Bab 2. Awal Baru

1596 Kata
Hari ini merupakan awal yang baru bagi Tiara. Dengan penuh persiapan, Tiara merasa tidak boleh menyia-nyiakan keberuntungan yang menghampirinya. Kejadian kemarin sudah cukup membuatnya trauma. Untung saja setelah dia terima telepon dari Melani, Pak Jamal dipanggil istrinya, jadi dia bisa selamat dari si tua bangka nakal itu. Kali ini, Tiara sengaja memakai baju kurung berwarna merah yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya. Memang, selera fashion Tiara agak kampungan. Baginya, tampil tertutup tanpa memperlihatkan lekuk tubuhnya adalah pakaian terbaik dan tersopan yang bisa dia tampilkan. Lihat saja, baju yang Tiara kenakan terlihat menjuntai, menutupi p****t dan pahanya. Bahkan sengaja Tiara memadukannya dengan rok plisket hitam dan sepatu flat shoes kuno yang sudah ia kenakan sejak jaman SMA. Meski penampilannya agak, ah sudahlah, tapi dia cukup percaya diri atas penampilannya saat ini. Jam menunjukan pukul tujuh pagi. Buru-buru Tiara meraih dan mengenakan kaca mata tebal yang ukurannya hampir menutupi sebagian wajah. Maklum saja, Tiara rabun jauh, jadi dia sangat memerlukan kaca mata ini demi menjalankan aktifitasnya. Tak lama, Tiara langsung bergegas, berangkat menuju kantor tempat saudaranya memanggil. Sampai di kantor, Tiara berdiri di lobi sambil celingukan, menoleh ke kanan kiri, mencari keberadaan kakak sepupunya. “Di mana Kak Melani?” gumamnya pelan. Ingin rasanya bertanya pada orang-orang yang berlalu lalang di dalam sini, tapi nyatanya, Tiara tak berani melakukan hal itu. Lagi-lagi karena sifat pemalunya, membuatnya kesulitan sendiri. Tiara akhirnya memilih berdiri di satu titik sambil tetap celingukan mencari keberadaan Melani. Baru saja Tiara hendak menelpon Melani, tapi Melani yang baru datang ternyata melihat Tiara dan langsung berteriak memanggilnya. “Tiara!” Melani yakin jika wanita berpenampilan kampungan itu adalah saudaranya. Tiara langsung menoleh. Mendapati sosok saudaranya, Tiara tersenyum sambil melambaikan tangan, membalas sapaan Melani barusan. “Kok, diem di sini, sih? Harusnya kamu tunggu di ruang tunggu. Emangnya nggak capek apa berdiri diem aja kayak gitu?” tanya Melani sambil jalan mendekati Tiara. Tiara hanya menjawab dengan gerakan tubuhnya. Dia menggelengkan kepala dengan berusaha tetap tersenyum, sebagai jawaban ‘tidak apa-apa’ darinya. Paham jika sepupunya ini irit bicara, Melani langsung merangkulkan tangannya ke pinggang Tiara. “Yuk, kita temui bos barumu!” ujarnya penuh kebahagiaan. Tiara sedikit terkejut dan merasa tak nyaman dengan rangkulan Melani saat ini, tapi ia memilih pasrah begitu saja ketika Melani pergi membawanya. Sesaat ketika memasuki ruangan pimpinan perusahan ini, tiba-tiba saja Melani berteriak. “Pak Arya! Perkenalkan, ini Tiara, sekretaris baru yang akan membantu Bapak, sesuai request yang Pak Arya minta. Dia orangnya nggak neko-neko, pendiem, nggak banyak omong, dan yang pasti..." Melani berjalan mendekat ke hadapan Arya sambil mencondongkan tubuhnya “... orangnya gampang disuruh-suruh buat memenuhi segala kebutuhan Pak Arya,” lanjutnya dengan suara berbisik tepat di depan wajah Arya. Arya yang tadinya sibuk memperhatikan gadgetnya, dibuat terkejut dengan kelakuan sekretarisnya ini. Dia memiringkan kepala, untuk melihat orang yang dikenalkan Melani barusan. "Apa-apaan Melani ini? Kenapa bawa orang aneh kayak gini? Sembarangan aja! Masa cari asisten buatku nggak ada cakep-cakepnya?" batin Arya benar-benar dibuat syok. Arya masih menatap Tiara yang berdiri canggung di dekat pintu masuk. Dia perhatikan betul wanita tersebut dari ujung rambut, hingga ujung kakinya. "Cih! Apa banget, nih, cewek? Baju gedombrongan, kaca mata tebel bener sampe nutupin muka, udah gitu sepatunya, bulukan lagi! Iyuh… Miskin bener. Makhluk jenis apa ini sebenernya?" Arya menatap begitu jijik ke arah Tiara, merasa heran dengan penampilan wanita ini. Tiara hanya tersenyum singkat, lalu menundukan pandangannya, tak berani menatap bos barunya. Sesungguhnya, Tiara merasa tidak nyaman ditatap seorang pria seperti sekarang. Belum lagi karena kejadian yang baru-baru ini menimpanya. Traumanya masih membekas. Tanpa basa-basi, Arya yang merasa terkejut dengan pemandangannya hari ini, segera menjewer telinga Melani dan mendekatkan telinga wanita itu tepat di depan bibirnya. “Apa-apaan, sih, Mel? Kamu nemu ondel-ondel ini dari mana? Ngapain kamu bawa-bawa ke sini segala?” bisiknya dengan penekanan di setiap kalimat. Melani yang ditarik paksa jadi merasa tidak nyaman dengan posisi ini dan langsung menarik diri, berusaha berdiri sempurna. “Udah, deh, Pak. Nurut aja. Saya udah memenuhi permintaan Pak Arya. Kali ini saya jamin semua keinginan Pak Arya terpenuhi, jadi Bapak harus menepati janji,” balas Melani dengan suara pelan, menjawab pertanyaan bosnya. “Janji apa? Saya nggak pernah bilang janji ya sama kamu. Itu, kan, kamu buat-buat sendiri.” “Jadi Bapak milih saya bilangin ke Paduka, nih? Yakin? Udah siapin mental belum?” Dengan salah satu alis yang diangkat, Melani sengaja menyindir Arya. Dia tahu pasti jika Arya tidak akan berani dengan ancamannya. "Cih, sial!" Benar saja, Arya mendengus kesal. Dia kembali menatap Tiara. Rasanya tak nyaman melihat wanita dengan pakaian merah ngejreng ini. Tapi memikirkan ancaman Melani, tentu Arya belum siap mental. Dia tak mau mendapat amukan dari ayahnya. Arya menunjukan jari ke arah Tiara. “Sini kamu!” Dia memberi kode supaya segera mendekat. Tiara mengatur nafasnya. Rasanya gugup. Lalu perlahan ia melangkahkan kaki, mendekat ke hadapan Arya. “Siapa tadi namamu?” “Ti-Ti-Ara, Pak.” “Yah, Mel, gagu?” Arya terlihat lemas, menatap Melani dengan tatapan sayu, tak percaya. “Eng-Enggak, kok, Pak. Sa-saya cu-cuma gugup. Bukan gagu.” Tiara berusaha mengklarifikasi. Dia tidak ingin gagal diterima kerja di sini, hanya karena dirinya sulit berbicara. “Tiara ini emang nggak banyak omong, Pak. Wajarlah kalau hari pertama gugup jadi belibet ngomongnya. Tapi dia bisa diandalkan, kok, Pak. Pokoknya dia bakal nurut deh sama Bapak. Jadi Pak Arya tenang aja. Tinggal kasih tau aja tugas dia apa, pasti Tiara bakal lakuin itu.” Melani ikut menambahkan karena dia juga tidak mau usahanya kabur dari Arya jadi sia-sia. Arya kembali menatap Tiara. Dia perhatikan betul bentuk wanita di hadapannya ini. Tak ingin jika sampai bosnya ini berubah pikiran lagi, Melani memutuskan untuk bergegas melarikan dari hadapan mereka. “Udah, ah, Pak. Saya mau pamit. Hari ini cuma mampir nganterin sekretaris baru Bapak. Sekarang udah saatnya saya balik ke kantor pusat, takut dimarahin Paduka Bos! Bye!” Melani langsung memutar badan, dan melangkahkan kakinya dengan cepat. “Mel!” “Kak Mel!” Arya dan Tiara berbarengan memanggil nama Melani. Tapi sayang, wanita itu pura-pura tak mendengar, dan memilih pergi begitu saja mengabaikan keduanya. Keadaan ruang ini seketika jadi hening. Tak sengaja tatapan Arya dan Tiara bertemu, meski kemudian segera mereka alihkan. Suasananya benar-benar canggung. Tiara ingin sekali pergi dari ruangan ini, ikut dengan kakaknya. Dia tidak mau ditinggal berduaan seperti ini dengan seorang pria apalagi orang yang baru dia kenal. Rasanya seperti berada kandang predator, Tiara takut kejadian seperti sebelumnya terulang. Sedangkan Arya, "Sialan si Melani! Bener-bener kamu, Mel! Kelewatan! Hiss! Nyebelin! Masa iya aku terima aja cewek yang bentukannya kayak ini?" Masih saja menggerutu di dalam hati, merasa tak terima dengan sikap mantan sekretsrisnya barusan. Arya kembali mencuri pandang, menatap ke arah Tiara. Dia perhatikan ulang tampilan wanita di hadapannya dengan seksama, lalu dengan cepat langsung memejamkan mata. "Duh! Sakit mata aku lama-lama liatin ondel-ondel ini! Kok, bisa dia pake setelan kayak gitu? Mel! Selamatkan aku, Mel! Kurang ajar banget, sih, kamu! Penghinaan ini namanya!" Batin Arya terus berkecamuk. Ingin rasanya langsung memecat Tiara, tapi sayang dia tidak bisa menyingkirkan Tiara begitu saja, ada ancaman Melani yang terus menghantuinya. Belum lagi Arya teringat jika hari ini ada pertemuan yang harus dia hadiri. Arya tentu membutuhkan bantuan sekretaris untuk menemaninya. Setelah menimbang-nimbang, sepertinya ia terpaksa harus menerima Tiara sebagai sekretaris barunya. Arya memutuskan untuk menyudahi keheningan ini, dan memulai percakapan dengan wanita di hadapannya itu. “Kalau gitu, mulai hari ini, kamu bekerja sebagai sekretaris saya. Tugasmu mencatat segala jadwal saya, menyiapkan rapat, ikut serta dalam rapat dan mencatat hasil rapat, menyiapkan berkas-berkas, membawakan dokumen yang harus saya tandatangani, menjaga komunikasi dengan pihak-pihak internal maupun eksternal, mengorganisir dan menyampaikan pesan-pesan penting, dan yang jelas memastikan segala hal yang saya perlukan ada. Paham sampai sini?” Sengaja Arya bicara tanpa jeda demi menyulitkan Tiara. Dia berharap wanita ini tidak betah kerja dengannya dan memutuskan untuk resign sendiri tanpa harus dipecat. Jika hal itu terjadi, Arya merasa menang melawan Melani, karena tandanya Tiara bukanlah orang yang kompeten dan hanya Melani yang pantas menjadi sekretarisnya. Bisa dipastikan, setelah itu Melani akan dikembalikan menjadi sekretarisnya lagi oleh kantor pusat. Tidak mungkin kan dia bekerja tanpa ada sekretaris? Senyumannya pun mengulas membayangkan kemenangan dalam benaknya. Tiara yang mendengar ucapan Arya barusan langsung mencatatnya dengan seksama, dan memastikan tidak ada kata yang terlewat. Wanita ini terlihat begitu serius, bahkan sampai tidak fokus menjawab pertanyaan Arya, karena masih ada kalimat yang sedang ia catat saat ini. Menyadari keadaan saat ini, Arya yang belum mendapatkan jawaban dari Tiara, kembali menegurnya. “Heh! Denger nggak saya tadi bilang apa?” “De-denger, Pak. Saya paham,” jawab Tiara gugup. “Pokoknya nanti masalah administrasi kontrak kerjamu bisa dibicarakan ke pihak HR. Biasanya, sih, masa training tiga bulan, tapi saya nggak yakin sama kamu. Ngomong aja masih gagu, gimana mau kerja bener?” Arya memandang remeh ke arah Tiara. “Yah, intinya, kalau kamu udah nggak betah dan emang nggak mampu kerja, mending langsung resign aja.” Mendengar pernyataan Arya barusan, Tiara jadi ciut. Rasanya percaya dirinya semakin turun. Namun mengingat kehidupannya harus berlanjut dan dia tidak punya pemasukan saat ini, tentu Tiara tidak boleh menyerah begitu saja. Tiara pun bertekad kuat untuk menjalankan tugas sebaik-baiknya, tanpa membuat bosnya kecewa. Arya kini bangkit dari posisinya, dan meraih jasnya yang tersampir di sandaran kursi. “Yaudah, kalau gitu, sekarang kamu ikut saya.” Tiara terkejut dengan ajakan Arya yang tiba-tiba. “I-ikut ke mana, ya, Pak?” Dia masih saja takut jika diajak ke tempat sepi berduaan. “Ke hotel,” jawab Arya singkat, tanpa penjelasan. Mendengar ucapan Arya barusan, jelas membuat Tiara terdiam, mematung dengan pikiran yang tidak-tidak. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN