Bab 1 Melahirkan Yang Mencekam
Hujan lebat disertai guruh dan kilat yang bersahutan sedang mewarnai langit di Los Angeles. Angin kencang pun menerpa membuat suasana hujan mengerikan.
Menyisir ke satu kamar di pavilion pembantu di rumah megah milik mendiang Joseph, tampak Yolanda tengah berjuang melahirkan tanpa kehadiran suaminya.
Viktor, pria yang ia temukan tergeletak dengan tubuh penuh luka tusuk itu langsung membuatnya ingin menolong dan melarikan pria itu kediamannya. Merawat dan mengobatinya tanpa sepengetahuan Sang Kakek, Mona-ibunya, dan Norman-adik ipar si ibu. Tapi saying, sang pria kehilangan ingatan, tidak ingat identitas, maka dia memberi nama Viktor.
Sejak saat itu, benih cinta mulai tubuh di antara mereka sampai akhirnya malam panas itu tiba dan membuat membuat mereka bersatu. Esok hari, Viktor membawa Yolanda ke catatan sipil, menikahlah mereka, dan membawa mereka lunch romantic. Saat itu Viktor memberi Yolanda seuntai kalung emas berliontin burung elang.
Namun naas, kebahagiaan sebagai pengantin baru hilang, selepas lunch, mereka dihadang segerombolan pria berpakaian ninja, lantas Viktor menyuruh dia melarikan diri.
Sejak itu, dia tidak tahu di mana Viktor, meski sudah mencari ke seluruh penjuru Chinatown. Sang suami menghilang bak di telan bumi. Lantas, akibat dari malam panas itu, dia mengandung dan berupaya menyembunyikan berita ini. Tapi, kehamilannya itu diketahui keluarga dan membuat gempar.
Norman memaksa Yolanda memberitahu siapa yang melakukan itu padanya dengan setengah mengancam akan menggugurkan kandungannya. Jika saja Mona tidak mengiba kepadanya mungkin bisa saja Yolanda kehilangan bayinya dengan cara dipukuli menggunakan Kayu.
Norman mengalah, membiarkan Yolanda memelihara janin itu, tapi saat sudah lahir, dia akan mengambil bayi tersebut, agar tidak membawa sial keluarga Candara, seperti hasutan Isala–istri kedua pria itu dan Jeanny–putri dari sang istri.
Petir kembali mengelegar di tengah malam seolah menyadarkan Yolanda kembali ke dunianya saat ini yang tengah berjuang demi nyawa lain di dalam dirinya. Dia memegang erat tangan Mona dan Kinan—asisten Mona. Di depan Yolanda ada Bidan Nilna yang dipanggil Kinan untuk membantu persalinan Yolanda, sebab Norman melarang Mona membawa Yolanda ke klinik atau rumah sakit.
Bidan Nilna di bantu dua asistennya sebab Mona mengatakan letak bayi Yolanda sungsang. Untung Bidan Nilna adalah murid Steven-ayah Mona, jadi mampu mengembalikan posisi bayi ke jalur lahir yang benar. Meski saat proses itu, Yolanda menahan sakit luar biasa.
“Dorong lebih kuat, Nona–!” Bidan Nilna menyuruh Yolanda mengejan lebih kuat, “Dorong tanpa berteriak, Nona, agar Anda tidak kehabisan tenaga!” memberi instruksi Yolanda tidak boleh berteriak saat mengejan.
Yolanda memegang lebih erat tangan Mona dan Kinan, ditahan suaranya sambil mengejan lebih kuat. Peluh bercucuran ke wajahnya. Di pelupuk mata terbayang saat dia dan Viktor usai bercinta mengobrol, di mana pria itu berharap mereka punya anak. Dia menanggapi positif harapan tersebut. Tapi saying dia dan Viktor berpisah. Tak urung, air mata dia berlinang, betapa dia bersedih Viktor tidak menemaninya melahirkan anak mereka.
“Yak–!” terdengar seruan Bidan Nilna, “Terus begitu, Nona!” dia senang Yolanda mengikuti instruksinya, “Dorong kuat-kuat, Nona! Ayo, Anda bisa!” diberi semangat berjuang ke gadis malang ini.
Yolanda terus mengerahkan tenaga mendorong keluar bayinya, air mata semakin membasahi wajah cantik dia yang berpeluh.
‘Oh Viktor, dimana pun kamu berada, Aku yakin kamu tahu aku berjuang melahirkan anak kita yang kamu impikan..’ batin Yolanda berkata lirih. Ia menoleh ke sudut kamar dengan setengah berhadap bahwa pria itu hadir.
***
Sementara itu, di jam yang sama, seorang perempuan berbusana ninja, dipinggangnya tergantung senapan dengan tali tambang besi, berlari cepat dan hati-hati mendekati tembok belakang. Kedua matanya menyisir ke sekitar dengan waspada. Begitu sampai ke tembok tersebut, dia mengambil senapan itu, dibidikan empat cakar besi di ujung senapan ke permukaan atas tembok, dan dengan sekali tembakan, cakar tersebut melesat cepat dan menyantel di tepi dalam atas tembok.
Kemudian dia menekan tombol merah di permukaan bagian kanan senapan, sehingga senjata itu berubah menjadi stick yang berfungsi sebagai roda penarik tali tambang, lalu dengan gesit dia sling ke atas, menjejakan kedua kaki di permukaan tembok, lantas setengah berlari memanjat tembok tinggi tersebut dengan bantuan tali dan stick.
Tidak lama dia sampai di atas, langsung memindahkan tali tambang ke belakang tembok, lalu turun dengan setengah berlari menggunakan tali dan stick tersebut. Dengan mudah dia sampai di halaman tidak jauh dari pavilion. Dipencet tombol hijau pada permukaan bagian kiri stick, maka berubahlah menjadi senapan. Lantas dia tarik pelatuk senapan, melepas tali dan cakar besi dari tembok, masuk ke dalam senapan, seperti kabel melilit dalam roll kabel.
Setelah itu dia menyisir ke sekitar, sikapnya masih waspada, dalam benaknya terbayang saat dia dan Steven bicara di perpustakaan sang kakek.
“Mira, begitu kamu sampai dan ketika Yolanda berhasil melahirkan bayinya. Bawa mereka berdua dan juga Mona.”
Instruksi itu jelas dan Almira mengangguk tanpa ragu. Almira adalah sepupu kandung Yolanda yang dibesarkan Steven–kakek Yolanda.
“Yeye* tenang ya—" Almira bersuara di mana meraih tangan si kakek yang luar biasa menyayangi dia, hingga dia pun menyayangi sang opa, “Mira akan mengeluarkan Tangjie* dan Bomu* dari rumah itu, dan kita bawa mereka tinggal di sini.” Diyakinkan kakeknya ini.
Steven menganggukan kepala, tahu Almira bisa diandalkan, sebab ilmu kungfu dan six sense dari dia mumpunin untuk misi tersebut.
Kehamilan Yolanda sudah diketahui Steven dari Juan yang tidak sengaja memergoki Yolanda merawat Viktor.
Sebenarnya, setelah Joseph–ayah kandung Yolanda meninggal dibunuh Norman, Steven menjemput Mona dan Yolanda, hendak dibawa tinggal bersama dia, tapi Norman mengatakan Mona menantu, suami meninggal, tetap tinggal di keluarga suami.
Namun, ternyata, Mona dan Yolanda dijadikan pembantu oleh Norman, seringkali mendapat penindasan dari Isala dan Jeanny.
Almira menghembuskan sedikit napas, “Tuhanku!” disebut nama Tuhan, “Tolong Engkau mudahkan rencana Yeye mengeluarkan Tangjie, bayinya dan Bomu dari rumah ini.” Dia memanjatkan doa agar rencana Steven berjalan baik.
Meski Norman hanya bekerja sebagai manager marketing di WS Group, tapi punya banyak penjaga yang berjaga di rumah dengan ketat. Apalagi sejak Yolanda hamil, penjagaan rumah diperketat.
***
Di dalam kamar, Yolanda berhasil melahirkan bayi perempuan berkulit putih s**u yang indah dengan wajah cantik. Bahkan bayi itu berkilauan sinar emas, menandakan Tuhan menciptakan si bayi istimewa. Air mata bahagia berbaur kelegaan terus menghias wajah cantiknya.
‘Viktor–,’ dipanggil sang suami, ‘Putri kita sudah lahir. Dia sangat cantik, Viktor,’ memberitahu kelahiran anak mereka dengan pilu.
Mona dan Kinan melihat bayi dalam gendongan Bidan Nilna menitikan air mata haru, merasa lega, sebab persalinan berjalan mulus. Yolanda dan bayi selamat.
Bidan Nilna segera memberikan bayi tersebut ke Dili, agar dimandikan, lantas dia dan Elma membersihkan tubuh Yolanda dengan handuk basah.
***
Kembali ke luar, Almira berlari cepat sambil kedua mata menyisir ke sekitar, lantas bersembunyi di tepi sudut tembok bagian kanan pavilion, sebab melihat ada empat penjaga berjaga depan pintu masuk mess pembantu tersebut.
“Dams!” dia merutuk dengan suara pelan, “Papa benar ingin menghabisi Tangjie, bayinya dan Bomu.” Ujarnya sebab Steven sudah mengatakan rencana Norman yang diketahui dari Kinan.
Dia segera memutar badan, lantas dengan setengah berlari menuju pintu dapur yang berada di belakang pavilion. Di sana tidak dijaga, hanya ada Lia, putri Kinan. Lia ditugaskan Kinan menanti Almira.
“Nona kedua–“ Lia menyambut kedatangan Almira dengan lega, “Lekaslah masuk, karena Nona sulung sudah melahirkan bayinya.” Diminta gadis itu segera masuk untuk menyelamatkan Yolanda.
Almira belum menjawab, meraih tangan kanan Lia, dicek nadi di pergelangan tangan kanan perempuan ini, lantas tangan lain dia cepat mencekik dan mematahkan leher Lia. Baru kemudian dia hempaskan ke lantai.
“Pengkhianat!” dari mulut dia keluar makian sambil memandang sengit Lia. Mengapa tadi dia mengecek nadi Lia, sebab dari Steven belajar bersikap waspada. Teman bisa jadi musuh, musuh adalah teman. Dari nadi seseorang bisa diketahui apa teman atau musuh karena sukma akan mengatakan kebenaran.
Sejurus kemudian, dia cepat merebahkan setengah badan ke belakang, sebab telinga tajamnya mendengar desingan peluru melesat cepat dari dalam dapur menuju ke dia. Peluru pun lolos sasaran, tapi peluru lain meluncur cepat lagi ke arah dia, gegas, dia mendorong badan ke arah kanan, dengan posisi setengah badan masih rebah ke belakang, lalu memutar cepat tubuh dari depan ke belakang, baru kemudian mendorong tubuhnya melayang ke atas ke arah dinding di atas kusen pintu dengan kedua tangan terentang kiri kanan.
Dia lantas menempelkan punggung di tembok, kedua tangan tetap terentang kiri kanan, matanya melihat ke arah bawah. Tidak lama keluar dua pria berseragam penjaga. Mereka mencari-cari dia. Satu tangan dia cepat menarik dua jarum akupuntur dari bagian dalam pelindung pergelangan tangannya, lantas dilempar kea rah tekuk para pria itu.
Dubrak! Mereka jatuh pingsan di lantai.
Melihat hal itu, Almira segera memutar badan, lantas sling turun ke bawah, saat bersamaan desingan beberapa peluru melesat ke arahnya. Dia cepat merosotkan tubuh ke bawah, meluncur masuk ke dapur, kedua mata dia melihat di sana ada empat pria bersenjata api.
Gegas, dia sleding ke kanan, dengan gerakan cepat mengangkat tubuh, lantas berlari memutar meninju empat pria tersebut di bagian dagu, membuat mereka tewas berjatuhan di lantai. Baru kemudian, dia berlari ke pintu antar ruang, melesat masuk agar segera sampai di kamar Yolanda dan Mona.
***
Di kamar, Yolanda selesai minum segelas air putih dibantu Kinan. Dia sudah bersih, memakai daster lapang model kemeja. Mona yang menggendong bayi Yolanda, tampak bahagia sekali, segera meletakan si bayi ke pelukan putri tunggalnya itu. Si anak menyambut dengan air mata haru berlinang di wajah.
Lantas, dia memangku si bayi, dilepas kalung dari Viktor, dan memasangkan ke leher sang bayi, lalu bicara lirih sambil memandangi anaknya.
“Viktor, kelak Kamu akan mengenali putri kita dari kalungmu dilehernya.” ujar dia menjelaskan mengapa memberikan kalung tersebut ke bayi mereka.
Kinan lantas mendekati Yolanda dan Mona.
“Nyonya–“ menegur Mona, “Mari lekas, kita keluar dari sini.” Ujarnya saat si nyonya melihat ke dia.
“Keluar dari sini?!” Mona terheran, “Tidak mungkin bisa, Kinan.” Keluh dia sebab penjagaan Norman sangat ketat.
~~~
Note:
Ada beberapa kata dalam bahasa Mandarin di bab ini sebagai berikut:
Tangjie: kakak sepupu perempuan dari pihak ayah
Bomu: istri kakak dari ayah.
Yeye: Kakek pada umumnya saja.