Zico membaca pesan itu bolak-balik. dia masih tidak menyangka wanita itu akan membalas pesannya, selama 2 minggu ini ia begitu ingin mengetahui kabar wanita itu. apakah dia baik-baik saja? apakah bayinya baik-baik saja? apakah bayinya tidak rewel? apakah mama memperlakukannya dengan baik? apakah dia betah tinggal dirumah besar? apakah dia bahagia tinggal disana?
berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya, telah banyak buku yang dibacanya. buku tentang kehamilan, tentang bayi dan lain sebagainya. semakin banyak dia membaca, semakin banyak kekhawatiran menghantuinya. wanita hamil sangat butuh support pasangannya. meskipun mereka bukan pasangan, tapi setidaknya dia ayah bayi itu. dia dia harus bertanggung jawab pada wanita itu. andaikan wanita itu tidak takut dan tidak membencinya, munkin dia bisa memberikan banyak dukungan bagi wanita itu.
namun karena wanita itu membencinya, yang bisa dilakukan hanyalah mengirim pesan secara berkala. berharap wanita itu baik-baik saja sampai waktu melahirkan tiba. tapi tidak disangka malam ini wanita itu membalasnya. apakah wanita itu sudah tidak membenci nya.? sudah tidak takut padanya? ahh.., sepertinya besok dia harus kerumah besar. melihat kondisi wanita itu dengan mata kepalanya sendiri. Zico ingin pagi segera datang. dia tidak sabar untuk bertemu dengan wanita itu.
namun ternyata keadaan berkata lain, pagi itu dia sudah bersiap-siap untuk pergi kerumah besar ketika Gery menelponnya. mengatakan bahwa salah satu perusahaan yang menggunakan softwarenya sedang mengalami serangan cyber dari pihak eksternal. akhirnya ia bersama beberapa anak buahnya pergi keperusaan rekanan itu untuk menghentikan serangan cyber yang berusaha melakukan pencurian data perusahaan.
ternyata hal itu memakan waktu cukup lama. setelah hampir 10 jam bermain di depan komputer, saling menyerang dan mempertahankan keamanan data base perusahaan, akhirnya sistem diperusahaan itu bisa di perkuat dan pihak eksternal yang ingin mencuri database bisa di hancurkan. seluruh anak buahnya bersorak-sorai gembira. direktur perusahaan rekanan memberi selamat kepadanya dan mengajaknya untuk minum-minum disuatu tempat untuk merayakan kemenangan mereka. namun Zico menolak, dia tidak memiliki waktu untuk itu. yang ingin dilakukannya adalah pergi kerumah besar dan melihat kondisi wanita itu secara lansung.
tanpa didampingi Gery, Zico melajukan mobilnya menuju rumah besar. waktu menunjukkan pukul 18:38 WIB. seharusnya wanita itu belum tidur kan? Zico melajukan mobilnya dengan kencang. dia hanya berharap tidak mengalami kemacetan.
hampir stengah jam Zico berkendara sebelum akhirnya dia sampai di ruangan besar. di depan rumah ia disambut oleh security yang segera membantunya memarkirkan mobilnya .tanpa salam Zico memasuki rumah tempat dirinya dibesarkan itu. dia melewati berbagai ruangan sebelum akhirnya tiba diruangan keluar.
di ruangan itu dia melihat mama dan ke dua iparnya sedang duduk bercengkrama menikmati teh dan cemilan mereka. sementara kedua keponakannya bermain-main tidak jauh dari situ.
"dimana dia kak? kenapa tidak ikut minum teh bersama kalian.? " Zico mengalihkan pertanyaannya pada Qintan dan Retha, yang saling berpandang-pandangan tanpa menjawab pertanyaan.
"ah, mungkin dia dikamarnya.aku akan mencarinya kesana. silahkan dilanjut lagi kegiatan kalian. "
Zico berlalu pergi kelantai 2 menuju kamarnya. dari awal ia sudah menempatkan Nisha di kamar itu, jadi dia yakin Nisha akan berada disana. sesampainya di depan kamar, Zico segera mengetuk pintu. beberapa kali dia mengetuk pintu namun tidak mendapatkan jawaban. apakah wanita itu sedang tidur? tapi ini masih jam 7 malam, tidak mu gkin wanita itu sudah tidur bukan? apa memang wanita hamil tidurnya bida lebih awal?
karena penasaran, dengan pelan-pelan Zico membuka pintu kamar itu. ternyata pintu kamar itu tidak di kunci. dengan pelan Zico melongokkan kepalanya berusaha mencari sumber kehidupan di kamar itu. secara mencari dengan detail, Zico tidak melihat ada tanda-tanda orang di dalam kamar itu.
Zico memasuki kamar lamanya itu. kamar itu masih sama persis seperti terakhir kali ia meninggalkannya. tidak ada tanda-tanda kamar itu ditempati orang lain, apalagi seorang wanita. Zico memeriksa lemarinya, berusaha menemukan barang-barang Nisha namun ternyata nihil. dia tidak menemukan apapun. Zico mulai sedikit panik, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
kemudian Zico memeriksa kamar mandi, seperti dugaannya tidak ada apa-apa di kamar mandi itu, seperti kamar mandi yang sudah lama tidak di gunakan. tidak ada percikan air di kamar mandinya, yang menandakan bahwa memang tidak ada orang yang pernah memakainya. lalu kemana Nisha? dari awal dia sudah menempatkan gadis itu di kamarnya, tapi kenapa keberadaanya tidak ada? ada dimana dia?
Zico menjadi panik, berbagai pikiran merasuki kepalanya. dengan marah ia segera pergi ke ruang keluarga.
"dimana dia ma!? kenapa dia tidak ada dikamar ?" tanya Zico dengan nada marah. biasanya dia akan berkepala dingin ketika menghadapi masalah, namun entah kenapa bila berhubungan dengan wanita itu dia tidak bisa menahan emosinya.
"dia berada di tempat dimana seharusnya dia berada. " mama menjawab dengan santai. sementara kedua kakak iparnya nampak sangat ketakutan.
"tempatnya adalah dikamarku ma. dia sedang mengandung anakku, jadi dia seharusnya berada diruangan ini berkumpul dengan kalian sebagai keluarga.. "
"keluarga? keluarga katamu.!? dari awal mama sudah menolaknya, kenapa kamu memaksa dia untuk tinggal disini? mama tidak menerima nya sebagai keluarga, mama juga todak akan menerima anaknya.! wanita tidak jelas seperti itu jangan harap bisa mendapatkan pengakuan dari mama..! "
"ma..! anak yang di kandungnya cucu mama, kalau mama tidak bisa menerima dia, setidaknya mama bisa menerima bayi iyu.. "
"tida akan.. ! tidak akan pernah, mama tidak akan pernah menerima anak dari wanita itu ..!" mama tetap bersikukuh, kemarahan memenuhi rongga d**a Zico, dia tidak menyangka mamanya masih menolak Nisha. dia berpikir wanita itu sudah baik-baik saja, tapi ternyata tidak seperti perkiraannya.
"lalu dimana dia ma.? mama tidak mengusirnya kan.?? " tanya Zico dengan perasaan ketar-ketir, dia tidak bisa membayangkan kalau mamanya benar-benar mengusir wanita itu.
" sudah mama bilang, dia berada di tempat seharusnya dia berada.! " mama mengatupkan mulutnya rapat-rapat, pertanda tidak ingin menjawab pertanyaan Zico lagi. akhirnya dengan pasrah Zico berlari kesana-kemari berusaha mencari keberadaan wanita itu dirumah besar.
Zico berlari menuju kamar bu Lastri, kepala pelayan yang sangat di percayainya. dia menanyakan keberadaan Nisha pada beliau. Zico masih sedikit lega mengetahui keberadaan Nisha masih dirumah ini. dengan segera Zico berlari keruangan yang letaknya paling ujung dari rumah itu. kemudian dengan tidak sabar Zico segera membuka pintu itu.
BRAAAAAKK..!!!
Zico melihat wanita itu sedang menyetrika tumpukan baju yang jumlahnya puluhan kilo. Zico sangat marah melihatnya. dia bukan marah pada Nisha, dia marah pada keluarganya yang memperlakukan Nisha seperti itu.
"apa yang kamu lakukan.?? "
dengan wajah pucat pasi wanita itu melihatnya, tatapan matanya tampak tidak fokus, dan di detik berikutnya wanita itu jatuh tak sadar kan diri. sebelum Nisha terjatuh ( dan akan menimpa setrika yang sedang di pegangannya), dengan sigap Zico segera menagkap tubuh wanita itu. meraihnya kedalam pelukannya.
***