8. Simponi dari Masa Lalu

1880 Kata
Rani beberapa kali menahan umpatan, ia menggumamkan kata sabar untuk kesekian kalinya. Emosi sudah bercokol di hati, sudah hampir meledak hingga membuat Rani ingin menangis saat itu juga saking lamanya menahan kesal. Ia membenturkan kepalanya pada meja kafetaria Mediacinta. Rambut yang digerai acak-acakan menutupi wajah. Rani tidak peduli sekeliling, bodo amat orang-orang akan menganggapnya sebagai orang gila baru pun tidak jadi masalah. "Butuh temen buat curhat?" Kepala Rani sontak terangkat, matanya menatap sayu Yoga yang sudah duduk di depannya. Satu cup es kopi s**u ia angsurkan ke depan Rani, sementara satu cup lainnya sudah ia sedot. "Anggi mana?" Yoga bertanya. Satu bulan ia bekerja di Mediacinta, tidak pernah satu hari pun ia absen melihat Rani yang selalu menggandeng lengan Anggi ke kafetaria. Tapi sekarang Rani duduk sendirian, tampak kacau pula. "Nggak masuk. Lagi sakit," jawab Rani. Ia menegakkan badannya dan mengambil cup es kopi s**u yang diberikan Yoga. "Buat gue nih?" Yoga mengangguk. "Kepala lo butuh yang dingin-dingin sepertinya. Biarpun lihat wajah gue sebenernya udah bisa bikin kepala lo adem sih, Ran." "Garing bener." Yoga tertawa, untuk sejenak ia membiarkan Rani menikmati es kopi susunya. "Ada masalah sama kerjaan?" tanya Yoga, setelah melihat Rani menghela napas, seperti melepas dahaga. "Hardin minta gue jadi host buat talk show bedah buku penulis Simfoni Dari Masa Lalu." "Bagus dong." "Bagus apanya?!" seru Rani gemas. "Itu kan bukan tugas editor. Lagian gue biasa kerja di belakang layar, kalau di depan layar gue berasa jadi Raisa." "Lucu banget sih, Ran." Yoga justru fokus pada ekspresi dan kalimat yang Rani ucapkan. Ekspresif, sangat hidup, aura kekesalan sangat menjiwai. "Serius?" Rani mengerjap. "Iya. Ada bakat jadi komika nih." "Kapan kapan bisa dong gue ikutan stand up comedy. Entar gue roasting Hardin di depan semua yang nonton." Rani tertawa. "Balas dendamnya dibayar kontan." "Btw, gue udah lihat layout novel Simfoni Dari Masa Lalu yang lo kirim. Ajiblah, Ga. Keren pake ada ilustrasinya segala bisa nambah bikin baper pembaca." Ya setelah menyelesaikan proses penyuntingan naskah Simfoni Dari Masa Lalu yang Hardin acc, selanjutnya proses layout yang kebetulan dikerjakan oleh Yoga. Rani memang ingin melihat kinerja Yoga sejak mereka berkenalan sebulan ke belakang. Dan keinginannya memang tercapai. Kini novel romansa Simfoni Dari Masa Lalu siap terbit dan membuka Pre-Order. Untuk jadwal terbit, novel Simfoni Dari Masa Lalu termasuk yang cepat prosesnya. Hanya satu bulan lebih seminggu. Pertama Rani baca, naskahnya memang sudah rapi, tidak ada pemangkasan naskah yang terlalu berlebihan karena Rani merasa semuanya sesuai dengan porsi. "Hidung gue kembang kempis nih dipuji cewek cantik," cetus Yoga. "Garing lagi." Keduanya sama-sama melontar tawa. "Minggu ini ada acara gak?" tanya Yoga, setelah puas tertawa dan memandangi wajah Rani. "Bentar, gue cek dulu." Rani membuka aplikasi kalender di ponselnya. "Kenapa emang?" "CFD yuk? Lama banget gue gak ikutan." "Yah, gue bangunnya siang kalau weekend." "Duh, sayang banget. Ya udah, agak sorean jalan aja." "Ke mana?" tanya Rani tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel. Ia mengecek catatan yang khusus ia bikin pada tanggal kalender. "Pelaminan?" "Ngaco sih, Ga! Eh, tapi hari Minggu ini acara talk show sekaligus launching buku Simfoni Dari Masa Lalu." Untuk membuat Yoga percaya, Rani menunjukkan memo itu pada Yoga. Yoga sedikit kecewa, namun tidak kehilangan ide untuk tetap mengajak Rani jalan. "Wah, jam berapa?" tanya Yoga. "Jam setengah empat." "Di mana?" "Gramedia Metropolitan Mal Bekasi." "Ya udah, gue temenin deh." "Serius?" Bola mata Rani membulat sempurna. "Serius. Nanti berangkatnya sama gue." "Asik. Thanks, Ga." Rani melontar senyum yang merekah, tanda terima kasih. Sementara senyum Yoga mengisyaratkan kesenangan karena memiliki alasan untuk jalan bareng gadis di depan dia. * Minggu sore, acara bedah buku setengah jam lagi akan segera dimulai. Sudah ada beberapa orang yang duduk di kursi audiens. Rani duduk di backstage sembari menghafal kalimat-kalimat yang harus ia sampaikan ketika membuka acara. Di sebelahnya sudah ada Yoga yang mendampingi, lelaki ini bahkan rela mengantarnya jauh-jauh dari apartemen ke Bekasi. Sebuah trik pendekatan yang cukup berhasil. "Penulisnya belum dateng ya, Ran?" tegur Yoga. Matanya berkeliling untuk melihat situasi. "Belum kayaknya. Katanya dia datang sama Mas Hardin." Yoga berohria. "Gue ke toilet dulu ya. Agak mules perut gue." "Oke, Ga." Rani menarik napas dalam, kursi audiens sudah cukup penuh. Kiranya, iklan-iklan di laman media sosial Mediacinta menggugah orang-orang yang mencintai fiksi turut hadir walaupun wajah penulis masih menjadi misteri. Jujur saja, Rani pun ikut penasaran dengan wajah penulis yang tidak dimuat pada sampul belakang novelnya. Identitas pribadi yang sangat minim, bahkan Rani merasa dikecewakan sebagai editor novel tersebut. Rani masih ingat betul, dia menyuruh Gege mengirim identitas pribadi ke emailnya, penulis itu justru mengirimkannya ke email Hardin. "Rani, ini kenalin Gege. Penulis Simfoni Dari Masa Lalu." Rani yang sedang menyusuri timeline twitter sembari menunggu Yoga yang sedang ke toilet—ngomong-ngomong kenapa lelaki itu lama sekali di toilet? Rani tersentak dan langsung berdiri, hanya butuh waktu satu detik untuk membuatnya kembali menjadi patung. Gilang? Bagaimana bisa? Rani terus bertanya-tanya dalam hatinya. Jantungnya mendadak berpacu, berkejar-kejaran dengan denyut nadi, semesta seperti sedang membuat permainan yang tidak biasa. "Kenapa, Ran?" Hardin menegur begitu melihat ekspresi terkejut dari Rani. "Kenal sama Gege?" Rani terkesiap, menoleh ke arah Hardin, kemudian kembali memandang Gilang sekilas sebelum akhirnya menggelengkan kepala. "Ng-nggak kok, Mas. Halo, saya Rani." Lagi pula hidup dalam kepura-puraan sudah biasa bagi Rani, pura-pura bahagia misalnya. Jadi kali ini tidak masalah juga, pura-pura tidak mengenal Gilang. Rani mengulas senyum penuh kepalsuan sambil mengulurkan tangan, mengajak lelaki berkemeja biru garis-garis di depannya berkenalan. "Gege," katanya membalas uluran tangan Rani. Seingat Rani, Gilang tidak pernah punya nama panggilan Gege. Sejak kapan mantan kekasihnya itu dipanggil Gege, dan kenapa pula Rani tidak ngeh kalau novel itu milik Gilang? Pantas, jika dia tidak ingin identitasnya terbongkar. "Ge, nanti hostnya Rani ya. Ran, ingat harus komunikatif. Lo kan bawel pasti bisa memancing obrolan." Bawel sih bawel? Tapi lawan bicaranya bukan mantan pacar juga kali. Ah, elah. Seharusnya Rani menolak dari awal kalau tahu Langgi PW itu adalah Gilang. Gilang Pramudya Wijaya. Goublok banget sih, Ran... "Gue tinggal bentar." Hardin berlalu begitu saja. Seolah ia sengaja memberikan ruang untuk Gilang dan Rani bercengkrama. Banyak pertanyaan di benak Rani. Tentang Gilang yang tiba-tiba nulis buku, tentang sosok Rindu dalam novel itu kenapa bisa relate dengan kehidupannya, tentang ending yang berbahagia di novel itu, dan tentang semua kebetulan yang terjadi seakan-akan sengaja dibuat untuk mempertemukan dia dengan Gilang lagi. Semua berkecamuk, namun setelahnya hilang ketika Gilang justru melontar sebuah senyum, ia tampak biasa-biasa saja. "Any question?" "Banyak." Gilang melihat waktu di jam tangannya. Ah, Rani jadi ingat jam tangan yang Gilang kasih. Untung tidak jadi ia pakai hari ini. "Masih ada waktu lima belas menit lagi." Rani tidak mengerti pemikiran lelaki ini. Satu tahun pacaran nyatanya tidak serta merta membuat dia mengenal baik sosok Gilang. Ia hanya merasa kehilangan setelah waktu-waktu yang mereka lalui, tanpa kepastian akan ending bahagia itu. "Sejak kapan kamu nulis buku? Bukannya dulu pernah bilang nggak pernah tertarik buat nulis?" Pertanyaan pertama yang berhasil keluar dari mulut Rani setelah mengambil jeda beberapa detik. "Alhamdulillah, masih ada ucapanku yang kamu ingat." Gilang melempar cengiran. "Poinnya bukan itu. Aku cuma tanya sejak kapan kamu nulis?" Gilang menyugar rambutnya. Ia menatap penuh makna pada sosok gadis yang sejak pertemuan pertama dulu mencuri perhatian. Padahal saat itu status Gilang masih menjadi kekasih perempuan lain. "Itu bukan karyaku, Nana yang nulis. Aku cuma menyumbang ide, tapi Nana ngasih naskahnya ke aku. Dia bilang gak papa pakai namaku sebagai penulisnya." Rani tercengang, sebelum akhirnya tertawa. Merutuki kebodohannya sendiri yang tidak peka dengan situasi. Semua orang membohonginya, Hardin, Gilang, bahkan Nana—orang yang Rani percaya akan selalu berkata jujur padanya. "Kenapa nulis cerita itu?" "Karena kamu." Move on dua tahun, haruskah berakhir hanya dengan satu kalimat pendek yang berhasil membuat Rani terpaku. "Aku?" ulang Rani. "Kenapa harus aku?" "Aku pikir masih punya kesempatan buat memperbaiki, Ran." "Gampang ya kamu ngomong gitu," balas Rani ketus. "Ran..." "Siap-siap. Bentar lagi mulai." Obrolan mereka terhenti. Rani memilih untuk menjauh, walaupun pada akhirnya ia harus menjadi salah satu saksi ketika Gilang menceritakan sedikit banyak tentang isi novel Simfoni Dari Masa Lalu. Matanya terpejam. Yoga memberi semangat pada Rani untuk tidak gugup. Entah ke mana perginya Yoga selama ia berbicara dengan Gilang tadi. Rani menarik napasnya sebelum menyapa audiens yang sudah menanti dimulainya acara. "Selamat sore, teman-teman!" Sapa Rani penuh keceriaan dan semangat. "Sore!" "Masih semangat?" "Masih." Ini bukan kali pertama Rani menjadi host, sebelumnya ia sudah pernah menjadi host dalam acara yang sama. Jadi tidak terlalu gugup, yang membuatnya gugup adalah kehadiran Gilang. "Oke, teman-teman. Hari ini novel terbaru Mediacinta berjudul Simfoni Dari Masa Lalu baru saja open pre-order. Siapa yang sudah order bukunya?" Beberapa dari audiens mengangkat tangan. "Wah lumayan banyak ya. Oke teman-teman, langsung saja kita panggil dan berkenalan dengan penulisnya. Ini dia Langgi PW atau yang akrab disapa Gege. Beri tepuk tangan." Gilang masuk saat itu juga, berdiri di sebelah Rani. Ia tersenyum dan menyapa para audiens dengan hangat. "Silakan duduk, Mas!" ajak Rani. Kini mereka duduk bersebelahan, hanya tersekat meja bundar kecil di tengah. "Baik. Novel Simfoni Dari Masa Lalu ini merupakan novel pertama, Mas Gege ya?" "Betul." "Bisa diceritakan ke temen-temen di sini kenapa Mas Gege tertarik menulis novel tersebut?" Rani menelan ludahnya setelah menyampaikan pertanyaan pertama pada Gilang. "Buku ini tentang kerinduan. Dua tahun saya hidup di Tokyo, ada waktu di mana saya merindukan untuk pulang ke Jakarta. Tapi saya menahannya. Novel ini bercerita tentang pengalaman hidup saya, khususnya tentang cinta. Saya punya cinta yang selalu ingin saya perjuangkan, tapi pihak lain menentangnya." Gilang melirik Rani, gadis itu kepergok tengah serius memperhatikannya. Rani buru-buru menoleh ke arah audiens.  "Hubungan kami berjalan satu tahun lebih sedikit, tiba-tiba pada suatu malam dia berbicara soal ketidakpantasan. Perempuan itu menyimpulkan kalau dia tidak berhak bersanding dengan saya. Masih banyak perempuan yang lebih pantas, secara wajah ataupun latar belakang sosial." Setiap Gilang berbicara, selalu ada satu detik bola matanya mengarah pada Rani. Batin Rani terkoyak, Gilang berhasil mengupas luka lamanya. "Saya menjadi pengecut. Tidak bisa memperjuangkan akhirnya membuat saya kabur ke Tokyo. Menghabiskan waktu dalam kesendirian, lalu kemudian hadirlah novel Simfoni Dari Masa Lalu," tutup Gilang. "Wow, ternyata pengalaman pribadi ya? Berarti sosok Pandu di novel tersebut bisa dipastikan kalau itu sosok Mas Gege?" "Betul," Gilang menjawab tanpa ragu. "Lalu kenapa judulnya Simfoni Dari Masa Lalu?" "Saya pernah menciptakan lagu untuk Dia di masa lalu saya. Dan saya berharap lagu itu masih bermakna buat dia." Double kill. "Apa sih yang membuat Mas Gege akhirnya menuangkan pengalaman pribadinya ke dalam bentuk novel?" "Karena berharap dia membaca dan melihat seberapa besar harapan saya." Proses tanya jawab berjalan dengan lancar meskipun Rani ketar-ketir tidak karuan. Gilang berhasil membuatnya bungkam dan terus berpura-pura. "Nah, Mas Gege sudah menjabarkan secara jelas tentang isi dari novel Simfoni Dari Masa Lalu. Makin panasaran bukan? Oke, sekarang mari kita buka pertanyaan termin pertama, kuota untuk lima orang penanya. Silakan acungkan tangannya." Tiga orang langsung mengacungkan tangannya. "Dua orang lagi. Siapa yang ingin bertanya? Hayo, ini kesempatan terbaik kamu." Menunggu beberapa saat sebelum akhirnya dua orang menjadi pelengkap kuota penanya termin pertama. "Perkenalkan nama saya Sari, dari Bekasi. Mas Gege saya mau tanya dong, apakah Mas Gege masih mencintai sosok dia yang dimaksud?" "Silakan langsung dijawab saja pertanyaannya." "Jawaban pastinya ada di novel ini." Gilang dengan bangga memperlihatkan novel di tangannya. "Dia berharga di hidup saya." Bolehkah Rani melambaikan tangan sekarang juga. Serius, lututnya sudah lemas. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN