10. Perkara Move On dan Jatuh Cinta

1871 Kata
Mereka bilang move on itu gampang, tinggal mencari yang baru. Kata siapa gampang? Move on itu bukan perkara mencari orang yang baru, tapi kenyamanan baru juga. Dan tidak setiap orang baru memberikan kenyamanan. Masih bersama Rani yang galau. Bukan pekerjaan yang mudah melupakan seseorang-pujaan hati yang selama tiga tahun menemani hari-hari. Rani tahu menangisi lelaki seperti Beni adalah satu hal yang bodoh. Tapi rasa sesak itu terus menghantui, kejadian malam itu masih saja bergelayut mengikuti, bahkan desahan perempuan itu terus berbisik di telinga. Kalau telinga bisa di reset, ia tidak akan berpikir dua kali untuk meresetnya. Maka untuk melepaskan semua itu, Rani beranjak. Akan semakin buruk kondisi hatinya jika terus menerus mengurung diri di dalam kamar kosnya, ia tinggalkan sejenak buku-buku teori yang harus dibaca guna memperlancar proses skripsi. Begitu suara klakson mobil terdengar, Rani dengan cepat menyambar tas slempang dan memasukkan ponselnya. Gilang sudah menjemput dia. Lelaki itu menawarkan cara pada Rani untuk menghapus kegalauan. Maka Rani setuju. Ia harus lepas dari bayang-bayang Beni, ia harus beraktivitas seperti sedia kala, ia harus segera menyusun skripsi agar bisa lulus, mencari kerja, siapa tahu dia jadi jutawan yang bisa memamerkan hasil jerih payahnya pada mereka yang merendahkan. Sikap Rani pada Gilang sedikit melunak, biarpun Rani kadang masih suka kesal kalau ingat kejadian di pernikahan sahabatnya. Bagaimana bisa rok kebayanya sobek sampai dalaman-stritnya kelihatan? Malu luar biasa. Netra Rani mendongak, menatap gedung pencakar langit di depannya. Mimik wajahnya tampak keheranan, ia bertanya-tanya dalam hati mengapa Gilang membawanya ke sini. "Ini perusahaan bokap. Karena bokap masih belum sembuh, perusahaan ini sementara dipegang sama adiknya bokap," cerita Gilang tanpa diminta. Lelaki ini mungkin peka terhadap kebingungan Rani. Rani ingat, Nana pernah cerita soal kondisi ayah mertuanya yang tidak lain dan tidak bukan adalah ayah dari Gilang. Mertuanya di penjara, namun beberapa bulan yang lalu dilarikan ke rumah sakit kerena melakukan percobaan bunuh diri dengan cara menyayat pergelangan tangannya sendiri beruntung ada sipir penjaga yang mengetahui. Ternyata mertua Nana depresi akibat kehilangan jabatannya di kursi tertinggi partai politik akibat kasus mega korupsi yang memilit politikus tersebut. Rahadi Wijaya, dulu berita tentang kasus korupsi yang menyeret nama besar pemilik Wijaya Group dan beberapa politikus lainnya cukup menyita perhatian masyarakat. Rani tidak pernah membayangkan kalau dia akan menginjakkan kaki ke perusahaan ini. Rani berohria. "Terus tujuan lo ngajak gue ke sini apaan?" "Gue mau ajak lo ke rooftop." "Mau ngapain?" Kerutan di dahi Rani semakin terlihat jelas. Alih-alih menjawab, Gilang justru tertawa lepas sampai lesung pipinya semakin terlihat jelas. Puas tertawa, Gilang menatap Rani jenaka. "Lo tuh selain galak, ternyata bawel juga. Udah ikut aja." Rani terkesiap saat pergelangan tangannya ditarik, beberapa detik ia terpaku menatap jemari Gilang yang melekat di pergelangan tangannya itu. Lantas netranya berpendar, mengelilingi lobi kantor yang luas. Lampu kantor sudah padam, menandakan jika tidak ada lagi orang yang berkeliaran. Namun karena Gilang putra pemilik perusahaan, Gilang mendapat akses dari security untuk masuk walaupun jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Gilang menghentikan langkahnya di bawah tangga. Momen awkward terjadi saat Gilang sadar kalau tangan Rani masih ia genggam. Segera saja ia lepaskan. "Liftnya udah dimatiin, lewat tangga gak papa kan? Entar kalau lo cape gue gendong kok." Gilang berkelakar, tak lupa senyum khasnya ia sematkan di ujung kalimat. Rani mencebik. Ia mengambil langkah dan mendahului Gilang untuk naik tangga. Satu persatu undakan tangga ia lewati, di belakangnya ada Gilang yang mengekor. Tepat di rooftop gedung, Rani merasakan suasana yang berbeda. Kerlip lampu dari tiap-tiap gedung pencakar langit terlihat jelas, sapuan angin malam yang menerpa tubuhnya membuat pori-pori kulit meremang. Rani bersedekap, bola matanya mengarah lurus ke depan. "Lo mau tahu gak gimana cara lepasin rasa sakit yang memenjarakan hati lo?" "Gimana?" Rani menoleh pada Gilang yang sudah berdiri di sebelahnya. Gilang menatapnya, entah apa makna yang tersirat dari tatapannya. Yang jelas sangat berbeda dari raut wajah jenaka yang biasa dia tampilkan. "Coba lo jalan dua langkah ke depan." Meski tidak mengerti, Rani tetap mengikuti interuksi Gilang. "Terus?" Kepala Rani melongok ke belakang. Gilang tersenyum tipis, ia mendekati Rani. Berdiri di belakang gadis itu. Rani sontak menelan ludahnya saat jarak mereka kian dekat. Gilang memajukan kepalanya hingga kedua telinga mereka sejajar. "Konsentrasi," katanya. "Ikuti perintah gue." Rani mengangguk. "Rileks, Ran." "Oke," jawab Rani setelah membuang napasnya singkat. "Lo tatap gedung-gedung pencakar langit itu." Gilang menunjuk gedung secara acak. Rani mengikuti perintah Gilang. Ia menatap gedung-gedung di depannya. "Pejamkan mata, rasakan setiap desir angin yang menerpa kulit lo, lalu tarik napas perlahan dan teriak sekencang mungkin." "Emang ngaruh?" Sial! Gilang hampir saja menoyor kepala Rani. Padahal Gilang sudah selayaknya psikiater yang sedang mengobati pasiennya yang depresi atau banyak pikiran. Tapi si pasien satu ini justru menggagalkan semuanya. "Cobain dulu makanya," ujar Gilang gemas. "Oke." "Konsentrasi lagi. Ikuti perintah gue." Gilang berdeham sebentar. "Tatap gedung yang paling tinggi di sana." Rani mengangguk, tatapannya ia arahkan langsung pada gedung yang paling tinggi. "Anggap itu adalah Beni. Lo harus runtuhin gedung itu biar hidup lo kembali seperti dulu. Ingat runtuhin gedungnya. Tatap, salurkan amarah lo." Gilang menunggu beberapa saat sampai Rani benar-benar hanyut dalam sugesti yang dibuatnya. Sekitar lima belas detik berlalu. Rani sudah mulai fokus, Gilang mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan. "Oke sekarang tutup mata lo, rasakan setiap hembusan angin yang menusuk pori-pori kulit lo, pikirkan semua tindakan Beni yang sudah nyakitin lo." Gilang kembali memberi sugesti, ia melihat dahi Rani berkerut. Tubuh gadis di sampingnya itu menegang, kedua tangan Rani sudah terkepal kuat di samping jahitan celana jins yang dipakai. "Tarik napas perlahan. Gue hitung sampai tiga, lo teriak sekencang mungkin." "Satu, dua, tiga." Gilang melangkah mundur sembari menutup kedua telinganya. "Teriak, Ran!" "Aaarrrrgghh!" "Terus, Ran! Lepaskan! Lepaskan semua beban yang ada di kepala lo." Gilang memberi sugesti pada Rani. "Aarrgghh!!" Sugenti Gilang berhasil. Rani semakin menambah volume suaranya. Ia berteriak, hatinya memaki Beni. Ia berusaha melepaskan semua beban tentang Beni, kenangan tentang Beni, kesakitan yang diberikan Beni. Ia terus berteriak, tidak peduli ia sekarang sedang berada di mana. Ia hanya fokus berteriak, seolah teriakannya bisa meruntuhkan gedung-gedung pencakar langit. "Aarrgghh!!" Klimaks. Rani terduduk di lantai rooftop. Dadanya naik turun, napasnya tak beraturan. Tanpa sadar ia menitihkan air matanya yang bercampur dengan keringat yang menetes dari kening. Dia merasa kepalanya kembali seringan kapas. "Lebih baik?" Gilang duduk di sebelah Rani, mengangsurkan sebotol air mineral yang sengaja ia bekal sebelum naik ke rooftop. "Ya, lebih baik." Rani mengambil botol itu dari Gilang, dan meneguk airnya dengan rakus. "Dari mana lo dapet ide kayak gini?" "Cewek biasanya kalau gak nangis ya teriak-teriak. Gue eksperimen sama lo. Kalaupun gak berhasil, paling gue kena tampol tangan lo." Cengiran Gilang bisa saja membuat Rani jengkel, berhubung Gilang sudah membantunya, Rani harus sedikit berbaik hati juga. "Perasaan gue jauh lebih baik sekarang." Gilang menarik sudut bibirnya, lantas rebahan di lantai. Kaki kirinya berselonjor sementara kaki kanannya ia tekuk. Kedua tangan ia simpan di bawah kepala sebagai batal. Dan matanya ia ajak untuk menatap langit malam. "Gue pikir cewek judes kayak lo nggak bisa galau." kata Gilang untuk memecah keheningan, bola mata yang semula menatap langit kini menoleh pada Rani yang masih duduk di sebelahnya. "Gue pacaran tiga tahun sama Beni." "Bikin susah move on ya? Emang Beni gimana orangnya sampai bisa bikin lo kayak mumi hidup gini?" Rani memilih menggelengkan kepala. Selama ini mungkin dia terlalu dibutakan oleh cinta sampai tidak bisa menilai kepribadian Beni secara objektif. "Kalau dia berani tidur sama cewek lain, itu artinya dia lebih dari sekadar b******n, Ran." Lagi-lagi Rani tidak menjawab. Kakinya yang semula berselonjor, kini ia tekuk kedua-duanya. "Masih mending lo tahu kejelekan Beni sekarang, daripada nanti habis lo nikah. Bisa makin kacau hidup lo." Gilang masih dalam mode bawel. "Lo masih perawan kan?" Saat itulah delikan tajam khas Rani kembali muncul. "Masihlah! Lo pikir gue segila itu!" "Akhirnya judes lo udah balik lagi." Gilang tertawa. Lalu kembali duduk bersila, ia mengikuti Rani yang menekuk kedua lututnya. "Ya harusnya lo bersyukur putus sama dia. You deserve better than Beni, gue misalnya." Rani masih menatap tajam Gilang, kali ini disertai kerutan di dahinya. Ia berusaha menangkap makna dari ungkapan Gilang barusan. "Lo baru putus juga kan?" tanya Rani. Ia ingat beberapa waktu lalu, Gilang pernah bilang kalau ia putus dengan pacarnya juga. Gilang mengangguk tanpa ragu. "Ah, gue mah putus tuh santai. Baru setahun juga pacarannya." "Cowok emang gitu ya?" Pertanyaan Rani membuat Gilang mengatupkan kedua bibirnya. Ia hanya diam menatap Rani, sementara yang ditatap membuang arah pandangan. "Tergantung sih. Kalau misalnya ceweknya yang bener-bener kita perjuangankan pasti lama move on. Yang membekas itu nggak dihitung dari lamanya waktu pacaran kali, Ran." "Terus?" "Tapi dari kenyamanan. Kadang ada orang pacaran cuma buat status doang biar bisa dipamerin, padahal dia gak nyaman sama pasangannya tapi dipaksa buat bertahan." "Berarti lo sama mantan lo cuma sekadar status doang?" Ah, rupanya Gilang belum menemukan jawaban yang akurat. Gilang menyayangi pacarnya, tapi kalau pacarnya membuat dia tertekan dan menuntut ini-itu, Gilang lebih baik mengakhiri. Sesimpel itu. * "Nggi... Kangen!" Rani berlari kecil menghampiri Anggi yang sedang melakukan absen di finger print. Gadis itu langsung memeluk Anggi dengan erat. Anggi berdecak karena sikap Rani yang tidak biasa pagi ini, padahal Anggi izin sakit hanya sehari kemarin. Teman yang paling akrab dengan Rani itu akhirnya menoleh ke arah Yoga yang berdiri tak jauh di belakang Rani. "Ngapa nih bocah, Ga? Baru sehari gue gak masuk mendadak manja gini." Anggi menggeser badannya dan Rani masih bergelayut manja di pinggangnya. Bikin Anggi sulit bergerak saja. "Gue tuh kesepian tanpa lo," cetus Rani. "Najis!" kekeh Anggi. "Btw, kemarin gimana launching bukunya? Wajah penulisnya gimana? Ganteng gak?" Gantenglah. Soal fisik, mantan Rani tidak ada yang jelek. Bibir Rani mengerucut. Justru gara-gara kejadian kemarin makanya moodnya rusak pagi ini. Apalagi ditambah kekacauan yang Gilang bikin semalam. Astaga, ternyata hatinya masih menunjukkan reaksi terhadap lelaki itu. Sentuhan tipisnya hampir membuat pertahanan runtuh, beruntung kedatangan Yoga menggagalkan semuanya. "Justru karena kemarin makanya Rani galau, Nggi." Yoga menyahut. Ia berjalan ke tempat finger print untuk melakukan absensi. "Hah? Ada apa sama kemarin? Kok gue ketinggalan info," sahut Anggi heboh. "Tanya sama Rani langsung, biar feelnya dapet." Rani mendengkus, ia tidak suka digoda seperti itu. Melihat tatapan sebal yang dilayangkan Rani, Yoga mengulas senyumnya. "Gue duluan ya." Yoga meninggalkan dua orang rekan kerja yang masih saling nemplok seperti cicak itu. "Udah makin lengket aja lo berdua. Ke kantor bareng terus," sindir Anggi. Rani mengurai pelukan. Ia tidak lupa untik melakukan finger print juga. "Salah ya?" tanya Rani setelah absensi. "Gak sih. Momen langka aja akhirnya lo berani jalan sama cowok lagi," balas Anggi. Ia dan Rani melanjutkan perjalanan menuju ruangan kerja mereka. "Lumayan irit ongkos tahu kalau bareng Yoga," bisik Rani. "Sialan bener! Yang gratisan emang bikin ketagihan ya?" Rani tertawa, hanya beberapa detik sebelum akhirnya menguap saat berita di televisi yang berada di lobi kantor membuatnya terpaku. "Hari ini Rahadi Wijaya secara resmi mengumumkan putra bungsunya Gilang Pramudya Wijaya sebagai wakil direktur Wijaya Group." "Orang yang berkaliber kayak bokapnya Gilang mah gak perlu risau ya, sekalipun punya catatan hitam tapi karena punya duit dan jabatan, masyarakat seolah lupa sama kejahatan yang pernah dia lakukan." Anggi mengoceh, reaksi dari Rani hanya tak acuh sembari meninggalkan lobi. "Ran..." Anggi mengejar langkah Rani yang mendadak lebih cepat. "Yah nih bocah, cuma nonton wajah mantan di TV doang udah cemberut. Kangen ya?" "Kangen pale lu!" ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN