9. Memahat Luka Lama

2018 Kata
Manusia Bodoh ~ Ada Band Bagi Rani, Gilang tidak bersalah. Mereka putus bukan karena Gilang mempermainkan hatinya. Gilang justru obat dari kesakitan yang Rani terima atas pengkhianatan Beni. Sifat humoris Gilang membuat Rani nyaman. Tapi untuk dipertemukan kembali dengan Gilang, jelas bukan sesuatu yang patut Rani syukuri. Toh selama dua tahun terakhir ini, dia hidup baik-baik saja tanpa adanya peran dari Gilang. Semua itu berawal dari status sosial mereka bagai langit dan bumi. Karena latar belakang Rani yang tidak bisa diterima oleh sebagian orang. Makanya Rani mundur, memilih melepaskan sebelum semuanya terlalu jauh. Kalau harus jujur, Rani pernah hilang kewarasan saat Beni hampir mengambil sesuatu yang berharga dari dia, tapi Tuhan masih berbaik hati menyadarkan dia. Embel-embel cinta membuat Rani buta dan enggan melepaskan walaupun tahu Beni bukan sosok lelaki yang baik. Malam itu, Rani yang sempat gelap mata akhirnya sadar dengan sendirinya ketika melihat Beni berselingkuh. Lalu kehadiran Gilang menjadi pembeda. Rani merasa aman dengannya, Gilang menjaga kehormatan Rani. Tidak pernah melakukan sesuatu yang aneh-aneh dari sekadar pegangan tangan, atau berpelukan misalnya. Mereka pernah kissing, tapi hanya sekali. Ketika merayakan 1st anniversary. Selebihnya, gaya pacaran mereka lebih mengarah pada pertemanan. Gilang sering membanyol, Rani pun demikian. Selama satu tahun berjalan, mereka hampir tidak pernah berselisih paham. Kecuali malam itu, malam ketika Rani memutuskan untuk mundur dan mengakhiri semuanya termasuk mimpi Gilang yang ingin menjadikan Rani pendampingnya. "Are you okay?" "Buruk." Rani menoleh sekilas. "Gue ada salah ya sama lo? Lo kok jadi galau gini." Rani mengembuskan napasnya pelan. Ia segera mengenyahkan kesedihan yang dirasakan. Apa itu galau? Bahkan Rani sudah tidak merasakan kegalauan karena cinta selama dua tahun terakhir. Karena dia membangun prinsip enjoy every moment of your life. Dia bahkan dalam tahap cape menjalin hubungan kalau pada akhirnya stuck. "Sori, Ga. Bukan ke lo kok. Cuma guenya aja yang baperan kali." Rani meringis. Ia jadi merasa bersalah, padahal Yoga sudah berbaik hati mengantarnya jauh-jauh ke Bekasi, menunggunya sampai acara selesai, dan sekarang mengantarnya pulang ke apartemen lagi. "Kalau mau cerita, gue siap dengerin kok," kata Yoga. Lalu ia membelokkan Jazz miliknya ke minimarket. "Gue beli minum dulu. Lo mau ikut?" "Gue tunggu di sini aja." Yoga turun dari mobilnya, Rani memperhatikan sejenak. Sebelum mengambil ponselnya, ada seseorang yang harus bertanggung jawab atas kejadian hari ini. Nana. Rani ingat, Nana kenal sama Hardin karena dulu Hardin adalah editor Nana ketika menerbitkan buku pertamanya-perjalanan cintanya bersama Galih. Sudah pasti Nana yang mengenalkan Gilang pada Hardin dan merancang semuanya. Rani : Sumpah gue gak ngerti kenapa lo ngelakuin ini ke gue, Na." Nana : Maksud lo? Rani : Hardin, Gilang, dan novel sialan itu. Maksud lo apa? Padahal gue udah bilang, setop bikin gue berhubungan sama Gilang. Nana : Sori kalau emang lo ngerasa gue jahat sama lo. Tapi, Gilang yang minta gue buat gak ngasih tahu lo dulu. Rani : Lo seharusnya ngerti, Na. Nana : Sori... :( Rani tidak lagi membalas pesan Nana. Ia mengusap wajahnya menggunakan kedua tangan, semua tentang masa lalunya berkecamuk. Berlomba-lomba untuk mendapat atensi dalam otaknya. Lalu air matanya jatuh karena tidak sanggup lagi menjadi manusia yang pura-pura kuat dan tegar. Di antara isak tangisnya, Rani tertawa. Menertawakan semua yang terjadi saat ini. Ketika melihat Yoga keluar dari minimarket, Rani mengambil beberapa helai tissu dari ransel mininya untuk mengelap sisa air mata di wajahnya. "Nih, cokelat buat lo. Katanya cokelat bisa bikin mood cewek baik lagi." Rani menerima cokelat tersebut sambil mengucapkan terima kasih. Yoga kembali menjalankan mobilnya pada kecepatan rata-rata. Perjalanan mereka menuju apartemen masih jauh, sekitar satu jam lagi. "Nyari tempat makan dulu yuk, Ran. Gue laper." "Boleh." Galau ternyata membuatnya lupa untuk mengisi perut. Jadi ketika Yoga mengajaknya makan, Rani setuju. Siapa tahu dengan makan yang banyak, galaunya bisa hilang. "Masih gak mau cerita?" Yoga pikir mood Rani sudah mulai membaik setelah makan. Mereka masih duduk di sebuah kafe yang menyajikan masakan western, makanan Yoga sudah habis jadi dia hanya tinggal duduk santai sembari memperhatikan Rani yang masih menikmati makanannya. "Gege itu mantan pacar gue," kata Rani. Tiba-tiba memulai ceritanya. "Gege? Penulis tadi?" Yoga terkejut. "Iya." "Kok bisa?" Yoga tampak kebingungan. Melihat ekspresi bingung Yoga, Rani justru tertawa. "Bego banget kan gue, Ga? Kenapa nggak bisa ngenalin dia dari namanya. Namanya Gilang, dan gue nggak pernah tahu kalau dia punya panggilan Gege." Oh, Yoga paham sekarang. Dia sempat membaca nama penulisnya. Bukan Gilang tapi Langgi. Yoga baru sadar kalau Langgi bisa diacak menjadi Gilang. "Jangan bilang dia yang Gege maksud itu ditunjukkan buat lo, Ran?" Rani memilih mengedikkan bahunya. "Udah jelas kok," sahut Yoga. "Pantesan cara dia natap lo aja udah beda." Yoga menonton sepanjang jalannya acara. Dan pandangan Gilang ke Rani tidak pernah sekalipun luput dari pengamatan Yoga. Yoga menerka-nerka, ternyata jawabannya dia temukan sekarang. "Lo putus sama dia karena restu orang tua, Ran?" tanya Yoga. Hati-hati. "Bisa dibilang gitu," jawab Rani tak acuh. "Kalau lo butuh teman cerita, gue bisa kok. Gue pandai menjaga hati. Eh, menjaga rahasia maksudnya." Rani tertawa pelan. Ternyata galau ditemani orang lain itu tidak merana-merana amat. "Yakin bisa dipercaya? Kita kan baru sebulan kenal." "Lo pikir muka-muka kayak gue ini muka penjahat?" Yoga memprotes, Rani melontar cengiran. Ia menghabiskan makanannya dulu, butuh amunisi untuk kembali mengupas masa lalu yang berusaha Rani abaikan. Begitu makanan dan minumannya habis, Rani memejamkan matanya sejenak, lalu kembali terbuka dan bertemu pandang dengan mata Yoga. "Gue gak punya ayah." Rani bersuara kecil sembari membuang wajah ke samping. "Maksud lo?" Matanya mengarah ke Yoga lagi, Rani tersenyum getir. "Dulu Ibu hamil sama pacarnya. Pacarnya nggak mau tanggung jawab, dan Ibu seorang diri mempertahankan kandungannya. Sayangnya, laki-laki berengsek itu ayah kandung gue." Yoga melongo bukan main. Matanya beberapa kali mengerjap, ia seperti menahan diri untuk tidak menyela. Yoga menyenderkan punggungnya ke kursi sembari menyimak cerita Rani. "Ibu nikah lagi pas usia gue empat tahun. Ayah tiri gue baik cuma di depan Ibu doang, makanya gue jarang pulang ke rumah. Karena males ketemu dia." Rani mengambil jeda sebentar. "Gue nggak masalah sama ketidaksukaan dia ke gue. Tapi setelah lulus SMA, itu masa-masa paling berat buat gue. Gue ngerasa insecure. Makanya tiap kali gue punya pacar, gue selalu bilang ke mereka soal latar belakang keluarga gue. Gue gak mau orang tua pacar gue denger dari orang lain, mending dari gue sendiri." Keduanya diam. Rani memilih untuk tidak melanjutkan cerita, dan Yoga masih memikirkan setiap ucapan Rani. "Terus orang tua Gege nggak ngasih lo restu?" tanya Yoga setelah cukup lama mematung. "Sebelum pacaran sama Gilang, gue pacaran sama anak orang kaya juga. Ibunya bilang kalau keluarga kelas ekonomi kayak gue gak pantas bersanding sama keluarga kelas eksekutif kayak mereka. Lepas dari Beni, gue malah masuk kandang macan lagi. Beneran bego kayaknya gue." "Manusia nggak ada yang bego kali, Ran." Yoga langsung menyanggah. "Semua cuma soal persepsi orang aja." Rani mengangguk setuju. "Ibu Gilang welcome sama gue, tapi ayahnya yang nggak. Ayahnya mantan politikus, relasinya banyak. Punya perusahaan juga. Dulu sempet depresi, tapi sekarang udah bisa kerja lagi kayaknya. Dari semua kejadian itu, gue sadar kalau kasta masih menjadi penghalang." Yoga menegakkan badannya lagi, ia menatap Rani serius. Kedua tangannya bertaut di atas meja. "Lo masih sayang?" Rani tersenyum kecut. "Gue gak pernah mikirin perasaan gue, Ga. Lagi pula ini udah tahun kedua gue putus sama Gilang. Jadi ngapain gue harus galau terus?" "Gue tadi denger Gege sampai harus kabur ke Tokyo buat lupain lo. Tapi ujung-ujungnya dia balik lagi. Apa yang mau lo lakukan sekarang?" "Tetap di jalur gue. Gue gak mau melakukan sesuatu yang sia-sia lagi." Rani melihat Yoga mengedarkan pandangannya ke luar kafe. Entah apa yang sedang dicari lelaki ini. "Sebagai anak kita nggak bisa milih buat lahir dengan cara apa, dari keluarga yang bagaimana. Jangan menghakimi takdir, Ran. Lo sama sekali nggak bersalah, lo berhak bahagia entah dengan siapa pun lo nikah nanti." "Jangan-jangan habis ini lo jadi gak mau temenan sama gue," kelakar Rani, yang dibalas dengan gelak tawa oleh Yoga. "Di mata lo, gue emang sepicik itu ya?" Rani memilih untuk tidak menjawab dan menghabiskan sisa minumannya. "Santai aja kali, Ran. Gue juga bukan anak konglomerat. Mobil gue aja Jazz bukan Mercedez kayak Gege." Keduanya lantas tertawa. Hidup memang seharusnya dibikin santai. ** "Ga, makasih banget ya buat hari ini. Kalau gak ada lo, gak tahu lagi deh gue mesti ngapain." Jam sepuluh malam, keduanya jalan beriringan menuju kontrakan masing-masing. Perasaan Rani sedikit lega setelah bercerita pada Yoga, kehadiran lelaki jangkung ini di sampingnya ternyata sangat membantu Rani. Entah bagaimana jadinya kalau ia tidak bareng Yoga hari ini, mungkin Rani akan punya rencana untuk melarikan diri. "My pleasure, Ran. Gue seneng kok bisa bantu lo. Dan ingat, gue tetap jadi temen lo." Rani tertawa, sebelum tawanya menguap tergantikan raut datar begitu melihat Gilang berdiri di depan pintu kontrakan. "Kalau lo butuh bantuan, telepon gue." Yoga menepuk pelan bahu Rani dua kali. "Mau ngapain?" tanya Rani ketus. Ia berjalan melewati Gilang, membuka pintu yang terkunci. Begitu pintu terbuka, Rani berbalik badan. Menatap malas ke arah Gilang. "Mau ngapain?" Sekali lagi Rani bertanya. "Melepas rindu." "Pulang, Lang!" Rani hendak menutup pintu, namun tangan Gilang berhasil menahan. Tanpa permisi, Gilang masuk begitu saja. Berjalan santai, memperhatikan sekeliling. Dulu, hampir setiap hari Gilang mengunjungi kontrakan ini. Bahkan Gilang ikut sibuk ketika Rani pertama kali pindah dari kosan ke kontrakan. Nuansanya masih sama, hanya beberapa bingkai foto yang menghiasi dinding kini hilang, bingkai foto milik mereka. "Lang, pulang! Plis, aku cape." Mata Rani terpejam. Serius, dia lelah. Tidak cukupkah Gilang membuat Rani ketar-ketir hari ini. Rani cape, butuh istirahat. Tapi Gilang justru muncul lagi tanpa rasa bersalah karena sudah membuat ia merana. Gilang duduk di sofa, bola matanya membidik Rani yang masih berdiri beberapa meter darinya. "Jam pulang kantor masih sama kan?" "Kenapa memangnya?" Rani berjalan menuju pantry untuk mengambil air mineral dingin dari kulkas. Kedatangan Gilang kembali membuat hatinya memanas. "Aku jemput ya?" Gilang mengekori Rani. "Aku pulang sama Yoga," balas Rani. Masih berusaha tak acuh dengan keberadaan Gilang. Ia mengambil gelas dan menuangkan air putih, kemudian ia teguk sampai tandas. "Besok sama aku." "Kamu gila!" pekik Rani, menguatkan diri untuk memandang Gilang. Lelaki yang dulu menjadi tempatnya berkeluh kesah. Gilang memangkas jarak, mulai menyudutkan Rani. Rani mulai panik, ia hendak menyingkir dari hadapan Gilang namun kedua tangan lelaki itu dengan sigap menghalanginya. Rani melangkah mundur hingga akhirnya punggung dia menabrak meja bar. Kedua tangan Gilang menempel pada ujung meja bar untuk mengurung Rani. Rani membuang wajahnya ke samping saat Gilang terus memangkas jarak wajah mereka. Dua kali percobaan Gilang berupaya membuat Rani menatapnya, dua kali juga Rani berhasil mengelak. Ia memilih nunduk, menatap dua pasang kaki yang dulu selalu berjalan beriringan. "Katakan sama aku kalau kamu masih menunggu aku balik," bisik Gilang. Mata Rani terpejam, kedua tangannya ikut terkepal. Ia berusaha menetralkan debar jantungnya, sebelum mendongak. Ditatapnya wajah Gilang yang sedang menanti jawabannya. "Dari dulu kamu terlalu percaya diri. Aku bukan perempuan bodoh yang terus memuja masa lalu. Dan aku tidak pernah menunggu kam..." Oh s**t! Gilang berhasil membungkamnya dengan sebuah ciuman. Rani meronta, namun tangan Gilang dengan sigap mencekal pergelangan Rani. Ketukan pada pintu kontrakan mungkin menjadi penyelamat. Gilang terkejut. Dan hal itu tidak Rani sia-siakan. Dia mendorong d**a Gilang untuk menjauh, Rani mengusap bibirnya sambil melangkah lebar menuju pintu kontrakan. "Ran, lo punya kopi nggak? Tadi mau beli, tapi gue lupa." Lutut Rani mendadak lemas. Yoga menyelamatkan dia sebelum Gilang bertindak terlalu jauh. Sekiranya untuk saat ini ia bisa bernapas lega. Dan punya alasan untuk mengusir Gilang. "Ada. Masuk dulu, Ga. Gue ambil dulu kopinya." Gilang masih berdiri di depan lemari es, sembari bersedekap. Bola matanya mengarah jauh, mencari keberadaan Yoga. "Kalau urusan kamu udah selesai, kamu bisa pulang. Dan untuk besok, aku tetap pulang sama Yoga." Tanpa basa-basi lagi, Gilang berjalan menuju pintu keluar. Tepat ketika berpapasan dengan Yoga, keduanya saking bertatapan sengit. Seolah ingin menerkam satu sama lain. "Gimana acting gue?" Yoga cengengesan. "Sangat membantu, Ga." Mata Rani berbinar. "Gue banyak ngerepotin lo hari ini." "Halah santai aja. Namanya juga temen." Rani terkekeh pelan. "Kopinya jadi gak?" "Nggak usah, Ran. Orang stok kopi di gue masih banyak kok. Gue ke sini cuma mau lihat ekspresi cemburu dari mantan lo tadi." "Dasar!" Rani meninju pelan bahu Yoga. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN