Pukul 01:30 dini hari. Apartemen Ryan terasa dingin dan mencekam. Nu dan keempat sahabatnya—Yuni Ndaru, Tya, Bianca, dan Dinda—duduk di sofa ruang tamu, wajah mereka dipenuhi kecemasan. Sudah lebih dari tiga jam sejak Ryan berpamitan, dan ponselnya mati. “Ya Tuhan, kenapa Mas Ryan nggak angkat telepon sih?!” Nu mondar-mandir, air matanya sudah siap tumpah. “Aku takut terjadi apa-apa di sana. Tempat itu kan bahaya!” “Tenang, Nu. Romo Andreas pasti sudah tahu rencana Mas Ryan,” hibur Bianca, meskipun suaranya sendiri terdengar tidak yakin. “Tapi, kalian tahu sendiri kan, Mas Ryan nekat banget! Dia masuk ke kandang Iblis sendirian!” sela Tya. Tiba-tiba, suara pintu apartemen dibuka pelan. Semua kepala menoleh serentak. Ryan berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlihat bingung, kusam, dan

