seperti saran dari dokter Sofia, Zico mengistirahatkan Nisha selama 3 hari dirumah sakit. Rutinitasnya masih tetap sama, dipagi hari Nisha masih mengalami muntah-muntah yang sangat parah, menjelang siang dia akan baik-baik saja. begitu malam tiba nafsu makannya akan naik berkali-kali lipat. disitu peran Gery sangat dibutuhkan.
selama 3 hari berturut-turut Zico memilih untuk menginap di kamar rumah sakit itu. sebanarnya dia ingin tidur di dekat Nisha ( untuk memperhatikan kondisi wanita itu),namun karena Nisha masih takut padanya akhirnya ia memilih untuk tidur di sofa.
ketika ada masalah pada perusahaan yang membutuhkan kehadirannya, Zico akan meninggalkan Nisha dalam pengawasan perawat. kemudian dengan cepat dia akan kembali di samping wanita itu ketika semua masalah sudah selesai.
sekarang tibalah hari terakhir dirumah sakit. sepertinya Zico harus benar-benar serius membicarakan tentang tempat tinggal wanita itu selanjutnya.
selang infus sudah di kelas dari tangan Nisha, para perawat juga membantu mengganti bajunya. Nisha sudah siap pulang. Zico mendekati Nisha, berusaha untuk berbicara dengan wanita itu secara intens.
"Nisha... boleh aku memanggil mu Nisha.??" tanya Zico yang di jawab anggukan oleh Nisha.
"sepertinya ada yang harus kita bicarakan, sepertinya kamu sudah bisa menebaknya.? "
"tempat pulang? bukankah kita akan pulang kerumah itu.? " tanya Nisha dengan polos.
"Nisha, aku tidak akan membawamu kerumah terkutuk itu lagi. sekarang aku bertanya padamu, apakah kamu masih takut padaku.?" dengan ragu-ragu Nisha menganggukkan kepalanya, membuat Zico menghela nafas berat.
"apa ketakutan masih sama seperti dulu.?? " Nisha menggeleng-gelengkan kepalanya.
"apa aku terlihat menakutkan selama 3 hari ini.?? " Nisha kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.
"apa kamu masih menganggap ku pria jahat.??" kembali dengan ragu-ragu Nisha menganggukkan kepalanya membuat Zico kembali menghela nafas berat.
"Nisha.., meskipun kamu masih menganggapku sebagai pria jahat. tapi aku tidak punya pilihan lain selain membiarkan mu tinggal bersamaku. aku tidak bisa membiarkan kembali kerumah terkutuk itu lagi dan menyaksikan kamu diperlakukan semena-mena oleh keluarga ku. "
"aku juga tidak membiarkan mu seorang diri terlepas dari pengawasan ku. kamu harus tinggal bersama ku agar aku bisa tenang. aku tidak akan menyakitimu, kamu boleh menghukum ku semaumu jika aku melanggar janjiku. kamu mau tinggal bersamaku kan.?? "
Zico bertanya dengan putus asa, berharap Nisha akan menerima tawarannya. Nisha terdiam, wajahnya tampak sangat bingun. kebingungan ini di manfaatkan Zico untuk kembali membujuknya.
"aku berjanji tidak akan menyentuhmu sedikit pun, kita akan tidur di tempat yang terpisah, kamu bisa mengunci kamarmu sesuka hatimu. aku hanya ingin mengawasi pertumbuhan bayi itu dengan mata kepalaku sendiri. melihatmu mendapatkan perlakuan tidak menyenagkan dari keluargaku membuatku tidak bisa percaya pada orang lain. kamu mau kan tinggal bersamaku.? "
Nisha masih tampak sangat kebingungan, dengan keberanian yang di kumpulkan nya dia menatap mata Zico berusah mencari-cari kebohongan dan kelicikan di mata itu. tapi yang di lihatnya sangat berkebalikan dengan yang di bayangkan. mata itu tampak tulus, jujur dan bisa di percaya. apakah dia harus mempercayai mata itu.?
tapi pemilik mata tulus itu pernah menyakitinya, apakah kata-kata orang yang pernah menyakiti bisa di percayai.? apakah pria itu bisa di percayainya.? harus kah dia memberikan ke perayaannya pada pria itu.?
lama Nisha memikirkan dan menimbang-nimbang. hingga akhirnya Nisha menemukan suatu solusi yang dulu pernah pria itu tawarkan padanya.
"a... aku mau tinggal bersamamu dengan 1 syarat. " Nisha berusaha memberanikan diri.
"apa syaratnya ? katakan padaku?? "
"perjanjian. "
"perjanjian..! perjanjian apa.?? "
"perjanjian bahwa kamu tidak akan menyakitiku lagi... "
"ya Tuhan.., aku tidak akan menyakitimu...! ada bayiku di dalam tubuhmu. mana mungkin aku menyakitimi.? aku membawamu keluar dari rumah besar agar tidak ada orang yang menyakitimu..."
"tapi aku butuh kepastian, kamu harus berjanji secara tertulis kalau kamu tidak akan menyakitiku lagi, bila kamu tidak melakukannya aku tidak akan mau tinggal bersamamu. "
"baik, baiklah ...apapun yang kamu minta aku akan menurutinya. aku akan menghubungi pengacaraku sekarang. "
Zico menghubungi pengacara aji. karena ia sedang tergesa-gesa, dia menyampaikan perjanjian itu hanya melalui panggilan video .pengacara Aji mengetik semua isi dari perjanjian yang dibuat oleh Nisha. setelah selesai, Zico menutup panggilan videonya.
"kapan kita akan tanda tangan.? " tanya Nisha. setelah beberapa kali di hadapkan pada perjanjian-perjanjian sedikit membuatnya lebih memahami mengenai tentang perjanjian yang melibatkan kedua belah pihak.
"aku akan menyuruh pengacara Aji membawa berkasnya ke apartemenku, sekarang kita pulang dulu. dengan bantuan bu Lastri, semua barang-barang mu sudah ada di apartemenku. "
"apartemen.? apa itu semacam rumah susun.? " tanya Nisha dengan polos membuat Zico tertawa ngakak..
"hahaha.. ya anggap saja seperti itu.?? "
Nisha sedikit terpana melihat tawa di wajah Zico. selama ini ia tidak pernah sekalipun melihat pria itu tertawa ketika sedang tertawa, pria itu tidak nampak menakutkan lagi. bahkan jauh dari kesan menakutkan ,melainkan sangat tampam. Nisha cepat-cepat memalingkan pandangannya. merasa tidak nyaman dengan perasaan yang timbul .
"ayo segera kita keluar dari sini. bukankah selama beberapa hari ini kamu sangat ingin keluar dari rumah sakit ..?"
Nisha menganggukkan kepalanya, kemudian dia mulai mengikuti Zico. sebenarnya Zico sangat ingin mengendong wanita ringkih itu. namun karena dia tahu sikapnya yang seperti itu akan membuat Nisha ketakutan, akhirnya Zico membatalkan niatnya tersebut.
***
Nisha memandang ruangan itu dengan takjub. selama ini dia melihat di TV tampilan sebuah rumah susun. rumah ini jauh lebih berbeda dari tampilan yang dilihatnya di tv. lebih mirip dengan hotel kebanding rumah susun. benarkan rumah susun bisa di desain semewah ini ? Nisha begitu tercengang.
"be... benarkah ini rumah susun.??" Nisha bertanya dengan tergagap. membuat Zico kembali tertawa, entah itu karena kepolosannya, Nisha benar-benar menghibur Zico yang hidupnya terbilang jauh dari kata humor.
"iya..,ini rumah susun, ayo aku tunjukan kamarmu."
apartemen mewah itu di desain hanya untuk pria single yang memilih menghabiskan waktunya sendiri (atau bersama pasangannya tanpa menikah).meskipun tergolong besar, namun hanya terdapat 1 kamar tidur di dalamnya. sangat terlihat bahwa pria penghuni apartemen itu sangat tidak ingin membuat keluarga besar.
ukuran kamar itu sangat luas, bahkan lebih luas dari rumah Zico yang ada dirumah besar. desain manly sangat mendominasi disetiap sudut ruangan. tidak ada sentuhan feminin di dalamnya. sepertinya Zico mendesain kamarnya seperti karakternya. dingin dan misterius.
"ini kamarmu. kamu akan tidur disini, kamu bisa menguncinya dari dalam. ". Nisha memperhatikan keseluruhan isi dari ruangan itu.kamar yang sangat luas itu membuatnya sedikit tidak nyaman.
"apa tidak ada kamar lain.? ka... kamar ini san... sangat luas, a... aku tidak mungkin betah... "
"kamar yang ada disini hanya ada 1.ini kamar tidur ku. mulai saat ini kamu akan tidur disini... "
"berdua..?? "
***