6. Cahaya yang Perlahan Menetap

1136 Kata
Seraphine datang ke apartemen Jennah pagi-pagi membawa sarapan. Jennah membuka pintu dengan wajah khas orang baru bangun dari tidur lelapnya. "Oh, Ya ampun, Jen, apakah kau begadang lagi? Dokter baru saja memberimu nasehat untuk tidak begadang dalam waktu dekat, tetapi kau justru berbuat sebaliknya." Seraphine masuk ke apartemen sahabatnya sambil mengomel, Jennah kurang peduli dan hanya mengikuti Seraphine ke dapur. "Dokter Elio meneleponku dan menanyakan alamat studiomu." Seraphine sibuk menyiapkam sarapan yang dibelinya sementara Jennah duduk di kursi tinggi–terkejut. "Apakah dia ingin memesan perhiasan?" Jennah bertanya dan menatap Seraphine dengan raut wajah menebak. "Entahlah, tapi aku rasa dia tidak berniat jahat padamu." Jennah berlalu kembali ke kamarnya untuk sikat gigi dan berganti pakaian sebelum sarapan bersama Seraphine. "Kau bilang ketemu Drake waktu acara amal dua hari yang lalu." Tatapan Seraphine terpaku pada Jennah yang duduk di hadapannya. Jennah mengangguk. "Kebetulan, kurasa." Jawaban Jennah terdengar tidak peduli tetapi sejujurnya ia juga penasaran mengapa ia sampai tidak tahu kalau Drake juga akan hadir di acara itu dan situasi canggung itupun terjadi. Setelah sarapan bersama, asisten Serpahine datang ke apartemen Jennah untuk menjemputnya ke lokasi pemotretan brand pakaian ternama hari ini. ** Dua hari telah berlalu sejak acara penggalangan dana itu, tetapi kalimat Elio masih menetap di kepala Jennah seperti gema yang enggan pergi. Belum sempat mengatakan apa pun sejak SMA dulu. Jennah berdiri di depan meja kerjanya, menatap desain cincin pernikahan yang tergeletak di atas kertas gambar. Garis-garisnya presisi, simetris, dan dingin—terlalu dingin untuk sesuatu yang seharusnya melambangkan cinta. Ia menghela napas pelan. “Kenapa semua desainku akhir-akhir ini terasa seperti cermin diriku sendiri?” gumamnya. Studio itu sunyi. Cahaya siang masuk melalui jendela besar, menyinari potongan logam mulia, batu permata, dan sketsa-sketsa yang menggambarkan perjalanan kariernya. Jennah selalu mencintai keheningan di tempat ini. Namun hari ini, keheningan itu terasa berbeda—seperti ruang kosong yang menunggu untuk diisi. Ketukan pelan terdengar di pintu kaca. Jennah menoleh, sedikit terkejut. Saat ia melihat sosok di balik pintu, jantungnya berdetak lebih cepat. “Elio?” Elio berdiri di sana, mengenakan kemeja biru tua dan celana bahan hitam. Di tangannya, dua kotak makan siang sederhana. Senyumnya tenang, seolah kedatangannya adalah hal paling wajar di dunia. “Aku harap aku tidak mengganggu,” katanya. “Kau belum makan siang, kan?” Jennah terdiam sejenak sebelum akhirnya membuka pintu. “Kau… bagaimana tahu aku di sini?” “Aku bertanya pada Seraphine,” jawab Elio ringan. “Dia bilang kalau kau sering lupa makan saat tenggelam dalam desain.” Jennah mendengus pelan. “Dia terlalu banyak bicara.” “Tapi tidak salah,” balas Elio, matanya menyapu meja kerja Jennah. Ia melangkah masuk, berhenti di depan sketsa cincin pernikahan itu. Ia menatapnya lama. “Desainmu indah,” katanya akhirnya. “Tekniknya bersih, proporsinya seimbang. Tapi…” Elio berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Ada jarak di dalamnya.” Jennah mengangkat wajahnya. “Jarak?” “Ya,” Elio mengangguk pelan. “Cincin pernikahan biasanya menyimpan kehangatan—harapan, keberanian, atau janji. Tapi desain ini terasa dingin. Seperti dibuat oleh seseorang yang tahu arti komitmen, tapi tidak lagi mempercayainya.” Kalimat itu membuat Jennah terdiam. Ia menatap sketsanya kembali, lalu tersenyum tipis—bukan senyum defensif, melainkan senyum seseorang yang merasa dipahami tanpa dihakimi. “Kau jujur,” katanya pelan. “Kejujuran tidak selalu harus keras,” jawab Elio. “Kadang cukup disampaikan dengan niat baik.” Mereka duduk di sudut studio, membuka kotak makan siang. Aroma makanan sederhana memenuhi ruangan—hangat, akrab, menenangkan. Mereka makan perlahan, ditemani cahaya siang dan suara samar kendaraan dari luar. “Aku tidak ingat terakhir kali makan siang tanpa tergesa,” ujar Jennah sambil tersenyum kecil. “Karena kau selalu berlari,” kata Elio. “Dulu juga begitu.” Jennah menoleh. “Kau memperhatikanku sejak dulu?” Elio tidak langsung menjawab. Ia menatap meja, lalu mengangkat wajahnya dengan tenang. “Aku selalu tahu kapan harus diam.” Sebelum Jennah sempat menanggapi, pintu studio kembali terbuka. Seorang wanita muda melangkah masuk dengan langkah percaya diri. Rambutnya ditata rapi, gaunnya sederhana namun mahal. Jennah mengenal wajah itu dengan segera. Sarah. Cinta pertama Drake. Wanita yang akhirnya dipilih Drake untuk menjadi istrinya. “Permisi,” sapa Sarah sopan, tatapannya singgah sebentar pada Elio sebelum kembali ke Jennah. “Apakah ini Studio Varez?” “Benar,” jawab Jennah tenang. “Ada yang bisa saya bantu?” “Saya ingin memesan cincin pertunangan,” kata Sarah. “Khusus.” Nada suaranya terdengar formal, tetapi ada ketegangan halus di baliknya. Jennah mengangguk dan mempersilakan Sarah duduk. Elio tidak bergerak, hanya memperhatikan dari kursinya. “Aku tahu kau pernah menikah dengan Drake,” kata Sarah tiba-tiba, suaranya lebih pelan namun tajam. “Aku hanya ingin memastikan… tidak ada hal yang belum selesai di antara kalian.” Ruangan itu seolah menyempit. Jennah menatap Sarah dengan tatapan jernih—tidak defensif, tidak terluka. “Tidak ada,” jawab Jennah dengan tenang. “Pernikahan kami hanya ada di atas kertas. Tidak lebih.” Sarah menatapnya, seakan mencari celah di wajah Jennah. “Dan perasaan?” “Perasaan tidak pernah menjadi bagian dari pernikahan itu,” ujar Jennah lugas. “Aku menghormati Drake sebagai manusia, dan aku menghormati dirimu sebagai pasangannya.” Keheningan menggantung beberapa detik. Sarah akhirnya mengangguk kecil. “Terima kasih atas kejujuranmu.” Setelah Sarah pergi, Elio menatap Jennah lama. Ada sesuatu di matanya—bukan rasa ingin tahu semata, melainkan keprihatinan yang lembut. “Kau menanggung semuanya sendirian,” katanya pelan. Jennah menarik napas dalam. “Aku terbiasa.” “Tidak seharusnya,” jawab Elio lembut. “Tidak semua hal harus kau pikul sendiri.” Sore itu, setelah studio tutup, Elio mengajak Jennah berjalan ke taman kota dekat danau. Matahari perlahan turun, mewarnai langit dengan jingga lembut. Beberapa orang duduk di bangku taman, menikmati senja dalam keheningan masing-masing. Mereka berjalan berdampingan, tidak saling menyentuh, tetapi cukup dekat untuk merasakan kehadiran satu sama lain. “Kau berbeda hari ini,” ujar Jennah akhirnya. “Berbeda bagaimana?” “Lebih… hadir,” jawab Jennah. “Seperti seseorang yang tidak hanya lewat.” Elio tersenyum tipis. “Mungkin karena kali ini aku tidak ingin lewat begitu saja.” Mereka berhenti di tepi danau. Pantulan cahaya senja bergetar di permukaan air. “Aku tidak tahu bagaimana akhirnya,” lanjut Elio. “Aku juga tidak ingin memaksamu merasakan apa pun. Tapi aku ingin kau tahu—jika suatu hari kau lelah berjalan sendiri, aku ada.” Jennah menatap matahari yang hampir tenggelam. Dadanya terasa hangat, bukan karena janji besar, melainkan karena ketenangan yang ditawarkan. “Terima kasih,” katanya pelan. “Untuk hari ini.” Elio mengangguk. “Untuk hari ini… itu sudah cukup.” Di balik cahaya senja, Jennah menyadari satu hal: untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa sendirian. Dan mungkin, tanpa ia sadari, cahaya itu sedang perlahan menetap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN