BAB 18 : Ngidam di tengah malam

1103 Kata
tengah malam Nisha terbangun dari tidurnya ( atau pingsannya) dia merasa seseorang mengenggam tangannya dengan hangat. kehangatan itu mengingatkannya pada kehangatan seorang ibu, perlahan-lahan Nisha membuka matanya dan sangat berharap semua yang dilaluinya selama ini hanya mimpi belaka dan berharap ibunya ada dk sisinya, mencintai dan menyayangi seperti biasa. namun ternyata bukan genggaman seorang ibu yang di dapatkannya. rambut orang itu terlalu pendek bila di bandingkan dengan rambut ibunya. dan tubuhnya juga tidak menunjukkan gesture seorang wanita. Nisha memperhatikan wajah itu dengan seksama, dan betapa kagetnya dia saat mengetahui bahwa orang yang menggenggam tangannya adalah ayah dari bayinya..! " dengan spontan Nisha menarik tangannya dari genggaman Zico. reaksi spontan tubuhnya adalah menjauhi orang itu. Nisha terduduk dan beringsut berusaha menjauh dari Zico namun karena ada selang infus di tangannya dia tidak bisa bergerak sesuka hatinya. pada akhirnya Nisha hanya terduduk di ranjang rumah sakit itu. Nisha memperhatikan Zico, lelaki itu masih tertidur, tidak ada tanda-tanda lelaki itu terganggu dengan kehadirannya. Nisha melihat kanan kiri dan ya.., akhirnya dia kembali kerumah sakit dimana dirinya di rawat terakhir kali. Nisha mengingat-ingat kejadian sebelum dirinya pingsan . dia sedang menyetrika ketika pintu ruang tempatnya menyetrika terbuka. ingatan terakhir di memorinya adalah kemarahan ysng tampak sangat jelas di wajah Zico. apakah pria itu sedang marah pada nya.? apakah dirinya sudah melakukan kesalahan lagi..?? KRUUUUKK... KRUUUUUK.. perut Nisha berbunyi dengan sangat keras. dia sangat kelaparan, dia ingat malam ini ia telah melewatkan makan malamnya karena harus menyetrika puluhan kilo pakaian. Nisha memegang perutnya yang terasa perih karena lapar, dia mulai melihat ke sekelilingnya berharap ada makanan di kamar itu. pandangan matanya tertuju pada kulkas 2 pintu yang terletak beberapa belas meter dari ranjangnya. dengan hati-hati Nisha mengambil cairan infus dan pengaitnya. dia berencana berjalan ke arah kulkas sambil memegang cairan infusnya. namun rencana tinggal rencana, karena kurang hati-hati cairan infusnya terjatuh dan mengenai kepala Zico. merasa ada sesuatu yang terjatuh di kepalanya, Zico lansung terbangun dari tidurnya. dengan linglung dia terbangun Lansung berdiri. "ada apa.? ada apa.?? " tanyanya dengan bingung, matanya menatap kesana kemari dan tatapan terakhirnya jatuh pada Nisha. "ada apa.? hah... ? ada yang terjadi.? " Zico mendekati Nisha berusaha melihat kondisi wanita itu dengan jelas. Nisha tertunduk merasa takut dan juga malu. dengan takut-takut Nisha menunjuk cairan infus yang terjatuh di atas ranjang. pandangan Zico mengikuti arah yang ditunjuk Nisha. "ini kenapa bisa jatuh. ?" Zico bertanya sambil mengambil cairan infus kemudian memasangnya kembali di penggait di samping tempt tidur. setelah selesai melakukannya ia mulai menatap Nisha dengan intens. "kamu sudah bangun? bagaimana perasaanmu? apakah kamu masih pusing? ada bagian ysng sakit?" Zico bertanya dengan khwatir dia ingin mendekat dan memeriksa tubuh wanita itu secara lansung, tapi ia khwatir wanita itu akan takut padanya. maka dari itu oa berusaha menahan diri. Nisha menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menjawab setiap pertanyaan yamg di ajukan Zico. kepalanya tidak pusing, tidak ada bagian dari tubuhnya yang sakit. kesalahan hanya adanpada perutnya yang perih karena kelaparan. namum Nisha terlalu malu untuk mengakui hal itu. KRUUUUK... KRUUUUKK perut Nisha kembali berbunyi dengan keras, dengan cepat Nisha menutup perutnya berusaha untuk membuat Zico todak mendengar suara-suara yang memalukan itu. Nisha menundukkan kepalanya karena merasa malu, Zico tersenyum melihat kelakuannya. "kamu lapar.?? " tanyanya dengan lembut. Nisha menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha untuk mendapatkan harga dirinya. "ingin makan apa.? aku akan membelikannya.? " "ak... aku tidak mau makan." KRUUUUK.... KRUUUUK... perutnya kembali berkhianat. ingin rasanya Nisha menenggelamkan wajahnya dibawah kasur dan tidak melihat pria itu lagi. Zico tersenyum lucu melihat tingkah laku Nisha. mungkin kalau ia mengenai wanita itu lebih jauh, dia akan menyukai karakternya . "ada makanan yang ingin dimakan.? aku akan mendapatkan semuanya .katakan padaku kamu mau makan apa.? " Zico kembali bertanya dengan lembut. Nisha menunduk dalam-dalam. terlalu malu dsn takut untuk menatap mata Zico secara lansung. perutnya kembali berteriak-teriak ,lambungnya semakin perih.tanpa berpikir lagi Nisha lansung mengatakan apa yang ingin di makannya. " aku ingin martabak, seblak ,ayam pedas, ceker pedas, minuman coklat dan buah pear. " Nisha mencerocos tanpa henti. setelah selesai mengatakan apa yang di inginkanannya ia langsung menyembunyikan wajahnya di balik selimut meninggalkan Zico yang masih tercengang tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. "kamu yakin mengiginkan semuanya.?? " tanya Zico dengan tidak yakin. bukannya ia malas untuk mecarikan semua makanan itu, namun ia tidak percaya seorang wanita dengan tubuh kecil akan mampu memakan semua makanan itu. "hmmm. " Nisha menjawab dengan singkat .masih menyembunyikan wajahnya dibalik selimut, Zico tersenyum lucu melihat itu. "baiklah, tunggu disini saya akan membawa semua makanan yang kamu mau. " kemudian Zico berbalik dan keluar dari ruangan rumah sakit itu. sebelum benar-benar meninggalkan rumah sakit, Zico meminta para perawata untuk menjaga Nisha. Zico melihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 00:17 WIB. entah dimana ia akan mendapatkan semua makanan itu. Zico membuka aplikasi pesan antar makanan online, namun sebagian besar rumah makan sudah tutup. akhirnya ia mengandalkan bantuan terakhir gang bisa di hubungi, Zico menghubungi asisten Gery. pada deringan pertama Gery lansung mengangkat panggilan teleponnya. " iya pak " saya pak? " suara Gery terdengar serak .seperti suara orang yang sedang mabuk namun berusaha untuk mendapatkan kesadarannya kembali. "ada dimana.?? " "saya... saya sedang diluar pak." " Bagus kalau begitu, bantu saya mendapatkan makanan-makanan ini. martabak, seblak, ayam pedas, ceker pedas, minuman coklat dan buah pear. aku memberimu waktu stengah jam untuk mendapatkan semuanya. temui aku dirumah sakit X jam 00:50 WIB. sudah, itu saja. " "hah? pak..? pak..?? bisa di ulangi lagi." Zico menutup panggilan telepon nya, karena tidak ingin kembali ke kamar Nisha dengan kondisi tangan kosong. akhirnya Zico pergi ke minimarket terdekat untuk membeli makanan yang mudah di dapatkan. Zico kembali ke kemar Nisha dengan hanya membawa pear dan minuman coklat. kedatangan Zico disambut dengan antusias. mata Nisha tampak berbinar-binar menatap bungkusan di tangan Zico membuat Zico tersenyum geli. "maaf membuat mu kecewa, yang kubawa hanya buah pear dan minuman coklat saja. makanan mu yang lain akan datang sekitar 20 menit lagi. " Zico menyerahkan bungkusan ke tangan Nisha yang dengan cepat lansung menyambar nya. Nisha membuka bungkusan itu dan lansung menyambar buah pear. sebelum ia berhasil memasukkan buah itu ke mulutnya, Zico segera merampas buah yang ada di tangannya itu. "buahnya belum di cuci, aku cuci dulu. " Zico mencuci semua buah itu, menyisahkan Nisha yang menatap buah itu dengan lapar. selesai mencuci, Zico lansung memberikan buah itu pada nisha yang lansung memakannya dengan lahap. "pelan-pelan makannya, masih banyak makan lain yang belum datang. " "heeemmmm.. " Nisha tidak menghiraukan kata-kata Zico. yang di pikirkannya sekarang adalah bagaimana agar perutnya tidak lagi lapar. ketikan tengah asik menatap Nisha yang sedang menyantap buah. ponsel Zico berdering, ternyata Gery yang menelponnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN