"Ra, udah mau terlambat sayang" Syeril langsung memberi kode agar Aurora segera menyudahi sarapan nya dan pergi ke kampus.
"Iya ma. Rara pamit dulu ya" Aurora yang mengerti dengan kode yang di berikan sang mama langsung menyudahi sarapan. Meraih tas yang ada di kursi sebelahnya lalu bangkit untuk mencium tangan mama dan papanya juga sang nenek.
"Bilangin jangan ngebut" pesan Ega.
"Iya Pa" sahut Aurora sambil melangkah pergi menjauh dari ruang makan.
Setelah Aurora pergi, ruang makan terasa hening.
"Maksud mama apa?" Tanya Syeril kemudian.
"Apa?"
"Maksud mama bilang Rara mau di jodohin apa?"
"Itu kamu denger, harusnya kamu juga bisa ngerti maksudnya"
"Mama mau jodohin Rara? Aku gak setuju" tegas Syeril.
"Mama gak minta persetujuan kamu"
"Aku mamanya!" Bentak Syeril sambil bangkit, tangannya terkepal, hampir dia menggebrak meja.
Ega langsung menyentuh lengan Syeril agar tidak lepas kendali, bagaimanapun Laksmi adalah ibu kandung Syeril.
"Mama itu neneknya Rara dan Rara satu-satunya cucu mama"
"MA!"
"Kamu makin berani bentak mama?! Mana sopan santun kamu Syeril?" Laksmi menatap tajam Syeril.
"Ma, nanti kita bicarakan lagi ya. Rara anak aku satu-satunya. Aku ayahnya dan aku yang bertanggung jawab dengan hidupnya." Ucap Ega kemudian kepada Laksmi.
"sayang, ayo" ajak Ega pada Syeril. Istrinya perlu di tenangkan. Biar urusan dengan mertuanya dia bicarakan nanti.
Ega membawa Syeril ke kamar. Terlihat jelas jika Syeril masih kesal. "sayang, tenang. Tarik napas" suruh Ega.
Seyeril melakukan perintah Ega, dia menarik napas dalam lalu mengembuskannya. "aku kesel"
"iya tahu. Tapi jangan sampe lost control. Tenang"
"mama ngeselin banget mas. Gak bisa dong Rara di jodohin gitu aja. Aku gak terima pokoknya. Mau anak presiden, anak sultan, bodo amat. Aku ga peduli."
"iya sayang. Iya" Ega membawa Syeril ke dalam pelukannya.
"nanti aku bicarain sama mama. Kamu jangan marah-marah. Inget, mama kamu loh itu"
"tapi nyebelin"
"hush. Kita udah ada di titik ini, gak mau kan kalau sampai mundur lagi?
Syeril menggeleng dalam pelukan Ega. Hubungan dia dengan Laksmi memang bisa di katakan tidak akur meskipun Syeril adalah anak kandung Laksmi. Sifat Laksmi yang egois menjadi penyebab hubungan tidak akur ibu dan anak tersebut. Sejak kecil, Laksmi selalu mengatur kehidupan Syeril. Awalnya Syeril tidak keberatan, karena itu Laksmi, ibu kandungnya sendiri dan menganggap bahwa apa yang Laksmi lakukan normal.
Tapi sejak keinginan dan hak berpendapatnya di bungkam, Syeril sadar bahwa Laksmi egois. Hingga saat memasuki bangku sekolah menengah atas, hubungan Syeril dan Laksmi semakin tidak akur karena Syeril selalu membantah apa yang Laksmi perintah. Dia ingin menjalani hidup dengan apa yang dia inginkan. Setelah lulus sekolah, Syeril pindah ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan, hubungan mereka benar-benar terputus. Syeril hanya menghubungi ayahnya saja.
Kehadiran Ega membawa perubahan dalam hubungan ibu dan anak tersebut. Secara perlahan, Ega mulai mendamaikan Syeril dan Laksmi, meskipun rasanya tidak akan pernah berhasil, tapi setidaknya mereka bisa kembali menjalin hubungan.
Ega juga mengajarkan agar Syeril bisa bersikap lebih baik dan sopan. Jika masih sulit melakukan hal tersebut karena kesal, maka Ega meminta agar Syeril melakukan hal itu atas dasar sopan santun terhadap orang lebih tua.
"nanti aku bicara sama mama sendirian. Kamu jangan ikut"
"tap-"
"gak ada nego ya sayang." tegas Ega. Bisa terjadi perang dunia ke tiga kalau Syeril ikut berbicara. Apalagi sifat mertuanya itu memang tidak pernah berubah sejak dulu. Hubungan mereka membaik juga karena dia yang lebih banyak mengatur Syeril untuk menahan emosi.
"pokoknya, alasan apapun, aku gak setuju Rara di jodohin"
"iya sayang. Aku juga gak setuju."
***
"jadi ma, mama beneran mau jodohin Rara?" Ega langsung masuk kepada pertanyaan inti, tidak ada dan tidak perlu basa-basi. Syeril masih berada di kamar. Sengaja Ega menyuruhnya tetap di sana karena dia akan berbicara dengan ibu mertuanya, Laksmi.
"beneran. Kenapa, kamu keberatan juga?" tanya Laksmi dengan ekspresi sinisnya.
Ega mengangguk "iya. aku keberatan ma."
"terserah, tapi mama akan tetap jodohin Rara"
"ma, aku papanya. Kalau bicara lebih berhak, aku yang lebih berhak mengaturnya."
"dia cucu mama satu-satunya"
"dia anak aku satu-satunya"
"mama tetep mau jodohin Rara"
Ega menghela napas, mencoba sabar "kenapa ma? kenapa mama kekeh pengen jodohin Rara?"
"karena ini janji almarhum"
"papa?"
Laksmi mengangguk "nama calonnya Arfi, dia cucu dari teman Papa Agung. Dia datang ke rumah bersama kedua orang tuanya. Menjelaskan tentang adanya perjodohan. Selama ini mereka berada di luar negeri. Teman papa Agung, Pak Wira, sekarang sedang sakit, dia juga baru mengatakan tentang perjodohan itu sekarang."
"Ma, maaf. Keinginanku dan hal yang selalu aku usahakan adalah Rara bisa hidup dan menikah dengan orang pilihannya, orang yang dia cintai"
"cinta kan bisa datang. Bejalan waktu, Rara bisa cinta sama Arfi"
"itu kalau keduanya ikhlas dan sama-sama bersedia menjalani."
"Ya Rara juga harus ikhlas lah"
"aku tetap tidak setuju ma"
"aku gak minta persetujuan kamu Ega"
"terus mama kira pernikan itu bisa tetap berjalan?, aku wali nya ma"
"mama bisa urus wali hakim"
"dan Rara tidak akan pernah setuju."
"mama gapeduli"
"aku peduli ma! Rara anakku! sejak dia lahir. Aku selalu berusaha untuk membahagiakan dia. Kebahagiaan Rara, prioritas aku" tegas Ega.
"terserah, yang pasti keputusan mama sudah bulat"
"dan keputusan aku juga tidak akan berubah"
Laksmi menatap tajam Ega, dia bangkit dan pergi menuju kamarnya.
Ega menghela napas, mengusap kasar wajahnya. Ibu mertuanya benar-benar luar bisa dalam menguji kesabarannya. Kepalanya sudah terlalu keras untuk untuk di sebut batu, karena batu saja bisa hancur jika di pukul.
***
Aurora sudah kembali ke rumah, tidak seperti biasanya, dia merasa jika suasana di rumah kali ini cukup sepi. Sang mama yang akan dia temui di ruang keluarga dengan tontonan drama Chinanya kini entah berada di mana.
Melangkahkan kakinya ke lantai dua, dia masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Setelah itu, dia melangkah menuju kamar kedua orang tuanya.
"ma, mama di dalam? Rara masuk ya" izin Aurora.
Setelah mendengar sahutan dari dalam kamar, Aurora membuka pintu dan masuk. "mama kenapa? sakit?" tanya Aurora sambil menutup kembali pintu kamar.
"engga kok. Mama sehat" jawab Syeril yang tengah duduk bersandar di kepala tempat tidur.
"tumben gak di bawah, aku pulang biasanya liat mama nonton drama China"
"lagi gak mood"
Aurora tersenyum, lalu naik ke atas tempat tidur dan berbaring dengan paha Syeril sebagai bantal.
"mama berantem sama nenek?"
"gak berantem sayang, cuma beda pendapat aja" Syeril mengusap lembut kepala Aurora.
"gara-gara apa yang nenek bilang pas sarapan tadi?"
Syeril mengangguk.
"mama setuju?"
"engga dong sayang. Kalau mama setuju, gak akan ada beda pendapat judulnya"
Aurora tertawa pelan "Rara juga gak mau di jodohin ma"
"iya sayang. Rara bebas dengan pilihan Rara. Mama mau Rara nikah sama orang yang Rara cinta"
"kaya mama dan papa?"
"iya dong. Meskipun papa kamu selalu bikin mama darah tinggi, tapi mama cinta banget"
"terus nenek gimana ma? nenek pasti marah"
"nenek biar jadi urusan mama sama papa. Rara jangan khawatir"
"makasih ya ma, pa"
"sudah tugas mama dan papa sayang. Kita berdua akan selalu memastikan jika Rara bisa melakukan apa yang Rara inginkan."
"Rara beruntung banget punya orang tua kaya mama dan papa"
"begitupun dengan mama dan papa. Kita sangat beruntung punya Rara di kehidupan kita"
Aurora tersenyum, Tuhan telah memberikan banyak jenis kenikmatan kepada setiap manusia, dan dari begitu banyak jenis itu, dia sangat bersyukur karena Tuhan memberikan nikmat orang tua yang luar biasa. Orang tua yang tidak pernah memaksakan kehendak mereka kepada anak. Tidak pernah menyepelekan pendapat anaknya. Menghargai keputusan anak. Syeril dan Ega benar-benar sosok yang luar biasa.
Jika Tuhan mengizinkan, di kehidupan yang akan datang dia akan meminta untuk kembali menjadi anak dari Ega dan Syeril.
Usapan hangat Syeril yang tidak berhenti di kepala Aurora benar-benar membuat nyaman, hingga perlahan tapi pasti, Aurora mulai mengantuk dan masuk ke alam mimpi.
***