Empat Belas: Di jodohkan

1644 Kata
Lagi-lagi Aurora menangis dan penyebabnya adalah orang yang sama. Bicara lelah. Ya, dia sangat lelah, andai melupakan dan menghapus rasa cinta begitu mudah, Aurora sangat ingin melakukannya. "Say-" Ucapan Syeril langsung terhenti saat melihat sang buah hati tengah menangis sendu di atas tempat tidur. Dengan cepat dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya lagi. "kenapa sayang?" Syeril berdiri di hadapan Aurora, menangkup wajah Aurora. "mama" Aurora langsung memeluk Syeril dan menangis lebih keras. "sakit ma. Sakit" rintih Aurora di sela isak tangisnya. "hati aku sakit ma" Syeril memilih diam dan tetap memeluk tubuh Aurora yang bergetar. Sebagai orang tua, tentu dia juga merasakan perih di hatinya. Orang tua mana yang senang melihat anak yang di cintainya menangis? "sakit ma" ucap Aurora lagi yang masih menangis. Syeril menutup matanya, menguatkan hatinya agar tidak ikut menangis. Dering ponsel terdengar. Syeril langsung mengedarkan pandangannya mencari ponsel milik Aurora. Hingga netranya menangkap benda kotak tersebut di atas bantal Dio. Pria yang di cintai anaknya melakukan panggilan telepon. Melihat Aurora yang masih menangis dan tidak ada tanda untuk menganggat panggilan tersebut, Syeril juga memilih untuk diam. Kurang lebih tiga puluh menit Aurora menangis. Matanya benar-benar bengkak. "minum dulu sayang" Syeril menyerahkan teh hangat yang baru dia buat ke hadapan Aurora. Aurora menerima cangkir berisi teh dari sang mama. Napasnya masih belum beraturan, tapi perlahan dia menyeruput teh agar semakin lebih tenang. "mau cerita?" tanya Syeril sambil merapihkan rambut Aurora ke belakang telinga. "aku pengen berhenti ma" lirih Aurora. "berhenti untuk?" "berharap. Aku udah gak mau lagi berharap sama hubungan gak jelas yang aku jalani sama Kak Dio. Aku gak mau semakin lama terlarut dalam hal yang sejujurnya menyakitkan. Sangat. Aku ingin bahagia ma. Aku ingin melepas semua perasaan aku" "Rara serius?" Aurora mengangguk "ya. Aku capek ma" Syeril mengangguk singkat "lakukan sayang. Lakukan apapun yang Rara pengen lakukan." "tapi itu pasti bukan hal yang mudah ya ma?" "ikhlas. Itu kuncinya. Kalau Rara mau mencoba melangkah ke halaman baru, Rara harus ikhlas menutup halaman sebelumnya. Karena kalau Rara gak ikhlas, Rara pasti akan terus melihat ke belakang dan kembali terjebak. Ikhlaskan apa yang membuat Rara sakit. Lalu perlahan bangkit. Jodoh itu rahasia Tuhan. Jika dia jodoh Rara, kalian pasti akan di satukan meskipun harus berpisah dahulu." "bantuin Rara ya ma" "pasti sayang. Mama pasti akan selalu bantu Rara. Mama akan selalu berdiri di samping Rara dan mendukung Rara. Tinggal Raranya yang berusaha, setidaknya untuk memulai terlebih dahulu" "iya ma" Syeril tersenyum lembut "Minggu kita liburan ya. Kita refresh otaknya biar lebih seger" "kemana ma?" "gimana kalau Singapur?" "yaudah, aku ikut" "kita kuras uang papa" goda Syeril. Aurora tersenyum, lalu mengangguk. "nah gitu dong. Makin cantik kalau tersenyum" *** "Udah semua? Gak ada yang ketinggalan?" Ega memastikan sebelum mereka berangkat menuju bandara. "Gak ada pa" jawab Aurora. "Oke. Kalau gitu kita meluncur" Mobil yang membawa Ega dan keluarganya bergerak menuju bandara. Beruntung jalan tidak begitu macet hingga mereka bisa tiba dengan tepat waktu di Bandara. Di tempat lain, Dio masih terlihat frustasi karena belum bisa menghubungi Aurora. Semalam, saat orang tua Aurora datang untuk makan malam. Dia sempat menitipkan pesan agar Aurora mau menerima panggilannya. Tapi hingga kini, Aurora masih memilih mengabaikan. Dio juga sudah berbicara kepada Ega dan Ega hanya meminta agar Dio sabar. Karena penyebab Aurora seperti sekarang ini masih belum dapat di pastikan. Mereka hanya bisa berspekulasi dan hanya Aurora yang tahu pasti. "Kak, teh nya kok belum di minum?" Tanya Qiana dengan lembut lalu duduk di samping Dio. "Nanti aja bun" "Kenapa? Lagi ada masalah apa kak?" "Bingung bun" "Tentang Rara ya?" Dio mengangguk "iya" "Ada masalah apa sama Rara? Udah lama bunda gak liat Rara" "Itu dia bun. Masalah kita belum jelas karena apa. Rara gak mau bilang, dia juga nutup komunikasi dan gak mau ketemu aku" "Kapan terakhir ketemu Rara?" "Kemarin" Qiana mengerutkan kening "katanya gak mau ketemu, tapi terakhir ketemu kemarin" "Gak sengaja bun. Aku lagi pergi sama Amira ke mall, terus gak sengaja ketemu Rara deket eskalator" "Dan di situ belum sempet ngobrol?" "Mana bisa bun, aku mau ngeluarin satu kata aja, dia udah nyelong pergi" "Cemburu kali kak" "Cemburu? Aku gak ngapa-ngapain bun" "Jalan sama Amira emang bukan ngapa-ngapain?" "Tapi aku sama Amira cuma temen bun" "Rara tahu gak kalau kamu sama Amira cuma temen?" "Gak tahu, aku belum sempet kenalin. Tapi kan aku pernah bilang bun, kalau aku cuma cinta sama dia" "Kalau begitu. Gak akan ada istilah dusta, Kak. Kalau setiap omongan yang keluar dapat di pegang" "Bun, bunda nuduh aku dusta?" "Engga kakak. Maksudnya bunda tuh gini. Kakak bilang cuma cinta sama Rara, tapi Rara liat kakak jalan sama perempuan lain. Kalau begitu, apa ucapan kakak bisa di pegang? Kan belum tentu" "Tapi bun, kenapa Rara gak bilang?" "Namanya cemburu kak, mana sempet nanya. Kesel duluan. Apalagi kalau nanti jawabannya gak enak. Sakit" "Jadi Rara cemburu?" "Bisa jadi" "Tapi kan Rara liat aku nya baru kemarin. Sedangkan kita udah lama diem-diemannya" "Nah, kalau itu, coba kakak pikir sendiri. Bunda kan gak tahu hubungan kamu sama Rara sebelumnya tuh udah sejauh apa" Dio menghela napas "aku bodoh ya bun? Aku udah mikir tapi gak pernah nemu alasannya" "Kak, namanya hubungan, pasti ada masalahnya. Papa sama Bunda bahkan sampai sekarang juga masih suka marahan. Meskipun cuma masalah kecil. Saran bunda, bujuk Raranya, minta sama om Ega dan tante Syeril sampe Aurora mau, terus ajak bicara baik-baik dan bicarakan apa yang terjadi. Terus, bunda juga minta supaya kakak jangan nyakitin Rara. Kakak punya adik perempuan, bunda dan papa punya anak perempuan, kita pasti sakit dan sedih kalau hati ornag yang kita sayang di sakitin. Jadi kak, laki-laki itu gak mainin hati perempuan ya" Dio mengangguk "iya bunda. Bunda doain aku ya biar hubungan aku sama Rara bisa baik-baik lagi" Qiana mengusap lembut kepala Dio "pasti sayang. Bunda akan selalu doakan yang terbaik untuk anak-anak bunda. Tapi kak, kakak beneran pacaran sama Rara?" "Gak boleh sama Om Ega" jawab Dio dengan bibir mengerucut. "Beneran gak pacaran? Backstreet?" "Engga bunda, cuma kita udah saling mengungkapkan perasaan" "Oooh, HTS gitu" "Bunda ngerti?" Qiana tertawa pelan "bunda juga pernah muda kali kak" "Bunda marah kalau aku sama Rara cuma HTS?" "Kakak mau jagain Rara dan bahagiakan Rara atau kakak cuma niat main-main dan seneng-seneng aja?" "Bahagiakan Rara bun. Kakak pengen nikahin Rara, tapi bunda tahu sendiri gimana Om Ega" "Bunda gak marah. Kalau kakak sudah ada niat serius sama Rara. Jalani, tapi jangan menyakiti ya Kak" "Iya bunda" "Semangat" "Terima kasih bunda" Qiana tersenyum lembut "sama-sama kakak" *** "Gimana, seneng gak? Perlu nambah hari supaya lebih lama di sini?" Tanya Ega. Dia dan dua wanita kesayangannya, -istri dan anak- sudah kembali ke hotel setelah seharian berkeliling. Belanja, makan, foto. Semua dia lakukan agar kedua bidadari nya itu bahagia. "Gak perlu pa, nanti malem kita pulang. Aku besok kuliah. Gak bisa bolos" tolak Aurora meskipun hanya satu hari satu malam di Singapura, dia sudah merasa cukup. Beban pikirannya sudah terasa berkurang dan perasaannya sudah lebih baik. "Beneran?" Ega memastikan. "Bener pa. Aku gak bisa bolos soalnya matkulnya susah. Kalau skip, pasti jauh banget ketinggalannya" "Oke deh kalau begitu. Papa nurut tuan putri aja. Tapi weekend depan, kita ke Thailand yuk" ajak Ega kemudian. "Ngapain?" Tanya Syeril yang sejak tadi fokus dengan ponselnya. "Dagang cilok" "Mas!" Kesal Syeril sambil menatap tajam Ega. "Ya liburan atuh sayang. Sadar gak? Kita keliling Eropa udah. Masa yang deket-deket belum. Cuma Singapura doang yang sering kita datangin" "Oh" respon Syeril tak acuh lalu kembali menatap layar ponsel. "Nyebelin kamu mah" "Bodo amat" Malam harinya, sesuai rencana, mereka kembali Jakarta. Dua jam mengudara, mereka tiba di bandara Soekarno Hatta. Sudah ada sopir yang menunggu untuk membawa mereka kembali ke rumah. "mau makan dulu gak Ra?" tanya Ega sambil menoleh ke kursi belakang karena dia berada di kursi depan, di samping sopir. "drive thru aja, boleh pa?" Aurora balik bertanya. "boleh dong" "cintaku, sayang ku mau mamam apa?" goda Ega pada Syeril. "sama kaya Rara aja. Aku males makan" "oke bu boss" Dua jam kemudian mereka tiba di rumah. Perut sudah terisi karena makanan yang di beli dengan jalur drive thru langsung di esksekusi di jalan. "mama?" Syeril cukup terkejut melihat sang mama yang berada di rumah. "kalian dari mana? mama datang kalian pada pergi" omel Laksmi. Ibu dari Syeril, neneknya Aurora. "mama kenapa gak kasih kabar? dari stasiun naik apa?" kini giliran Ega yang bertanya. "naik taksi" ketus Laksmi. "Nek, udah malem. Istirahat yuk" ajak Aurora sambil merangkul Laksmi menuju kamar tamu. Ega dan Syeril menghela napas lega. Ega langsung merangkul Syeril, mengusap lembut lengannya "sabar. Kita ke kamar, bersih-bersih terus istirahat" Syeril mengangguk, lalu mereka pergi ke kamar. Pagi harinya, suasana ruang makan masih seperti biasanya. Syeril yang berkutat menyiapkan sarapan dan Ega yang duduk sambil membaca laporan kantor bersama dengan secangkir kopi. "pagi ma, pa" Aurora datang ke ruang makan, mencium pipi sang papa lalu sang mama. "tidur nyenyak sayang?" tanya Syeril. "nyenyak ma" jawab Aurora sambil duduk di kursinya. "mau sarapan apa? roti, sereal atau nasi?" "mau sereal aja ma, tapi susunya mau yang dingin. Ada kan?" "ada dong sayang" Syeril langsung pergi menuju kulkas. Mengeluarkan s**u putih untuk sereal. "kok gak makan nasi?" Aurora langsung menoleh saat suara sang nenek terdengar dan sosoknya juga muncul di ruang makan. "Rara lagi pengen sereal, ma" sahut Syeril. "kamu sih, makanya anak tuh dari kecil biasain makan nasi kalau pagi. Kalau lemes gimana?" Syeril hanya mengela napas, mencoba sabar. Bukan hal baru dia mendengar ucapan mamanya yang cukup pedas. "mama mau sarapan apa?" tanya Syeril kemudian. "nasi goreng" Syeril mengangguk, lalu menyiapkan nasi goreng untuk Laksmi. Setelah semua mendapatkan porsi sarapannya. Kini giliran Syeril menyiapkan untuk dirinya sendiri. "kamu udah punya pacar Ra?" tanya Laksmi di tengah sarapan. "belum nek" jawab Aurora. "bagus. Jangan pacaran. Soalnya nenek mau jodohin kamu" "Ma!" "nek?!" Ucap Aurora dan Syeril bersamaan karena cukup terkejut dengan apa yang keluar dari mulut Laksmi. Di jodohkan? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN