Chapter 117 : Air Dingin yang Gagal Mendinginkan

1047 Kata

Pagi di Semarang menyapa dengan warna lembut. Langit menampakkan semburat jingga keemasan, seolah ingin menutupi kehebohan malam sebelumnya. Di dalam apartemen Ryan, aroma kopi robusta menguar, berpadu dengan suara air pancuran dan langkah-langkah ringan di dapur. Nu berdiri di depan kompor, mengenakan celemek dengan gambar bunga matahari. Rambutnya yang sedikit basah terurai ke bahu, membuat wajahnya tampak segar. Ia menumis bawang merah, menyiapkan sarapan untuk semua yang masih di apartemen itu. Di meja makan, roti bakar, telur mata sapi, dan jus jeruk sudah tersaji rapi. Ryan muncul dari kamar, mengenakan kaos putih dan celana santai abu-abu. Wajahnya tampak bahagia, meski ada sedikit lelah di matanya. Ia mendekati Nu dari belakang, lalu mengecup ubun-ubunnya. “Pagi, sayang,” bisikn

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN