Pukul 19.30, malam itu. Setelah menghubungi Romo Andreas dan membuat rencana darurat untuk pembersihan spiritual, Ryan memutuskan untuk mengambil langkah paling berbahaya: ia harus menarik Dewi keluar dari lubang dosa itu secara langsung. Ryan memarkir mobilnya agak jauh dari kawasan Arteri Semarang. Ia mengenakan jaket biasa dan topi untuk menyamarkan identitas. Napasnya tercekat saat ia berdiri di depan ruko berlampu neon merah yang bertuliskan Panti Pijat Lestari. Begitu melangkah masuk, Ryan nyaris memuntahkan gulai sapi yang ia makan siang tadi. Udara di dalam begitu tebal, padat dengan campuran menjijikkan dari asap rokok, parfum murahan yang berlebihan, dan bau alkohol. Rasa mual itu membuatnya pusing seketika. Mata Ryan dengan cepat beradaptasi di ruangan remang. Ia melihatnya:

