak menyinggungnya.
Setelah puas menaiki berbagai wahana, Gilang mengajak Rani ke Seaworld yang ada di kawasan Ancol. Karena sejatinya Ancol dan Dufan itu terletak dalam satu kawasan.
Seaworld Ancol tidak hanya menghibur, juga memberikan edukasi tentang biota laut. Tempat wisata ini menyuguhkan 3 zona perairan yaitu zona perairan tawar, zona pesisir, dan zona perairan laut.
Rani berdecak kagum ketika masuk SeaWorld ia disuguhkan oleh banyaknya akuarium. Seorang Guide senantiasa memberikan penjelasan ketika Rani bertanya tentang jenis-jenis ikan yang ada di sana.
"SeaWorld menyuguhkan keindahan 7.300 biota air tawar dengan 48 jenis ikan dan 1 jenis reptil. Di zona pesisir, pengunjung akan dimanjakan dengan akuarium yang dibuat mirip dengan biota pesisir aslinya. Dan zona laut menampilkan 11.500 biota dengan 138 jenis ikan dan avertebrata serta 3 jenis reptil," tutur Guide menjelaskan secara rinci.
"Gue mau diving, lo mau ikut gak?"
"Gue gak bisa renang." Rani bergidik ngeri. Dulu ia sempat belajar renang waktu SMA, tapi melihat kedalaman kolamnya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
"Ya udah, lo lihat gue diving dari kaca akuarium aja."
Kali ini Rani mengangguk. Sembari menunggu Gilang yang belum juga muncul, Rani melihat-lihat berbagai jenis ikan. Ia menatap para biota laut dengan penuh minat, benar-benar seperti diajak menyelam ke bawah laut, melihat terumbu karang yang indah.
Yang Rani tunggu akhirnya muncul, meski wajah Gilang tidak terlihat karena tertutupi mask dan regulator tapi Rani cukup yakin kalau itu Gilang. Apalagi lelaki itu bergerak mendekati Rani yang berada di depan kaca akuarium.
Gilang melambaikan tangannya. Rani menarik sudut bibirnya, ia harus akui kalau Gilang sejago itu. Ia ambil ponsel, dan sedikit mengabadikan momen Gilang bersama ikan-ikan dalam akuarium.
Lalu lelaki itu melempar sebuah isyarat dengan tangannya. Kira-kira meminta Rani untuk fokus memperhatikan dirinya. Rani mengernyit, namun ia mengikuti permintaan Gilang. Ia berdiri sambil bersekedap, matanya tak sedikitpun beralih dari Gilang. Gilang berdiri di tengah-tengah akuarium, kedua tangannya ia sejajarkan di depan d**a.
Gerakan pertama yang Gilang lakukan adalah menunjuk dirinya sendiri.
Rani berusaha menapsirkan. Ia yakin maksud lelaki itu adalah, aku.
Gerakan kedua yang Gilang lakukan adalah menyatukan membentuk love.
Oke, Rani sudah bisa menebak arah yang Gilang inginkan.
Gerakan terakhir yang Gilang lakukan adalah menunjuk Rani dengan kedua telunjuknya.
Astaga! Bener-bener nih cowok. Hari ini, tiga kali sudah Gilang terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Rani.
Rani bingung sekarang. Ada perasaan dilema yang mampir ke hatinya. Bukan tidak ingin membuka hati untuk Gilang, tapi Rani takut tersakiti lagi.
"Mbak, ini dari Mas Gilang."
Seorang Guide mendatangi Rani dan memberikan gembok berbentuk hati kecil berwarna pink. Rani mengernyit, ia tidak mengerti maksud Gilang memberinya gembok.
"Kata Mas Gilang kalau Mbak terima cinta dia, Mbak simpan gembok itu. Kalau misalnya Mbak nolak Mas Gilang, Mbak balikin gembok itu ke saya."
Menggigit bibirnya, Rani menatap lekat gembok di tangannya. Lalu pandangannya ia arahkan pada Gilang yang sedang menanti jawaban di dalam akuarium. Rani meringis panjang, memikirkan baik-baik jawabannya.
"Saya simpan," kata Rani malu-malu.
Guide itu mengulum senyumnya, dan pergi begitu saja.
Rani menghela napas. Ia berbalik menghadap ke kaca akuarium. Masih ada Gilang di sana. Untung Rani tidak bisa melihat wajah Gilang sekarang, Rani yakin ekspresi lelaki itu akan membuatnya salah tingkah.
Rani memamerkan gemboknya pada Gilang, yang kemudian dibalas dengan finger heart oleh Gilang.
Mulai hari itu, status mereka berganti dari sekadar teman menjadi pacar.