Malam Jumat Kliwon.....Di rumah tua di Mranggen, Demak, aroma kemenyan bercampur bau anyir memenuhi ruangan. Lilin-lilin hitam berjejer di setiap sudut, menyala dengan api yang bergetar, seakan ada yang meniup dari alam tak kasat mata. Dewi duduk bersimpuh di tengah lingkaran kain hitam, tubuhnya hanya terbalut kain jarit lusuh, rambutnya tergerai awut-awutan. Matanya sembab, wajahnya pucat, namun bibirnya bergetar lirih melafalkan mantra yang dipaksakan. Di hadapannya, sosok tak kasat mata menjelma samar—suami iblisnya, makhluk yang menjerat jiwa Dewi sejak bertahun-tahun lalu. Setiap malam Jumat Kliwon, ia harus melayani, menunaikan syarat perjanjian yang dulu ia sepakati: kekuatan dan jalan balas dendam, dengan harga menggadaikan tubuh dan jiwanya. “Kenapa kau menangis lagi, Dewi?” bi

