6. Secuil Rasa Cemburu

1877 Kata
Bunyi nyaring klakson ribuan kendaraan membuat keributan di telinga. Gilang membenahi kupluk dan letak aerphone di telinganya. Ia membuka spotify dan mencari lagu secara random. Lagu milik Dewa 19 berjudul Kangen sekarang memenuhi pendengaran dan turun sampai imajinasinya. Biarkan malam ini Gilang menikmati kesenduannya, rasa kangennya yang entah milik siapa. Kangen pacar, kangen Jakarta, atau kangen mantan. Biarkan Gilang mencari tahu sendiri jawabannya. Langkahnya tidak yakin menyusuri trotoar jalanan Jakarta. Di sebelah kanannya, ribuan kendaraan memadati sepanjang jalan. Tatapannya sesekali mendongak, menatap langit Jakarta yang bermuram durja. Tidak ada kerlip bintang, tidak ada rembulan, hanya kepekatan warna hitam yang menyapu bersih. Tepat di bagian akhir lirik lagu Kangen milik Dewa19, Gilang kini menemukan jawaban dari pertanyaan rindu siapakah dia malam ini? Rindu masa lalu. Sudah cukup. Dia tidak ingin membahasnya lebih lanjut, sebab akan berdampak tak baik untuk hatinya yang sudah memiliki belahan jiwa yang lain. Yang saat ini masih bermukim di Tokyo untuk menyelesaikan studi. Dering tanda panggilan masuk menghentikan lagu berikutnya yang sedang bermain. Gilang merogoh ponsel dari saku hoodie hitam yang dipakainya malam ini. Dari kekasihnya yang sudah seminggu ia tinggalkan untuk kembali menjadi salah satu orang yang meramaikan kota Jakarta. "Halo?" "Kangen, Ge." Suara di sana syarat akan kerinduan yang belum tersalurkan. Andin sosok yang lemah lembut, sangat pengertian. Yang paling penting, Andin adalah cewek yang membantunya beranjak untuk meninggalkan masa lalu. Gilang mengulum senyumnya. "Sabar, ya. Beb. Gimana hari ini?" "Biasa aja. Gak ada kamu soalnya." Kali ini Gilang tertawa pelan. Ceweknya kalau sedang merajuk seperti itu akan tampak menggemaskan. Biasanya jika mereka sedang bersama, Gilang akan melayangkan satu kecupan di bibir Andin—singkat saja—yang penting mampu membuat pipi Andin bersemu. "Wisuda kamu jadi kan tiga bulan lagi?" "Jadi dong. Wajib datang sebelum waktu wisuda. Nggak ada nego ya, Ge." Sapuan senyum tipis kembali tampak di bibir lelaki 26 tahun itu. Mata Gilang berpendar, mencari objek yang lebih menyenangkan daripada langit, gedung-gedung yang tinggi, atau kendaraan-kendaraan yang masih memenuhi jalanan. Ia menengok sisi kiri, sama saja. Tidak ada objek yang menyenangkan untuk dipandang. Hingga kaki menahan Gilang di depan restoran Korea, untuk pertama kalinya netra Gilang menangkap objek yang sempurna. Chalya Agrania. Kini menjadi pusat atensinya. Ocehan Andin mengabur di telinganya, fokusnya sekarang hanya tertuju pada arah jam dua belas di depannya. Gadis yang duduk di depan jendela besar itu sedang mengucir rambut panjangnya, mata sang gadis tidak memedulikan sekitar dan hanya fokus ke laptop yang menyala di depannya. Lama Gilang menatap, sebelum semua menjadi kacau ketika seorang laki-laki—seusia dirinya—duduk di seberang Rani. Bukan itu saja yang membuat Gilang mengernyitkan dahi, adalah ketika Rani menyambut kedatangan cowok itu dengan sebuah lengkung senyum. "Ge, kamu denger aku kan?" "Gege!" "Eh, iya, Beb. Denger kok." Gilang memutuskan untuk beranjak. Berjalan tanpa menengok ke arah kiri lagi. Ia menghentikan laju taksi yang kosong, dan duduk resah di dalamnya. "Kemang ya, Pak." "Baik, Mas." Obrolan dengan supir taksi tidak usah panjang lebar. Cukup menunjukan arah yang ingin dituju. "Are you hiding something from me?" "Kamu mencurigaiku?" "Hanya spekulasi." Gilang menghela napasnya. Ia yang salah, maka ia harus mengalah. "Aku lagi di jalan, makanya gak fokus." "Oh, sori." "It's OK, Babe. Harusnya aku yang minta maaf." Andin tidak lagi bersuara. Gilang pun tidak membuka topik baru. Rasanya ada sesuatu yang pahit dan membekas setelah melihat sang mantan bersama orang lain tadi. Haruskah seperti itu kondisinya? "Um, Ge?" "Ya?" "Tadi Ibu telepon, katanya kapan?" "Maksudmu, Beb?" "Bisa datang ke rumah." Gilang mendengar nada tidak yakin dari suara Andin. "Ibu kamu nggak sabaran banget mau ketemu aku yang super ganteng ini ya?" Gilang terkekeh setelahnya. "Gangguan telinga!" seru Andin. Gilang masih belum menghentikan derai tawanya. Memang benar, ia gamang sekarang. Gilang akui, secuil rasa untuk sang gadis masa lalu masih ada. Tapi semua sudah berubah, ada perasaan Andin yang harus Gilang jaga. Perempuan itu sudah rela menunggu hati Gilang. "Sabar ya, Beb. Kalau aku udah kerja, nanti aku bawa seserahan sekalian." "Geee..." "Serius aku, Beb." "Ya udah. Take your time. I miss you." "I miss you more, Beb." Sambungan telepon terputus. Gilang menghela napas sembari memikirkan kejadian singkat yang ia lihat tadi. Hei, bukankah itu tidak menjadi sebuah masalah? Toh Gilang sendiri sudah memiliki tambatan hati, Rani pun berhak mencari pengganti dirinya. Bukankah selalu begitu alurnya. Putus, cari yang baru atau balik ke masa lalu. Tiba di depan rumah Galih, Gilang turun dari taksi setelah membayar argo. Seminggu ini dia masih numpang tidur di rumah kakak ketiganya. Gilang masih mencari apartemen yang cocok untuk ia tinggali seorang diri. Gilang membuka pintu rumah mewah milik Galih, gelap menyambutnya. Ia menilik jam tangan, ternyata sudah setengah sebelas malam, pasti keadaan rumah sudah sepi. Gilang langsung naik ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Elea. Merindukan kecentilan keponakannya, Gilang membuka pintu kamar Elea—mengintip sebentar. Keponakannya itu sudah terlelap sambil mengemut ibu jarinya. Masuk ke dalam kamar, Gilang membuka hoodie—yang entah kenapa membuatnya kegerahan. Gilang rebahan, menatap langit-langit kamarnya yang flat. "Siapa cowok itu?" Lagi-lagi pertanyaan itu yang mampir di benaknya. Apakah pantas bagi seorang lelaki yang sudah memiliki kekasih masih penasaran dengan kehidupan mantan kekasihnya terdahulu? Jika iya, Gilang tidak mungkin risau. ** Gilang putus dari pacarnya. Pacarnya ingin menikah setelah mereka lulus kuliah, sedangkan Gilang ingin bekerja dulu. Setidaknya ketiga kakaknya menjadi tolok ukur Gilang mendapat pekerjaan yang layak sebelum melamar anak gadis orang. Kakak sulung, Gema seorang arsitek handal. Kakak kedua, Gisel istri seorang produser film ternama. Kakak ketiga, Galih seorang dokter digestif. Lalu dia? Masa harus menjadi peternak? Daripada Gilang gila karena tuntutan, ia memilih memutuskan hubungan yang sudah berjalan satu tahun itu. Lebih baik menjadi jomlo dulu untuk sementara, karena Gilang yakin proses move on akan berjalan cepat. Malam itu—setelah memutus hubungan dengan sang kekasih, dia kembali ke kedai kopi milik Iyan. Iyan meminta Gilang datang untuk mencicipi kopi racikan terbarunya. Begitu masuk, Gilang melihat Rani lagi. Gadis itu masih tampak bersedu sedan seperti terakhir kali mereka bertemu di kedai kopi ini juga. Gilang semakin yakin kalau Rani sedang dalam masa galau, entah karena apa, putus dengan pacar, atau bertengkar mungkin. Kali ini Gilang mengabaikan Rani dan pergi ke counter bar karena di situ sudah ada Iyan yang melambaikan tangan. "Dari kapan dia di sini?" tanya Gilang. Iyan pasti paham maksud pertanyaannya, karena tempo hari Iyan menyaksikan sendiri bagaimana secangkir caramel macchiato ala Gilang ditolak gadis yang sedang duduk menyepi di bawah jendela besar itu. "Sepuluh menitan," kata Iyan. "Lo kenal? Gue lihat waktu itu lo ngobrol. Cuma gue lupa mau nanya." "Temennya ipar gue," jawab Gilang mengambil segelas kopi yang sudah Iyan siapkan. Matanya kembali memperhatikan Rani. "Kali ini kopi dari mana?" "Kopi Lampung tipe robusta. Keluarga gue habis dari sana, gue suruh bawa aja." "Mantap juga," komentar Gilang setelah menyesap sedikit untuk memastikan rasa kopinya. "Eh cowok dia tuh kayaknya." Secangkir kopi yang hendak ia sesap menggantung di udara. Sosok lelaki yang familier mendekati meja Rani. Gilang tahu siapa lelaki itu, wajahnya banyak menghiasi laman i********: Rani. Berbagai fose romantis kerap mereka tunjukan. Diam-diam Gilang mendengus. Terlalu mengumbar keromantisan di sosial media, kalau putus tetap saja dihapus. Gilang dan Iyan tampak serius menyaksikan sebuah adegan—mirip sinetron tengah berlangsung secara live. Beni memohon pada Rani, Rani yang mengabaikan. Beni terus memohon sampai akhirnya sebuah tamparan gadis itu layangkan dengan kilatan marah bercampur kecewa dari bola matanya. Gilang membeliak, ternyata si Strit Merah bukan hanya judes tapi garang. Bulu ketek Gilang jadi merinding. "Gue berasa lagi nonton drama Korea," gumam Iyan ketika Rani berlalu disusul oleh Beni. "Gue cabut dulu." Gilang menyimpan sisa kopi, yang bahkan baru ia teguk sekali. Langkahnya lebar demi mengejar Rani. Entah, Gilang merasa Rani akan membutuhkan bantuannya. Benar saja. Beni sedang menyudutkan Rani di punggung mobil. Kedua tangan gadis itu berada dalam cengkraman Beni. Rani menggeliat, melawan. Berusaha bebas, namun jelas kekuatan Beni lebih besar. "Heh, bocah! Sama cewek gak usah kasar." Gilang berteriak lantang. Ia melemparkan batu kecil yang sembarang diambil dari tanah, tepat mengenai kepala Beni. Sontak saja hal itu membuat emosi Beni memuncak. Ia membebaskan Rani, dan kini berhadapan dengan Gilang. "Siapa lo?" tanya Beni dengan suara berat, penuh amarah. Sementara respons Gilang masih stay cool. Menghadapi cowok pengecut seperti Beni ini harus penuh lelucon, anggap saja sedang stand up comedy. "Kenalin... gue Gilang, cowok ganteng yang bisa aja gantiin status lo jadi pacar Rani." Gilang mengulurkan tangan, Beni menepisnya. Kali ini Beni langsung menarik ke atas kemeja flanel yang Gilang kenakan, sampai-sampai Gilang harus mendongak sedikit kesusahan untuk bicara. "Woi, santai, Mas Bro." "Gue gak ada urusan sama lo!" "Sama. Gue juga males urusan sama lo. Gue ke sini cuma buat Rani. Ayo pulang, Ran!" Brugh Satu pukulan mengenai tulang pipi kanan Gilang. Gilang sempoyongan, sembari tertawa. Hal itu semakin membuat Beni kalap. "Gue harusnya asuransikan muka ganteng gue, biar lo ganti rugi karena udah ngecap ungu pipi gue." "Lo siapa, anjing?" "Telinga lo budek, ya? Gue Gilang. G-i-l-a-n-g." Gilang mengeja namanya. Hampir saja Beni melayangkan tinju lagi, suara Rani lebih dulu menginterupsi. "Udah, plis." Rani memohon. Netranya kemudian di arahkan pada Beni. Menatap jijik mantan kekasihnya itu. "Kita udah selesai, Ben. Urus aja cewek baru lo. Siapa tahu pengaman lo bocor terus dia hamil." "Rani..." "Lo bisa anterin gue pulang?" Mengabaikan Beni, Rani sekarang bertanya pada Gilang. Gilang mengangguk, ia mengusap sudut bibir kanannya yang ikutan berdenyut. Namun seringai mengejek tidak lepas dari bibirnya, apalagi saat Beni menatapnya. "Nah, Bro. Gue punya sepenggal lirik lagu buat lo, malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya." Gilang berhasil membuat Beni mengeluarkan segala umpatan. Rani diam saja. Gilang juga bingung. Ia ingin membuka cakapan, tapi Rani sepertinya bukan sosok perempuan yang suka basa-basi. "Ngomong dong, Ran." Akhirnya, Gilang tidak tahan karena mengunci bibirnya terus. Lagi-lagi tidak ada respons dari Rani. "Oke, gue minta maaf soal yang waktu di Solo itu. Gue kan cuma bercanda." Rani masih melamun. "Lo gak mau ya maafin gue? Ya udah. Gak papa kalau gak mau maafin." Gilang mencerocos, tidak peduli akan tanggapan Rani. Yang jelas telinga gadis itu tidak budek, dan bisa menangkap semua yang Gilang katakan. "By the way, gue juga baru putus. Cewek gue narik gue buat nikah habis lulus kuliah. Sementara gue belum ada kerjaan." "Gue gak nanya." Diam-diam Gilang mencuri pandang, diam-dim dia mengulum senyum. Berhasil juga upaya dia biar Rani bicara. "Gue kan cerita," balas Gilang defensif. "Kalau lo? Kenapa lo putus sama Beni?" Rani menoleh ke Gilang, sekilas. Sebelum netranya ia arahkan ke jalanan. "Beni main serong. Gue mergokin dia pas lagi di ranjang sama cewek." "Anjing juga tuh cowok. Keputusan tepat kalau lo putusin dia." Gilang mencengkram kuat stir mobil. Entah kenapa dia jadi ikut kesal. Beni seperti merendahkan harga diri seorang pria sejati. Gilang mengambil ponsel di saku celana, lalu ia sodorkan ke Rani. "Apa?" Rani mengernyit, tidak paham. "Kontak lo." "Buat apa?" "Buat main lotre. Ya buat chatting lah." Rani mendelik, namun tetap mengambil ponsel Gilang. Ia ketikan dua belas digit nomor ponselnya. "Nih." Rani menyodorkan kembali ponsel itu ke Gilang. "Lo mau makan dulu, nggak?" ajak Gilang, menerima ponselnya lagi. "Nggak. Gue mau ke kosan aja. Udah ngantuk." "Oke. Tunjukin arahnya." Dibalas anggukan kecil oleh Rani. Ternyata Rani tidak sejudes itu. Apa mungkin efek dari patah hati. Gilang menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak menyangka Rani sebucin itu, putus cinta tapi galaunya berhari-hari. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN