7. Hal-hal Kecil yang Tidak Lagi Sunyi

1074 Kata
Hujan turun sejak dini hari, tidak deras, hanya gerimis yang konsisten—seperti ingatan yang tak mau benar-benar pergi. Jennah terbangun sebelum alarmnya berbunyi, menatap langit abu-abu dari balik jendela kamar. Kota masih setengah terjaga, jalanan basah memantulkan cahaya lampu yang belum dipadamkan. Ia menghela napas pelan. Sejak sore di taman dua hari lalu, pikirannya tidak lagi setenang biasanya. Bukan karena kegelisahan, melainkan karena ada sesuatu yang terus muncul tanpa diundang—tatapan Elio yang teduh, suaranya yang rendah dan tidak memaksa, serta cara pria itu berdiri di sisinya tanpa mencoba mengambil alih apa pun. Jennah bangkit dari tempat tidur, meraih ponsel di meja samping. Tidak ada notifikasi baru. Ia menaruh ponsel itu kembali, sedikit terlalu cepat. Kenapa aku mengecek ponsel sepagi ini? Ia menggeleng pelan, menyalahkan cuaca yang terlalu sendu. ** Di studio, aroma kopi hitam memenuhi ruangan. Jennah duduk di depan meja gambarnya, menatap sketsa cincin yang sama seperti kemarin—namun kali ini, ia menghapus beberapa garis, menggantinya dengan lekukan yang lebih lembut. Ia berhenti, mengamati hasilnya. Tidak lagi dingin. Belum hangat sepenuhnya. Tapi ada usaha. Saat itulah ponselnya bergetar. Satu pesan masuk. Elio: Selamat pagi, Jennah. Bagaimana mata kamu hari ini? Masih terasa berat? Jennah menatap layar itu cukup lama. Ada sesuatu yang berbeda dari pesan itu—tidak mendesak, tidak manis berlebihan. Hanya perhatian yang diletakkan dengan hati-hati. Ia mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi. Jennah: Pagi. Tidak terlalu. Aku mencoba mengikuti saranmu. Lebih banyak istirahat. Balasan datang tak lama kemudian. Elio: Aku senang mendengarnya. Jangan lupa berkedip. Kedengarannya sepele, tapi sering dilupakan. Jennah tersenyum kecil. Senyum yang datang tanpa ia sadari. ** Siang menjelang, hujan belum juga berhenti. Gerimis kini berubah menjadi hujan ringan yang membuat kota terasa lebih lambat. Seraphine datang ke studio tanpa pemberitahuan, seperti biasa. Mantelnya basah, rambutnya diikat asal, tapi auranya tetap menyala. “Kau kelihatan… beda,” ujar Seraphine sambil menaruh tasnya. “Lebih hidup.” Jennah tidak menoleh. “Aku sedang bekerja.” “Itu bukan yang kumaksud,” Seraphine mendekat, melirik sketsa di meja. “Garis-garismu berubah. Lebih lembut.” Jennah terdiam sesaat. “Kau terlalu peka.” “Aku aktris, Jenn. Membaca emosi orang adalah pekerjaanku,” Seraphine menyeringai. “Ini karena Elio, ya?” Jennah menghela napas. “Dia hanya… hadir.” Seraphine menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Kadang, itu sudah lebih dari cukup.” Jennah mengangkat wajahnya dari sketsa dan melihat Seraphine tersenyum padanya, Jennah tahu senyum itu untuk menggodanya. "Apa yang kau inginkan, Sera? Kenapa kau bisa datang ke sini? Bukankah seharusnya kau sibuk syuting untuk iklan barumu?" Jennah masih menatap Seraphine saat bertanya. Seraphine beranjak ke sofa dan duduk di sana. Jennah kembali fokus ke desain yang dia kerjakan. "Hari ini tidak ada jadwal syuting, jadi aku ke sini. Aku cuma penasaran, ternyata Elio dulu senior kita ya?! Tapi kok, aku gak kenal dia ya?!" Seraphine menatap kukunya yang baru sana di mannie-padie di sebuah salon ternama. "Kamu gak ikut klub buku waktu itu. Aku dan Elio ada di klub buku waktu SMA." Jawaban Jennah membuat Seraphine mengangguk kecil. "Aku rasa... Elio sedang mendekatimu secara dewasa." Tebakan Seraphine membuat Jennah tersenyum, hatinya tersentuh tetapi hanya sentuhan kecil. "Kau terlalu banyak memerankan drama percintaan ya, akhir-akhir ini??! Kedekatan kita hanya sebagai teman lama yang kembali bertemu." Perkataan Jennah ditanggapi Seraphine dengan menggeleng, raut wajahnya berubah menjadi raut wajah seorang pengamat. "Tidak tidak, aku yakin Elio sedang mendekatimu. Aku tahu dia tipe pria seperti apa." Nada bicara Seraphine bagi Jennah terdengar seperti orang sok tahu. "Sudahlah, Sera, jangan ganggu aku bekerja, kalau kau ingin tetap berguna di sini pesan kan makan siang untuk kita berdua." Seraphine membentuk mulutnya menjadi huruf O sebelum menelepon asistennya untuk memesan makan siang. ** Menjelang sore, hujan berhenti. Langit tetap mendung, tapi ada celah cahaya di ufuk barat. Ponsel Jennah kembali bergetar. Elio: Aku kebetulan ada di dekat studiomu– tidak untuk bekerja. Kalau kamu belum ada rencana, bolehkah aku mengajakmu makan malam? Jennah membeku. Ia membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada kata kencan. Tidak ada nada mendesak. Hanya undangan yang jujur dan sederhana. Ia menatap jendela, lalu sketsa di mejanya. Ada perasaan ragu yang familiar—takut melangkah, takut berharap. Namun ada pula rasa lain, lebih pelan tapi menetap: aman. Jennah: Baik. Tapi tidak terlalu lama. Balasan Elio datang hampir seketika. Elio: Terima kasih. Aku jemput pukul enam, kalau tidak keberatan. Jennah menaruh ponsel, dadanya terasa hangat dengan cara yang asing. ** Restoran kecil itu terletak di sudut jalan yang tenang, dengan jendela besar menghadap taman kecil. Lampu-lampu kuning lembut menciptakan suasana hangat, kontras dengan udara malam yang dingin sisa hujan. Mereka duduk berhadapan, tidak terlalu dekat, tidak pula berjarak. “Kau masih suka teh chamomile?” tanya Elio sambil membuka menu. Jennah mengangkat wajahnya. “Kau ingat?” Elio tersenyum kecil. “Klub buku kita selalu menyediakannya. Kau bilang rasanya seperti rumah.” Jennah terdiam. Kenangan itu muncul tanpa perlawanan—rak buku tua, meja kayu panjang, dan seorang senior yang selalu diam tapi memperhatikan. Mereka berbincang tentang hal-hal ringan. Tentang buku yang mereka baca sekarang, tentang pekerjaan, tentang kota yang terasa semakin cepat. Tidak ada pertanyaan tentang masa lalu Jennah. Tidak ada tekanan untuk bercerita. Dan justru itu yang membuatnya merasa nyaman. “Aku tidak merasa harus menjelaskan apa pun,” ujar Jennah pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. Elio menatapnya lembut. “Karena kamu tidak perlu.” ** Saat mereka keluar dari restoran, udara malam terasa segar. Jalanan masih basah, memantulkan cahaya lampu seperti lukisan abstrak. Mereka berjalan berdampingan menuju mobil Jennah. “Aku tidak tahu apakah aku siap untuk sesuatu yang baru,” kata Jennah tiba-tiba, tanpa menatapnya. Elio berhenti melangkah. “Aku tidak menunggumu untuk siap,” ujarnya tenang. “Aku hanya ingin berjalan bersamamu, sejauh yang kamu izinkan.” Jennah menoleh. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, dunia terasa sunyi. “Aku menghargai itu,” ucap Jennah akhirnya. Elio mengangguk. “Itu cukup.” Malam itu, di rumahnya, Jennah berdiri di depan jendela, menatap kota yang kembali hidup. Ponselnya bergetar sekali lagi. Elio: Terima kasih untuk malam ini. Aku harap harimu besok terasa sedikit lebih ringan. Jennah mengetik balasan, lalu berhenti. Ia tersenyum kecil, sebelum akhirnya mengirim: Jennah: Hari ini… tidak sunyi. Ia menutup ponsel, dadanya terasa hangat—bukan oleh janji, bukan oleh harapan besar, tetapi oleh kehadiran yang tidak lagi membuatnya merasa sendirian. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jennah tertidur dengan perasaan bahwa es di hatinya tidak lagi utuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN