Tidak terasa, dua bulan sudah berlalu sejak patah hati begitu dalam di rasakan Dio. Orang-orang yang melihatnya kini, mungkin mengira jika Dio sudah baik-baik saja. Dio tertawa, menggoda adiknya, sibuk dengan segala pekerjaannya. Benar-benar nampak biasa aja. Tapi hati, hanya Dio yang tahu bagaimana kerasnya posisi Aurora bertahan. Sosok itu seolah permanen, entah apa yang di inginkan Tuhan kepadanya. Dia tidak ingin tenggelam dan memuja sosok yang bukan lagi miliknya, dia ingin mencoba melangkah dan menemukan sosok lain, tapi hatinya tidak pernah berhasil. Menggeser Aurora di hatinya sama seperti menulis di pasir pantai dan Aurora adalah ombaknya. Disaat Dio menulis nama lain, Aurora akan datang dan menghapusnya. Hingga akhirnya dia merasa pasrah. Terserah maunya Tuhan, dia akan ikut. T

