7. Satu Ruang

1500 Kata
Deadline naskah untuk editing fix novel Simfoni Dari Masa Lalu membuat Rani begadang di Malam Sabtu, untung besoknya libur. Bangun siang pun tak jadi masalah. Jam sepuluh pagi, Rani baru membuka matanya, kepalanya sedikit berdenyut. Ia bangkit duduk sembari merentangkan kedua tangannya. Gadis itu turun dari kasur untuk mencuci muka dan gosok gigi, mandi pagi ia akan merapelnya dengan mandi sore saja. Ia keluar kamar untuk mencari makanan karena perutnya keroncongan. Stok camilan habis, kulkasnya kosong, hanya tersisa beberapa botol air mineral. Rani lupa untuk belanja bulanan. Untung ada mie instan yang tersisa satu lagi. Ting tong... "Anjir, siapa sih? Udah tahu gue laper." Rani menggerutu namun tetap berjalan ke pintu untuk melihat tamu yang datang. Gadis itu terkesiap melihat sahabat lamanya berdiri di depan pintu sembari mengangkat kotak makanan. "Udah sarapan belum, Ran?" Nana—sahabatnya, nyelonong masuk begitu saja ke dalam kontrakan. Ibu muda yang sedang hamil anak kedua itu menyimpan kotak makanan di meja, dan duduk di sofa dengan sedikit kepayahan. Rani hanya bisa melongo, beberapa kali ia mengerjapkan matanya. "Lo ngapain pagi-pagi ke sini?" tanya Rani. Masih sedikit terkejut, ia duduk di sebelah Nana. "Main. Gak boleh?" Nana melayangkan tatapan protesnya. "Ya, boleh." Rani mendengar sebuah decakan dari bibir Nana. Bola mata Nana mengitari semua penjuru apartemen, tumpukan baju-baju yang belum Rani lipat di pojok sofa tidak luput dari pengamatan Nana. "Dasar perawan! Dari dulu jorok lo gak pernah berubah. Itu lagi BH ngapain di situ?" Nana menunjuk benda yang tidak seharusnya menggantung di senderan sofa. "Rencananya gue mau setrika baju tapi males. Bentar gue pindahin ke kamar dulu." Rani membawa keranjang dari kamar, lalu memasukkan pakaian bersih yang belum dilipat itu secara asal ke dalam keranjang yang kemudian ia simpan lagi ke kamar. "Mau minum, Na?" "Air putih." Rani pergi ke dapur untuk mengambil air putih. "Elea gak lo ajak?" tanya Rani, menyodorkan segelas air putih ke Nana. "Lagi diajak ke timezone sama Gilang," jawab Nana sembari menerima gelas dari Rani. Mendengar nama itu disebut, bibir Rani mengatup sesaat. Ia kembali duduk di sebelah Nana, memperhatikan perut besar sahabatnya. "Oh. Eh, btw, berapa bulan, Na?" "Lima bulan." Rani melongo takjub. "Gila ya lo! Gue aja belum nikah, lo udah mau punya buntut dua." "Makanya nikah," balas Nana. "Pacar aja gak punya." Rani terkekeh, kalau dipikir-pikir miris sekali hidupnya, ralat. Kisah cintanya yang selalu berakhir tragis. "Gue masih berharap lo jodoh sama Gilang." Nana menatapnya penuh pengharapan, sedangkan Rani sudah terlalu malas untuk mengungkit kisah di masa lalunya. Sudah cukup Anggi yang selalu menyindirnya karena masih memakai jam tangan pemberian Gilang. "Na, gak usah mulai deh. Males gue tuh terus-terusan bahas yang udah lewat." Nana tertawa pelan, tangannya menarik pipi Rani yang tiba-tiba cemberut. "Ya namanya juga harapan." Rani mencebik. Sudah. Tidak ada ruang untuk memikirkan yang lalu. "Orang tua lo apa kabar?" Rani membuka topik obrolan baru. "Baik." "Mertua lo?" "Baik juga." "Alhamdulillah kalau gitu." "Lo udah sarapan belum?" tanya Nana, ia hampir lupa kalau membawa kotak makanan karena yakin Rani pasti belum sarapan. Kebiasaan merapel sarapan dan makan siang di hari libur sebetulnya sering kali mereka lakukan di kosan, dulu sewaktu kuliah. Dan kini dia sudah menikah, kebiasaannya itu sudah tidak berlaku. Tapi bagi sahabatnya yang tinggal sendiri ini pasti masih berlaku. "Belum. Tadinya gue mau masak mie instan. Perut gue udah keroncongan banget, eh tiba-tiba lo datang." Rani mencerocos. "Gue bawa makanan nih buat lo sarapan." Rani menatap kotak makan yang sudah dibuka. "Ini apaan?" "Itu tengkleng. Kebetulan Mas Galih kepengin makan itu, ya udah gue masak." "Jadi istri harus bisa masak segala yang suami pengin ya, Na?" Nana mengangguk. "Gue juga masih belajar terus kok." "Gue makan, boleh ya?" "Boleh dong. Gue bawa khusus buat lo yang punya kebiasaan rapel sarapan sama makan siang." Rani melempar cengiran konyolnya. Ia beranjak ke dapur untuk membawa sendok dan air minum. Entah kapan kali terakhir Rani bertemu Nana, sudah sebulan lebih sepertinya mereka tidak bertemu. Terakhir kali mereka jalan ke mal, nonton film bareng. Rani membatasi intensitas ketemuan mereka sejak putus dari Gilang. Rasanya canggung, padahal tidak seharusnya perasaan canggung itu timbul mengingat mereka sudah bersahabat sejak kuliah, sudah sering curhat. Tapi soal Gilang, Rani tidak pernah bercerita banyak ke Nana. Sampai jam dua belas siang, Nana masih betah di kontrakan Rani. Mereka banyak cerita satu sama lain. Rani menceritakan pekerjaannya, sedangkan Nana bercerita tumbuh kembang Elea yang sudah makin cakap dan aktif. Ketika Nana tidak sengaja menyinggung tentang Gilang, Rani memilih tak acuh. "Iya, pokoknya Hardin itu nyebelin banget. Gue pernah tuh sampai nahan kentut pas dia ngasih gue kultum. Begitu keluar dari ruangan, eh udah gak pengin kentut." "Kentut lo ikutan takut kali sama Hardin," gelak Nana. Gibah tentang Hardin masih menjadi obrolan yang menarik, apalagi sudah banyak kekesalan yang Rani rasakan selama menjadi bawahan si kepala plontos yang hobinya sentak sengor itu. "Terus novel apa yang bakal launching?" tanya Nana. "Ada judulnya Simfoni Dari Masa Lalu. Ceritanya tentang cowok gagal move on gitu, dia ngejar mantannya lagi. Tapi mantannya ini ogah balikan karena nggak direstui orang tuanya." "Oh, ya?" Rani mengangguk. "Tapi happy ending kok. Enak ya jadi tokoh dalam novel, happy ending sudah pasti di tangan." Nana mengulas senyum, tangannya menggenggam jemari Rani. "Lo juga pasti bakal punya kisah happy ending. Semua cuma perkara waktu, Ran." "Gak usah melow, Na. Masih siang!" Rani menepis rasa sakit akibat penolakan yang dulu pernah ia rasakan dari pihak keluarga mantan kekasihnya. *** Apa yang harus dilakukan ketika terjadi sebuah momen yang bahkan tidak pernah terpikirkan akan terjadi begitu cepat. Rani terpaku, seluruh tubuhnya menegang, ia tampak bingung, canggung, tidak karuan. Di depannya berdiri seorang lelaki yang kini sedang memasang senyum termanis sembari menggendong anak perempuan. Gilang. Sosok itu kembali tampak nyata setelah beberapa kali hanya muncul dalam mimpi. Gilang pun sama canggungnya seperti Rani. Namun lelaki itu pada akhirnya bertanya. "Nana ada?" "Ada." Rani menelan ludahnya, lalu menoleh ke belakang untuk memanggil Nana. "Nana, ada Elea nih!" serunya, tanpa menyebutkan jika Elea datang bersama Gilang. Nana yang sedang mengecek ponselnya langsung berdiri dan berjalan ke pintu. Anak dan adik iparnya sedang berdiri di depan pintu kontrakan Rani. "Mama!" seru Elea begitu melihat Nana. Bocah itu menggeliat minta diturunkan dari gendongan Gilang. "Lho udah mainnya, Sayang? Kok cuma sebentar?" tanya Nana pada anaknya. "Elea mau pup. Gue ajak ke toilet mal malah gak mau. Katanya mau sama mama. Lagian gue juga ogah cebokinnya," cerocos Gilang. "Belajar dong, Lang. Mas Galih juga dulu ogah-ogahan." Nana terkekeh, sedangkan di belakangnya Rani hanya bisa mematung. "Mau pup, Sayang?" Elea mengangguk cepat. "Ran, boleh numpang pup nggak?" "Bo-boleh," jawab Rani. Sialan! Sekadar menjawab pertanyaan Nana pun Rani tiba-tiba gugup. "Lang, tunggu di sini ya. Ngobrol-ngobrol sama Rani, dua tahun kan kalian nggak ketemu." Sialan bener si Nana! Semakin panas dinginlah hati Rani. Ia betul-betul membeku, bibirnya terkatup. Sementara di depan dia kini sudah hadir sosok dari masa lalu. Rani bingung, antara mau mengajak Gilang masuk atau ia abaikan. "Ran?" Pandangan Rani semula menatap gelisah lantai kontrakan yang mendadak jadi dingin, kini terangkat begitu suara lain memanggilnya. Senyumnya terbit melihat Yoga yang baru datang sambil menenteng dua kantong kresek putih besar. "Eh, Ga, dari mana?" tanya Rani, mengabaikan kehadiran Gilang sejenak. "Biasa, belanja bulanan." Diam-diam Yoga melirik Gilang, Gilang pun memperhatikan lelaki yang baru saja disapa Rani. Gilang ingat lelaki ini, seminggu kemarin ia melihat Rani dan lelaki itu duduk bareng di sebuah restoran Korea. Hatinya mendadak kembang kempis. "Yah kalau tahu lo mau belanja, gue nitip, Ga." "Iya, sori. Gue tadinya mau ngajak lo tapi gue lihat ada temen lo ya tadi pagi?" "Iya, ada temen." "Ya udah gue masuk dulu." Yoga menghilang di balik pintu kontrakannya, kini lagi-lagi Rani harus dalam situasi canggung. Ia berdeham cukup keras. "Mau masuk?" Mengenyahkan segala gengsinya, Rani akhirnya bertanya pada Gilang. Gilang mengangguk dengan pasti, Rani tidak lagi bertanya. Ia hanya berjalan mendahului Gilang. "Cowok tadi siapa?" Belum juga duduk, Gilang sudah memancing pertanyaan yang sukses bikin Rani mengerngitkan dahi. "Dua tahun nggak ketemu, harus banget ya pertanyaan itu yang pertama kali kamu tanyain?" balas Rani. Ia duduk di sofa single. Sedangkan Gilang duduk di sofa yang semula Nana duduki. "Sori," desisnya. "Kalau nggak mau jawab, ya nggak papa." "Temen kantor," jawab Rani. "Oh, kok bisa tetanggaan?" "Takdir kali," balasnya singkat, padat, dan tak acuh. Lalu hening. Dua tahun cukup untuk membuat dua anak adam yang pernah merajut kasih, pernah terlibat cinta—bahkan mungkin rasa itu masih sedikit tertinggal, mereka terasa asing. Interaksi yang seharusnya mengalir tiba-tiba stuck, seolah meminta berhenti. Untuk mengurangi rasa gelisahnya, Rani memilih bermain game di ponselnya. Ia membiarkan Gilang seorang diri, pura-pura untuk tidak melihat ke arah lelaki yang Rani akui, semakin berkharisma. "Kamu nggak mau tanya gimana kabarku?" Lagi-lagi Rani terpaku, ia memejamkan matanya sejenak, mengusir denyutan kecil di hatinya. Lalu, ia arahkan bola matanya, memandang datar Gilang. "Kalau kamu masih bisa jalan, masih segar kayak gini berarti baik-baik aja." Gilang mengulum senyumnya. "Kamu nggak berubah. Galaknya masih tetep." "Hatiku berubah kok." Dulu, kita pernah sedekat nadi sebelum akhirnya sejauh matahari kayak sekarang, Lang. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN