Elio menunggu Jennah di depan gedung apartemen Jennah. Penampilan Jennah malam itu membuat Elio tersenyum. Sederhana dan santai tetapi masih terlihat elegan khas seorang Jennah si bunga yang dingin.
"Aku ingin tahu, kenapa orang-orang memanggilmu si bunga dingin." Elio membuka percakapan saat perjalanan ke restoran di dalam mobil. Jennah tersenyum kecut.
"Mungkin karena aku tidak tahu bagaimana bersikap normal tanpa terlihat menyedihkan. Aku memilih untuk berhati-hati, kurasa." Ada sedikit kebingungan yang Jennah rasa kan ketika mendeskripsikan dirinya versi dirinya setelah menikah dengan Drake.
Pernikahannya dengan Drake Larson mengubah sebagian besar kepribadian Jennah. Ia yang dulu dikenal sebagai gadis yang pantang menyerah, gadis yang hangat berubah menjadi lebih pendiam, Hati-hati dan menjaga jarak.
Bahkan, ia sampai bisa melupakan masa-masa di sekolah menengah. Di mana Jennah menjadi gadis hangat dan senang membaca. Bahkan saat ia mengejar cinta pertamanya, Teman-teman sekelasnya tahu bagaimana gigihnya Jennah melakukannya.
Lampu-lampu restoran itu temaram, memantul lembut di permukaan meja kayu yang dipoles rapi. Musik instrumental mengalun pelan, nyaris tenggelam oleh percakapan rendah para tamu. Malam terasa hangat, berbeda dari beberapa hari lalu yang diguyur hujan.
Jennah duduk di hadapan Elio, jemarinya melingkar di cangkir teh hangat. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem, rambutnya dibiarkan tergerai, tidak terlalu rapi—namun justru terlihat lebih hidup.
“Elio,” ucapnya setelah jeda singkat, “aku jarang merasa setenang ini saat makan malam.”
Elio tersenyum tipis, tatapannya lembut. “Mungkin karena kamu tidak sedang berusaha menjadi siapa-siapa.”
Jennah terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Kata-kata itu masuk ke relung yang selama ini ia jaga rapat.
Mereka berbincang tentang hal-hal kecil—tentang buku yang belum selesai dibaca Elio, tentang proyek desain Jennah yang mulai berubah arah, tentang hal-hal sederhana yang tidak menuntut penjelasan panjang.
Dan di sanalah kenyamanan itu tumbuh, pelan, tanpa gembar-gembor.
Pintu restoran terbuka.
Drake Larson melangkah masuk bersama Sarah di sisinya. Pria itu mengenakan setelan gelap yang rapi, wajahnya tenang seperti biasa—wajah yang selalu Jennah lihat selama tiga tahun pernikahan mereka.
Namun kali ini, Jennah tidak menoleh.
Ia sedang tertawa kecil—tawa yang jarang, ringan—menanggapi sesuatu yang Elio ucapkan dengan nada bersahaja.
Langkah Drake terhenti sepersekian detik.
Matanya tertarik pada sosok Jennah sebelum pikirannya sempat mencegahnya.
Ia tidak sedang duduk tegak kaku seperti yang biasa ia ingat. Tidak tampak dingin, tidak berjarak. Jennah di hadapannya—atau lebih tepatnya, Jennah di hadapan pria lain—terlihat… hadir.
“Drake?” Sarah menyentuh lengannya. “Mejanya di sana.”
Drake mengangguk, memaksakan langkah.
Mereka duduk tidak terlalu jauh. Jarak yang cukup dekat untuk melihat, cukup jauh untuk berpura-pura tidak.
Drake mencoba fokus pada Sarah yang sedang berbicara tentang rencana pernikahan mereka—tentang dekorasi, tentang tamu undangan. Ia mendengar, tapi tidak benar-benar mendengarkan.
Pandangan matanya berulang kali tertarik ke meja seberang.
Cara Jennah mendengarkan Elio.
Cara ia mengangguk kecil sebelum menjawab.
Cara bahunya sedikit condong ke depan—tanda ia terlibat dalam percakapan.
Semua itu tidak pernah Drake lihat selama pernikahan mereka.
Dan tiba-tiba, ingatan itu datang tanpa izin.
Jennah yang selalu pulang lebih dulu ke kamar.
Jennah yang tidak pernah menuntut perhatian.
Jennah yang selalu berkata, “Aku mengerti.”
Ia dulu mengira itu kedewasaan.
Ia tidak sadar itu adalah batas yang Jennah ciptakan agar tidak terluka.
Aku yang memintanya seperti itu, pikir Drake pahit.
Pernikahan tanpa perasaan. Tanpa harapan.
Tangannya mengepal pelan di bawah meja.
Ia menyadari sesuatu yang tidak pernah ia akui—selama tiga tahun, Jennah memberinya ruang, waktu, dan kepercayaan, sementara ia hanya memberikan tanggung jawab kosong.
Dan kini, saat Jennah terlihat hidup di sisi pria lain, rasa bersalah itu menghantam lebih keras dari yang ia bayangkan.
Sarah menyadari perubahan itu.
“Kenapa kamu terus melihat ke sana?” tanyanya, suaranya tertahan.
Drake terdiam sejenak, lalu menjawab jujur, “Itu Jennah.”
Sarah tahu siapa itu. Semua orang tahu.
Ia menoleh, menatap meja seberang, melihat Jennah yang sedang tersenyum kecil.
“Dia mantan istrimu,” ucap Sarah dingin. “Dan kamu sedang bersamaku.”
“Aku tahu,” jawab Drake, cepat. Terlalu cepat.
Namun tatapannya kembali melayang.
Sarah menegakkan punggungnya. “Kau menyesal?”
Pertanyaan itu menggantung.
Drake tidak segera menjawab. Ia sendiri tidak tahu bentuk penyesalan apa yang sedang menggerogotinya.
“Aku…” ia menarik napas, “…baru menyadari bahwa aku mungkin telah menyia-nyiakan seseorang.”
Wajah Sarah mengeras. “Itu tidak adil.”
“Aku tidak bermaksud—”
“Tapi kamu melakukannya,” potong Sarah. “Kamu membawaku ke sini, tapi pikiranmu tidak ada di meja ini.”
Drake menutup mata sejenak. Ia tidak membantah.
Di meja seberang, Jennah akhirnya menyadari kehadiran Drake. Tatapannya bertemu dengan Drake hanya sepersekian detik—cukup singkat, cukup netral.
Tidak ada keterkejutan.
Tidak ada rasa sakit.
Hanya pengakuan sunyi bahwa mereka pernah berbagi waktu.
Ia kembali menatap Elio.
Dan Drake melihat itu.
Cara Jennah tidak lagi mencari reaksinya.
Cara ia memilih kembali ke percakapannya.
Saat itulah Drake benar-benar mengerti.
Ia tidak kehilangan Jennah hari ini.
Ia telah kehilangannya sejak lama—saat ia memilih tidak mencintai.
Elio menyadari perubahan ekspresi Jennah, meski ia tidak tahu penyebab pastinya.
“Kamu ingin pulang?” tanyanya lembut.
Jennah menggeleng. “Tidak. Aku baik-baik saja.”
Dan untuk pertama kalinya, itu bukan kebohongan.
Mereka menyelesaikan makan malam tanpa tergesa. Saat berdiri untuk pergi, Jennah melewati meja Drake dan Sarah.
Drake berdiri refleks. “Jennah.”
Ia menoleh.
“Aku—” Drake berhenti. Tidak ada kata yang pantas. Tidak ada penyesalan yang cukup.
“Jaga dirimu,” ucap Jennah akhirnya, suaranya tenang. Senyum kecil tersungging sebagai tanda kesopanan.
Ia pergi bersama Elio, langkahnya ringan.
Drake berdiri di sana, menatap punggung wanita yang pernah menjadi istrinya—wanita yang kini tidak lagi menunggu apa pun darinya.
Sarah meraih tasnya. “Aku mau pulang.”
Dan Drake tahu, malam itu, ia tidak hanya kehilangan masa lalu—tetapi juga kepercayaan bahwa ia selalu menjadi orang yang datang tepat waktu.
**
Di mobil, Elio melirik Jennah sekilas. “Kamu sungguh baik-baik saja?”
Jennah menatap jalan di depan. Lampu kota berpendar lembut.
“Iya,” jawabnya pelan. “Aku akhirnya tahu… aku tidak lagi tinggal di tempat yang sama.”
Elio tersenyum kecil, tanpa bertanya lebih jauh.
Dan di belakang mereka, seseorang baru saja menyadari bahwa cinta yang tidak diperjuangkan akan selalu berakhir sebagai penyesalan.